Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 sempurnanya tubuh fana dan genderang perang aliansi
Cahaya rembulan yang pucat menembus sela-sela rimbunnya bambu di Paviliun Bambu Hijau, menyinari sosok Yan Xinghe yang duduk bersila di tengah pelataran. Di pangkuannya, *Teratai Salju Sembilan Kelopak* yang tersisa memancarkan pendar biru es yang menenangkan. Udara di sekelilingnya bergetar pelan, bukan karena angin, melainkan karena resonansi energi yang keluar masuk dari pori-pori kulitnya.
Pertempuran di Lembah Embun Beku bukan hanya sekadar ujian bagi kekuatannya, melainkan katalisator yang ia butuhkan. Sisa energi dari api Gagak Emas yang sempat mengamuk liar di dalam Dantiannya kini telah dijinakkan oleh hawa dingin esensial dari teratai salju.
Xinghe menarik napas panjang. Di dalam benaknya, ia memvisualisasikan struktur meridiannya. Sembilan jalur utama yang tadinya hancur kini telah bersinar dengan warna ungu keemasan, dilapisi oleh lapisan tipis berwarna biru kristal. Ini adalah struktur meridian yang mustahil dimiliki oleh praktisi di Alam Penyempurnaan Tubuh mana pun di Benua Tanah Spiritual.
"Satu langkah terakhir," bisik Xinghe.
Ia memasukkan kelopak teratai terakhir ke dalam mulutnya. Rasa dingin yang menusuk seketika menjalar, membekukan tenggorokannya, lalu turun meledak di pusat Dantian. Benturan antara panas ekstrem dan dingin absolut menciptakan sebuah pusaran energi murni. Xinghe menggunakan Niat Pedang Pembelah Langitnya sebagai pemandu, memaksa pusaran itu menyusut, memadat, hingga akhirnya terserap sepenuhnya ke dalam sumsum tulangnya.
*Krak! Krak!*
Suara gemeretak tulang Xinghe terdengar seperti rentetan kembang api kecil. Tubuhnya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan sesaat sebelum meredup. Kulitnya kini tampak lebih jernih, hampir seperti porselen namun memiliki kepadatan yang sanggup mematahkan pedang baja biasa.
Ia telah mencapai **Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Sempurna**. Di atas Tingkat Kesembilan, terdapat sebuah ranah legendaris yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki teknik dewa dan material langit: Tingkat Kesepuluh, atau yang dikenal sebagai *Tubuh Fana Tanpa Cacat*.
Xinghe membuka matanya. Pandangannya kini jauh lebih tajam; ia bisa melihat partikel debu yang menari di bawah cahaya bulan dan mendengar detak jantung Qingshan yang sedang berjaga di balik pintu bangunan utama.
"Sekarang, fondasiku telah cukup kuat untuk menampung satu persen dari Niat Pedangku yang sesungguhnya tanpa merusak tubuh," Xinghe berdiri, merasakan ringan yang luar biasa. Ia meraih Pedang Berat Tanpa Bilah di sampingnya. Kali ini, senjata seberat lima ribu kati itu terasa seperti bagian dari lengannya sendiri, tidak ada lagi beban yang menyeret ototnya.
"Kau terlihat seperti dewa yang baru turun dari gunung, Penatua Yan."
Suara jenaka itu berasal dari atas atap. Ye Ling'er melompat turun dengan gerakan akrobatik yang anggun, mendarat tepat di depan Xinghe tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gadis penenun informasi itu menatap Xinghe dengan mata membelalak, ia bisa merasakan perubahan aura pemuda di depannya.
"Informasi apa yang kau bawa kali ini, Ling'er?" tanya Xinghe tanpa menoleh, ia mulai menyarungkan pedang beratnya ke dalam kanvas baru.
"Berita buruk, tentu saja," Ye Ling'er duduk di tepi kolam, menggoyang-goyangkan kakinya yang kecil. "Keluarga Mu tidak hanya diam setelah kau meremukkan tuan muda mereka. Mu Canghai telah menjual jiwa keluarganya kepada *Sekte Iblis Tulang Hitam* dari benua tetangga. Mereka telah mengirim 'Hadiah' untuk Turnamen Aliansi besok."
Xinghe menyipitkan mata. Sekte Iblis Tulang Hitam adalah organisasi aliran sesat yang terkenal dengan teknik manipulasi mayat dan racun jiwa. "Apa hadiahnya?"
"Seorang *Puppet* manusia," Ye Ling'er berubah serius. "Seorang praktisi yang dipaksa menelan pil iblis untuk meledakkan kekuatannya hingga ke Alam Pembukaan Meridian Tingkat Puncak, tetapi tanpa rasa sakit dan tanpa akal sehat. Dia hanya mesin pembunuh yang dikendalikan oleh Mu Canghai. Dan yang lebih mengkhawatirkan... Jian Feng, Ketua Sekte Pedang Angin Musim Gugur, dikabarkan telah menerima kunjungan dari seorang utusan 'Tanah Suci' dari wilayah pusat benua."
