Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Baju Mita lembab, begitu juga dengan rambutnya. Selagi Adrian mandi, Mita berdiri di depan kipas angin yang menyala untuk mengeringkan baju juga rambutnya.
Mita menoleh kanan dan kiri, menelisik ruangan demi ruangan. Rumah minimalis itu hanya dihuni oleh seorang pria dewasa. Rasanya begitu sepi, dingin dan hampa.
Dulu Mita pernah merasakan juga hidup berkecukupan dengan Rio. Hingga akhirnya ia lebih memilih cinta pertamanya dari pada pernikahannya.
"Sayang..."
Mita menoleh. "Ya, Mas? Udah selesai?"
Adrian mendekati Mita yang masih di depan kipas angin. "Kamu ngapain, hm?" Pria itu langsung memeluk tubuh Mita dari belakang.
Gerakan itu justru membuat Mita terkejut tapi tidak menolak. Apalagi ketika kepala Adrian bersandar di bahunya.
"Aku lagi ngeringin baju dan rambut," jelas Mita.
Terdengar kekehan dari Adrian.
"Ada hairdryer di kamar mandi. Terus kalau baju, aku bisa siapin. Aku punya banyak kaos yang nyaman, bisa kamu pakai. Mau ikut masuk ke kamar?" Tawar Adrian.
"Hmm?" Mita menoleh dengan wajah terkejutnya.
"Mau lihat kamarku nggak? Nanti kamu bisa pilih sendiri kaosnya." Adrian mengulurkan tangannya.
Mita mengangguk dan ikut berjalan ke arah kamar.
"Mas, kamu sendirian?" Mita penasaran.
"Sama kamu," jawabnya datar.
Mita memukul lengan Adrian dengan gemas. "Ish, bukan gitu. Sehari-harinya gitu loh."
Adrian tertawa.
"Iya, aku sendirian. Paling ada ibu yang beres-beres tapi pagi. Terus pas aku berangkat kerja, ibunya pulang. Keseringan aku beberes sendiri sih. Pakaian biasanya aku laundry. Kenapa? Mau nemenin?" Kini mereka sudah berada di dalam kamar bernuansa cream. Adrian menangkup wajah Mita dengan lembut.
"Nggak takut sendirian, Mas? Ini terlalu besar, sepi dan dingin," ungkap Mita.
"Takut sih nggak. Karena memang sudah terbiasa. Rumah ini ada dua kamar. Di lantai atas cuma ada ruangan terbuka untuk jemur pakaian dan santai. Kalau ngomongin sepi sih pasti. Tapi, aku nggak merasa kesepian gitu. Karena lebih nyaman begini. Kalau dingin iya juga, makanya aku sekarang sedang mengharapkan kehangatan dari kamu." Adrian mengecup bibir Mita dengan lembut. "Seharusnya nggak ada yang salah sama hubungan kita kan?"
Mita mengangguk. Ia paham betul apa yang dimaksud dengan pertanyaan dari Adrian barusan. Mereka sama-sama kesepian, sudah sama-sama melajang. Mita janda tanpa anak, begitu juga dengan Adrian yang bisa dikatakan sebagai duda kembang. Jadi, tidak ada yang salah.
"Yang salah itu kalau kita selingkuh," jawab Mita dengan senyuman lalu mengecup bibir Adrian lagi.
Mendapatkan serangan seperti itu, tentu saja Adrian senang. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung meraup bibir Mita dengan rakus. Perlahan Adrian mendorong tubuh Mita ke atas ranjang. Di sana, Adrian terus mendorong hingga tubuh itu rebah dan Adrian mengukungnya.
Mita pun tidak diam, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian, sesekali meremas rambut basahnya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pangkal pahanya. Itu milik Adrian yang ereksi di dalam celananya.
Tangan Adrian memijat lembut dua gunung sintal milik Mita. Hingga terdengar lenguhan lembut keluar dari bibirnya.
"Mas..."
"Sakit?"
Mita menggeleng pelan.
"Kenapa? Nggak nyaman ya?" Adrian berusaha menahan diri untuk tidak melampiaskan nafsunya. Menahan tubuhnya dengan dua tangannya.
