NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

“Mas, jangan pulang terlalu malam hari ini, ya?”

Ningsih berdiri di samping meja makan sambil meletakkan secangkir kopi hitam hangat yang aromanya mengepul lembut di depan suaminya.

Pagi itu, seperti biasa, ia bangun jauh lebih awal sebelum matahari terbit untuk menyiapkan sarapan dan memastikan segala kebutuhan keluarga kecil mereka terpenuhi dengan sempurna.

Di atas meja sudah tersaji nasi goreng mentega kesukaan Hendra, lengkap dengan telur mata sapi setengah matang, kerupuk, dan segelas jus jeruk segar. Namun, pria yang duduk di hadapannya itu bahkan tidak melirik sedikit pun masakan yang dibuat istrinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

Hendra justru sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya, dahinya berkerut dalam seolah dunia luar jauh lebih penting daripada apa yang ada di dalam rumahnya.

“Mas dengar, kan?” tanya Ningsih lagi. Senyum tipis dipaksakan terukir di wajah cantiknya yang mulai menyiratkan gurat lelah.

Hendra menghela napas panjang, terdengar sangat kentara kalau ia merasa terganggu. “Iya, Ningsih. Aku dengar.”

“Jangan sampai lupa ya, Mas. Hari ini ulang tahun Luna yang keenam. Dia sudah bercerita ke semua teman-teman sekolahnya kalau Papanya bakal datang dan menemani dia tiup lilin di pesta nanti sore.”

“Kalau sempat,” sahut Hendra dingin tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.

Senyum di wajah Ningsih seketika memudar. “Kalau sempat? Mas, ini hari ulang tahun putri tunggalmu.”

Prank!

Hendra meletakkan sendoknya dengan bunyi keras di atas piring.

“Ningsih, kamu pikir aku di luar sana itu nganggur? Aku ini bekerja! Banyak proyek dan urusan perusahaan yang harus aku urus. Tolong jangan kekanak-kanakan!”

“Aku cuma mengingatkan, Mas. Nggak ada maksud lain,” cicit Ningsih.

“Ya sudah, aku bilang aku dengar, kan? Nggak usah diulang-ulang!” nada bicara Herman mulai meninggi.

“Luna sangat menunggu Mas. Sejak seminggu lalu dia sudah mencoret kalender.”

“Terus aku harus bagaimana sekarang? Membatalkan semua pertemuan penting dengan klienku hanya untuk pesta balon? Begitu maumu?” Hendra menatap Ningsih dengan kesal.

Ningsih menunduk dalam, meremas ujung celemeknya. Ia sudah sangat hafal dengan perubahan sikap suaminya dalam dua tahun terakhir ini. Dulu Hendra bukan seperti ini. Dulu, pria itu akan menggendong Luna sejak pagi buta sambil menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara sumbangnya yang jenaka. Dulu Hendra selalu menempatkan keluarga di atas segalanya.

Namun sekarang, kesuksesan finansial dan jabatan tinggi yang diraihnya ternyata telah mengubah banyak hal. Uang telah membutakan nuraninya.

“Aku cuma ingin Mas pulang tepat waktu. Sekali ini saja,” lirih Ningsih.

“Aku bilang kalau sempat, ya kalau sempat! Jangan hobi mendesakku!” bentak Hendra.

Ningsih menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. “Baik, Mas.”

Tepat setelah ketegangan itu memuncak, pintu kamar terbuka. Luna, gadis kecil berkuncir dua yang baru saja terbangun, berlari kecil dengan riang menuju ruang makan.

“Papa!” Wajah mungil itu langsung berseri-seri begitu melihat sosok sang ayah. Ia langsung memeluk erat kaki Hendra. “Papa ingat hari ini hari ulang tahun Luna yang keenam, kan?”

Hendra mengembuskan napas, mengubah ekspresi wajahnya secepat kilat. Ia tersenyum tipis, lalu mengusap kepala putrinya. “Iya, Papa ingat.”

“Papa pulang cepat kan sore ini? Nanti teman-teman Luna mau datang jam empat.”

“Iya.”

“Janji?” Luna mendongak, matanya yang bulat berbinar penuh harap.

“Hmm.”

Luna mengulurkan jari kelingking mungilnya tepat di depan wajah Hendra. “Janji kelingking dulu sama Luna!”

Hendra terlihat enggan sejenak, melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan. Namun, melihat mata sang anak, ia akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya.

