Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul: Bab 1 Isi: muka. Tangannya megang kepala...
Bima menarik napas panjang. Dadanya sesak, tapi dia paksa senyum.
_(Dalam hati) Gw harus bangkit. Gw harus bisa berubah. Buat Fitri sama anak gw di kampung._
Pagi itu, Bima berangkat. Berusaha lagi mencari pekerjaan. Siapa tahu hari ini dia dapat secercah harapan.
Di tempat yang dituju, Bima bertemu puluhan pelamar dari berbagai daerah. Di sanalah dia berkenalan dengan seorang pemuda.
"Halo, Mas. Saya Bima. Ngelamar juga?" sapa Bima sambil menjulurkan tangan.
Pemuda itu menjabatnya erat. "Iya, Mas. Saya Deni. Lo juga?"
"Iya, saya juga," balas Bima sambil nyengir.
Mereka menunggu giliran dipanggil satu per satu untuk interview. Waktu terasa lama, tapi akhirnya selesai juga.
Sore harinya, mereka berkumpul lagi di depan pabrik. Muka lecek semua.
"Hey, Den. Gimana? Keterima?" tanya Bima nggak sabaran.
Deni langsung nyengir lebar. "Iya, keterima gw, Mas!" raut mukanya senang dan bersyukur banget.
"Alhamdulillah. Gw juga keterima!" Bima langsung ngajak salaman. Lega banget rasanya.
Tapi senyum Bima langsung luntur. Dia baru inget satu masalah. Dompetnya tinggal 50 ribu. Kosan lama kejauhan, 2 jam dari sini.
"Tapi gimana nih, Den? Kita harus cari kontrakan atau kosan dulu. Lo tahu sendiri kan tempat kerjaan kita jauh. Ini di kawasan industri."
Deni nepuk jidat. "Iya bener juga lo, Mas. Gimana kalo kita cari bareng-bareng di sana?"
Bima nyengir tipis. "Jangan lupa, cari yang murah."
"HAHAHA! Itu pasti, Mas!" timpal Deni.
Akhirnya mereka berdua, tanpa kenal lelah, berangkat menuju lokasi kontrakan terdekat. Naik motor butut Bima. Knalpotnya ngebul, suaranya kayak traktor.
"Mas, kita udah sampe nih. Ayo kita keliling cari kontrakan," ajak Bima semangat.
"Ayo! Semangat! Kita cari!" sahut Deni.
Nggak lama, Deni menunjuk ke sebuah deretan kontrakan. Catnya ngelotok, pagernya karatan. "Nemu juga kita akhirnya... Tapi gw merinding amat ya sama suasana tempatnya."
Bima bergidik. Angin sore tiba-tiba jadi dingin. "Iya, sama. Gw juga. Bulu kuduk gw merinding."
Bima maju dan menyapa bapak-bapak yang duduk di depan. "Permisi, Pak."
Si Bapak mendongak. Matanya sayu. "Iya, ada apa, Mas?"
"Di sini ada kontrakan kosong, Pak?"
"Iya, betul ada. Satu lagi tuh. Yang paling ujung sana. Yang terpisah dari kontrakan lainnya," jawab Si Bapak sambil nunjuk. Kontrakan itu paling gelap, ketutupan pohon bambu.
"Boleh kita ke sana, lihat-lihat dulu, Pak?"
"Ayo, mari. Silakan." Si Bapak jalan duluan. "Nah, ini kamarnya, Mas. Dulu pernah ditempati pasutri muda. Katanya namanya Sari sama Doni. Tapi baru 3 hari mereka udah kabur tengah malem. Gak tau kenapa. Silahkan kalau mau lihat."
Si Bapak nunduk, gak mau lanjutin.
Begitu pintu dibuka, bau apek sama lembab langsung nyerang hidung. Temboknya jamuran, kasurnya tipis kayak kerupuk. Tapi harganya cuma 200 ribu sebulan.
Bima menoleh ke Fitri yang baru nyusul. "Gimana, Dek? Mau kita ambil kamarnya?"
Fitri gigit bibir. Di luar udah mau magrib. Duit pas-pasan. "Iya, Mas. Boleh deh," jawabnya ragu-ragu.
"Kapan mau nempatinnya?" tanya Si Bapak.
"Hari ini, Pak. Kita nempatinnya hari ini," jawab Bima mantap.
"Baik, silakan. Harga udah deal ya segitu."
"Iya, Pak," Bima mengangguk.
Setelah Si Bapak pergi, Fitri langsung nyerocos. "Mas! Lo nggak ngerasa aneh apa dengan suasananya?"
"Aneh apaan, Dek?"
"Gila lo! Aku masuk kamar aja langsung merinding, Mas! Kayak ada yang ngawasin dari pojokan!"
Bima mendesis. "Husstt. Aku juga sama. Gw tahan-tahan aja. Ini kontrakan murah. Nggak bakal mati ini sama setan, Dek."
Fitri langsung mepet ke Bima. Aura tempat ini beda. Seramnya kerasa banget sampe ke tulang.
"Sudah, gak usah dipikirin. Mau Magrib nih. Cepet mandi. Kamar mandinya paling belakang ujung ya," perintah Bima.
"Waduuuh. Kagak dah. Kamar mandinya di belakang, paling ujung, remang-remang lagi. Nanti aja pagi aku mandinya," tolak Fitri.
Bima hela napas. "Aku juga sama sebenarnya. Merinding dari tadi. Ya mau gimana lagi, cuma ini satu-satunya kamar yang ada. Murah lagi. Yaudah, aku mandi dulu ya?"
Saat Bima berjalan menuju kamar mandi, lorongnya gelap. Lampu 5 watt doang. Sayup-sayup dia mendengar suara perempuan tertawa cekikikan. _Hik... hik... hik..._ Dingin. Kayak dari dalem sumur.
"Anjir, suara apaan tuh," gumam Bima. Bulu kuduknya berdiri semua. "Ah, bodo amatlah."
_[LANJUT KE BAB 2: MALAM PERTAMA]_