NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Gemas.

"Unghhh... Axel... udah dong... aku... aku kehabisan napas nih..." rintih Aruna putus asa, dadanya naik turun hebat.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali mendorong dada bidang tunangannya itu, berusaha memberi jarak sedikit agar bisa bernapas lega. Wajahnya sudah memerah padam, matanya berkaca-kaca karena terbius oleh ciuman ganas itu.

Namun... Axel justru tahu rahasia besar.

Dari sudut matanya yang tajam, ia bisa melihat bayangan orang-orang yang berkerumun di balik celah pintu. Ia sadar betul kalau para bawahannya itu sedang mengintip diam-diam, menahan napas melihat aksinya.

Dan bukannya berhenti, pria posesif ini malah dapat ide jahil.

'Oh kalian mau lihat ya? Oke... saya kasih tontonan gratis yang lebih seru!' batinnya miring.

Alih-alih melepaskan, Axel malah semakin menjadi-jadi. Ciumannya yang tadinya di bibir, kini perlahan turun menyusuri rahang, lalu mendarat dengan ganas dan penuh hasrat di area leher putih mulus tunangannya itu.

"Ahhh!!"

"Axel... jangan... Jangan di situuu... Uhhhhh..." Aruna langsung menggeliat hebat, keningnya berkerut menahan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia panik bukan main, tangannya mencengkeram bahu suaminya erat.

"Aku... aku bakalan pulang kok! Janji deh langsung pulang sekarang juga! Jangan dilanjut ahhh... jangan di situuu..." rengeknya kencang, suara desahannya terdengar jelas dan makin memancing imajinasi orang-orang di luar sana.

Axel tersenyum puas di leher kekasih hatinya, 'Silakan lihat... biar kalian sadar kalau wanita ini sepenuhnya milikku!'

Axel tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah tunangannya yang sudah memerah padam, campuran antara rasa malu yang luar biasa dan rasa kesal yang memuncak.

"Aruna... ingatlah sayang kamu adalah calon istriku... artinya kamu milikku." ucap Axel sambil mencium pipi gadisnya dengan sangat posesif, seakan ingin menandai kepemilikannya di sana.

"Axel udah deh berhenti... aku mau pergi... uhhh lepasin dong... " rengek Aruna putus asa, tangannya mendorong dada bidang suaminya dengan malas.

"Akan aku lepaskan kalau kamu katakan siapa pemilik hatimu." goda Axel tidak mau melepaskan. Aruna langsung berbalik arah membelakangi Axel, tapi tangan Axel masih memeluknya erat.

"Kamu... jelas kamu... Uuuhh lepas dong sayang, sesak nih... " Rengekan manja itu akhirnya membuat Axel tersenyum puas lebar.

"Lauder... " gumamnya pelan.

Namun detik itu juga kesabaran Aruna habis sudah. Dengan gerakan cepat ia langsung menginjak kaki Axel dengan sepatu hak tingginya, meski berhasil dihindari dengan mudah oleh Axel itu sendiri.

"Dasar Rajungan !!!! Aku nyesel deh datang kesini... kamu malah seneng ya melihat aku marah begini." teriak Aruna kesal, wajahnya manyun sempurna dengan tangan dilipat kuat di dada.

Alih-alih takut, Axel justru makin gemas bukan main. Dan ia sadar betul, jika para perwira di luar sana sedang diam-diam mengintip ke arah mereka dengan tatapan penasaran dan berbinar-binar.

Segera saja dia membalikan posisi Aruna agar menatap tepat ke arahnya. Tangan besarnya mengelus lembut wajah cantik yang sedang manyun manja itu, menenangkan amarahnya.

"Yasudah, kamu boleh pergi. ini kartu kredit yang kamu minta. Kamu boleh beli apapun, tokonya sekalipun silahkan. Mau traktir siapapun juga gak masalah. Dengan catatan kamu bahagia..." Ucap Axel sambil mengecup kening Aruna dengan penuh cinta.

Ucapan manis dan ciuman lembut itu sukses membuat gadis itu langsung meleleh seketika. Rasa marahnya lenyap entah kemana. Dengan cepat tangan mungilnya langsung menyambar kartu kredit yang disodorkan Axel dan memasukkannya ke dalam tas.

