Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *17
"Merlin .... " panggilnya pelan, suaranya berbisik, hati-hati seolah takut memecahkan keheningan yang rapuh itu.
Namun Merlin tidak menjawab. Ia tetap diam, memeluk gulingnya lebih erat, pura-pura tidak mendengar apa-apa. Reyno mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Ia merasa lelah, pusing, bingung, dan dipenuhi rasa bersalah yang mulai menumpuk tinggi sedikit demi sedikit, menyesakkan dadanya hingga sulit bernapas.
"Aku gak pernah nganggep kamu orang asing. Gak pernah, Mer," ucapnya lagi, kali ini lebih tegas meski nada bicaranya masih rendah. "Kamu istriku. Satu-satunya istriku."
Sunyi kembali menyapa. Hening yang panjang dan menyakitkan. "Aku cuma ...." Pria itu menggantungkan kalimatnya di udara. Ia bingung, karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya agar dimengerti.
Bagaimana menjelaskan rasa bersalah yang begitu besar pada sahabatnya yang sudah tiada. Bagaimana menjelaskan rasa khawatir yang berlebihan pada Yara yang terlihat benar-benar sendirian dan hancur di dunia ini. Bagaimana menjelaskan bahwa ia merasa punya utang nyawa, sehingga terus merasa harus selalu ada untuk gadis itu kapan saja.
Dan di tengah semua rasa itu, ia tidak sadar, atau mungkin sengaja mengabaikan, bahwa ia mulai meninggalkan Merlin terlalu jauh di belakangnya.
"Aku cuma gak bisa ninggalin Yara sendirian," lanjutnya pelan, akhirnya mengucapkan alasan yang sama berulang kali. "Dia gak punya siapa-siapa lagi, Mer. Kalau aku juga pergi atau gak peduli, dia bakal hancur total."
Kali ini, tubuh Merlin bergerak sedikit. Namun bukan berbalik menatap suaminya. Ia justru menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi hampir separuh wajahnya, seolah ingin bersembunyi dari segala sesuatu.
"Aku ngerti," jawabnya singkat. Suaranya terdengar lirih, berat, dan sangat lelah.
Dan entah kenapa, dua kata sederhana itu justru terasa lebih menyakitkan bagi Reyno dibandingkan jika istrinya itu berteriak marah atau melempar barang. Karena Merlin tidak pernah melarang. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah memaksa Reyno untuk memilih. Wanita itu hanya terus-menerus mengerti, terus-menerus memaklumi, terus-menerus mengalah. Dan perlahan, dalam diam, Merlin seolah menghilang, memudar, dan menyusut keberadaannya di tengah hidup suaminya sendiri.
Reyno akhirnya ikut berbaring di sisi luar ranjang. Ia berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang gelap. Malam itu, jarak di antara mereka terasa begitu jauh. Padahal hanya dipisahkan beberapa sentimeter saja, namun rasanya seperti ada jarak bermil-mil yang tak bisa dijembatani.
*
Keesokan paginya, sinar matahari pagi masuk menerobos lewat celah gorden jendela. Seperti kebiasaan selama bertahun-tahun, Merlin bangun lebih awal dari suaminya. Ia bergerak tenang dan cekatan di dapur, menyalakan kompor, memasak sarapan, menyeduh kopi hitam kesukaan Reyno, hingga menyiapkan kemeja dan celana kerja yang sudah disetrika rapi di atas kursi.
Semuanya masih sama persis. Rutinitas yang tak berubah. Terlalu sama, bahkan terasa kaku.
Namun Reyno, yang terbangun dengan kepala masih pening dan hati yang berat, mulai sadar ada yang berbeda. Merlin melakukan semuanya seolah sedang menjalankan sebuah tugas atau rutinitas belaka. Gerakannya tepat, rapi, namun tidak lagi ada antusiasme, tidak lagi ada senyum manis, tidak lagi ada obrolan kecil yang dulu selalu mengisi pagi mereka.
"Aku berangkat dulu ya," ucap Reyno pelan sambil berdiri di dekat meja makan, merapikan jam tangannya di pergelangan tangan.
