Tak selamanya pertemuan antara dua trauma berakhir dengan trauma baru. Bisa jadi, merekalah yang paling paham cara merawat luka satu sama lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang selama ini kita cintai sama sekali tidak pernah merasa bersalah, bahkan berani bilang kalau itu hal yang wajar dan mencoba menutupi semua luka itu dengan istilah 'Nafkah'.
DI hotel malam itu, Vandini melihat sosok suaminya sedang bersama wanita lain, dan ia hanya mendapat makian.
"Kamu nggak seharusnya ada di sini, Van. Ini bukan tempatmu."
Keterkejutannya pun berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang gak seharusnya ada di tempat kayak gini!"
"Kamu nggak ngerti, Van. Ini... ini nggak ada hubungannya sama kita."
"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, hahh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidakkah Kamu Merindukan Hubungan Kita?
Malam ini, dia ingin menunjukkan bahwa dia masihlah wanita yang sama yang dulu membuat Satura jatuh cinta. Wanita yang selalu jadi pusat perhatian suaminya. Sebenarnya dirinya tak banyak berubah, tapi entah kenapa hatinya berdebar tak karuan. Vandini menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.
Tubuh Vandini memang kini terlihat lebih lembut. Lekukannya lebih bulat dibandingkan garis tubuhnya yang dulu lebih tegas. Pinggangnya tak lagi seramping masa muda, dan pinggulnya pun makin lebar. Namun, dia justru menyukai perubahan itu.
Namun di saat seperti ini, dia tak bisa menahan rasa ragu. Dia bertanya-tanya apakah Satura masih memandangnya dengan cara yang sama. Saat melangkah masuk ke ruang tengah, dia melihat Satura duduk di sofa. Dasinya sudah longgar dan matanya terpaku pada layar TV.
"Hai," sapa Vandini pelan.
Satura mengangkat wajah. Matanya membelalak kaget saat melihat istrinya. Sesaat, tatapan itu mengingatkannya pada masa-masa awal mereka berpacaran.
"Kamu ... luar biasa," gumam Satura dengan suara rendah yang penuh kekaguman.
Hati Vandini langsung berbunga-bunga, rasa takutnya lenyap seketika. Dia berjalan mendekat dengan langkah perlahan dan pasti. Saat sampai di hadapan suaminya, tangan Satura langsung melingkar di pinggangnya. Dia menarik Vandini dekat tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
"Aku kangen," bisik Vandini, terkejut dengan kejujurannya sendiri. "Aku kangen momen kayak gini."
Satura menghela napas, lalu memeluk bahu Vandini dan menariknya duduk di sampingnya. "Iya ... aku juga. Cuma ... banyak banget yang harus dikerjain, soal kerjaan dan semuanya."
"Aku tahu," jawab Vandini sambil mengelus lengan suaminya lembut. "Aku tahu kita lagi sibuk-sibuknya. Cuma ... aku nggak mau kita kehilangan satu sama lain di tengah tengah semua ini."
Satura menatapnya, wajahnya melembut. "Nggak akan kok," bisiknya.
Dia mencium kening Vandini, lalu turun ke pipi, dan akhirnya mendarat di bibir istrinya.
Saat tangan Satura mengunci tubuhnya dan menariknya semakin dekat, Vandini membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Sentuhannya hangat, kokoh, dan begitu akrab hingga membuat hatinya bahagia.
Satura menunduk, menyibakkan sehelai rambut dari wajah Vandini sebelum akhirnya menciumnya perlahan dan lembut. Getaran halus menjalar di seluruh tubuh Vandini. Semua keraguan yang sempat ada lenyap tak berbekas di bawah sentuhan itu.
Ciuman mereka makin dalam, dan Vandini bisa merasakan ketegangan di tubuh suaminya yang sejalan dengan perasaannya sendiri. Sebuah kerinduan yang sudah lama tertahan. Kedekatan itu pun membangkitkan gairahnya.
Tak ada yang membosankan dari cara mereka bercumbu. Setiap sentuhan dan ciuman berakar dari pengalaman dan kenyamanan, dibalut kasih sayang dan gairah yang justru makin kuat seiring berjalannya waktu. Mereka paham apa yang dibutuhkan pasangannya tanpa perlu bicara.
Satura menempelkan wajahnya di leher Vandini. "Tarik napas bareng aku," bisiknya lembut, suaranya rendah dan menenangkan.
