Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *9
Sambungan telepon terputus. Merlin menatap troli belanja yang sudah hampir penuh itu selama beberapa detik. Matanya kosong, pikirannya berputar kacau. Dengan berat hati ia mengembalikan beberapa barang yang belum sempat dibayar ke raknya, lalu berjalan keluar meninggalkan supermarket itu.
Tanpa sadar, hidupnya, jadwalnya, dan waktunya pun mulai ikut berputar di sekitar kehidupan Yara juga.
Sore itu, rumah sakit terlihat cukup ramai dan sibuk. Merlin berjalan menyusuri lorong panjang dengan tas belanja yang masih ia bawa serta di bahunya, belum sempat ia taruh di rumah. Ia bertanya pada petugas, lalu berjalan menuju kamar rawat inap sementara tempat Yara dirawat.
Saat ia membuka pintu kamar itu sedikit, Yara yang sedang terbaring di kasur langsung menoleh. Wajah gadis itu terlihat sangat terkejut melihat siapa yang datang.
“Kak Merlin?” suaranya kecil, parau, dan penuh rasa tidak enak hati.
Merlin tersenyum lembut, berjalan mendekat.
“Reyno bilang kamu sakit dan sendirian. Jadi aku ke sini,” jawabnya pelan.
Yara langsung menunduk dalam, memainkan ujung selimutnya yang putih bersih.
“Maaf ya, Kak. Aku ngerepotin terus. Mulai dari Kak Rey, sekarang Kak Merlin juga jadi sibuk gara-gara aku.”
Merlin duduk di pinggir ranjang, meletakkan kantong plastik berisi buah-buahan dan makanan ringan yang sempat ia beli di jalan tadi.
“Nggak apa-apa. Jangan dipikirin,” ucapnya lembut.
Namun saat ia melihat wajah Yara lebih dekat lagi, Merlin benar-benar merasa kasihan. Gadis itu memang terlihat begitu rapuh, begitu kecil, dan begitu menyedihkan. Matanya sembab seolah habis menangis lama, tubuhnya kurus kering, dan sorot matanya hilang semangat hidup sejak kakaknya meninggal dunia.
'Benar-benar anak yang malang', batin Merlin.
“Kamu sudah makan apa belum dari tadi?” tanya Merlin lagi.
Yara menggeleng pelan. “Nggak nafsu. Sakit perutnya masih nggak enak.”
“Jangan gitu dong, harus ada isi dikit biar obatnya bekerja,” kata Merlin sambil membuka kotak makanan bubur ayam yang ia beli. Ia mengaduknya pelan agar uap panasnya sedikit hilang. “Makan dikit ya, cuma dua atau tiga suap aja nggak apa-apa.”
Yara menatap wajah Merlin cukup lama, menatap kelembutan yang tulus di sana. Tiba-tiba mata gadis itu memerah kembali, lalu air matanya menetes pelan.
“Kak Merlin baik banget sama aku.” Suaranya mulai bergetar dan pecah. “Aku sering banget mikir … aku takut Kak Merlin benci sama aku. Takut Kakak marah karena Kak Rey jadi sering ninggalin Kakak, sering sibuk sama aku terus.”
Kalimat itu terlontar begitu saja, polos namun begitu tajam menusuk dada Merlin. Ada rasa sesak yang langsung menjalar di dada wanita itu. Tapi ia tetap mempertahankan senyumnya. Senyum yang tipis, lembut, dan penuh kepahitan yang disembunyikan rapat-rapat.
“Jangan pikirin hal-hal kayak gitu. Kamu lagi susah, wajar kalau kami bantu,” jawab Merlin tenang. “Kamu kan adik buat kami juga. Jadi jangan merasa bersalah terus ya.”
Dan sekali lagi, Merlin memilih untuk mengalah. Memilih untuk memahami. Memilih untuk memberi jalan, meski perlahan tempatnya sendiri mulai tersisihkan.
***
Malam semakin larut, dan akhirnya Reyno datang ke rumah sakit. Pria itu berjalan terburu-buru masuk ke dalam kamar, napasnya sedikit tersengal karena berjalan cepat dari parkiran. Wajahnya masih kaku karena sisa-sisa ketegangan rapat kantor.
“Yara! Kamu gimana? Udah mendingan sakitnya?”
