NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iblis yang Menyesal

Sepekan berlalu sejak malam terkutuk itu.

Florence tak keluar kamar. Tak bersuara. Tak menjamah santap. Baki yang diantar Reginald tiga kali sehari kembali utuh. Hanya air di gelas yang surut seteguk. Ia hidup sebatas embus napas. Matanya terbuka, menatap jendela, hampa. Serupa boneka pualam yang sudah retak dari dalam.

Dan Lucifer... Lucifer tak lelap. Tak menggelar sidang. Tak menjejak keluar mansion. Tahtanya ia serahkan pada Marco dan Vulture.

Kerjanya hanya satu: terpaku di ambang pintu lantai tiga. Menyimak. Tak ada isak. Tak ada desah. Dan itu lebih menyayat daripada jerit.

Sesal itu menggerus tiap ruas tubuhnya. Lebih perih dari timah panas. Lebih membakar dari wiski. Setiap kelopaknya terkatup, yang muncul wajah Florence malam itu. Takut. Jijik. Remuk. Karyanya. Tangan buatannya.

Binatang pun tak sebangsat aku.

Hari ketujuh, Reginald menemuinya di koridor. Suaranya bergetar, namun kukuh. Untuk pertama kali dalam tiga dasawarsa mengabdi, ia berani menatap manik Lucifer.

“Tuan… Nona Florence akan layu jika begini terus,” ujarnya. “Raganya menolak santap. Panasnya naik sejak kemarin. Jika Tuan tak… jika Tuan tak bertindak…”

Kalimat itu patah, namun Lucifer paham. Jika kau diam, kau membunuhnya. Sama seperti kau membunuh ibumu dulu. Pelan-pelan.

Ingatan itu menyambar. Ibunya. Perempuan yang mati di ranjang dingin karena ia terlambat pulang, karena ia lebih memilih pistol ketimbang doa. Mata ibunya sama kosongnya seperti mata Florence kini. Dan ia, lagi-lagi, menjadi sebab.

Rahang Lucifer mengeras. Ia mendorong pintu kamar Florence tanpa aba. Aroma obat dan peluh dingin menyergap. Florence masih pada sikap yang sama. Meringkuk. Membelakangi pintu. Kurusnya kini tak lagi masuk di akal.

Lucifer mendekat. Tindaknya perlahan. Waspada. Seakan satu desir saja bisa membuat gadis di peraduan itu luruh jadi serpihan.

“Florence,” panggilnya. Suaranya serak. Parau. Bukan titah Raja Jahanam. Suara lelaki yang luluh.

Tak ada jawab. Bahkan belikat Florence tak bergeming.

Lucifer bersimpuh di sisi ranjang. Bersimpuh. Lucifer Azrael, yang tak pernah menunduk di hadapan altar mana pun, kini melipat lutut di lantai demi gadis panti yang sudah ia lumatkan.

“Aku tahu,” bisiknya. “Kau dengar. Kau masih bernyawa.”

Tetap senyap.

“Kau harus santap,” lanjutnya. “Jika kau mati… untuk apa aku memburumu sampai ke ujung dunia?”

Dan di sinilah iblis itu tergelincir lagi. Niatnya menambal, namun lidahnya hanya mahir melukai. Sesal tak pernah mengajarinya bertutur yang patut.

Florence akhirnya bergerak. Pelan sekali. Ia membalik badan. Matanya menatap Lucifer untuk pertama kali dalam sepekan. Hampa. Padam. Tak ada benci. Benci masih butuh daya. Yang ada hanya kehampaan mutlak.

Dan kehampaan itu, bagi Lucifer, lebih menakutkan dari raung.

Ia ingin meminta ampun. Kalimat itu berdesakan di tenggorok, namun yang keluar hanya serpihan yang salah. Ia membuka mulut, hendak merangkai maafkan aku, namun yang tumpah justru duri.

“Aku minta maaf,” katanya. Asing di lidahnya. Berat. Pahit. “Malam itu… aku mabuk. Aku takut kau enyah lagi. Aku…”

Ia bungkam. Sebab Florence tertawa. Pelan. Remuk. Tawa tanpa suara, hanya getar di dada yang tinggal tulang.

Tawa itu membuat Lucifer ingin mati di tempat.

“Lihat,” lanjutnya, panik. Sesal membuatnya dungu. Membuatnya bicara tanpa nalar. Ia mengulurkan tangan, hendak menggapai jemari Florence, namun berhenti di udara. Tangannya bergetar, lalu ia tarik kembali dan ia cengkeram lututnya sendiri hingga kuku menancap. “Aku takkan menjamahmu lagi. Sumpah. Kau aman di sini. Kau… kau takkan bisa pergi, tapi kau aman. Akan kujaga. Tak ada yang boleh melukaimu lagi. Selain aku.”