Vandini menghirup udara dalam-dalam, merasakan dada Satura naik turun berirama bersamanya. "Ahhh ... Enak banget," desisnya pelan, matanya terpejam saat dia merasakan kehadiran Satura di dalam dirinya, keras dan menggebu gebu.
"Ya?" tanya Satura, suaranya terdengar parau. Bibirnya terus mengecup kulit Vandini dengan lembut. "Kamu seksi banget, Van. Kamu suka, kan?"
Vandini mengangguk cepat, napasnya tersengal. "Terusin, Satura ... please. Ohhh ... Jangan berhenti," pintanya sambil melingkarkan kakinya ke pinggul suaminya.
Rasanya seperti tubuhnya meleleh, satu-satunya pegangan hanyalah sentuhan Satura di kulitnya. Tangan besar pria itu menjelajah, hangat dan pasti. Satura tahu persis cara memuaskannya. Tubuh ini miliknya, dan dia mengenalnya luar dalam.
Satura mencium bibirnya lagi, lambat dan dalam hingga mereka kehabisan napas. Segalanya terasa begitu liar, napas mereka bercampur menjadi satu saat mereka larut dalam sensasi cinta yang luar biasa itu.
"Aku sayang kamu," desis Satura di sela napasnya, pinggulnya bergerak makin cepat dan dalam.
Ibu jari pria itu terus membelai titik sensitifnya, membuat tubuh Vandini menegang, menuju puncak kenikmatan.
"Kamu sempurna, Van. Sempurna banget." Satura seolah kehilangan kata-kata, terbawa oleh sensasi yang meluap-luap.
Kenikmatan itu menyapu seluruh kesadarannya. Vandini mencengkeram tubuh Satura, menariknya semakin dekat. Ia menikmati hangatnya tubuh pria itu dan gerakannya yang tak henti, hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak bersamaan.
Setelahnya, mereka terbaring berpelukan di antara selimut yang berantakan. Vandini merasa sangat puas dan dicintai. Ia menyandarkan kepala di dada bidang suaminya, mendengar detak jantungnya yang teratur.
Tangan Satura membelai rambutnya, sementara lengan lainnya mengunci tubuhnya erat. Semua terasa begitu nyaman dan nyata, persis seperti saat mereka pertama kali bersama.
...***...
Keesokan harinya ...
Suasana dapur pagi itu sangat heboh. Connan panik karena tasnya hilang, sementara Cia tertawa lepas setelah menumpahkan sereal. Vandini justru tersenyum lebar. Perasaannya sangat ringan dan bahagia.
Ia bersenandung pelan sambil menuang kopi. Ia menoleh ke belakang, berharap Satura ikut tersenyum menikmati suasana ini. Namun, suaminya hanya diam menatap layar ponsel dengan kening berkerut.
Vandini meletakkan piring dan menyunggingkan senyum menggoda. "Mau sarapan nggak? Kayaknya hari ini selera makan kamu harusnya lagi bagus, kan?"
Satura hanya mendongak sekilas, memberikan senyum tipis yang terlihat kaku, lalu kembali menatap ponselnya. "Hm? Ah ... iya, maaf. Cuma ada ... urusan kerjaan."
Tiba-tiba lengan bajunya ditarik Connan. Bocah itu mengangkat tasnya dengan bangga, meski talinya terlihat melintir.
"Ketemu, Ma! Bisa dibenerin nggak?"
"Bisa dong, sayang!"
Vandini berjongkok memperbaiki tali tas itu. Matanya tak sengaja melirik Satura yang masih sibuk mengetik layar ponsel dengan begitu cepat. Perasaan senangnya perlahan mulai meredup.
"Satura, bisa tolong bantuin Connan siapin bekalnya?"
Satura akhirnya mengangkat wajah. Ia tersenyum aneh, lalu berjalan mengambil sandwich yang dibuat Vandini semalam.
Vandini mendekat dan merendahkan suaranya agar anak-anak tidak mendengar. "Kamu baik-baik aja kan?"
Satura mengangguk terlalu cepat hingga terlihat mencurigakan. "Iya, iya. Cuma kerjaan aku nih numpuk banyak banget." Ia menatap Vandini sebentar, lalu lagi-lagi membuang muka.
Ada perubahan aneh yang membuat dada Vandini terasa sesak. Ia tidak tahu apa penyebabnya, apakah hanya stres atau ada hal lain. Padahal tadi malam segalanya terasa begitu sempurna.
Teriakan girang Cia memecah keheningan. Vandini segera berbalik dan tertawa, memberi waktu bagi suaminya untuk menenangkan diri. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanya karena kelelahan bekerja.