Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 10. Telepon dari ibu
Aku ketiduran, entah berapa jam aku terlelap karena lelahnya di perjalanan. Hitung-hitung selama tiga hari menunggu rapat ini adalah istirahat, karena sejak mas Barraq dibawa mas Nadim pulang, aku tidak pernah libur sama sekali.
Kadang aku bertanya-tanya, adalah orang sepertiku yang tidak memiliki hari libur? Aku sering merasa heran dengan pekerjaanku sendiri sebenarnya. Tapi aku tutup mata saja dengan lelahnya, karena hasil yang aku terima melebihi kebutuhan hidupku.
Dasar mata duitan aku ini.
Aku bangun, karena merasa perutku keroncongan. Setelah membersihkan diri, aku keluar dari penginapan ini dengan baju formal lagi. Baju yang tadi aku kenakan, sedang aku cuci dalam mesin cuci yang bisa langsung kering seketika.
Di sini penuh dengan lahan kopi, bahkan sepanjang perjalanan tadi yang aku lihat hanyalah kebun kopi. Aku melangkah turun ke lantai dasar, sebelum akhirnya sampai juga di coffee shop depan penginapan ini.
Entah berapa ratus jumlah coffee shop dalam naungan Company Putra Tunggal Berintan ini dalam satu Indonesia. Tapi di sini nama coffee shopnya pun sama, Keude Kupi, dengan di bawahnya ada tahun pertama kali coffee shop ini ada. Cukup lama, mungkin satu abad yang lalu. Sepertinya ini adalah coffee shop warisan nenek moyang yang terus dikembangkan, jadi tidak pernah bangkrut.
“Mau rice bowl, sate saikoro, sama air putih kemasannya satu ya, Kak,” pesanku langsung pada karyawan dengan apron yang dikenakan ketika tengah melayani pelanggan juga.
“Baik, Kak. Ditunggu ya?” Ia tersenyum ramah.
Aku mengangguk dan mencari meja kosong.
Mulutku masam, di sini normal tidak ya jika perempuan menikmati pod? Aku takut dipandang lain, meski jelas di leherku tergantung pod favoritku.
Loh, aku melongo seperti orang bodoh. Melihat wajah-wajah suaminya ibu Nala yang berjumlah tiga, tapi di antara mereka tidak ada yang bertato dan beranting. Aku terus mengamati mereka, sampai mereka semua menoleh ke arahku.
Begitu tersadar, aku langsung sibuk pura-pura bermain ponsel. Mati kutu aku diamati oleh tiga om-om matang menawan itu. Aku dikira calon ani-ani bisa-bisanya nanti.
“Hayo, hayo!” seru tiga orang yang rupanya sama itu pada pemuda yang bertelan**** dada berlari dari arah jalan depan, lalu berlari ke samping coffee shop ini dengan wajah paniknya.
Aku speechless melihat pemuda yang dikejar itu.
Ia bos kampret yang berani mencium pipiku dan meminta kepastian padaku saat itu.
Ditambah kagetnya aku, orang yang mengejar mas Barraq adalah ayah kandungnya sendiri, mas Nadim. Ternyata, di mana-mana mereka berantem terus.
“Heh, Dim! Tambah masuk dia ke ladang, biarin duh…” Salah satu laki-laki matang yang memiliki wajah serupa dengan ayahnya mas Nadim itu turun dari coffee shop dan mencoba meraih mas Nadim.
Aku tidak bisa membayangkan pusingnya ibu Nala menghadapi anak dan cucunya yang suka sekali adu jotos itu. Tapi, hal itu membuat garis bibirku tertarik ke atas sejak tadi.
Nanti anaknya babak belur, mas Nadim membawa anaknya ke rumah sakit sendiri. Lucu sekali orang-orang ini.
Mas Nadim terlihat begitu emosi sampai wajahnya merah padam, ditambah lagi ia ngos-ngosan juga. Meski aku melihat dari jarak yang tidak begitu dekat, tapi terlihat jelas karena warna kulitnya cerah.
“Yang bener aja coba, Pakwa? Masa iya adik-adiknya dan mamahnya dibawa ke sini? Tak ngertiin betul perasaan aku dan istriku,” ungkapnya dengan sorot mata yang akan seperti ingin membunuh mas Barraq.
“Loh? Sejak kapan? Pakwa tak tau,” sahut laki-laki yang merangkul mas Nadim untuk duduk bersama itu.
Mas Nadim melihatku, ia menyadari kehadiranku di sini. Namun, ia tidak menyapaku. Ia duduk di lingkungan laki-laki yang rupanya sama dengan ayahnya itu.