Merlin yang sedang menata piring di meja makan hanya mengangguk kecil tanpa menoleh sepenuhnya. "Hati-hati di jalan," jawabnya datar.
Biasanya, sebelum melangkah keluar pintu, Reyno pasti akan mendekat, mencium kening atau pipi istrinya, sambil bercanda sedikit. Namun pagi itu, ia justru ragu. Ia berdiri diam di tempatnya beberapa detik, menatap punggung wanita itu yang tegap dan kaku. Akhirnya ia memberanikan diri melangkah mendekat, lalu mengecup kening Merlin dengan sangat pelan dan hati-hati.
Merlin tidak menolak. Ia diam saja membiarkan sentuhan itu terjadi. Namun ia juga tidak tersenyum, tidak membalas tatapan, dan tidak merespons hangat seperti dulu.
Dan untuk pertama kalinya, Reyno merasakan sesuatu yang asing dan menyesakkan. Hubungan pernikahan mereka mulai terasa canggung. Seolah mereka baru saja berkenalan, bukan pasangan yang sudah bertahun-tahun hidup bersama.
Hari itu berjalan terasa sangat berat bagi Reyno. Di kantor, ia beberapa kali kehilangan fokus saat rapat penting. Matanya menatap kertas di meja, tapi pikirannya melayang jauh ke rumah, ke wajah Merlin yang pucat dan diam, ke kalimat-kalimat yang menyakitkan yang terlontar kemarin malam. Bahkan Dimas, sahabat karibnya sekaligus rekan kerjanya, sampai menatapnya dengan tatapan bingung dan aneh dari seberang meja.
Rapat selesai, peserta lain mulai berhamburan keluar ruangan. Tinggal mereka berdua saja sana.
"Lo kenapa sih, Rey? Dari tadi pagi kayak orang kesurupan. Gak nyambung pas ngomong, ngelamun terus," ucap Dimas sambil membereskan berkas-berkasnya, lalu menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
"Kenapa apanya? Gak ada apa-apa," jawab Reyno singkat sambil berusaha mengalihkan pandangan.
"Gak usah bohong deh sama gue. Muka lo tuh kayak orang abis ditinggal kawin. Murung banget," cibir Dimas santai.
Reyno mendengus kecil, wajahnya masam. "Gak lucu."
Dimas mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Nah, bener kan ada masalah? Kalau biasa aja pasti udah ketawa atau ngomel balik. Giliran diem berarti lagi pusing berat."
Reyno terdiam sebentar, akhirnya ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi empuk itu dengan napas panjang yang berat. Bahunya terasa begitu lelah.
"Merlin marah sama gue," ucapnya pelan, hampir berbisik.
"Ya bagus lah kalau marah," jawab Dimas santai tanpa ragu.
Reyno langsung melototkan matanya kaget, menatap tajam sahabatnya itu. "Kok lo malah bilang gitu?"
"Ya emang harusnya dia marah lah, Rey. Kalau gue jadi dia, udah gue tendang lo keluar dari rumah dari minggu lalu," jawab Dimas tegas.
"Tapi dia gak marah, Mas. Itu masalahnya," Reyno menggeleng lemah. "Dia diem. Dia cuma ngomong 'iya', 'ngerti', 'pasti ada alasannya'. Dia ngalah terus. Dia diam aja."
"Nah itu malah lebih bahaya, tol*ol," sergah Dimas pelan namun tegas. "Kalau dia marah, berarti dia masih peduli, masih berharap lo berubah. Kalau dia udah diem, udah gak protes, udah gak nuntut apa-apa. Itu tandanya dia udah mulai nyerah. Udah mulai gak berharap sama lo lagi."
Kalimat itu menohok dada Reyno tepat sasaran. Ia kembali terdiam, merenungi makna kata-kata itu. Sementara Dimas langsung menghela napas panjang, lalu duduk di kursi kosong tepat di depan meja Reyno. Nada suaranya melembut, berusaha memberi pengertian.
"Rey, gue ngerti perasaan lo. Gue ngerti lo ngerasa punya tanggung jawab gede sama Yara. Gue ngerti lo merasa berhutang budi sama Lucas. Lucas sahabat terbaik lo, dia nyawa lo, gue tau itu semua."
🥹🥹