“Iya, Papa janji.”

“Yeay! Hore!” Luna melompat-lompat kegirangan di lantai dapur. “Papa harus pulang tepat waktu ya! Luna mau tiup lilin besar sama Papa dan Mama!”

“Ya. Papa berangkat dulu.” Hendra segera menyambar jas dan tas kerjanya tanpa berpamitan pada Ningsih.

Tak lama kemudian, suara raungan mesin mobil sedannya yang mahal terdengar membelah halaman rumah sebelum akhirnya menghilang di kejauhan. Luna masih berdiri di ambang pintu depan, melambaikan tangan kecilnya dengan penuh semangat ke arah jalan kosong.

“Papa nggak akan ingkar janji kan, Ma?” tanya Luna, menoleh ke arah ibunya.

Ningsih berjalan mendekat, berlutut untuk menyamakan tinggi mereka lalu memaksakan senyum terbaiknya meski hatinya terasa ngilu. “Iya, Sayang. Papa pasti tepati janji.”

Meski kalimat penenang itu terucap lancar, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Ningsih merasakan firasat aneh.

*

*

Sejak siang hari, rumah mereka mulai ramai. Balon-balon berwarna-warni sudah menghiasi halaman depan. Sebuah kue ulang tahun bertingkat dengan hiasan istana cokelat pesanan Luna juga sudah tiba dan tertata rapi di tengah ruangan.

Beberapa teman sekolah Luna berdatangan satu per satu didampingi orang tua mereka. Luna mengenakan gaun putih cantik berbahan brokat yang membuatnya tampak persis seperti putri kecil di dalam dongeng.

Wajahnya amat menggemaskan, namun sejak sore hari, pandangan mata bocah itu sama sekali tidak fokus pada permainan. Luna terus melirik ke arah gerbang rumah yang tertutup rapat.

“Mama...” Luna menarik ujung baju Ningsih.

“Iya, Sayang? Ada apa?” Ningsih berjongkok di samping putrinya.

“Papa di mana? Ini teman-teman sudah mau pulang.”

“Masih di kantor, mungkin jalanan sore sedang macet banget, Sayang.”

“Oh...” Luna mencoba kembali tersenyum, meski binar di matanya perlahan meredup.

“Papa pasti datang kok. Kamu jangan khawatir, ya? Ayo main tebak-tebakan dulu sama teman-teman,” ucap Ningsih sambil mengusap lembut kepala Luna.

“Iya, Mama.”

Jam terus berputar. Pukul lima sore terlewati. Lalu pukul enam sore datang berganti malam. Hingga akhirnya jam dinding berdentang menunjukkan pukul tujuh malam.

Pesta ulang tahun sebenarnya sudah berjalan meriah. Anak-anak kecil bernyanyi, memakan camilan, dan berlarian ke sana kemari. Tetapi, satu kursi kayu yang dihias balon biru, yang sengaja disiapkan Luna khusus untuk tempat duduk ayahnya, masih tetap kosong melompong.

“Mama...”

“Iya, Sayang?”

“Papa benar-benar belum datang?”

Ningsih tidak menjawab. Tangan kanannya diam-diam meraba saku, memeriksa ponselnya untuk kesekian puluh kali.

Nihil.

Tidak ada satu pun pesan singkat. Tidak ada panggilan keluar yang terjawab, dan sama sekali tidak ada kabar dari Hendra.

“Sebentar lagi mungkin, Nak. Jalannya macet sekali kalau jam pulang kantor,” kilah Ningsih, padahal ia tahu ini sudah lewat jam lembur sekalipun.

“Papa lupa ya sama janji kelingking tadi pagi, Ma?”

“Nggak, Sayang. Papa nggak mungkin lupa.”

“Tapi ini sudah malam, langitnya sudah gelap sekali Mama.”

Ningsih terpaksa mengulas senyum yang terasa hambar di bibirnya. “Papa mungkin sedang ada rapat dadakan yang sangat penting di kantornya. Papa mencari uang untuk kita.”

Luna kembali menunduk, menatap ujung sepatu mininya. Anak sekecil itu mungkin belum memahami apa arti sebuah pengkhianatan dan kebohongan orang dewasa.

Tapi di detik itu, ia mengerti betul bagaimana rasanya menunggu dalam ketidakpastian. Dan seolah mulai mengerti betapa sakitnya rasa kecewa.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!