Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Pagi itu udara masih menyisakan dingin yang lembut, seperti enggan benar-benar pergi dari malam. Di depan rumah sonya, Clay sudah berdiri sejak cukup lama. Ia tidak tampak gelisah, justru terlalu tenang, seolah sudah terbiasa menunggu. Tubuhnya bersandar santai di pagar kecil depan rumah, satu tangannya memainkan kunci rumah yang ia gantungkan di jari telunjuk, berputar pelan seperti kebiasaan tanpa sadar. Sesekali matanya melirik ke arah pintu, lalu kembali ke jalan, lalu kembali lagi ke pintu.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin pergi. Entah karena kebiasaan, atau karena seseorang yang sebentar lagi akan muncul dari balik pintu itu. Dan benar saja, beberapa menit kemudian pintu itu terbuka. Nindi keluar dengan langkah ringan seperti biasa, tetapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda darinya.
Ia mengenakan crop top sederhana yang sedikit memperlihatkan bagian perutnya, dipadukan dengan celana jeans pendek yang santai dan sneakers putih yang sudah sering Clay lihat sebelumnya. Sling bag kecil tergantung di bahunya, juga tidak asing seperti bagian dari dirinya yang tidak pernah berubah.
Namun Clay langsung menyadari satu hal yang berbeda.
Rambutnya.
Biasanya panjang, kini terpotong rapi sebahu. Tidak mencolok, tetapi cukup untuk mengubah seluruh kesan wajahnya. Wajah itu jadi lebih segar, lebih ringan, dan entah kenapa jauh lebih muda. Seperti seseorang yang baru saja melepas beban lama dari kepalanya.
Clay tanpa sadar tersenyum kecil. Senyum yang tidak ia sadari muncul begitu saja, seperti refleks yang tidak bisa ia tahan. Nindi berhenti sejenak ketika melihat Clay masih berdiri di depan pintu.
“Lagi?” Tanyanya dengan nada setengah kaget, setengah curiga.
“Kamu ngapain di sini pagi-pagi?”
Clay mengangkat bahu ringan. “Menunggu kamu.”
“Menunggu aku?” Nindi mengernyit. “Kenapa?”
“Karna ingin berjalan ke café bersama,” jawab Clay singkat, seolah itu hal paling sederhana di dunia.
Nindi menatapnya beberapa detik. Tatapan yang tidak langsung menolak, tapi juga tidak sepenuhnya menerima. Lalu ia menghela napas kecil. “Kamu ini ya… kadang aneh.”
Clay mengangkat alis sedikit. “Apa yang aneh?”
“Ya itu,” Nindi mengangguk ke arah jalan di depan mereka. “Tiba-tiba mengajak berjalan bersama. Tanpa alasan jelas.”
Clay menoleh sekilas, lalu kembali melihat ke depan. Wajahnya tetap datar, tapi nadanya tenang saat menjawab. “Aku sudah bilang alasannya.”
“Yang mana?” tanya Nindi.
“Ingin jalan ke café bersama.”
Nindi mendecah pelan. “Itu bukan alasan. Itu, pernyataan.”
Clay berhenti sebentar. Menoleh padanya. Kali ini sedikit lebih serius. “Memangnya harus selalu ada alasan rumit?”
Nindi ikut berhenti. Menatapnya balik. “Iya,” jawabnya cepat. “Biasanya orang tidak melakukan sesuatu tanpa alasan.”
Clay menghela napas pendek. Tangannya masuk ke saku celana.
“Baik,” kata Clay akhirnya, nada suaranya sedikit berubah, lebih jelas, lebih langsung. “Kalau kamu butuh alasan: rumah kita berdampingan. Kita kerja di tempat yang sama. Jalan ke café juga searah.”
Ia menatap Nindi sebentar.
“Jadi menurutku… itu cukup masuk akal.”
Nindi terdiam. Jawaban itu sederhana. Logis. Sulit dibantah. Tapi entah kenapa tetap terasa mengganggu.
“Kamu tidak harus selalu seperti ini,” gumam Nindi.
“Seperti apa?” tanya Clay.
“Seolah semua hal harus terlihat biasa.”
Ada jeda.
Clay menatapnya beberapa detik. Lebih lama dari sebelumnya. Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Memangnya ini tidak biasa?”