Langkah pertamanya langsung tertuju pada ranjang tempat Yara berbaring. Tangan besarnya langsung menyentuh dahi gadis itu, mengecek suhu tubuhnya dengan cemas.
Yara langsung mengangguk kecil, tampak nyaman sekali dengan kehadiran pria itu. “Udah enakan kok, Kak. Makasih ya udah datang.”
Baru setelah memastikan keadaan gadis itu agak lebih baik, Reyno menoleh ke arah Merlin yang duduk diam di kursi samping jendela, agak menjauh.
“Aku telat banget ya? Maaf ya, rapatnya nggak bisa dipotong sama sekali,” katanya pada Merlin.
Merlin menggeleng pelan, berdiri dari duduknya. “Nggak kok. Rapat kamu selesai lancar?”
“Alhamdulillah. Capek banget sih,” jawab Reyno sambil mengusap wajahnya yang lelah. Ia kembali menatap Yara dengan tatapan lega dan penuh perhatian. “Makasih ya udah jagain dia dari tadi. Kamu emang paling ngerti.”
Merlin tersenyum kecil, mengangguk tanda mengerti. Namun entah kenapa, saat melihat cara Reyno menatap Yara, tatapan yang begitu khawatir, begitu lembut, begitu penuh perhatian dan rasa ingin melindungi, hatinya terasa berdenyut aneh.
Bukan rasa cemburu buta. Belum sampai ke tahap itu. Tapi, ia mulai menyadari satu kenyataan pahit. Bahwa ia tidak lagi menjadi orang pertama yang dicari Reyno saat ada sesuatu terjadi. Ia tidak lagi menjadi prioritas utama tempat Reyno berbagi cerita atau menumpahkan kekhawatiran.
Posisi itu perlahan namun pasti, mulai tergantikan. Dan perasaan itu, kesadaran itu, perlahan-lahan mengikis rasa percaya diri dan rasa cintanya di dalam hati. Sedikit demi sedikit. Tanpa suara. Tanpa ada yang sadar.
Kecuali Merlin sendiri.
***
Malam itu, apartemen mereka kembali diselimuti keheningan. Terlalu sunyi, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang berirama, seolah menghitung waktu yang berjalan lambat sekali.
Merlin duduk sendirian di ruang tamu sambil bersandar lemas di sofa empuk. Matanya menatap layar laptop yang menyala redup. Di layar itu, tumpukan pekerjaan freelance yang seharusnya selesai sejak sore masih sama persis, tak berubah sedikit pun. Sudah hampir satu jam ia diam di sana, namun jarinya berat untuk bergerak. Pikirannya kosong, atau mungkin justru terlalu penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah sempat ia ucapkan.
Jam dinding berdentang pelan, menunjuk angka sebelas malam. Dan Reyno belum pulang. Lagi.
Sudah berapa kali ini terjadi dalam sebulan terakhir? Merlin sudah lupa menghitungnya. Ia hanya sadar, belakangan ini sosok suaminya itu seolah makin jarang ada di rumah, makin sering pulang larut, dan makin sering punya alasan untuk pergi.
Ponselnya sempat bergetar pelan sekitar dua jam yang lalu. Sebuah pesan singkat masuk dari Reyno. *Aku nemenin Yara makan dulu. Nanti pulang agak malam ya.*
Hanya itu. Kalimat pendek yang sederhana, namun cukup membuat dada Merlin terasa sesak berjam-jam lamanya. Ia baca pesan itu berulang kali sampai tulisan di layar terasa samar, lalu membalasnya dengan singkat saja.
“Iya.”
Tidak ada marah, tidak ada protes. Bahkan Merlin sendiri bingung, harus marah soal apa? Harus kecewa untuk alasan apa?
Yara sedang berduka, baru saja kehilangan Lucas kakaknya, sekaligus sahabat dekat Reyno yang meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa minggu lalu. Yara sendirian, hancur, sering tak bisa tidur, sering menangis sendiri, dan butuh teman bicara. Yara butuh ditemani.
Semua alasan itu benar, semua masuk akal, dan semua wajar. Dan justru karena semuanya benar itulah, Merlin merasa tak punya hak sedikit pun untuk merasa kecewa. Ia merasa tak pantas menuntut perhatian lebih, padahal di luar sana ada orang yang sedang sangat terluka dan butuh uluran tangan.
🥹🥹