Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Orang Membeku
Mansion Moretti belum pernah terasa sepi sekejam sore itu.
Padahal rumah besar itu dipenuhi orang. Pelayan masih lalu-lalang. Kepala pelayan masih memberi instruksi. Mesin kopi masih berdengung di dapur. Air mancur taman depan masih menyala seperti biasa.
Namun setelah kedatangan Tuan Octavian dan kepergian iring-iringan mobil hitam, seluruh rumah seolah kehilangan suara.
Tak ada yang berani bicara terlalu keras.
Tak ada yang berani menatap Seraphina terlalu lama.
Tak ada yang berani menyebut nama Elara.
Nama itu kini seperti bara yang bisa membakar siapa saja yang menyentuhnya.
Di ruang utama, Seraphina masih duduk di sofa tempat Octavian tadi menempatinya. Punggungnya tegak, dagu terangkat, tetapi jemarinya gemetar saat memegang cangkir teh.
Ia berusaha tampak tenang.
Ia gagal.
Selene mondar-mandir sambil menggigit kuku.
“Ini gila… benar-benar gila.”
“Diam dan duduk,” bentak Seraphina.
“Aku tidak bisa diam!” Selene berbalik cepat. “Ibu sadar tidak? Kalau berita ini keluar, semua orang akan menertawakan kita!”
“Tidak akan keluar.”
“Ibu yakin?”
Seraphina menoleh tajam.
“Aku akan pastikan.”
Selene tertawa sinis.
“Dengan apa? Menyuruh semua orang lupa? Satu kompleks tadi lihat iring-iringan mobil itu masuk ke rumah kita.”
Wajah Seraphina menegang.
Ia benci jika Selene benar.
Di lantai dua, Damian berdiri di balkon yang sama seperti malam Elara pergi.
Tangannya memegang buku catatan kecil milik Elara yang masih ia simpan diam-diam.
Ia membuka halaman terakhir lagi.
Orang sombong sering kalah bukan karena lawan kuat, tapi karena menganggap lawan lemah.
Kalimat itu kini terasa seperti vonis untuk seluruh keluarganya.
Ia memejamkan mata sesaat.
Bayangan demi bayangan datang:
Elara menuang kopi dengan tenang.
Elara dituduh mencuri.
Elara ditampar.
Elara pergi membawa koper kecil.
Elara turun dari mobil hitam dengan kepala tegak.
Dan dirinya…
hanya diam.
Damian menggenggam buku itu lebih erat.
Untuk pertama kali dalam hidup, ia merasa kekayaan dan status tidak bisa membeli satu hal yang paling ia butuhkan sekarang:
kesempatan kedua.
Di gedung Vasiliev Group, suasana justru berbanding terbalik.
Seluruh lantai eksekutif bergerak cepat. Asisten berlari membawa berkas. Ruang rapat penuh panggilan konferensi. Nilai saham terus naik. Media bisnis menebak-nebak strategi pewaris yang kembali.
Di ruang kerja utama, Elara berdiri menghadap jendela besar dengan pemandangan kota.
Viktor masuk sambil membawa tablet.
“Reaksi pasar positif.”
“Berapa persen?”
“Naik sebelas persen sejak pagi.”
“Cassian?”
“Mengamuk.”
Elara tersenyum tipis.
“Bagus.”
Viktor ragu sejenak.
“Ada satu hal lagi.”
“Bicara.”
“Media mulai menghubungkan Anda dengan keluarga Moretti.”
Elara tak berbalik.
“Cepat sekali.”
“Foto-foto lama dari lingkungan mereka mulai muncul.”
“Biarkan.”
Viktor mengernyit.
“Itu bisa memalukan mereka.”
“Dan?”
Ia akhirnya menoleh.
“Mereka tidak memikirkan rasa malu saat mempermalukan orang lain.”
Viktor menunduk.
Ia tahu kalimat itu bukan emosi sesaat.
Itu keputusan.
Sore menjelang, telepon mansion Moretti tak berhenti berdering.
