Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Duduk di kursi kebesarannya, Nara sudah menghela napas panjang entah untuk ke yang berapa kali.
Dokumen-dokumen penting yang seharusnya ia pelajari justru teronggok begitu saja di atas meja kerja. Bahkan layar laptop di depannya sudah hampir lima menit menampilkan halaman yang sama tanpa benar-benar ia baca.
Fokusnya benar-benar berantakan hari ini. Ia memijat pelipisnya pelan. Kepalanya terasa menegang sejak keluar dari mansion Dhanubrata tadi.
Ucapan sang kakek terus terngiang di kepalanya. "Bawa pria itu menemuiku."
Nara langsung menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Kenapa aku bisa seceroboh itu di depan Kakek?" gumamnya frustasi.
Harusnya ia cukup mengatakan Sagara hanya seseorang yang kebetulan membantunya malam itu. Namun, karena desakan dan kesal terus ditekan, ia malah mengaku pria itu sebagai kekasihnya.
Kekasih. Bahkan memikirkannya saja membuat Nara merasa ingin membenturkan kepala ke meja. Sagara pasti akan marah kalau tahu dirinya tiba-tiba dijadikan tameng seperti itu. Dan yang membuatnya pusing. Kakek Dhanubrata jelas tidak akan berhenti sampai benar-benar bertemu langsung dengan Sagara.
Tok... Tok... Tok.
Suara ketukan pintu pintu membuat Nara mengangkat wajah malas.
"Masuk."
Tiwi melangkah masuk sambil membawa beberapa map baru. Namun, begitu melihat ekspresi atasannya, wanita itu langsung mengernyit bingung.
"Sakit kepala Nona kambuh lagi?" tanya Tiwi khawatir.
"Lebih buruk dari itu," jawab Nara lirih.
Tiwi tampak semakin bingung. "Perlu saya panggilkan Dokter?"
Nara kembali menghembuskan napas panjang sebelum menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan. "Aku tidak butuh dokter," ucapnya pelan. "Yang kubutuhkan sekarang itu solusi."
Dahi Tiwi langsung berkerut. Tidak biasanya ia melihat atasannya terlihat frustasi seperti ini.
Dan barusan apa katanya? Membutuhkan solusi? Sejak kapan seorang Naraya Dhanubrata membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri? Bukankah biasanya wanita itu selalu mampu menghadapi apa pun dengan tenang? Bahkan permasalahan salah satu anak perusahaan yang mengalami kendala berat saja, mampu ia selesaikan dengan mudah dan cepat.
Sementara itu, Nara kembali menyandarkan tubuhnya lemas pada kursi kebesarannya. "Kau tahu," gumamnya tanpa menatap Tiwi, "aku baru saja membuat kebohongan paling bodoh dalam hidupku."
Tiwi menelan ludah pelan. Entah kenapa firasatnya langsung tidak enak.
"Apa ... ini masih berkaitan dengan pertemuan Nona semalam?" tanyanya hati-hati. "Apa Tuan Samudra mengetahui tentang penyamaran montir itu?"
Nara menggeleng pelan. "Pertemuan semalam berjalan lancar. Sagara bahkan menjalankan perannya dengan sangat baik." Nara berhenti sebelum mendecakkan lidah pelan. "Samudra juga terlihat percaya."
"Lalu apa masalahnya Nona?"
Nara memejamkan mata sesaat sebelum menjawab dengan suara pelan namun penuh penyesalan. "Masalahnya adalah Kakek memintaku membawa Sagara menemuinya."
Tiwi langsung membelalak. "Hah?"
"Aku bahkan mengatakan pada Kakek bahwa Sagara itu kekasihku."
DEG.
Map di tangan Tiwi hampir terjatuh. "Nona serius?!"
"Aku sedang tidak bercanda."
Ruangan langsung sunyi beberapa detik. Tiwi bahkan terlihat kehilangan kemampuan berpikir untuk sesaat. Sementara Nara kembali memijat pelipisnya frustasi.
