Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Pak Agung baru saja tiba di rumah ketika seorang asisten rumah tangga memberitahu bahwa Clara sejak tadi mengurung diri di kamar. Wajah pria paruh baya itu terlihat lelah setelah seharian berada di kantor, tetapi ucapan asistennya membuat langkahnya langsung berubah cepat menuju lantai dua.
Pintu kamar Clara terbuka tanpa diketuk lebih dulu.
Clara yang sedang duduk di depan meja rias menoleh dengan wajah kesal. “Ayah masuk seenaknya sekarang?”
Pak Agung menatap putrinya tajam. Untuk pertama kalinya, sorot matanya tidak menunjukkan kelembutan seperti biasanya. “Apa yang kamu lakukan pada Doni di kantor.”
Clara langsung berdiri. “Jadi Ayah datang hanya untuk membela dia?”
“Clara.” Suara Pak Agung terdengar berat. “Kamu menyiram kopi kepada seseorang karena emosi pribadi. Kamu pikir itu benar?”
“Dia memang pantas!” balas Clara tanpa ragu. “Dia bawahan Ayah, tapi berani mengabaikan Clara di depan teman-teman Clara sendiri.”
Pak Agung menghela napas panjang. “Kamu masih tidak sadar letak kesalahanmu.”
“Ayah selalu seperti ini!” Clara menunjuk ayahnya dengan mata memerah. “Kalau soal Doni, Ayah selalu membela dia. Clara ini anak Ayah atau bukan?”
“Jangan bicara sembarangan.”
“Memangnya salah?” suara Clara meninggi. “Ayah lebih peduli pada pegawai dibanding Clara sendiri!”
Pak Agung menatap putrinya beberapa detik. Wajahnya perlahan berubah kecewa. “Ayah selama ini terlalu memanjakan kamu.”
Clara tertawa sinis. “Karena Clara anak perempuan satu-satunya?”
“Bukan.” Pak Agung menggeleng pelan. “Karena Ayah terlalu takut melihat kamu sedih sampai lupa mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.”
Clara tampak tidak percaya mendengar itu. “Sekarang Clara malah disalahkan?”
“Kamu menghina orang lain seolah mereka tidak punya harga diri.” Nada suara Pak Agung semakin dingin. “Kamu merasa semua orang harus mengikuti kemauanmu hanya karena kamu anak pemilik perusahaan.”
“Karena memang begitu kenyataannya!”
Tamparan keras tiba-tiba terdengar di dalam kamar.
Clara membeku sambil memegang pipinya. Matanya melebar tidak percaya. Selama hidupnya, ayahnya tidak pernah menyentuhnya dengan kasar sedikit pun.
Pak Agung sendiri tampak terkejut pada tindakannya. Tangannya perlahan turun dengan napas berat.
“Untuk pertama kalinya dalam hidup,” ucapnya lirih namun penuh tekanan, “Ayah malu melihat sikap anak Ayah sendiri.”
Mata Clara langsung berkaca-kaca. “Ayah menampar Clara demi Doni?”
“Bukan demi Doni.” Pak Agung menahan emosinya. “Ayah menampar kamu karena sikapmu.”
Keributan itu membuat ibu segera datang ke kamar. Wanita itu terlihat panik saat melihat Clara menangis sambil memegang pipinya.
“Mas, cukup.” Bu Ida langsung berdiri di tengah mereka. “Jangan bicara saat emosi.”
“Lihat, Ma.” Clara menangis marah. “Ayah lebih membela orang lain dibanding Clara.”
Bu Ida menoleh pada putrinya. “Clara, jangan bicara seperti itu pada ayahmu.”
“Tapi memang benar!”
Pak Agung memejamkan mata beberapa detik. Rasa lelah bercampur kecewa terlihat jelas di wajahnya. “Clara tenang dulu. Ayah tidak mau bicara lagi sekarang.”
“Mas, ikut saya.” Bu Ida memegang lengan suaminya dengan lembut. “Kamu juga perlu istirahat.”
Pak Agung tidak menjawab. Ia hanya menatap Clara sekali lagi sebelum keluar dari kamar itu.
Clara jatuh duduk di atas tempat tidur dengan napas berantakan. Untuk pertama kalinya, ia merasa rumah yang biasanya selalu membelanya kini berubah asing.
Sementara itu, di kamar utama, Pak Agung duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya. Jas kerjanya bahkan belum sempat dilepas.
