Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pertempuran Kaki Gunung Gede
Kabut Alam Rahasia masih mengepul di belakang mereka ketika Arkan melangkah maju. Di depan sana, hampir 200 kultivator Naga Hitam berbaris rapi di kaki Gunung Gede. Aura gelap mereka memenuhi udara. Di tengah-tengah pasukan berdiri seorang pria paruh baya berjubah hitam panjang — Vice Leader Naga Hitam Cabang Jawa, bernama Gao Tian, Core Formation Tingkat 8.
“Arkan Wijaya,” suara Gao Tian menggelegar. “Kau sudah terlalu banyak mengganggu rencana kami. Serahkan Cincin Naga Emas dan semua warisan dari Alam Rahasia, maka aku biarkan keluargamu hidup.”
Arkan berdiri tegak. Pedang Raja Naga di tangan kanannya berkilau emas di bawah sinar matahari sore. Tubuh kekarnya memancarkan aura dominan yang membuat banyak kultivator lawan mundur selangkah tanpa sadar.
“Kalau kalian mau cincin ini,” kata Arkan dingin, “ambil sendiri dari mayatku.”
Sela berdiri di samping kanannya, orang tuanya di belakang, dan Juanda beserta pengawal di sisi kiri. Meski kalah jumlah, semangat mereka tinggi.
Gao Tian mengangkat tangan. “Serang! Bunuh semuanya kecuali pemuda itu!”
Pertempuran besar pun meledak.
Ratusan serangan Qi meluncur seperti hujan panah. Arkan mengayunkan Pedang Raja Naga satu kali. **Naga Emas Menghancurkan Langit** — gelombang pedang emas raksasa menebas puluhan serangan sekaligus dan membunuh 12 orang di barisan depan lawan.
“Lindungi orang tuaku!” perintah Arkan kepada Sela dan Juanda.
Ia sendiri melesat maju seperti naga hidup. Naga Step membuat bayangannya sulit ditangkap. Pedangnya menebas tanpa ampun. Setiap ayunan selalu merenggut nyawa. Darah menyembur di mana-mana, mewarnai tanah kaki gunung menjadi merah.
Sela bertarung dengan gagah. Tingkat 6-nya sekarang terasa sangat kuat. Ia menggunakan formasi pertahanan untuk melindungi orang tua Arkan sambil melemparkan serangan energi dan pil peledak. Juanda dan pengawalnya juga bertarung mati-matian dengan senjata spiritual yang mereka bawa.
Arkan menerobos langsung ke tengah pasukan. Ia bertemu dengan tiga elder Core Formation sekaligus. Pertarungan sengit terjadi. Pedangnya berputar cepat, menebas lengan salah satu elder. Dua lainnya menyerang bersamaan, tapi Arkan menggunakan Teknik Tubuh Naga — sisik emas muncul di kulitnya, menahan serangan telak.
Dengan raungan keras, Arkan melepaskan **Naga Mengamuk** penuh kekuatan. Bayangan naga emas raksasa muncul lagi, kali ini lebih besar dan jelas. Serangan itu menghancurkan formasi lawan dan membunuh puluhan orang sekaligus.
Gao Tian akhirnya turun tangan sendiri. Ia melompat ke depan Arkan dengan pedang hitam panjang.
“Kau memang berbakat. Tapi hari ini kau mati!”
Pedang mereka bertemu. *KRAAANG!* Gelombang energi menghancurkan pepohonan di sekitar. Arkan terdorong mundur beberapa meter, tapi ia segera menyerang balik. Gao Tian memang lebih kuat, tapi Arkan lebih cepat dan penuh tenaga muda.
Mereka bertukar puluhan jurus. Gao Tian terluka di dada, Arkan terkena satu serangan di bahu yang langsung disembuhkan oleh Teknik Penyembuhan Naga.
Di belakang, Sela berhasil membunuh dua orang yang mencoba mendekati orang tua Arkan. Gadis itu semakin liar dan tegas dalam pertarungan, meski wajahnya tetap polos.
“Arkan! Aku baik-baik saja!” teriak Sela memberi semangat.
Arkan tersenyum. Semangatnya semakin membara. Ia melepaskan seluruh kekuatan Tingkat 8-nya. Pedang Raja Naga bergetar hebat. Jurus pamungkas **Raja Naga Turun ke Dunia** dilepaskan.