Xinghe terhenti. "Tanah Suci? Jadi sekte kecil seperti Angin Musim Gugur memiliki koneksi sejauh itu?"
"Sepertinya begitu. Mereka ingin memastikan Paviliun Awan Putih jatuh agar rute perdagangan Kota Awan Mengambang berada di bawah kendali tunggal mereka untuk menyetor upeti ke Tanah Suci tersebut," Ye Ling'er menghela napas. "Besok bukan lagi turnamen bisnis, Yan Xinghe. Besok adalah panggung eksekusi. Kau akan melawan seluruh kota sendirian."
Xinghe tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Ye Ling'er merinding. "Melawan seluruh kota? Itu terdengar seperti hiburan yang lumayan sebelum aku melangkah keluar dari tempat sempit ini."
Keesokan paginya, Kota Awan Mengambang tampak seperti kuali yang mendidih. Puluhan ribu orang berkumpul di Stadion Besar Aliansi. Panji-panji dari berbagai faksi berkibar ditiup angin kencang. Di panggung utama, para petinggi kota duduk dengan wajah tegang.
Lin Zheng, yang kini telah pulih sepenuhnya, duduk di kursi utama Paviliun Awan Putih. Di sampingnya, Lin Muxue mengenakan pakaian perang biru yang elegan, matanya terus mencari sosok di kerumunan.
"Dia akan datang, Muxue," ucap Lin Zheng tenang, meskipun tangannya mencengkeram erat sandaran kursi. "Seorang kaisar tidak akan melewatkan panggungnya."
Tiba-tiba, suara terompet raksasa bergema. Pembawa acara naik ke panggung batu raksasa di tengah stadion.
"Turnamen Aliansi Dagang Kota Awan Mengambang dimulai! Hari ini, nasib rute perdagangan dan kekuasaan kota akan ditentukan oleh kekuatan baja dan darah!"
Pertandingan-pertandingan awal berlangsung cepat. Beberapa jenius dari keluarga kecil jatuh dengan luka parah. Namun, suasana berubah mencekam saat perwakilan Keluarga Mu naik ke arena.
Dia adalah sosok pria raksasa yang seluruh tubuhnya dibalut perban hitam. Matanya merah padam tanpa pupil, mengeluarkan uap hitam yang berbau busuk. Ini adalah Puppet Iblis yang diceritakan Ye Ling'er. Dalam tiga menit, ia menghancurkan tiga lawan sekaligus, mematahkan tulang mereka dengan tangan kosong tanpa mengeluarkan satu kata pun.
"Berikutnya! Paviliun Awan Putih melawan Sekte Pedang Angin Musim Gugur!"
Sorak-sorai penonton mereda, digantikan oleh bisikan antisipasi. Dari sisi Sekte Pedang, seorang pemuda dengan jubah biru tua melompat masuk. Dia bukan Jian Kuang, melainkan *Jian Chen*, murid nomor satu sekte tersebut yang dikabarkan baru saja kembali dari pengembaraan di pegunungan terlarang. Auranya berada di Alam Pembukaan Meridian Tingkat Ketujuh.
"Di mana sampah berjubah hitam itu?!" Jian Chen berteriak, pedangnya mengeluarkan kilatan angin yang tajam. "Kudengar dia mengalahkan Tetua Jian Wu dengan keberuntungan. Hari ini, aku akan menunjukkan padanya perbedaan antara semut dan naga!"
"Naga?"
Suara itu datang dari arah gerbang masuk. Yan Xinghe berjalan perlahan, Pedang Berat Tanpa Bilah tersampir di pundaknya. Ia tidak mengenakan baju zirah, hanya jubah hitam sederhana yang kini tampak berkilau akibat aura murni dari tubuh sempurnanya.
Xinghe melompat masuk ke arena. Begitu kakinya menapak, seluruh stadion seolah-olah bergetar.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seseorang yang akan segera merangkak di lantai," ucap Xinghe datar.
"Kau!" Jian Chen murka. Ia melesat maju, pedangnya bergerak dengan kecepatan cahaya, menciptakan ribuan tebasan angin yang membungkus Xinghe. **"Jurus Badai Pemutus Surga!"**
Penonton menahan napas. Serangan ini sepuluh kali lebih kuat dari yang dikeluarkan Jian Wu. Namun, Xinghe tetap berdiri diam. Ia tidak mencabut pedangnya dari kanvas pembungkusnya.
Saat tebasan angin itu tinggal satu inci dari kulitnya, Xinghe hanya mengangkat tangan kirinya.
*BUM!*
Ia menangkap bilah pedang Jian Chen dengan dua jari saja.
Seluruh stadion seketika sunyi senyap. Jian Chen membelalakkan mata, mencoba menarik pedangnya, namun pedang itu seolah-olah tertanam di dalam gunung baja.
"Teknik pedangmu penuh dengan lubang," Xinghe menatap Jian Chen dengan pandangan dingin. "Kau membuang energi di setiap ayunan hanya untuk terlihat hebat. Di mataku, ini bukan bela diri. Ini adalah tarian badut."
Xinghe menjentikkan jarinya ke bilah pedang tersebut.
