NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

terbongkar hari ini

...----------------...

Cia dan Sinta turun dari mobil dengan niat membocorkan semuanya, mereka melangkah santai menemui Arman yang sudah ada diluar rumah bersama Arka dan Laura

Suasana tegang begitu juga dengan Arman yang tampak pasrah ia hanya bisa memegang kepalanya yang mulai pusing melihat apa yang akan terjadi

Sementara Arka yang kaget melihat Cia datang kerumahnya

"Cia, kok kamu kesini?" tanya Arka ke Cia yang baru saja turun dari mobil

Cia pun mendekati Arka sambil mengulurkan tangannya

"Arka, perkenalkan aku Cia dan aku adalah..." ucap cia dengan melihat kearah Arman sementara Arman hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya

"aku adalah anak dari ayah kamu" lanjutnya, Arman hanya bisa memejamkan matanya

Rohaya dan Bela yang sudah melihat kejadian itu diruang tengah pun kaget mendengarnya

"APA??!!" teriak Rohaya dari dalam ruangan tengah menuju keluar menemui mereka dan melihat kearah Sinta lalu ia melihat kearah Cia

Arka dan Laura yang mendengar itu juga terkejut karna telah mengetahui bahwa Cia adalah anak ayahnya dari wanita masalalunya itu

"Ci serius?" tanya arka yang masih tidak menyangka

"ya, aku juga baru tau sih sekarang giliran dia aja yang mau mengakui atau tidak" jawab Cia dengan menunjuk kearah Arman yang sedang terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun

Rohaya pun mendekat kearah Arman sambil menarik lengan bajunya dengan mata berkaca-kaca

"maaf aku terpaksa datang kesini untuk memberitahu semuanya, karna kami juga mau diakui man!" jawab Sinta sambil merangkul pundak Cia

"lalu setelah kalian datang kesini kalian mau apa? Mau ambil Arman biar ikut sama kalian gitu?" jawab Rohaya dengan napas sesak dan tangan yang masih gemetar

Laura yang tampak memegang lengan tangan Arka untuk menenanginya

"tidak perlu, kami datang kesini biar kalian tau kalo kami itu ada biar kami dianggap ada oleh dia" jawab Cia yang menunjuk kearah Arman

Rohaya pun menangis, rasa sakit dimasalalu itu kembali lagi. Tangisnya pecah seketika, tubuhnya perlahan turun hingga bersimpuh pasrah di lantai, meratapi takdirnya.

Bela yang tadinya diam langsung memeluk dan menenangkan rohaya

"ayah" panggil Arka sambil melihat kearah Arman yang sedang terdiam sambil mengeluarkan airmata

Arman pun berkata untuk pertama kalinya setelah lama terdiam merenung

"kan aku sudah bilang bukan sekarang waktunya, aku ingin mencari waktu dulu untuk memberitahu semuanya!" ucap Arman mengeluarkan seluruh emosinya

"lalu kapan lagi? bertahun-tahun kamu menelantarkan aku dan anak kamu ini!" jawab Sinta dengan tegas penuh pendirian

"oke! Aku salah lalu kenapa? Aku salah dan aku emang salah!" bentak Arman dengan memukuli dadanya sendiri

"ayah jangan nyakitin diri ayah sendiri" ucap Arka sambil menenangkan Arman

"ini semua salah ayah" jawab Arman sambil menangis menyesali perbuatannya dulu

Seketika rumah itu dipenuhi dengan airmata, tetangga yang lewat hanya melihatnya sekilas tanpa peduli dengan yang terjadi

Bertahun-tahun lamanya Arman menyembunyikan anak dari Sinta akhirnya terbongkar dihadapan rohaya serta anak-anak nya

"sekarang kamu tinggal pilih, pilih tinggal bareng kita disini atau tinggal bareng mereka!" ucap Rohaya berdiri pelan, dengan melihat kearah Arman yang sedang duduk dilantai seolah tak berdaya

"tidak Rohaya jangan kasih pilihan seperti itu aku mohon" Arman yang langsung berlutut didepan Rohaya sambil memegang tangannya.