Bu Maya mengambilkan segelas air hangat lalu memberikannya pelan. “Minum dulu.”
Pak Agung menerima gelas itu tanpa banyak bicara.
“Kamu terlalu emosi.”
“Aku lelah, Ida.” Suaranya terdengar sangat berat. “Aku benar-benar lelah.”
Bu Ida duduk di samping suaminya. “Karena Clara?”
Pak Agung tertawa kecil dengan nada pahit. “Aku baru sadar selama ini aku gagal jadi ayah.”
“Jangan bicara begitu.”
“Bukankah itu kenyataannya?” Pak Agung menatap kosong ke depan. “Dia tumbuh menjadi anak yang tidak bisa menghargai orang lain. Semua karena aku selalu menuruti apa pun yang dia mau.”
Bu Ida terdiam.
“Aku pikir memberi semua yang dia inginkan akan membuatnya bahagia.” Pak Agung menggeleng pelan. “Ternyata aku justru membuatnya merasa dunia harus selalu mengikuti kemauannya.”
“Kamu terlalu menyayanginya.”
“Dan itu jadi kesalahan terbesar aku.”
Bu Ida memegang tangan suaminya. “Clara bukan anak jahat.”
“Dia hanya tidak pernah belajar hidup susah,” jawab Pak Agung cepat. “Dia tidak pernah tahu bagaimana orang bekerja keras untuk bertahan hidup. Baginya semua hal selalu tersedia.”
Ruangan itu hening beberapa saat.
Pak Agung kemudian bersandar sambil menatap langit-langit kamar. “Aku tidak bisa membiarkan Clara seperti ini terus.”
Bu Ida menoleh pelan. “Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Aku akan membuat dia belajar hidup sendiri.”
“Kamu serius?”
Pak Agung mengangguk mantap. “Kalau terus berada di rumah ini, Clara tidak akan pernah berubah.”
Bu Ida tampak ragu. “Dia pasti marah.”
“Biarkan.” Pak Agung menarik napas panjang. “Lebih baik dia membenciku sekarang daripada hidupnya hancur karena sifatnya sendiri.”
Malam itu Pak Agung hampir tidak tidur. Pikirannya dipenuhi berbagai hal tentang Clara sejak kecil. Tentang putrinya yang selalu diperlakukan seperti putri kecil yang harus dilindungi dari segala kesulitan.
Ia selalu merasa bangga ketika Clara merengek meminta sesuatu.
Mobil baru.
Tas mahal.
Liburan.
Kartu tanpa batas.
Semua diberikan begitu saja.
Dan kini ia mulai sadar bahwa cinta tanpa batas juga bisa menjadi racun.
Keesokan paginya suasana rumah terasa dingin.
Clara turun dengan wajah muram. Biasanya meja makan selalu dipenuhi obrolan ringan, tetapi hari itu tidak ada yang berbicara.
Pak Agung sudah duduk rapi dengan pakaian kerja.
Clara melirik ayahnya sekilas lalu duduk tanpa menyapa.
“Setelah sarapan, sopir akan mengantarmu ke suatu tempat,” ucap Pak Agung datar.
Clara langsung menatapnya. “Untuk apa?”
“Kamu akan tinggal di sana mulai hari ini.”
“Apa?”
“Itu kontrakan yang Ayah siapkan.”
Sendok di tangan Clara jatuh mengenai piring.
Bu Ida tampak terkejut meski semalam sudah mendengar rencana suaminya. Namun ia tidak menyangka keputusan itu akan dilakukan secepat ini.
Clara berdiri. “Ayah bercanda?”
“Tidak.”
“Ayah mau mengusir Clara?”
“Kamu bukan diusir.” Pak Agung menatap putrinya tenang. “Kamu akan belajar hidup mandiri.”
“Ayah tidak bisa melakukan ini!”
“Justru Ayah seharusnya melakukan ini sejak lama.”
Clara tertawa tidak percaya. “Karena Doni lagi?”
“Berhenti membawa nama Doni dalam semua masalahmu.” Nada suara Pak Agung mulai meninggi. “Ini tentang sikapmu sendiri.”
“Ayah benar-benar keterlaluan.”
Pak Agung mengeluarkan sebuah amplop lalu meletakkannya di meja. “Di dalam ada kartu ATM rekening baru.”
Clara menatap amplop itu bingung.
“Semua kartu kredit dan rekening lama kamu sudah diblokir.”