Nindi tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser, menghindari. “…tergantung,” katanya pelan.
“Pada apa?”
“Pada siapa yang mengajak.”
Clay tertawa kecil. Singkat. “Jadi kalau bukan aku, kamu tidak akan merasa aneh?”
Nindi mengangkat bahu. “Mungkin tidak.”
“Berarti masalahnya bukan situasinya.”
“Terus?”
Clay menatapnya lurus. “Aku.”
Hening.
Nindi tidak menyangkal. Dan justru itu, jawaban paling jujur yang bisa ia berikan tanpa harus mengatakannya langsung.
Clay mengangguk kecil. Seolah sudah menduga. “Ya sudah,” katanya ringan, mulai berjalan lagi. “Biasakan saja.”
Nindi mengernyit. “Apa maksudmu?”
Clay tidak menoleh. “Kalau kamu sering jalan ke café bersamaku, lama-lama juga tidak akan terasa aneh.”
Nindi mendengus pelan. “Percaya diri sekali.”
“Bukan percaya diri,” jawab Clay santai. “Cuma realistis.”
Nindi mempercepat langkahnya sedikit, menyamai. “Realistis atau memaksa?”
Clay melirik sekilas, senyum tipis muncul lagi. “Kalau kamu masih ikut jalan sekarang, berarti bukan karna terpaksa.”
Nindi terdiam.
Lalu tanpa sadar, ia mendecah pelan. “…menyebalkan.”
“Tapi kamu tetap ikut.”
“Karena kita memang searah,” balas Nindi cepat.
Clay mengangguk. “Nah. Itu juga alasan.”
Dan kali ini, Nindi tidak membantah lagi. Mereka terus berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak berjarak. Dan untuk pertama kalinya, keheningan di antara mereka tidak sepenuhnya canggung.
Clay melirik sekilas ke arah Nindi.
Gadis itu berjalan santai, pandangannya lurus ke depan. Tidak terlihat sedang memikirkan hal berat apa pun. Justru itu yang membuat Clay semakin sadar kalau hanya dia yang sedang memikirkan terlalu banyak.
Clay menarik napas pelan. Lalu akhirnya—
“Indonesia … itu jauh kan?”
Nindi menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Nindi menghela napas ringan. “Ya… jauh, kalau dari sini ke Indonesia, ya jelas jauh. Bukan sekadar beda kota atau negara sebelah.”
Clay mengangguk pelan. “Aku tahu,” jawabnya singkat. “Di peta saja sudah kelihatan, ribuan mil.”
Ia melirik sekilas ke arah Nindi, lalu kembali menatap jalan di depan. “Dan harus ditempuh belasan jam.”
“Lebih dari itu,” kata Nindi akhirnya. “Kalau dihitung sama transit dan waktu menunggu, bisa lebih dari satu hari.”
Clay mengangguk pelan. “Biayanya juga tidak sedikit."
Nindi melirik sekilas, lalu menghela napas kecil. “Iya. Mahal.”
Hening sesaat. Langkah mereka masih seirama, tapi percakapan itu terasa seperti berjalan ke arah yang lebih dalam tanpa disadari. Clay akhirnya membuka suara lagi, kali ini lebih hati-hati.
“Berarti…” ia berhenti sebentar, seolah memilih kata. “Kamu benar-benar akan pulang, tiga bulan lagi?”
Nindi langsung menoleh. “Bukan tiga bulan,” koreksinya cepat.
Clay mengernyit tipis. “Hm?”
“Dua setengah bulan,” jawab Nindi. “Lebih tepatnya dua setengah bulan.”
Nada suaranya ringan, seperti hanya memperbaiki angka. Tapi entah kenapa, koreksi kecil itu justru terasa lebih tajam. Lebih dekat. Lebih nyata.
Clay terdiam. Dua setengah bulan. Bukan waktu yang lama. Bahkan, terlalu cepat.
“Cepat juga,” gumamnya pelan.
Nindi hanya mengangkat bahu. “Dari awal memang segitu.”
Clay mengangguk kecil. “Tidak akan kembali?”
Nindi menoleh lagi. Kali ini lebih lama. “Kembali untuk apa?”