"lalu gimana dengan kami Arman?" sahut Sinta dengan melangkah pelan kearah Arman lalu Arman pun berdiri melihat kearah Sinta

"kamu lupa perjanjian kita dulu? Kita sudah selesai tapi kenapa kamu menghancurkan semuanya" jawab Arman dengan tegas

"tapi ini bukan soal kita! Ini soal anak kita!" sahut Sinta dengan penuh amarah didalam hatinya

"gak bisa maaf aku gak bisa" jawab Arman dengan perlahan

sementara Laura yang tak tega melihat adegan itu pun langsung mendekat dan menenangkan rohaya

tiba-tiba suara tamparan keras itu terdengar

Plakkk!!!

Sinta menampar Arman tanpa ragu karna menurutnya Arman harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi

Arka tampak terkejut melihat Sinta yang berani menampar ayahnya, ia pun langsung melerai pertengkaran itu

"sudah Tante cukup! Kita bisa obrolin ini baik-baik" ucap Arka dengan maksud mencairkan suasana agar keduanya segera berdamai

"permasalahan ini harus segera selesai tapi ayah kamu itu tidak segera mempertanggung jawabkan ini, Arka kamu harus tau itu!" sahut Cia

"itu sebabnya aku iri dengan kamu, kamu punya keluarga, punya ayah yang mengakui keberadaan kamu, sedangkan aku?" lanjutnya

"Ci, kamu ga seharusnya iri dengan aku" jawab Arka dengan perlahan

"cukup! Sekarang saya tanya ke kalian! Apa mau kalian sekarang?!" tanya Rohaya dengan mata melotot tangan menunjuk kearah Sinta dan Cia

"selain menafkahi kamu, Arman harus menafkahi kami!" ucap Sinta dengan tegas

"baiklah kalo itu mau kalian, aku akan menuruti keinginan kalian" setelah cukup lama terdiam, arman akhirnya memotong pembicaraan. Suaranya terdengar pasrah, namun ada kilat kemarahan yang tertahan di matanya.

Rohaya terbelalak mendengar keputusan suaminya. "Apa? Arman, kamu gila?! Kamu mau membagi harta dan perhatianmu untuk mereka?" pekik Rohaya tidak terima. Dadanya kembang kempis menahan murka.

Sinta tersenyum sinis, merasa berada di atas angin. "Dengar itu, Rohaya. Suamimu sendiri yang sadar akan kewajibannya. Jadi, jangan coba-coba menghalangi kami lagi," tantang Sinta dengan dagu terangkat.

Sementara itu, Cia hanya tertunduk. Air matanya menetes perlahan. Di satu sisi ia merasa lega karena statusnya mulai diakui, namun di sisi lain, ia takut Arka akan membencinya setelah kejadian ini

Arka yang melihat situasi semakin memanas segera melangkah ke tengah, berdiri tepat di depan ayahnya. "Ayah, tolong pikirkan baik-baik. Ini bukan cuma soal uang atau nafkah materi. Kehadiran mereka di sini akan mengubah semua kehidupan kita," ujar Arka dengan nada memohon namun tegas.

Arman menghela napas berat, lalu menatap Arka dan Rohaya bergantian. "Ayah tidak punya pilihan, Arka. Masa lalu yang Ayah kubur dalam-dalam sekarang sudah bangkit. Jika Ayah tidak menyelesaikannya sekarang, badai ini tidak akan pernah mereda."

Arman kemudian membalikkan badannya menghadap Sinta dan Cia. "Aku akan memberikan apa yang kalian minta. Rumah, uang bulanan, dan pengakuan legal untuk Cia. Tapi dengan satu syarat," tegas Arman, membuat suasana mendadak senyap.

"Apa syaratnya?" tanya Sinta penuh selidik.

Arman menunjuk ke arah pintu gerbang . "Kalian harus pergi dari rumah ini sekarang juga. Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi, atau semua kesepakatan ini batal!"

Sinta tertegun sejenak, matanya menyipit menatap Arman yang berdiri tegak dengan sorot mata tak terbantahkan. Syarat itu terasa seperti tamparan tidak kentara, sebuah pengusiran yang dibungkus dengan kesepakatan resmi. Namun, ego Sinta terlalu tinggi untuk menunjukkan kekalahannya di depan Rohaya.

"Hanya itu?" Sinta mendengus remeh, melipat kedua tangannya di dada. "Kami memang tidak sudi berlama-lama di bawah atap yang sama dengan wanita itu. Asalkan semua hak Cia kau penuhi secara hukum—hitam di atas putih—kami akan pergi sekarang juga."

Kira-kira apa yang akan dilakukan Arman? Setuju atau tidak?

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!