Seraphina menolak tiga undangan minum teh, dua acara amal, dan satu panggilan dari teman lamanya.
Alasannya sama:
“Sedang kurang sehat.”
Padahal yang sakit bukan tubuhnya.
Melainkan harga dirinya.
Saat telepon berdering lagi, ia mengangkat dengan kesal.
“Halo?”
Suara wanita di seberang terdengar terlalu manis.
“Sera sayang… kudengar pewaris Vasiliev tadi datang ke rumahmu?”
Seraphina langsung menegang.
“Siapa bilang?”
“Oh, semua orang bicara. Katanya gadis itu dulu bekerja di rumahmu?”
“Itu hanya rumor.”
“Benarkah? Tapi lucu juga ya… masa konglomerat jadi ART?”
Seraphina memutus telepon tanpa jawaban.
Tangannya gemetar hebat.
Ia melempar ponsel ke sofa.
Selene yang melihat dari jauh mendecih.
“Kubilang juga.”
“Diam!”
“Ibu marah padaku terus, padahal ini semua karena Ibu terlalu kasar.”
Tamparan keras mendarat di pipi Selene.
Plak!
Ruangan membeku.
Selene memegang pipinya tak percaya.
“Ibu… menamparku?”
Seraphina sendiri terlihat terkejut telah melakukannya.
Namun amarahnya terlalu besar untuk meminta maaf.
“Kalau kau tidak mencuri kalung itu, semua tak akan terjadi!”
Selene mundur beberapa langkah.
“Jadi sekarang salahku?”
“Ya!”
“Baik.”
Air mata muncul di mata Selene, tetapi nadanya berubah dingin.
“Kalau begitu hadapi sendiri.”
Ia berlari naik tangga dan membanting pintu kamar.
Suara benturan bergema ke seluruh rumah.
Semua orang membeku.
Di ruang kerja Moretti Holdings, Damian menerima laporan yang membuat alisnya menegang.
“Ulangi.”
Asistennya menelan ludah.
“Bank Vasiliev menunda pembicaraan refinancing proyek Marina Bay.”
“Itu proyek utama kita.”
“Ya, Tuan.”
“Alasan?”
“Mereka bilang sedang meninjau ulang semua kemitraan.”
Damian tahu arti kalimat sopan itu.
Mereka menarik jarak.
“Siapa yang memberi keputusan?”
“Tim pusat baru.”
Damian bersandar perlahan.
Tim pusat baru.
Artinya Elara.
Asisten menunggu instruksi.
Damian berkata datar,
“Tunda ekspansi sampai ada kepastian.”
“Baik, Tuan.”
Saat pintu tertutup, Damian menatap meja lama sekali.
Jadi ini bukan sekadar rasa malu sosial.
Dampaknya nyata.
Dan baru dimulai.
Malamnya, keluarga Moretti dipaksa makan malam bersama.
Tak ada yang ingin hadir.
Namun Seraphina memerintahkan.
Meja panjang terisi tiga orang dengan jarak yang terasa seperti jurang.
Selene datang dengan mata merah, tapi dagunya tetap tinggi.
Damian makan tanpa bicara.
Seraphina mencoba bertindak normal.
“Besok kita tetap datang ke gala charity.”
“Aku tidak pergi,” kata Selene.
“Kau akan pergi.”
“Aku tidak mau jadi bahan gosip.”
Seraphina menoleh ke Damian.
“Kau bicara.”
Damian meletakkan garpu.
“Aku juga tidak datang.”
“Apa?”
“Aku ada urusan.”
“Kalian mempermalukanku.”
Damian menatap ibunya lurus.
“Rumah ini sudah cukup mempermalukan dirinya sendiri.”
Sendok Seraphina jatuh ke piring.
Selene nyaris tersenyum.
“Bagus, Kak.”
Seraphina berdiri.
“Cukup! Sejak perempuan itu datang, kalian semua berubah!”
Damian ikut berdiri.
“Bukan karena dia.”
“Lalu karena apa?”