Pertanyaan itu bukan menyerang. Tapi jujur. Dan justru itu yang membuat Clay tidak langsung punya jawaban. Ia membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Akhirnya ia hanya menghela napas pelan. “Entahlah,”
Nindi memperhatikan wajahnya sejenak. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Tidak seperti biasanya. Tidak santai. Tidak ringan. Lebih, serius.
“Kamu kenapa tiba-tiba tanya begitu?” tanya Nindi.
Clay tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. “Tidak boleh?”
“Boleh,” jawab Nindi cepat. “Cuma, aneh saja.”
“Kenapa semua yang aku lakukan jadi aneh di mata kamu?”
Nindi mendecah kecil. “Karena kamu memang sering aneh.”
Clay tertawa pelan. Singkat. Lalu kembali diam. Beberapa langkah berikutnya terasa lebih panjang dari sebelumnya.
“Kamu tidak kepikiran untuk tinggal?” tanya Clay lagi. Kali ini nadanya lebih rendah.
Nindi langsung menggeleng. “Tidak.” Cepat. Tegas.
“Kenapa?”
“Karena hidupku bukan di sini, Clay.”
Kalimat itu jelas. Tidak kasar. Tapi tegas. Clay menunduk sedikit. Mengangguk pelan.
“Di sana?” tanyanya lagi.
“Iya.”
“Apa yang ada di sana?”
Nindi tersenyum tipis. Kali ini lebih hangat. “Keluargaku. Hidupku. Rencanaku.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Semua yang penting.”
Clay tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap berjalan, tapi pikirannya jelas tertinggal di kalimat itu. 'Semua yang penting'.
“Berarti di sini tidak penting?” tanya Clay, setengah bercanda.
Nindi meliriknya. “Jangan dibalik-balik.”
“Jawab saja.”
Nindi terdiam sejenak. “Di sini penting,” katanya akhirnya. “Tapi bukan untuk selamanya.”
Kalimat itu lebih lembut. Tapi justru terasa lebih nyata. Clay mengangguk kecil. “Masuk akal.”
Namun kali ini, tidak ada senyum yang mengikuti. Hanya penerimaan yang dipaksakan. Mereka kembali diam.
Langkah mereka masih berdampingan. Masih searah. Masih bersama. Tapi sekarang ada sesuatu yang berubah. Bukan jarak fisik. Tapi kesadaran. Bahwa arah yang sama ini… mungkin tidak akan bertahan lama. Dan untuk pertama kalinya Clay benar-benar merasakan, bahwa sesuatu yang ingin ia pegang perlahan sudah punya tempat lain untuk kembali.
“Berarti setelah kamu pulang… kita tidak akan bertemu lagi.”
Nindi tidak langsung menjawab. Untuk beberapa detik, ia hanya berjalan. Pikirannya tiba-tiba terasa penuh oleh hal yang sebelumnya tidak pernah ia beri ruang. Tentang pulang. Tentang jarak. Tentang, kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat benar-benar dimulai.
Nindi menghela napas kecil. “Kenapa kamu tanya begitu?”
Clay tidak langsung menoleh. “Karena itu yang masuk akal.”
Nindi menunduk sedikit, matanya mengikuti langkah kakinya sendiri. Masuk akal. Ya, memang masuk akal. Tapi entah kenapa, ia tidak langsung ingin mengiyakan.
“Tidak harus begitu,” kata Nindi akhirnya.
Clay menoleh.
Nada suara Nindi tidak tegas. Tidak juga yakin sepenuhnya. Tapi cukup untuk membuat Clay memperhatikannya lebih serius.
“Maksudku…” Nindi berhenti sebentar, seperti merapikan pikirannya sendiri. “Kita masih bisa berkomunikasi. Sekarang kan semuanya mudah.”
Clay menatapnya beberapa detik. “Itu beda,” jawabnya singkat.
Hening lagi.
Dan kali ini, Nindi tidak langsung punya jawaban. Karena dalam hati kecilnya, ia tahu Clay benar. Berkomunikasi tidak sama dengan bertemu. Tidak sama dengan berjalan berdampingan seperti ini. Tidak sama dengan kehadiran.
Nindi menelan pelan. “Ya…” gumamnya akhirnya. “Memang beda.”