"Bukan gitu. Aku-takut." Mita harus jujur jika dirinya takut. Meskipun rasanya ia tidak rela Adrian menghentikan kegiatannya tadi. Tapi, ia memiliki ketakutan kalau semuanya tidak berjalan lancar. Tentang hubungannya dengan Adrian.
"Iya, aku ngerti. Tapi, biarin aku begini dulu." Adrian akhirnya memilih untuk memeluk tubuh Mita, dari pada harus melanjutkan kegiatan tadi. Meskipun ingin, Adrian menghormati keputusan Mita.
"Maaf ya, Mas." Mita melanjutkan.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga minta maaf kalau berlebihan," sahut antrian yang masih merebahkan kepalanya di atas tubuh Mita dengan nyaman.
Keduanya kembali larut dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang bicara, Adrian nyaman dengan posisinya, mendengar degup jantung Mita yang berdetak normal. Rasanya benar-benar nyaman. Membuat dirinya mengantuk. Sedangkan Mita, ia lebih dulu memejamkan matanya dengan tujuan menghilangkan pusing. Tetapi, ternyata ia pulas lebih dulu. Adrian yang menyadari itu, membiarkannya. Hingga ia pun merasakan ngantuk dan ikut terlelap.
(◍•ᴗ•◍)
Pukul tiga dini hari, Mita bangun karena ingin buang air kecil. Dan saat dirinya membuka mata, ia menyadari ada tangan yang melingkar diperutnya dengan nyaman. Ia menoleh ke kiri, ada wajah Adrian yang masih pulas. Bibirnya tertarik dan seketika tubuhnya merasa hangat.
Pelan-pelan Mita bergeser, mencoba memindahkan tangan Adrian. Tapi, gerakan itu membuat Adrian membuka matanya.
"Maaf Mas, ganggu. Aku mau pipis," ucap Mita lembut.
"Aku pikir kamu mau kabur," timpalnya dengan suara serak. "Berani sendiri apa mau—"
"Bisa sendiri, Mas." Buru-buru Mita menyela dan beranjak dari tempatnya. Kebetulan kamar mandi ada di dalam kamar, jadi Mita tidak perlu keluar kamar lagi.
Adrian tersenyum dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia masih tidak percaya kalau kekasihnya menginap. Padahal tidak ada rencana. Meskipun hanya terjadi ciuman dan tidak lebih. Namun, tetap membuatnya merasa jauh lebih hangat dari hari-hari biasanya.
Lantas, Adrian melihat Mita kembali ke atas kasur dengan wajah sedikit panik.
"Mas... Kenapa nggak bangunin aku sih? Aku jadi nginep di sini. Nggak enak sama tetangga," ujar Mita.
Adrian merentangkan kedua tangannya dan mendekap tubuh Mita erat.
"Kamu pulas banget, nggak tega banguninnya. Tetangga ku tuh banyak yang kosong. Nggak peduli juga kayaknya."
"Kosong maksudnya?"
"Kebanyakan pada di luar kota. Apalagi ini weekend. Lagian, mereka nggak peduli juga deh kayaknya. Tenang aja ya. Aku denger jantung kamu kenceng banget." Adrian mengusap kepala Mita dengan lembut. "Aku seneng banget kamu tidur di sini. Kita nikah aja yuk, Dek..."
Mendengar itu, Mita menjauhkan kepalanya untuk menatap wajah Adrian. "Mas ngelindur ya?"
"Nggak, Sayang. Aku nih serius. Kita pacaran setelah nikah aja. Biar kita bebas ngelakuin hal yang enak-enak, Dek. Kalau begini, aku jujur aja takut kebablasan. Meskipun kamu pernah menikah, tapi aku mau melakukannya dengan benar. Biar nggak dosa. Gimana?"
"Aku mau aja, Mas. Tapi, kamu harus ketemu ibuku dulu."
"Hmm, aku akan nemuin ibu kamu." Adrian mengecup kepala Mita dengan lembut. Hatinya senang dan gugup secara bersamaan.
'Aku akan buat kamu bahagia. Aku akan tunjukkan sama Rio, kamu itu berharga.' Adrian membatin.
[]