"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Skakmat untuk Sang Paman
Adrian tidak membuang waktu sedikit pun setelah insiden pembakaran gudang semalam. Baginya, pertahanan terbaik adalah menyerang dengan kekuatan penuh. Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja terbit dan belum sempat menghangatkan kota, Adrian sudah membawa Elena menuju kantor pusat Luminous Beauty. Kali ini, pengawalan yang diberikan tidak main-main. Dua mobil taktis penuh dengan tim keamanan internal Arsa Group mengapit mobil mereka sepanjang jalan.
Langkah kaki Adrian yang lebar dan tegap memancarkan otoritas mutlak saat ia memimpin jalan masuk ke koridor utama lantai eksekutif. Staf kantor yang baru tiba langsung membungkuk hormat dengan wajah tegang, tidak ada satu pun yang berani menatap langsung ke arah sepasang mata gelap milik taipan pangan tersebut. Di sampingnya, Elena berjalan dengan kepala tegak, mengenakan setelan blazer formal hitam yang rapi. Di lehernya, permata biru The Blue Seraph berkilau dengan anggun, memantulkan cahaya lampu koridor.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO milik Elena, suasananya mendadak terasa begitu mencekam. Ketegangan makin memuncak saat telepon di atas meja ek besar Elena tiba-tiba berdering dengan nyaring. Layar digital telepon itu menampilkan sebuah nama yang sudah sangat mereka kenal: "Bramantyo".
Elena menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, lalu mengangkat gagang telepon tersebut. Ia sengaja menekan tombol speaker agar Adrian bisa ikut mendengarkan.
"Elena, sayang," suara Paman Bram di seberang telepon terdengar terlalu ramah, penuh dengan kepalsuan yang menjijikkan. "Paman baru saja mendengar kabar duka tentang salah satu gudang distribusi makanan milik suamimu yang kebakaran semalam. Kasihan sekali ya. Makanya Elena, terkadang di dunia bisnis ini, lebih baik kita melepaskan takhta dan aset yang bukan kapasitas kita sebelum kita kehilangan hal yang jauh lebih berharga... termasuk nyawamu sendiri."
Klik. Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak oleh Bramantyo setelah memberikan ancaman terselubung itu.
Elena menatap gagang telepon dengan wajah yang mendadak agak pucat. Namun, sebelum rasa takut sempat menguasai dirinya, Adrian langsung berjalan mendekat. Secara tidak terduga, cowok bertubuh tinggi besar itu berlutut dengan satu kaki di hadapan kursi kerja Elena. Ia meraih kedua tangan kecil Elena, menggenggamnya dengan sangat hangat dan protektif, memaksa sepasang mata indah wanita itu untuk menatap lurus ke arahnya.
"Dia pikir dia adalah pemain catur yang hebat yang bisa mengatur jalannya permainan," ucap Adrian dengan nada suara yang rendah namun dipenuhi oleh amarah yang tertahan. "Tapi pamanmu itu lupa, Elena... kitalah yang memiliki papan caturnya. Hari ini juga, di rapat dewan komisaris satu jam lagi, kita akan umumkan merger resmi antara Arsa Food Group dan Luminous Beauty. Aku sudah mengatur agar tim hukumku mengunci seluruh akses keuangan Bramantyo dengan alasan audit integrasi perusahaan. Kita bakal bikin dia lumpuh sebelum sempat melayangkan pukulan berikutnya."
Tepat saat Adrian menegakkan kembali tubuhnya, pintu ruang kerja terbuka dengan sentakan terburu-buru. Maya, asisten pribadi Elena, masuk dengan wajah cemas dan napas yang agak tersengal.
"Bu Elena, Pak Adrian... maaf mengganggu," kata Maya dengan suara panik. "Pak Bramantyo baru saja sampai di lobi lantai ini. Dia mengamuk dan berteriak-teriak karena kartu akses digitalnya mendadak ditolak oleh sistem keamanan baru yang dipasang oleh tim Pak Adrian."
Adrian perlahan merapikan jas mahalnya dengan ketenangan seorang predator yang tahu mangsanya sudah masuk ke dalam jebakan. "Biarkan saja dia masuk, Maya. Buka barikade keamanan untuknya. Dan panggil seluruh jajaran direktur serta komisaris yang sudah hadir untuk berkumpul di koridor utama sekarang juga."
