Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
Angin yang membawa bau anyir darah terasa membeku di atas rawa. Keheningan mutlak menyelimuti area itu, hanya diselingi oleh suara napas terengah-engah dari murid-murid Sekte Pedang Tirani yang berusaha menarik tubuh pemimpin mereka, Kuang Lei, menjauh dari medan pertarungan.
Di sisi lain, Feng Wuhen, sang jenius dari Paviliun Angin Musim Gugur, merasakan jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Ia mundur setengah langkah secara naluriah. Sebagai praktisi elemen angin, ia sangat peka terhadap aura membunuh, dan apa yang dipancarkan oleh pemuda bertopi caping di depannya bukanlah niat membunuh seorang kultivator, melainkan ketajaman murni sebuah pedang dewa yang dihunus.
"T-Tunggu! Sobat, kita tidak punya dendam pribadi!" Feng Wuhen tergagap, keringat dingin mengalir di dahinya. Kesombongan yang ia tunjukkan beberapa saat lalu menguap sepenuhnya. "Jika kau menginginkan Biji Teratai itu, ambillah! Kami... kami akan segera mundur!"
Feng Wuhen tidak bodoh. Ia tahu batas kemampuannya. Kuang Lei yang memiliki ketahanan fisik jauh di atasnya dikalahkan dengan begitu memalukan. Menggunakan sihir angin tingkat Pembangunan Pondasi pada monster fisik ini kemungkinan besar hanya menggelitiknya.
Lin Tian menghentikan langkahnya. Matanya yang dingin menatap rombongan Feng Wuhen untuk terakhir kalinya, menancapkan teror yang akan mereka ingat seumur hidup, lalu berbalik mengabaikan mereka.
Tujuannya bukanlah membantai elit sekte, melainkan memulihkan kondisinya. Biji Teratai Pedang yang ia genggam di tangan kanannya bereaksi semakin liar. Energi tajam purba di dalamnya mencoba melubangi telapak tangannya. Meskipun Tulang Pedang Sejati miliknya mampu menahannya, jika dibiarkan terlalu lama tanpa diserap, esensi Niat Pedang di dalam biji-biji ini akan menguap ke udara.
Tiba-tiba, sebuah raungan logam yang memekakkan telinga terdengar.
ROAAARR!
Roh Pedang Darah raksasa, yang sejenak terlupakan oleh kekacauan tadi, kini kembali bangkit. Kaki dan lengan yang terputus telah kembali menyatu menggunakan pedang-pedang dari dasar rawa. Sosok raksasa itu mengamuk, menyadari bahwa harta yang ia jaga di atas altar telah dirampas.
Roh Pedang Darah mengangkat pedang raksasanya yang terbuat dari puluhan pedang berkarat yang menyatu, lalu mengayunkannya lurus ke punggung Lin Tian. Tebasan ini membawa kekuatan penuh puncak Pembangunan Pondasi, bahkan cukup untuk melukai ahli Inti Emas tahap awal!
"Awas!" teriak salah satu murid Paviliun Angin tanpa sadar.
Lin Tian tidak menoleh. Ia hanya berhenti melangkah, membiarkan tebasan bayangan kematian itu mendekat.
Di saat pedang raksasa itu berjarak satu jengkal dari punggungnya, tubuh Lin Tian bereaksi dengan refleks yang jauh melampaui kemampuan pikiran. Lengan kanannya melesat ke atas dalam gerakan memutar (uppercut).
BAMMMM!!!
Kepalan tangan perunggu Lin Tian bertabrakan langsung dengan bilah pedang raksasa dari Roh Darah itu.
Sebuah ledakan udara berbentuk cincin meluas dengan brutal, meratakan permukaan rawa. Namun, bukannya Lin Tian yang hancur, bilah pedang raksasa milik Roh Darah itulah yang retak dari titik benturan, lalu hancur berkeping-keping kembali menjadi pedang-pedang berkarat yang berserakan.