*PRANG!*
Pedang tingkat tinggi milik Jian Chen hancur berkeping-keping. Xinghe kemudian melayangkan pukulan ringan ke dada Jian Chen. Pukulan itu tidak terlihat kuat, namun mengandung getaran frekuensi tinggi dari Niat Pedang.
*KRAK!*
Zirah Jian Chen hancur, dan pemuda itu terlempar keluar arena, menabrak pilar batu hingga hancur. Ia jatuh pingsan seketika, meridiannya lumpuh total.
"Satu," ucap Xinghe pelan.
Di tribun utama, Ketua Sekte Jian Feng berdiri dengan wajah merah padam. Mu Canghai di sampingnya hanya menyeringai jahat, memberi isyarat kepada Puppet Iblisnya.
"Berikutnya... Final!" pembawa acara berteriak dengan suara gemetar. "Paviliun Awan Putih melawan Keluarga Mu!"
Puppet Iblis itu melompat ke arena, menciptakan retakan besar saat mendarat. Hawa dingin iblis menyebar, membuat penonton di barisan depan menggigil ketakutan.
Xinghe akhirnya menurunkan pedang beratnya dari pundak. Ia melepaskan kanvas pembungkusnya, menyingkap logam hitam legam dengan guratan emas-merah yang berdenyut. Begitu pedang itu menyentuh lantai arena, tekanan gravitasi di sekitarnya meningkat drastis.
"Makhluk malang," Xinghe menatap Puppet tersebut. "Jiwa manusia yang dipaksa menjadi wadah kegelapan. Aku akan memberimu kedamaian yang cepat."
Puppet itu meraung, suara yang tidak terdengar seperti manusia. Ia melesat maju, tangan hitamnya berubah menjadi cakar yang memancarkan api korosif.
Xinghe mengangkat pedang beratnya dengan satu tangan. Kali ini, ia tidak hanya menggunakan kekuatan fisik. Ia mengaktifkan esensi guntur dan api di dalam meridiannya. Pedang itu mulai mengeluarkan percikan petir ungu yang dibalut api emas.
**"Seni Pedang Berat: Tebasan Matahari Terbit!"**
Xinghe mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas. Sebuah gelombang energi raksasa berbentuk bulan sabit berwarna emas-ungu melesat membelah arena. Serangan ini tidak hanya memotong secara fisik, tetapi membakar habis energi iblis di udara.
Puppet itu mencoba menahan dengan kedua tangannya, namun begitu bersentuhan dengan energi Xinghe, tubuhnya seketika menguap menjadi abu. Ledakan energinya bahkan menghancurkan formasi pelindung stadion, membuat para penonton berhamburan ketakutan.
Xinghe berdiri di tengah debu yang beterbangan. Ia tidak menatap mayat yang sudah jadi abu, melainkan menatap langsung ke arah Mu Canghai dan Jian Feng.
"Kalian berdua, turunlah bersama-sama," tantang Xinghe, suaranya menggema ke seluruh penjuru kota. "Jangan biarkan pion-pion ini mati sia-sia. Jika kalian ingin Paviliun Awan Putih, ambillah dari atas mayatku. Tapi aku ingatkan... harga untuk menantangku adalah kepunahan klan kalian."
Di saat itu, seluruh penduduk Kota Awan Mengambang menyadari; pemuda berjubah hitam ini bukan lagi seorang penatua kehormatan. Dia adalah penguasa baru yang akan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati di bawah langit ini.
Lin Muxue menatap punggung Xinghe dari kejauhan, air mata mengalir di pipinya. Ia tahu, setelah hari ini, Xinghe tidak akan lagi bisa tinggal di kota kecil ini. Sayap naga itu telah terlalu besar untuk langit yang sempit ini.
Genderang perang sesungguhnya baru saja dimulai. Dari kejauhan, di atas awan, beberapa sosok berjubah putih dengan lambang 'Tanah Suci' mengamati dengan minat yang mendalam. Salah satu dari mereka tersenyum.
"Menarik. Di benua sampah ini, muncul benih yang memiliki Niat Pedang tingkat Kaisar. Kita harus membawanya, atau memusnahkannya sebelum dia menjadi ancaman bagi Tuan Besar."
Tiga Ribu Dunia mulai memperhatikan. Dan Yan Xinghe, Sang Penakluk, siap menyambut mereka dengan pedang beratnya yang haus akan darah para dewa.
Daftar Istilah Kultivasi dalam Bab Ini:
**Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Sempurna (Tingkat 10):** Tahap rahasia di atas batas normal manusia fana.
**Puppet Iblis:** Manusia yang diubah menjadi senjata hidup melalui alkimia terlarang.
**Alam Pembukaan Meridian Tingkat Puncak:** Puncak kekuatan di wilayah lokal sebelum masuk ke ranah spiritual yang lebih tinggi.
**Tanah Suci:** Organisasi kultivasi raksasa yang menguasai wilayah luas di pusat benua.
**Niat Pedang Tingkat Kaisar:** Pemahaman mendalam tentang konsep pedang yang hanya dimiliki oleh penguasa dimensi.