"Baik, Pak!" Maya langsung berbalik cepat untuk melaksanakan perintah.
Kurang dari tiga menit kemudian, pintu kaca besar ruang CEO terbuka kasar. Bramantyo melangkah masuk dengan wajah merah padam karena amarah yang meluap-luap.
Jasnya tampak sedikit berantakan, dan napasnya memburu. Namun, langkah kakinya langsung terhenti total saat ia diadang oleh sosok tegap Adrian yang berdiri menjulang bak gunung batu yang tak tergoyahkan tepat di tengah ruangan.
"Tuan Bramantyo," sapa Adrian, suara baritonnya yang berat menggema penuh intimidasi, membuat atmosfer di dalam ruangan seketika terasa dingin dan mencekam. "Kebetulan sekali Anda datang ke sini pagi-pagi. Sangat pas untuk menonton awal dari keruntuhan Anda sendiri."
Bramantyo mencoba menegakkan punggungnya, menatap Adrian dengan pandangan benci. "Apa-apaan ini, Adrian? Kamu pikir karena kamu sudah menikahi keponakanku, kamu bisa seenaknya mengganti sistem keamanan dan menolak kartu aksesku di perusahaan ini? Aku masih punya tiga puluh persen saham di sini!"
Elena melangkah maju dari balik tubuh Adrian, berdiri berdampingan dengan suaminya dengan dagu terangkat dan tatapan mata yang teramat dingin. "Tiga puluh persen saham yang Anda dapatkan dari hasil mengkhianati ayahku, Paman."
Bramantyo tersentak, wajahnya sedikit berubah mendengar kalimat Elena. Sebelum ia sempat membantah, Adrian sudah mengeluarkan sebuah dokumen bermap hitam dari balik jasnya dan melemparnya ke atas meja kerja kaca dengan ketukan yang keras.
"Mulai menit ini, seluruh akses Anda ke dana operasional, rekening taktis, dan hak suara di Luminous Beauty resmi dibekukan total oleh dewan direksi," kata Adrian dengan nada suara yang teramat datar namun mematikan.
"Alasan hukumnya sangat sah: keperluan audit forensik menyeluruh untuk proses merger dengan Arsa Food Group yang akan disahkan satu jam lagi. Tim FSA sudah memegang semua data aliran dana mencurigakan yang Anda alirkan ke rekening bodong milik organisasi Syndicate selama lima tahun terakhir."
Bramantyo melotot kaget, tubuh paruh bayanya mendadak gemetar. "Kamu... dari mana kamu tahu soal—"
"Dan mengenai rekaman ancaman telepon Anda pada istriku sepuluh menit yang lalu," potong Adrian kejam, memajukan tubuhnya satu langkah untuk menekan mental Bramantyo. "Sistem keamanan baru di meja kerja Elena sudah merekamnya secara otomatis dan salinannya sudah berada di tangan pengacaraku sebagai bukti intimidasi kriminal. Anda sudah selesai, Bramantyo."
Elena menatap pamannya yang kini tampak lemas tanpa daya. "Pikirkan baik-baik, Paman. Apakah Paman lebih suka menghabiskan masa tua dengan tenang di dalam sel pengasingan tanpa sepeser pun uang, atau bekerja sama dengan kami untuk membongkar siapa orang di balik faksi Syndicate. Sore ini, nama Anda resmi dicoret dari seluruh aset perusahaan ini."
Bramantyo mematung di tempatnya dengan wajah pucat pasi layaknya mayat. Seluruh kesombongan dan rencana kejam yang ia susun bersama organisasi bayangan itu mendadak runtuh berkeping-keping. Pria tua itu baru saja menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan skakmat yang dirancang dengan sangat rapi oleh keponakannya dan sang penguasa industri pangan. Permainan taktis di atas meja kantor resmi dimenangkan oleh Adrian dan Elena, namun mereka tahu, musuh yang sesungguhnya di luar sana pasti akan mengamuk mendengar kabar kekalahan ini.
......BERSAMBUNG......