"Sekarang coba katakan padaku," gumamnya lelah, "bagaimana caranya membawa pria keras kepala seperti dia datang ke mansion Dhanubrata."
Tiwi masih tampak syok. Jujur saja, ia tidak pernah membayangkan atasannya yang selalu tenang dan penuh perhitungan bisa melakukan tindakan seimplusif ini. Apalagi pria itu adalah pria asing yang baru beberapa hari dikenalnya. Meski begitu, ia tetap berusaha membantu dengan mulai berpikir keras.
Beberapa detik kemudian, matanya mendadak berbinar seolah menemukan ide.
"Nona," panggilnya pelan.
"Apa?"
Tiwi langsung mendekat dan membisikkan sesuatu pada Nara. Perlahan ekspresi bingung di wajah wanita itu berubah menjadi senyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak tadi, Nara terlihat sedikit tenang.
"Tiwi," ucapnya sambil menyandarkan tubuh pada kursi, "Kali ini aku akan mengikuti saranmu."
"Baik, Nona."
"Siapkan semuanya sesuai rencana," lanjutnya.
Tiwi mengangguk mantap.
*******
Keesokan harinya.
Sagara berangkat bekerja seperti biasa. Namun, begitu sampai di bengkel dan memarkirkan nomornya, langkahnya langsung terhenti.
Suasana bengkel pagi itu jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa montir tampak berkerumun di halaman depan sambil berbisik heboh. Bahkan beberapa pelanggan yang baru datang ikut berhenti hanya untuk melihat sesuatu.
Alis Sagara langsung berkerut. "Ada apa?" tanyanya sambil melepas helm.
Belum sempat ada yang menjawab, Andi sudah lebih dulu berlari menghampirinya dengan wajah heboh.
"Ga! cepet liat itu!"
Sagara semakin bingung. Namun, langkahnya tetap mengikuti arah telunjuk Andi.
Dan detik berikutnya ...
Matanya langsung tertuju pada sebuah motor sport keluaran terbaru yang baru saja diturunkan dari mobil dealer.
Motor itu berdiri gagah di tengah halaman bengkel. Masih mengkilap, masih baru, bahkan plastik pelindung di beberapa bagian bodinya belum dilepas.
Suasana langsung dipenuhi decak kagum para montir.
"Gila ...."
"Ini seri terbaru, kan?" ucap salah satu rekan montir Sagara.
"Harganya bisa buat beli rumah kecil," timpal seorang pelanggan sambil terus mengamati motor itu.
"Siapa orang kaya yang kirim beginian ke bengkel kita?" Montir lain ikut berkomentar.
"Apa salah kirim ya?" celetuk Bang Dori. "Masa motor baru gini dikirim ke bengkel."
Sagara sendiri hanya terdiam selama beberapa detik. Tatapannya menyipit pelan saat melihat logo dealer resmi yang menempel di samping motor tersebut. Entah kenapa firasatnya tidak enak.
Dan benar saja. Salah satu pegawai dealer segera menghampirinya sambil membawa sebuah amplop putih.
"Maaf," ucap pria itu sopan. "Apa Anda Tuan Sagara?"
"Iya."
Pria itu langsung menyerahkan amplop tersebut. "Motor ini dikirim khusus untuk Anda."
DEG.
Kerutan di dahi Sagara langsung semakin dalam. Tanpa berkata apa-apa , ia segera membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
"Terima kasih untuk bantuan semalam. Sebagai gantinya, motor ini jadi milikmu."
---- Nara ----
Suasana mendadak hening bagi Sagara. Sementara di belakangnya, para montir sudah mulai ribut sendiri karena penasaran. Namun, Sagara sama sekali tidak memperdulikan mereka. Tatapannya justru terpaku tajam pada nama yang tertulis di bawah kartu itu.
Naraya.
Sagara mendecakkan lidah pelan. "Wanita gila," gumamnya pelan. Namun, anehnya sudut bibir Sagara justru tertarik tipis tanpa sadar.
***** bersambung.