Roh Pedang Darah terhuyung mundur. Sebelum raksasa itu bisa meregenerasi senjatanya, Lin Tian memutar tubuhnya. Ia menyentakkan kaki kanannya, melesat ke atas udara layaknya meteor yang melawan gravitasi, menuju sejajar dengan dada Roh Pedang Darah.
"Hancur," desis Lin Tian.
Lin Tian melayangkan tinju kirinya yang dilapisi tekanan Baja Pembelah Urat langsung ke jantung wujud raksasa tersebut—titik di mana sebuah pedang batu hitam kuno tertanam sebagai inti kehidupannya.
CRACK! KRAAAASSH!
Inti batu hitam kuno itu pecah menjadi ribuan kepingan cahaya. Wujud Roh Pedang Darah raksasa itu seketika kehilangan tenaganya. Ribuan pedang berkarat yang menyusun tubuhnya berjatuhan ke dalam rawa seperti hujan rongsokan, memercikkan lumpur darah ke mana-mana. Sang penjaga rawa telah dikalahkan dalam dua serangan tangan kosong!
Lin Tian mendarat kembali ke daratan dengan tenang. Tanpa melirik sisa-sisa reruntuhan atau kultivator yang membeku karena syok, ia melangkah masuk ke dalam hutan berdaun jarum yang gelap, menghilang dari pandangan layaknya hantu di siang bolong.
Feng Wuhen dan rombongannya baru bisa bernapas panjang setelah bayangan pemuda itu benar-benar lenyap.
"S-Siapa monster itu...?" bisik salah satu elit murid Paviliun Angin, kakinya lemas hingga terduduk di tanah berdarah.
Feng Wuhen menyeka keringat di dahinya. "Kekuatan fisiknya menembus akal sehat. Bahkan Tuan Muda dari Tanah Suci mungkin tidak bisa meremukkan pedang spiritual dengan tangan kosong semudah itu."
Ia menatap ke arah hutan tempat pemuda misterius itu menghilang. Sebuah firasat buruk merayapi hatinya. Alam Rahasia Lembah Musim Gugur kali ini akan menjadi kuburan massal jika orang itu memutuskan untuk mulai berburu manusia.
Jauh di pedalaman hutan berdaun jarum, Lin Tian menemukan sebuah gua dangkal yang tertutup semak belukar. Ia membersihkan beberapa binatang beracun di sekitarnya dan duduk bersila di tengah gua.
Ia mengeluarkan ketiga Biji Teratai Pedang dan meletakkannya di telapak tangannya. Biji-biji berwarna hitam legam dengan guratan perak itu masih berdenyut layaknya jantung hidup.
"Dantianku adalah sangkar yang telah hancur," gumam Lin Tian. Ia menurunkan pandangannya ke perutnya, di mana dulunya lautan Qi berada, kini hanya tersisa pusaran kosong yang menyakitkan.
Ia mengingat ukiran Seni Pedang Sembilan Kematian tahap menengah. Untuk menampung Niat Pedang dalam jumlah masif, tubuh manusia fana membutuhkan sebuah "pusat jangkar" agar energi ekstrem tersebut tidak meledakkan tubuhnya sendiri.
"Biji ini akan menjadi intiku. Bukan Inti Emas seperti kultivator biasa, melainkan Inti Pedang Ketiadaan (Void Sword Core)."
Lin Tian tanpa ragu membuka mulutnya, melemparkan ketiga Biji Teratai Pedang itu sekaligus, dan menelannya bulat-bulat.
Begitu biji-biji itu masuk ke kerongkongannya, sensasi terbakar yang luar biasa dahsyat menyiksa dadanya. Rasanya seperti ia menelan lava mendidih yang dicampur dengan pecahan kaca.
Biji-biji itu meluncur turun ke perutnya, tepat ke posisi Dantian lamanya yang hancur. Di sana, ketiga biji itu mulai meledakkan esensi Niat Pedang kuno yang terperangkap di dalamnya selama ribuan tahun!
