NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulangan Harian

Keesokan harinya, suasana kelas XII MIPA 1 terasa berbeda.

Bukan karena ada yang berubah secara fisik karena meja, kursi, papan tulis, semua tetap sama. Tapi tekanan di udara terasa. Seperti saat sebelum badai. Atau sebelum pertempuran.

Hari ini adalah ulangan harian Matematika.

Dan semua orang tahu bahwa ini bukan sekadar ulangan biasa. Ini adalah medan perang antara Fiona sang peringkat dua di sekolah dan Valeria Allegra, murid pindahan misterius yang dalam dua hari berhasil mencuri perhatian seluruh sekolah.

"Lo siap, Vale?" bisik Laras dari samping. Wajahnya terlihat lebih tegang dari Alessandra sendiri.

"Untuk mengerjakan soal matematika?" Alessandra merapikan kacamatanya. "Saya selalu siap."

"Bukan itu maksud gue. Lo tahu sendiri kan Fiona tuh peringkat dua di sekolah. Dia cuma kalah sama si jenius di kelas sebelah. Dan lo nantang dia secara publik kemarin..."

"Saya tidak menantang dia. Dia yang menantang saya. Saya hanya menerima." Alessandra membuka buku catatannya, membolak-balik halaman tanpa tujuan. "Dan peringkat dua, peringkat lima, peringkat seratus... tidak ada bedanya. Angka hanya angka."

Mutiara yang duduk di sebelah kiri Alessandra menghela napas. "Gue berdoa semoga lo bisa tenang. Fiona tuh gak suka kalah. Apalagi sama orang baru."

"Biarkan."

Dua kata. Dingin. Tegas. Mengakhiri percakapan.

Pukul 08.00. Bel berbunyi.

Pak Budi guru Matematika yang sama kemarin masuk ke kelas dengan setumpuk kertas di tangannya. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya.

"Anak-anak, hari ini ulangan harian. Waktu 90 menit. Soal 10 nomor, semuanya esai. Tidak ada pilihan ganda. Kerjakan sendiri-sendiri. Tidak boleh mencontek."

Dia mulai membagikan kertas soal ke setiap barisan.

Bisik-bisik langsung terdengar. "10 esai? 90 menit? Berarti 9 menit per nomor.." "Gila, ini ujian masuk universitas aja cuma 5 nomor esai..." "Pak Budi lagi bad mood kali."

Fiona, yang duduk di baris depan, menoleh ke belakang. Matanya mencari Alessandra. Bibirnya membentuk senyum tipis penuh percaya diri, seolah dia sudah yakin akan menang.

Alessandra tidak melihat. Matanya tertuju pada kertas soal yang baru saja jatuh di mejanya.

Dia membaca.

Nomor 1: Limit fungsi trigonometri.

Nomor 2: Turunan parsial.

Nomor 3: Integral lipat dua.

... dan seterusnya.

Soal-soal yang cukup menantang untuk tingkat SMA, pikirnya. Tapi tidak sulit.

Dia mengambil pulpen biasa, bukan pulpen mahal dan mulai mengerjakan.

Coret. Hitung. Tulis.

Tidak ada keraguan. Tidak ada coretan. Setiap langkah langsung mengalir dari otaknya ke kertas.

Kelas sunyi. Hanya suara pulpen di atas kertas dan detak jarum jam yang terdengar.

Fiona mengerjakan soal dengan kecepatan tinggi. Keningnya sedikit berkerut, bibirnya sesekali digigit, tapi tangannya tidak pernah berhenti. Dia sudah mempersiapkan diri semalaman. Les tambahan. Latihan soal. Bahkan sampai begadang.

Tidak mungkin kalah, pikirnya. Aku peringkat dua. Aku yang terbaik di kelas ini. Orang baru itu hanya beruntung kemarin.

Dia melirik ke belakang sekilas.

Alessandra menulis dengan tenang. Wajahnya datar. Tidak ada tanda-tanda stres. Tidak ada keringat di dahi.

Pura-pura saja, pikir Fiona. Pasti dia kesulitan.

60 menit berlalu.

Belum ada satu pun siswa yang selesai. Kebanyakan masih mengerjakan nomor 5 atau 6. Fiona sendiri baru menyelesaikan nomor 7.

Alessandra menutup pulpennya.

Dia berdiri.

Pak Budi yang sedang duduk di depan kelas mendongak. "Ada apa, Allegra?"

"Selesai, Pak."

Keheningan.

Kemudian bisik-bisik.

"Selesai? Baru 60 menit!"

"10 nomor esai cuma 60 menit? Itu berarti 6 menit per nomor!"

"Dia ngerjain asal-asalan, kali."

Fiona mengepalkan tangannya di atas meja. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia lebih cepat dariku.

Pak Budi berjalan mendekati meja Alessandra. Dia mengambil kertas jawaban itu, membaca sekilas.

Alisnya naik.

Lalu turun.

Lalu naik lagi.

Dia membaca lebih teliti. Halaman per halaman. Nomor per nomor.

Kelas semakin hening. Semua mata tertuju pada ekspresi Pak Budi yang terus berubah.

"Apa, Pak?" tanya Fiona tidak sabar. "Apakah jawabannya salah?"

Pak Budi tidak menjawab Fiona. Dia menatap Alessandra dengan mata yang sulit diartikan antara kagum, terkejut, dan sedikit... tidak percaya.

"Allegra," ucapnya pelan, "kamu yakin ini hasil kerja sendiri?"

"Iya, Pak."

