Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Mata Revan melotot sempurna, apa istrinya ini tidak memiliki otak sampai tidak mengerti apa yang dikatakan Biah tadi.
"Dia tidak menghina anak kita tapi memberi tahu kita berdua kalau selama ini kitalah yang bersalah sehingga anak kita itu seperti itu, keras kepala, egois dan suka bertindak seenaknya". Kesalnya sambil mengacak rambutnya frustasi
Lelaki gagah dan tampan itu tak hentinya menggelengkan kepalanya menyadari betapa kerasnya hati istrinya akan nasehat yang diberikan oleh orang lain.
"Dia anakku, terserah aku bagaimana caranya mendidik dia, jika kamu ingin cara mendidik sama seperti sahabatmu itu maka yang harusnya kamu nikahi adalah dirinya bukan aku!! ". Bentaknya dengan nada tidak suka
Dia tidak suka dibandingkan dengan orang lain apalagi orang yang dia tidak suka dan sengaja mengejeknya seperti tadi sekalipun orang itu berjasa pada kehidupan suaminya
"Jangan bicara sembarangan kamu!!, aku menghormati Biah dan mengagumi cara parentingnya bukan untuk memilikinya lagian jika aku menyukai Biah, sejak dulu aku bisa menikahinya karena paman sejak dulu menjodohkan kami tapi aku cintanya sama kamu makanya aku menolak dan menikahi kamu". Bentaknya dengan penuh emosi.
Tangannya terangkat ingin memukul mulut istrinya yang lancang menghina sahabatnya dan meragukan cintanya, hatinya sungguh terluka atas perkataan istrinya itu.
Mata Melisa melotot sempurna melihat tangan suaminya yang terangkat ingin menamparnya, selama mereka menikah suaminya tak pernah mengangkat tangannya padanya apalagi hendak menamparnya tapi karena janda itu suaminya ingin melakukannya, dia tidak akan membiarkan semua ini.
"Kamu mau memukul ku karena janda sahabatmu itu, kamu sudah gila? ". Tanyanya sambil menatap garang suaminya itu.
Revan mengepalkan tangannya sambil mengusap kasar wajahnya dengan frustasi, dia menurunkan kembali tangannya yang hampir saja menampar istrinya itu, nafasnya memburu, dia menatap istrinya sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan bicara keterlaluan tentang Biah Mel, dia sahabat aku, kamu dan anak kita sudah bersalah, kalian berdua menghinanya dan semua anak-anaknya tanpa tahu siapa dia sebenarnya, aku sangat kecewa padamu atas sikapmu yang seperti ini, aku hanya tidak menyangka perempuan yang kucintai sepenuh hati meragukan cintaku seperti ini dan tega menuduhku yang tidak-tidak bahkan tidak punya hati".
Revan menggelengkan kepalanya dengan kecewa, dia meninggalkan istrinya yang mematung yang mulai merasa bersalah tapi egonya yang begitu besar membuatnya keras untuk tidak peduli.
Dia segera menyusul suaminya kemudian mencekal tangannya, dia tidak akan membiarkan suaminya bertindak keterlaluan seperti ini.
"Kita harus selesaikan ini, jadi benar kalian dulu pernah dijodohkan tapi tak berhasil, kenapa kamu memilihku jika kamu mengagumi sahabatmu itu, apa kamu menjadikan aku pelarian karena Hasan mencintai Biah dan kamu mengalah, begitu? ". Ucapnya dengan menuntut jawaban.
Rahang Revan mengeras seketika, dia tidak Terima perkataan istrinya yang baginya sungguh tidak masuk akal.
"Aku tidak pernah mencintai Biah, aku hanya mengagumi dia sebagai seorang sahabat yang bersamanya sejak kecil bukan berarti aku mencintainya".
Matanya menatap nyalang istrinya ini, amarahnya kini meluap tanpa bisa terbendung.
" Jika aku mencintainya aku tidak akan bersusah payah karena ayah Biah sejak dulu memintaku untuk menikahi putrinya tapi aku menolaknya karena di hatiku hanya kamu, terserah padamu, aku lelah menghadapi sikap mu yang seperti ini, sekalipun aku begitu mencintaimu, aku juga bisa lelah ".
Revan kembali berbalik, kali ini dia menyetop taksi karena tidak mau pulang bersama istrinya, dia tidak ingin meluapkan amarah kepada istrinya itu.
Melisa mematung sambil mengepalkan tangannya, walau dia bersyukur jika suaminya memang begitu mencintainya tapi tetap saja dirinya masih takut akan kedekatan suaminya dengan Biah.
"Aku harus bicara dengannya nanti, ini tidak bisa dibiarkan".
Dia berjalan memasuki mobilnya yang sudah ada sang anak didalam sana, mobil yang menggunakan sidik jari keluarga itu seperti menyimpan bara.
Disebelahnya sang anak melipat kedua tangannya, dia menatap lurus kedepan dengan rahang yang mengeras, usia yang hampir beranjak remaja itu kini sudah tahu segalanya dan bisa menilainya.
"Sekarang kamu puas dengan tingkah mu yang seperti ini? ". Tanyanya dengan dingin.
Sang anak hanya mendengus kesal karena ibunya ini seakan mulai memihak si Umar dan keluarganya.
"Aku tidak suka dibandingkan dengan anak miskin itu bu, mereka bukan siapa-siapa, kita adalah donatur tetap sekolah, dia tidak akan bisa berbuat macam-macam". Jawabnya dengan santai dan penuh kesombongan.
Melisa menatap anaknya tanpa berkedip, dia seperti melihat refleksi dirinya dalam diri sang anak, dia baru sadar jika anaknya ini bisa seperti ini karena caranya mendidiknya selama ini.
"Kamu salah nak, kamu lihat sendiri bagaimana rumah dan semua kendaraan yang mereka miliki, tanpa ibu jelaskan kamu sudah paham apa yang terjadi disana dan soal donatur sekolah".
Dia menghentikan ucapannya dan menghela nafas, jika ini dibawah ke jalur hukum dan dewan sekolah maka anaknya tidak punya pilihan lain selain dikeluarkan.
"Ayahnya adalah donatur utama sebelum meninggal dan ibu yakin Bundanya Umar yang mengantikan dirinya nanti".
Dia mengatakan itu karena ada rapat pertemuan para donatur sekolah dan dewan komite, dia yakin selain membahas anggaran sekolah, mereka pasti akan membahas hal ini apalagi Biah dengan terang-terangan mengatakan akan membawa ini ke jalur hukum, kepala sekolah pasti telah melaporkan hal ini.
"Apa?, bagaimana mungkin anak miskin itu donatur utama sekolah, ibu jangan bercanda deh, itu tidak lucu". Dengusnya tidak suka.
Hatinya merasa tidak tenang, dia bisa melihat amarah yang berkobar dari ibunda Umar saat pertengkarannya pada ibunya saat disekolah sangat berbanding terbalik saat mereka di rumah nya tadi.
"Jika benar keluarga Umar adalah donatur utama maka aku pasti akan dikeluarkan dari sekolah". Jeritnya dalam hati.
"Kamu pulang saja, sama bibi dirumah dulu karena kamu kena skorsing dari sekolah". Ucapnya sambil mengemudikan mobilnya pulang kerumah.
Mata Romi nyaris melompat dari tempatnya, ibunya tidak mengatakan apapun sejak kemaren dan dia tidak tahu mendapatkan skorsing.
"Kenapa ibu tak mengatakannya, terus kenapa ibu diam saja aku diperlakukan seperti itu? , aku tidak mau tahu, aku mau sekolah besok".