Sebuah proyeksi naga emas raksasa muncul di langit, mengaum keras hingga seluruh gunung bergema. Serangan itu menghantam Gao Tian langsung. Vice Leader Naga Hitam itu terpental jauh, tulang rusuknya hancur, dan muntah darah segar.
Arkan tidak memberi kesempatan. Ia melompat dan menusuk pedangnya tepat ke dada Gao Tian.
“Katakan pada pemimpin tertinggi kalian… aku akan datang sendiri ke markas utama.”
Gao Tian mati dengan mata terbuka lebar.
Kematian pemimpin membuat pasukan Naga Hitam panik. Mereka mulai mundur secara tidak teratur. Arkan, Sela, dan tim mengejar dan menghabisi sisanya. Dalam waktu satu jam, pertempuran besar di kaki Gunung Gede berakhir dengan kemenangan telak bagi Arkan.
Tanah dipenuhi mayat dan darah. Arkan berdiri di tengah medan perang, napasnya masih stabil. Ia naik level lagi setelah menyerap Qi dari pertempuran — kini **Qi Condensation Tingkat 9** puncak.
Sela berlari mendekat dan memeluknya erat, tidak peduli darah yang menempel di tubuh Arkan. “Kamu menang… kita menang.”
Orang tua Arkan mendekat dengan wajah bangga. Ibu Arkan menangis sambil memeluk anaknya. “Kamu sudah sangat kuat, Nak.”
Juanda Hartono tertawa lelah. “Dengan kekuatan ini, kita bisa mulai membangun kekuatan sendiri di Jakarta.”
Malam itu, mereka mendirikan perkemahan darurat di kaki gunung. Arkan duduk meditasi memulihkan diri sambil menjaga sekitar. Sela duduk di pangkuannya, kepala gadis itu bersandar di dada kekarnya.
“Arkan… aku takut kehilangan kamu,” bisik Sela pelan.
Arkan mengusap rambutnya lembut lalu mencium bibirnya dalam. “Aku tidak akan mati sebelum membuatmu bahagia selamanya.”
Mereka berciuman lama di bawah cahaya bulan. Naga Qi mengalir pelan di antara mereka, memperkuat ikatan jiwa.
Keesokan paginya, rombongan kembali ke Jakarta dengan kemenangan besar. Berita tentang kekalahan besar Naga Hitam di Gunung Gede menyebar cepat ke seluruh Nusantara. Banyak sekte putih mulai mendekati Arkan, sementara sekte gelap semakin marah dan ketakutan.
Di apartemen Sudirman, Arkan mengadakan rapat keluarga.
“Kita akan buat kekuatan sendiri. Namanya akan kuberi **Paviliun Naga Emas**. Mulai dari Jakarta, lalu menyebar ke seluruh Jawa, dan akhirnya Nusantara.”
Ayah dan ibunya setuju. Juanda menyediakan dana dan jaringan bisnis. Sela menjadi wakil utama Arkan.
Dalam seminggu berikutnya, Paviliun Naga Emas resmi didirikan. Arkan merekrut beberapa kultivator berbakat yang muak dengan Sekte Gelap. Ia juga mulai mengajarkan teknik dasar Naga Emas kepada anggota baru.
Suatu malam, saat Arkan dan Sela sedang berduaan di balkon apartemen menikmati pemandangan kota, sebuah burung pos spiritual mendarat di bahu Arkan.
Pesan dari seorang sekte netral:
“Pemimpin Besar Naga Hitam akan keluar dari pengasingan dalam tiga bulan. Ia berniat membunuhmu dan merebut cincin. Seluruh Nusantara akan terlibat perang.”
Arkan meremas pesan itu menjadi abu.
“Baiklah,” katanya dingin sambil memeluk Sela lebih erat. “Kalau perang yang mereka mau… aku akan berikan perang yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup.”
Sela menatapnya dengan mata penuh cinta dan kekaguman. “Aku akan selalu di sampingmu, Tuan Naga.”
Arkan mencium keningnya.
“Dan aku akan melindungimu sampai akhir hayat.”
Paviliun Naga Emas mulai tumbuh. Arkan semakin kuat. Musuh semakin banyak.
Perjalanan menuju puncak kekuasaan di Nusantara baru saja benar-benar dimulai.
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