"Tidak menggunakan bantuan siapa pun?"

"Saya hanya menggunakan otak saya, Pak. Tidak ada yang lain."

Pak Budi menghela napas. Kemudian, dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh kelas, dia berkata:

"Jawaban Valeria Allegra sempurna. 10 dari 10. Nilai 100."

Kelas meledak.

"APA?!"

"SERATUS?"

"NOMOR 8 TUH RUMUSNYA APA? GUE AJA SAMPE NANGIS!"

"GILA BENER DAH CEWEK INI!"

Fiona terdiam. Wajahnya pucat.

Dia belum selesai mengerjakan. Masih ada 3 nomor tersisa. Tapi dia sudah tahu... nilainya tidak akan bisa mengalahkan 100.

Tidak mungkin, pikirnya lagi. Tidak mungkin ada yang sempurna.

"Pak," Fiona berdiri, suaranya bergetar. "Saya minta koreksi ulang. Mungkin ada kesalahan penilaian."

Pak Budi menatap Fiona dengan mata tajam. "Fiona, saya sudah menjadi guru selama 15 tahun. Saya tahu kapan jawaban itu benar dan kapan salah. Jawaban Allegra benar. Tidak ada satu pun kesalahan. Bahkan langkah-langkahnya lebih efisien daripada kunci jawaban yang saya buat."

Dia berhenti, lalu melanjutkan:

"Kalau kamu tidak percaya, setelah ulangan selesai, kamu bisa membandingkan jawabanmu dengan jawaban Allegra. Saya akan fotokopi jawabannya untuk seluruh kelas."

Fiona tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk kembali, tangannya gemas memegang pulpen.

Alessandra tidak berkata apa pun. Dia kembali ke tempat duduknya, mengambil buku catatan hitam kecil, dan mulai membaca seolah tidak baru saja mencetak sejarah di kelas itu.

"Vale..." bisik Laras, matanya berkaca-kaca karena menahan tawa. "Lo lihat muka Fiona? tertekan banget kayaknya!"

"Udah, Laras. Kerjakan soalmu," jawab Alessandra tanpa menoleh.

Tapi di sudut bibirnya, lagi-lagi tersembul senyum kecil.

Menyenangkan, pikirnya. Ternyata bersaing di akademik itu tidak seburuk yang saya bayangkan.

Setelah ulangan selesai, Pak Budi mengumumkan nilai sementara.

Fiona mendapat 92. Nilai yang sangat tinggi untuk ukuran ulangan seberat ini. Biasanya, nilai itu sudah cukup untuk menjadi yang tertinggi di kelas.

Tapi Alessandra mendapat 100.

Selisih 8 poin.

"Hasil akhir akan diumumkan besok setelah saya koreksi ulang," ucap Pak Budi. "Tapi sepertinya tidak akan berubah."

Fiona tidak menunggu. Dia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan keluar kelas tanpa menoleh. Wajahnya tertutup. Tapi semua orang bisa melihat bahunya yang sedikit bergetar.

Gengnya mengikutinya.

"Fio, tunggu!"

"Jangan ikutin gue!"

Pintu kelas terbanting.

Kelas kembali ramai. Beberapa bersorak kecil mendukung Alessandra, beberapa membela Fiona, kebanyakan hanya menikmati drama.

Laras mengangkat tangannya seperti akan mencium lantai. "Vale, lo dewi gue mulai sekarang."

"Jangan berlebihan," Alessandra merapikan kacamatanya.

"Nggak berlebihan. Lo baru aja ngalahin si peringkat dua dengan selisih 8 poin. Itu luar biasa!" Mutiara ikut memuji.

"Fiona hanya percaya diri berlebihan," jawab Alessandra datar. "Dan kepercayaan diri tanpa persiapan adalah kesombongan. Saya tidak sombong. Saya hanya... siap."

Dia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan menuju pintu.

"Lo mau ke mana, Vale? Belum istirahat?" tanya Laras.

"Ke perpustakaan. Ada buku yang harus saya baca."

"Gila, abis dapet 100 masih mau baca lagi."

"Pintar bukanlah tujuan akhir, Laras. Itu hanya awal."

Dan dengan langkah tegap seperti biasa, Valeria Alessandra yang menyamar sebagai Valeria Allegra berjalan meninggalkan kelas, meninggalkan keributan yang dia ciptakan, dan mencari ketenangan di antara rak-rak buku.

Di perpustakaan, sepi.

Hanya ada pustakawan yang sedang menata buku, beberapa siswa yang tertidur di meja panjang, dan satu sosok di pojok ruangan yang sedang membaca novel.

Sosok itu menoleh saat Alessandra masuk.

Pemuda itu. Rambut hitam, sedikit panjang, hampir menutupi mata kirinya. Tinggi sekitar 175 cm. Seragam hitam-putih rapi.

Matanya bertemu dengan mata Alessandra.

Sesaat.

Lalu pemuda itu kembali menunduk ke bukunya.

Alessandra tidak bereaksi. Dia berjalan ke rak sejarah, mengambil buku tentang Perang Bintang Pertama, dan duduk di meja dekat jendela jauh dari pemuda itu.

Tapi di dalam hatinya, dia sudah mencatat.

Pengintip di taman kemarin. Itu dia. Pasti.

Dan dia ada di perpustakaan. Kebetulan? Atau sengaja?

Dia membuka buku, berpura-pura membaca.

Tapi jari telunjuk kirinya diam-diam menyentuh kacamata.

Satu langkah salah, dan kau akan berakhir seperti mata-mata semalam.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!