"Ok, makasih... aku pergi dulu bye..."

"Aku antar sampai depan." balas Axel singkat, lalu langsung menarik Aruna mendekat ke samping tubuhnya, seakan-akan gadis itu tidak boleh berjalan sejengkal pun jauh darinya.

Mereka berdua lalu berjalan keluar menuju area luar gedung angkatan darat, menuju parkiran.

Aruna naik taksi dan pergi dengan aman. Namun meski gadis itu sudah pergi, mata para bawahannya masih saja mencari-cari sosoknya. Bahkan ada yang nekat mengikuti langkah mereka sampai ke area parkir hanya untuk bisa melihat wajah cantik itu sedikit lebih lama.

'Dasar...' batinnya geli sekaligus bangga.

Ia sadar betul, bagaimanapun juga Aruna memang diciptakan untuk selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Kecantikan dan auranya begitu kuat, bisa membuat siapa saja lupa segalanya, lupa diri, dan lupa apa yang sedang mereka kerjakan, hanya karena terpikat pesona gadis itu.

Taksi sudah terparkir rapi di hadapan mereka. Aruna melepaskan genggaman tangan pria itu tanpa beban, jemarinya dingin dan bergerak santai seolah tak ada rasa berat hati untuk berpisah.

"Yasudah, aku masuk dulu," ucapnya datar, matanya bahkan tak menatap penuh pada wajah Axel, melainkan sibuk merapikan ujung rambutnya sendiri.

Axel tidak menjawab segera. Pria itu hanya berdiri tegap memandanginya, wajahnya kembali menyiratkan ketegasan dan kedataran khas seorang pemimpin. Aura dingin dan menakutkan itu perlahan kembali menyelimuti dirinya, seolah mengingatkan bahwa di tempat ini, ia adalah penguasa. Namun, di balik sorot matanya yang tajam, tersimpan api kepemilikan yang membara.

Tangan besarnya terulur, bukan untuk memohon, melainkan untuk menuntut. Jari-jarinya mencengkeram dagu Aruna lembut namun tak terbantahkan, memaksa wajah mungil itu mendongak dan bertatapan dengan dirinya.

"Silahkan, tapi ingat kamu sekarang milikku Aruna... hanya milikku," ucap Axel pelan, suaranya berat dan dalam, terdengar dingin namun sarat akan perintah. "Jangan buat aku khawatir, selalu hubungi aku jika ada apa-apa."

Aruna hanya mendengus pelan, menepis tangan itu dengan malas, wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Seolah ancaman manis itu hanyalah angin lalu.

"Berisik ah. Urus saja pekerjaanmu. Aku tahu batasan kok..." sahutnya ketus, lalu berbalik badan dan membuka pintu taksi dengan gerakan anggun namun acuh tak acuh.

Sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, Axel berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun tetap memancarkan otoritasnya.

"Aruna..."

Gadis itu menoleh sedikit, hanya separuh wajahnya yang terlihat.

"Kamu milikku," ucap Axel singkat, padat, dan final. Sebuah penegasan yang tak butuh jawaban.

Aruna hanya memutar bola matanya malas, lalu masuk dan menutup pintu dengan suara klik yang tegas.

'Euhhh... semakin lama Axel malah makin posesif padaku, bikin kesal saja. Tapi... disaat yang sama aku makin jatuh hati sama dia,' batin Aruna bicara sendiri.

 

Taksi itu mulai melaju meninggalkan halaman markas. Axel tetap berdiri di tempatnya, memandangi kendaraan itu hingga menghilang di tikungan jalan. Wajahnya kembali datar, tak ada senyum, tak ada kerutan. Ia menyesuaikan kerah seragamnya, kembali menjadi Komandan yang dingin dan tak tersentuh.

Namun, dalam diam, ia mengepalkan tangannya. Bahkan saat jarak memisahkan mereka, dan saat ia harus kembali tenggelam dalam tumpukan tugas, pikirannya tak akan pernah benar-benar lepas dari sosok wanita itu. Aruna boleh bersikap seolah tak peduli, tapi Axel tahu betul... hatinya sudah terkunci rapat di dalam genggamannya.

Dengan langkah tegap, pria itu berbalik. Waktu bermain cinta sudah selesai, kini saatnya ia kembali menjadi raja di wilayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!