Ia tertegun. Baru sadar apa yang baru saja ia lontarkan.

Takkan bisa pergi, tapi kau aman. Tak ada yang boleh melukaimu. Selain aku.

Kalimat itu lolos begitu saja. Jujur. Dari iblis yang sesal, tapi tetap iblis. Ia menjanjikan selamat di dalam bui. Ia mengakui bahwa satu-satunya marabahaya bagi Florence adalah dirinya. Dan dia tak sanggup berjanji berhenti menjadi mara itu.

Wajah Florence tak berubah. Tetap padam. Namun setetes embun akhirnya luruh dari sudut matanya. Satu-satunya dalam sepekan. Sebab kalimat Lucifer tadi… kalimat itu lebih kejam dari luka malam itu.

Malam itu Lucifer melumat raganya. Kalimat barusan melumatkan harapnya. Harap bahwa Lucifer mungkin, mungkin saja, bisa menjelma manusia. Kalimat itu bukti bahwa iblis tetap iblis, meski ia berlutut.

“Akan kuperbaiki ini,” ujar Lucifer lagi. Kian panik. Kian keliru. Ia merogoh saku, mengeluarkan kotak beludru kecil. Ia buka. Cincin ibunya. Satu-satunya warisan yang tak pernah ia jamah. Ia letakkan di tepi ranjang, tak berani menyentuh Florence. “Akan kudatangkan Dokter. Akan kubawa apa pun yang kau mau. Kitab. Mawar. Panti itu… bisa kubangun lagi. Bisa—”

“Pulang,” suara Florence akhirnya pecah. Pertama kalinya. Serak. Seperti kaca diinjak. “Aku mau pulang.”

Lucifer membeku. Cincin di jemarinya terasa membara, mengingatkannya pada peti mati ibunya yang ia tutup sendiri.

“Pulang ke mana?” tanyanya, bebal.

Florence menatapnya. Lama. Lalu menjawab, “Ke tempat di mana kau tak ada.”

Belati. Kata itu adalah belati yang menghunjam langsung ke jantung Lucifer yang sudah busuk. Dan Florence tahu itu. Untuk pertama kali, Florence membalas. Bukan dengan kuku. Dengan kata. Dan mengena.

Lucifer berdiri. Surut. Wajahnya kembali menjadi topeng es. Topeng yang ia pakai untuk menutupi fakta bahwa dia baru saja diruntuhkan oleh gadis yang ia runtuhkan sepekan lalu. Ia memungut kembali kotak beludru itu, jemarinya mengepal hingga kotaknya retak.

“Dokter datang satu jam lagi,” ujarnya. Dingin. Datar. Raja Jahanam kembali. Sebab hanya dengan menjadi raja, dia bisa menahan diri untuk tak bersimpuh lagi dan meratap ampun. “Makan. Atau kupasang selang paksa.”

Ancaman. Lagi. Bahkan sesalnya berakhir dengan belenggu.

Ia keluar. Pintu ia tutup, tak dibanting, tapi ditekan hingga engselnya berderit menahan murka yang ia tahan. Bukan marah pada Florence. Murka pada dirinya. Sebab mulutnya, yang biasa dipakai untuk menaklukkan dunia, tak sanggup merangkai satu kalimat pun yang bisa membalut luka buatannya.

Di luar, ia bersandar ke dinding. Kepalanya ia jedukkan pelan ke tembok, sekali, dua kali, seolah ingin merontokkan iblis dari batoknya. Lalu tinjunya melayang. Sekali. Buku jarinya pecah, darah menetes di marmer. Lagi.

Selain aku. Dia benar-benar mengucap itu. Dia benar-benar sebodoh itu. Ibunya mati karena ia tak bisa menjaga. Kini Florence sekarat karena ia tak bisa melepas.

Iblis yang menyesal ternyata sama berbahayanya dengan iblis yang mengamuk. Sebab sesalnya lahir dari cengkeram, bukan dari kasih. Dan cengkeram hanya tahu cara menggenggam lebih erat, sampai yang digenggam mati.

Di dalam kamar, Florence menatap cincin yang tak jadi diberikan. Tergeletak di seprei, dingin. Sama dinginnya dengan sangkar ini. Dan ia tahu, jagalnya baru saja membuktikan bahwa tak ada tempat yang selamat. Tak ada.

---

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!