ZRAAASH!
Udara di dalam gua seketika terdistorsi. Ribuan sayatan pedang tak kasat mata meledak dari tubuh Lin Tian ke segala arah, mengiris dinding gua hingga meninggalkan bekas luka memanjang sedalam beberapa inci.
Di dalam tubuhnya, rasa sakitnya seratus kali lipat lebih parah daripada saat ia pertama kali berlatih di tambang. Sisa-sisa meridian lunaknya yang hancur dikoyak habis-habisan. Organ dalamnya terasa seperti diblender oleh puluhan pisau bedah.
"Argh!" Lin Tian menggertakkan giginya hingga beberapa giginya retak. Darah segar merembes dari mata, hidung, dan telinganya.
Namun, ia tidak panik. Ia memusatkan seluruh sisa kekuatan mentalnya untuk menjalankan sirkulasi Seni Pedang Sembilan Kematian. Ia memaksa otot dan Tulang Pedang Sejati di tangan kanannya untuk menekan ledakan energi buas tersebut dan mengarahkannya kembali ke pusaran di perutnya.
"Tunduk padaku!" bentak pikiran Lin Tian.
Perang antara kehendak manusia yang menolak mati melawan esensi ribuan pendekar pedang kuno berlangsung sengit di dalam tubuh ringkih tersebut.
Satu jam. Dua jam. Enam jam berlalu.
Darah Lin Tian telah membentuk genangan kecil di sekelilingnya, mengering menjadi kerak. Napasnya sangat pelan, nyaris seperti mayat. Namun, di pusat perutnya, sebuah keajaiban yang mengerikan sedang terjadi.
Ketiga Biji Teratai Pedang itu, di bawah tekanan ekstrem dari Niat Pedang Lin Tian sendiri, perlahan-lahan mulai meleleh. Cangkangnya yang keras hancur, dan isinya yang berupa cairan perak murni mulai menyatu, mengisi ruang kosong tempat Dantian lamanya pernah berada.
Cairan perak itu berputar, memadat, dan akhirnya mengkristal menjadi sebuah teratai perak kecil yang tertutup. Kelopaknya setajam silet, dan di setiap sela kelopaknya, terpancar aura ketiadaan yang sangat menakutkan—bukan menyerap Qi alam untuk menghasilkan sihir, melainkan mampu menelan dan memotong segala bentuk energi (Qi) yang mendekatinya.
BUK-DUM.
Pusat Dantian baru itu berdetak satu kali, seirama dengan jantung Lin Tian.
Seketika, gelombang energi keperakan menyapu ke seluruh pembuluh darahnya. Semua rasa sakit menghilang dalam sekejap, digantikan oleh ledakan kekuatan fisik dan kejernihan pikiran yang tak masuk akal.
Lin Tian perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi iris hitam kelam; pupil matanya kini menyala dengan warna perak murni selama beberapa detik, sebelum akhirnya meredup kembali normal.
Ia telah berhasil. Ia tidak membangun kembali Dantian fana, ia telah menempa Inti Teratai Pedang. Sebuah pencapaian yang bahkan Gu Chen di masa lalu gagal raih dan akhirnya mati.
Lin Tian bangkit perlahan. Jubahnya yang berlumuran darah kini terasa ringan. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Meskipun batas Alam Rahasia ini adalah Pembangunan Pondasi Puncak," bisik Lin Tian dingin, "Dengan Inti Teratai Pedang ini... jangankan jenius sekte. Jika Zhao Tiangang berani masuk kemari, aku akan memisahkan kepalanya dari lehernya dengan tangan kosong."
Lin Tian berjalan keluar dari gua. Langit Alam Rahasia telah berubah menjadi gelap, malam telah turun di Lembah Musim Gugur. Waktunya untuk berburu harta karun sesungguhnya, peninggalan sejati yang ada di Pusat Alam Rahasia, telah tiba.