Wajah Clara langsung berubah pucat. “Apa?”
“Kamu akan mendapat uang secukupnya setiap bulan.”
“Tidak mungkin.”
“Dan mulai sekarang,” lanjut Pak Agung tegas, “kamu tidak akan mendapat uang bulanan kalau tidak bekerja.”
Clara benar-benar kehilangan kata-kata beberapa detik.
“Ini gila...” bisiknya pelan.
“Kamu harus belajar bahwa uang tidak datang begitu saja.”
Clara memandang ibunya seolah meminta bantuan. “Ibu diam saja?”
Bu Maya terlihat sedih. “Ibu hanya ingin kamu belajar lebih dewasa.”
“Jadi Ibu juga setuju?”
“Clara...”
“Baik.” Clara mengangguk pelan sambil menahan marah. “Kalau memang itu yang Ayah dan Ibu mau.”
Pak Agung tetap diam.
Clara menatap ayahnya dengan mata penuh kecewa. “Clara benci Ayah.”
Bu Ida langsung berdiri. “Clara!”
“Ayah bahkan lebih percaya orang lain dibanding anak sendiri!” Clara mulai menangis lagi. “Kalau Ayah pikir Clara akan menyerah, Ayah salah.”
Pak Agung mengepalkan tangannya di bawah meja, tetapi wajahnya tetap dingin.
“Clara tidak akan kembali ke rumah ini lagi.”
Suasana mendadak sunyi.
Bu Ida terlihat panik. “Jangan bicara seperti itu.”
“Terserah.” Clara menatap ayahnya penuh luka. “Dan Clara juga tidak akan bekerja di perusahaan Ayah.”
Pak Agung akhirnya bicara pelan. “Kalau itu keputusanmu, Ayah tidak akan memaksa.”
Clara benar-benar tidak percaya mendengar jawaban itu.
Biasanya ayahnya akan mengejar dan membujuknya.
Namun sekarang pria itu justru terlihat begitu tenang.
Seolah benar-benar siap melepasnya.
Itu justru membuat hati Clara semakin sakit.
“Ayah memang sudah tidak sayang Clara lagi.”
Pak Agung menutup matanya sebentar sebelum membuka kembali dengan tatapan tegas. “Justru karena Ayah sayang, Ayah melakukan ini.”
Clara tertawa pahit. “Kalau ini bentuk sayang, Clara tidak membutuhkannya.”
Ia langsung berjalan pergi meninggalkan meja makan.
Tak lama kemudian suara koper terdengar dari lantai atas.
Bu Ida menatap suaminya cemas. “Mas... apa tidak terlalu keras?”
Pak Agung diam cukup lama sebelum menjawab lirih, “Kalau aku lembut terus, Clara tidak akan pernah berubah.”
Beberapa menit kemudian Clara turun sambil membawa koper besar. Wajahnya dingin meski matanya masih merah.
Seorang sopir sudah menunggu di depan rumah.
Pak Agung berdiri namun tidak mendekat.
Clara menatap rumah besar itu beberapa detik. Rumah yang selama ini selalu memberinya kenyamanan.
Kini terasa seperti tempat yang membuangnya pergi.
Ia menggigit bibir menahan tangis sebelum akhirnya berjalan keluar.
Bu Ida memeluk putrinya erat. “Jaga diri baik-baik.”
Clara tidak membalas pelukan ibunya lama-lama. “Ibu juga pilih Ayah.”
“Tidak ada yang memilih siapa pun.”
“Tapi Ibu membiarkan ini terjadi.”
Bu Maya tidak bisa menjawab.
Clara akhirnya masuk ke mobil tanpa melihat ayahnya lagi.
Namun sebelum pintu tertutup, suara Pak Agung terdengar pelan.
“Belajarlah hidup dengan baik, Clara.”
Clara menoleh dengan mata penuh kecewa. “Ayah tidak perlu berpura-pura peduli.”
Pintu mobil tertutup keras.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah.
Bu Ida menghapus air matanya sambil melihat mobil putrinya menjauh.
Sedangkan Pak Agung tetap berdiri diam.
Wajahnya terlihat tenang.
Namun tatapannya kosong.
Karena tidak ada ayah yang benar-benar kuat saat harus melepaskan anaknya belajar menghadapi dunia sendirian. Manusia memang aneh. Mereka baru sadar cara mencintai yang salah setelah semuanya tumbuh terlalu jauh.