“Malam tadi dijemputnya di bandara, terus pagi tadi dibawanya ke rumah. Si kampret itu kek kepengen betul rumah tangga ayahnya hancur tuh, Pakwa, Pakcik,” ungkapnya dengan mata yang sering terarah ke arahku.
Oh, beliau memiliki istri ternyata. Ya wajar sih, gadis kecil yang dibawa ibu Nala pagi tadi saja kan itu anaknya mas Nadim. Berarti adiknya mas Barraq.
Aku tidak bisa jika dilihatin terus. Aku sengaja pindah ke meja yang arahnya membelakangi mereka, agar aku santai memakan makananku.
Entah obrolan apalagi, karena orang-orang yang keluar dari penginapan berbondong-bondong menyerbu coffee shop ini. Jadi suara mereka kalah dengan suara pengunjung yang lain.
Tapi mas Barraq keterlaluan sih, jika iya sampai membawa mamahnya dan adik-adiknya ke sini. Memang dalam rangka apa coba? Mana di sini akan diadakan rapat tahunan, sudah pasti keluarganya tengah sibuk-sibuknya.
Ibu kandungnya itu tinggal di Yogyakarta sebelumnya. Lalu setelah kasus mas Barraq rampung, mereka semua diboyong ke Jakarta. Nah, setelahnya aku tidak tahu lagi ceritanya.
Setelah makan aku kembali ke penginapanku, karena aku tidak tahan dengan mulut masamku. Aku sengaja ngepod di dapur, karena ada exhaust di sini.
Pikiranku mundur saat dua bulan silam, di mana aku mengatakan bahwa aku masih bersuami saat ditanya oleh mas Nadim. Sejak saat itu, mas Barraq tidak terlihat mataku. Berarti memang keluarganya menjauhkannya dariku. Memang niatnya bagus sih, kan jangan sampai anaknya merusak rumah tangga orang lain.
Saat aku sedang bergelut dengan pikiranku sendiri, ada panggilan masuk dari ibuku. Sudah pasti beliau akan mencecarku tentang pernikahanku dengan mas Galih. Aku harus berkata apa coba?
“Ya hallo.” Aku menghembuskan asap dari mulutku.
Pening sekali, Ya Tuhan. Mana aku harus menghadiri rapat tahunan, yang tidak kumengerti bagaimana acaranya. Aku tidak punya gambaran. Jika aku harus presentasi, apa yang akan aku bicarakan di depan umum? Ditambah lagi persoalan tentang rumah tanggaku ini.
“Dea, pulanglah dulu, Nak. Selesaikan masalahnya, jangan kabur dari masalah,” ujar ibuku dengan suara yang terdengar seperti amat khawatir.
“Siapa yang kabur? Bu, aku loh kerja. Ekonomi Ibu lebih baik sekarang, ekonomi mas juga sekarang jauh lebih baik. Bulanan yang aku kasih untuk mas Galih, memang itu asalnya dari mana? Kan aku udah pernah ceritakan juga kek mana Dea kerja di sini,” ungkapku frustasi.
“Kalau kamu sering pulang, mungkin nggak akan begini ceritanya,” ucap ibu kemudian.
“Terus, katanya kamu nggak nyahutin apa-apa. Cuma dibaca aja pesan dari Galih. Kamu pun nggak merespon apapun juga,” lanjut ibu yang memang kuangguki. Tapi sayang, ibu tidak bisa melihatnya.
“Aku harus ngomong apa, Bu? Aduh, Mas. Jangan-jangan, jangan ceraikan aku, begitu?” Aku kembali menarik rasa dari rokok elektrikku ini.
Candu sekali, aku kadang mengkhawatirkan kesuburanku.
“Gengsi lah, Bu. Harga diri,” lanjutku tegas.
“Nah itulah kamu. Sama suami aja gengsi, harga diri. Ibu nggak ngerti permasalahannya apa, tapi lebih baik kan kamu pulang dulu untuk menyelesaikan masalahmu. Orang tuh nggak ada ngalahnya salah satunya. Yang ini keras, satunya lebih keras lagi. Ibu sama Bapak loh harus nasehati apalagi ke kamu? Kamu udah dewasa, udah paham kehidupan. Cuma nggak ngertinya tuh kenapa berulang terus kejadian begini sampai tiga kali. Ibu loh nggak ngerti kamu kurang apa, kamu salah di bagian mananya. Makanya Ibu minta kamu pulang biar diselesaikan dengan kepala dingin,” ungkap ibu panjang lebar.
Hadeh, dikiranya aku tengah berlibur. Bisa pulang sesuka hati.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