“Karena dia pergi… dan kita baru sadar seperti apa kita sebenarnya.”
Hening.
Tak ada yang bergerak.
Tak ada yang bernapas normal.
Semua orang membeku.
Di penthouse Vasiliev, Elara sedang makan malam sendirian saat Viktor masuk.
“Tuan Besar ingin tahu apakah Anda akan hadir di gala charity besok.”
Elara memotong steak perlahan.
“Acara Seraphina?”
“Ya.”
“Menarik.”
“Apakah Anda akan datang?”
Elara minum air putih, lalu berkata tenang,
“Tentu.”
Viktor hampir tersenyum.
“Sebagai tamu kehormatan?”
“Sebagai sponsor utama.”
Ia meletakkan gelas.
“Dan pastikan daftar tamu tahu itu.”
Viktor menunduk hormat.
“Baik, Nona.”
Pukul sebelas malam, Damian tak bisa tidur lagi.
Ia turun ke dapur.
Kebiasaan lama.
Namun kali ini tak ada kopi hangat yang sudah siap.
Tak ada suara langkah lembut.
Tak ada seseorang yang tahu ia sulit tidur tanpa pernah ditanya.
Ia membuka kulkas sendiri.
Kosong dari minuman favoritnya.
Ia tertawa hambar.
Hal-hal kecil yang dulu ia anggap otomatis ternyata dilakukan oleh satu orang.
Ia menutup kulkas dan melihat Marta duduk di sudut dapur.
Wanita tua itu sedang mengupas kentang untuk esok pagi.
“Kau belum tidur?”
Marta mengangkat kepala.
“Orang tua tak butuh banyak tidur.”
Damian duduk di seberangnya.
Setelah hening beberapa detik, ia bertanya,
“Elara sering bicara tentang keluarganya?”
“Tidak pernah.”
“Tentang pekerjaannya sebelum ke sini?”
“Tidak.”
“Tentang aku?”
Marta berhenti mengupas.
Lalu menatap Damian tajam.
“Kenapa sekarang tanya?”
Damian diam.
Marta melanjutkan,
“Kau tak pernah bertanya apa pun saat dia ada.”
Kalimat itu menusuk lebih telak dari makian.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu rasakan.”
Damian menunduk.
Marta bangkit sambil membawa baskom.
“Satu hal saja yang pernah dia bilang tentang Tuan Damian.”
Damian langsung mengangkat kepala.
“Apa?”
Marta berjalan menuju pintu dapur.
“Dia bilang… orang paling dingin kadang menyimpan penyesalan paling panas.”
Pintu tertutup.
Damian membeku sendiri di kursi kayu.
Keesokan paginya, berita utama kota meledak.
VASILIEV GROUP MENJADI SPONSOR UTAMA GALA CHARITY MALAM INI. PEWARIS MISTERIUS DIKABARKAN HADIR.
Seraphina membaca berita itu sambil berdiri.
Tangannya bergetar.
“Tidak.”
Selene yang baru turun tangga langsung tersenyum kecil.
“Oh, ini akan menarik.”
Damian menutup koran dari tangan ibunya dan membacanya sendiri.
Nama Elara tidak disebut.
Namun ia tahu siapa yang dimaksud.
Seraphina berbisik,
“Dia sengaja melakukan ini…”
Damian mengembalikan koran ke meja.
“Ya.”
“Untuk mempermalukanku.”
Damian menatap ibunya tanpa ekspresi.
“Mungkin.”
Ia berbalik hendak pergi.
“Damian!” panggil Seraphina.
Ia berhenti.
“Kalau kau bertemu dia malam ini… kau di pihak siapa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Damian tak langsung menjawab.
Lalu ia berkata pelan,
“Aku belum pernah berada di pihak yang benar.”
Ia pergi meninggalkan ruang makan.
Seraphina terduduk lemas.
Selene tersenyum penuh arti.
Dan di suatu tempat di kota yang sama, Elara sedang memilih gaun malamnya.
Malam ini…
semua orang akan membeku lagi.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