NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Agenda di Hari Senin

Mentari Senin pagi mulai menyiram pelataran mansion Wijaya, membawa kembali deru kesibukan yang padat.

Bagi Arumi, hari ini adalah momen krusial. Ia harus segera kembali ke kampus untuk mengurus rapat koordinasi yudisium terakhir sekaligus mengambil undangan resmi wisuda. Target besar yang semula terasa mustahil dicapai sebelum tanggal 14 Maret kini sudah benar-benar berada di depan mata.

Pukul tujuh pagi, Arumi sudah siap di area meja makan dengan mengenakan blus kasual berwarna pastel.

Namun, ada yang tidak biasa dengan pemandangan pagi itu. Renard, yang biasanya sudah tampil sangat formal dengan setelan jas tiga lapis untuk bertempur di dewan direksi, justru tampak santai. Ia hanya mengenakan kemeja kasual biru dongker dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku.

Di sebelahnya, Mama Sofia tersenyum cerah sembari menyuapi si Oyen dengan makanan basah dari kemasan saset.

"Renard sudah membatalkan semua rapat paginya hari ini, Arumi," ujar Mama Sofia dengan nada antusias begitu menyadari Arumi menuruni tangga. "Dia yang akan mengantarmu ke kampus untuk mengurus berkas akhir wisuda."

Arumi menghentikan langkahnya tepat di samping meja makan, menatap Renard dengan saksama seolah tidak percaya. "Tuan Renard? Mengantar saya? Tapi bukankah Senin adalah hari tersibuk bagi Wijaya Group?"

Renard tidak langsung menyahut. Ia mengangkat cangkir kopi hitamnya, menyesap isinya perlahan dengan ekspresi sedatar mungkin, lalu membuang pandangan ke arah jendela luar. Ia tampak enggan beradu tatap dengan mata Arumi yang mulai berkilau jenaka.

"Jangan terlalu percaya diri, Arumi," desis Renard dengan suara baritonnya yang kaku dan sedikit ketus.

Ia tampak berusaha keras membangun kembali benteng wibawanya yang sempat runtuh akibat insiden si Oyen semalam. "Aku pergi ke arah kampusmu karena kebetulan ada agenda peninjauan proyek lahan baru milik anak perusahaan di wilayah itu. Daripada membuang bensin untuk dua mobil, lebih efisien jika kamu ikut di mobilku. Ini murni keputusan logistik yang rasional, bukan karena alasan lain."

Mama Sofia seketika mencibir pelan, menyenggol lengan putranya dengan gemas. "Logistik, katanya? Padahal semalam ada yang panik meminta sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal Senin pagi."

Renard langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya menegang kaku, dan semburat merah muda yang sudah sangat familier mulai merayap cepat dari balik kerah kemejanya, mewarnai kedua daun telinganya dengan sempurna. "Mama! Jangan menyebarkan rumor tidak berdasar di meja makan!" tegurnya dengan suara meninggi karena salah tingkah yang luar biasa.

Arumi hanya bisa menahan senyum kuat-kuat sembari mengambil sepotong roti panggang. Hatinya menghangat menyadari bahwa topeng besi suaminya di hari Senin ternyata masih sama rapuhnya.

Perjalanan menuju kampus dengan mobil SUV hitam itu berlangsung dalam keheningan yang canggung, namun tidak lagi terasa dingin. Renard fokus pada kemudi, sementara Arumi sesekali melirik profil samping wajah suaminya yang tampak tegas di bawah terpaan cahaya pagi.

Begitu mobil berhenti di halte luar gerbang kampus—tempat yang biasanya Arumi pilih untuk turun agar tidak memancing perhatian—Arumi bersiap membuka sabuk pengamannya. Namun, sebelum jemarinya menyentuh pengait, suara kunci otomatis mobil berbunyi. Klik. Renard mengunci seluruh pintu dari panel kemudi.

Arumi menoleh bingung. "Tuan Renard? Kenapa dikunci? Saya harus turun di sini agar Citra atau teman-teman kampus lain tidak melihat."

Renard mematikan mesin mobil, lalu memutar tubuhnya menghadap Arumi. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata istrinya, memancarkan keseriusan mutlak meski ada gurat kecemasan yang tersembunyi.

"Hari ini kita masuk sampai ke area parkir dalam gedung dekanat, Arumi," perintah Renard kaku, suaranya rendah dan penuh penekanan.

"Tapi, Tuan—"

"Tidak ada tapi-tapi," potong Renard tajam. Ia memajukan tubuhnya sedikit hingga Arumi bisa mencium aroma maskulin cendana yang pekat dari tubuh suaminya.

"Setelah insiden Paman Hendra hari Sabtu kemarin, mata-mata dari kubu Tante Amara pasti sedang gencar mencari tahu kelemahan kita. Jika mereka melihat Nyonya Wijaya turun di halte luar seperti mahasiswa yang tidak memiliki perlindungan, mereka akan langsung mengendus bahwa pernikahan ini memiliki celah. Aku tidak akan membiarkan reputasi dan investasiku dalam pernikahan kontrak ini hancur hanya karena ego kecilmu yang takut digosipkan teman kampus."

Pria itu kemudian kembali memalingkan wajahnya ke depan, namun jemarinya yang mencengkeram setir mobil tampak sedikit bergetar.

Daun telinganya kembali merona merah padam karena ia tahu betul bahwa alasan 'investasi' dan 'mata-mata' itu hanyalah tameng palsu. Itu hanyalah dalih agar ia memiliki alasan untuk berjalan di samping Arumi di hadapan dunia luar.

Arumi tertegun sejenak, menatap daun telinga suaminya yang memerah dengan binar mata yang melunak.

Ia tidak lagi membantah. Di balik kata-kata ketus dan ancaman kontrak itu, Arumi sadar bahwa Renard sedang memasang seluruh tubuh dan kekuasaannya sebagai pelindung terkuat untuk menjaganya dari badai apa pun di luar sana.

"Baiklah, Tuan Muda yang sangat visioner," balas Arumi lembut dengan nada menggoda, membuat Renard semakin salah tingkah dan terburu-buru menyalakan kembali mesin mobilnya dengan gerakan yang sangat kaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!