NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Iba yang penuh resiko.

Zinnia tahu persis apa yang dia lakukan ini salah, tahu ini berisiko tinggi, tahu kalau sampai ketahuan Rion semuanya akan hancur berkeping-keping. Tapi dia sudah tak perduli lagi. Sejak dia tahu penderitaan Darren, sejak dia sadar hanya dirinyalah yang bisa menolong, rasanya dia sudah terlanjur masuk jauh ke dalam kehidupan dan hati lelaki ini, tak bisa mundur, tak bisa lari, tak bisa pura-pura tak tahu apa-apa lagi.

Beberapa menit berlalu, napas Darren sudah kembali stabil, warna wajahnya sudah kembali segar, rasa nyeri dan sakit di kepalanya sudah hilang total digantikan rasa nyaman yang membuat matanya makin berat. Tanpa sadar dia membenamkan wajahnya makin dalam di ceruk leher Zinnia, tubuhnya lemas sepenuhnya sampai seluruh bebannya menumpuk di tubuh gadis itu, dan tak lama kemudian dia benar-benar tertidur di dalam pelukan itu.

Zinnia mendesah pelan, badannya mulai terasa berat dan pegal menopang tubuh lelaki yang tinggi dan berotot itu. Dia menggerakkan bahunya sedikit lalu memanggil pelan.

" Darren.. Darren bangun.. kamu baik-baik saja kan? "

Darren bergerak sedikit, matanya terbuka sedikit, pandangannya masih sayu dan kabur.

" Ya.. aku baik.. sedikit mengantuk. " jawabnya dengan suara parau khas orang baru bangun.

" Yasudah ayo tidur, aku temani disini sampai kamu benar-benar tidur nyenyak. " ucap Zinnia lembut, berusaha mendorong tubuh Darren agar berbaring di kasur.

Darren mengikuti gerakannya, lalu duduk di pinggir kasur, tapi tiba-tiba sikapnya berubah 180 derajat. Tatapan matanya yang tadinya lelah kini berubah nakal dan usil, senyum licik terukir jelas di bibirnya.

" Jangan cuman nemenin doang dong sayang, mending kamu tidur bareng aku aja. Mau gak? " Godanya, alisnya diangkat-angkat menggoda.

" Jangan ngaco kamu !! udah tidur cepat, jangan berulah lagi. " bentak Zinnia langsung, wajahnya memerah kesal.

" Gak mau !! Aku mau di manja dulu sama kamu baru mau tidur. " bantah Darren keras kepala, bibirnya manyun manja persis seperti kelakuan Zinnia sendiri.

" Apasih.. kamu tadi sakit parah banget, sekarang udah baikan malah berulah begini, ngeselin jadinya. " gerutu Zinnia sambil memutar bola matanya malas.

Darren tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir menyentuh telinga gadis itu, nadanya berat dan menggoda.

" Salah sendiri datang ke kandang singa.. kamu masuk ke sini dengan sukarela tau gak? Mau aku lahap kamu sekalian sekarang? Soalnya aku lagi lapar banget nih... "

Mendengar itu sabar Zinnia habis total. Dia meraih bantal di sampingnya lalu melempar tepat ke dada Darren dengan kekuatan sedang.

" Kalau lapar ya makan makanan aja jangan ngomong aneh-aneh!! "

Darren tak marah sedikitpun, malah menangkap bantal itu dengan satu tangan saja dengan santai. Dan saat Zinnia lengah, tangannya yang lain bergerak cepat, melingkar di pinggang gadis itu lalu menariknya dengan kuat dan cepat.

WUSH!

Zinnia kaget berat, tubuhnya oleng tak seimbang, dan sebelum dia sempat berteriak atau memegang sesuatu, dia sudah jatuh terduduk pas... tepat di pangkuan Darren. Kedua kakinya terjepit di samping pinggang lelaki itu, dan tangan Darren langsung melingkar erat di punggung dan pinggangnya, membelenggunya rapat tak memberi ruang sedikitpun untuk kabur.

" Kamu kalah ngambek itu malah makin cantik tau gak?.. " bisik Darren di telinga Zinnia, senyum kemenangan terlihat jelas di wajahnya.

Zinnia terdiam, matanya melotot lebar, napasnya terhenti seketika. Posisi mereka terlalu dekat, terlalu akrab, terlalu intim. Dia bisa merasakan detak jantung Darren berpacu cepat, bisa merasakan panas tubuhnya menembus lapisan baju, bisa merasakan otot-otot tubuhnya yang keras dan kuat di bawah badannya sendiri.

" LEPASIN !! " pekik Zinnia sambil mendorong dada Darren, tubuhnya berusaha bergerak dan meronta lepas, tapi semakin dia bergerak, semakin erat pelukan itu, dan anehnya setiap gerakannya malah membuat posisi mereka makin dekat dan panas.

" Gak mau !! " jawab Darren singkat dan tegas, tangannya mulai mengusap punggung dan pinggang gadis itu perlahan, gerakannya lembut tapi penuh rasa memiliki.

" Tadi kamu baik banget, perhatian sama aku, sekarang kok galak gini sih? Sayang banget tau gak, padahal aku baru baikan, kamu mau buat aku sakit lagi ya? "

Nadanya dibuat-buat sedih dan tersakiti, membuat Zinnia makin kesal tapi tak tahu harus berbuat apa, terjebak di dalam pelukan lelaki yang sama sekali tak mau melepaskannya.

Setelah berusaha meronta berkali-kali tapi tak membuahkan hasil apapun, akhirnya Zinnia pasrah. Dia berhenti bergerak, duduk diam terpaku di pangkuan Darren, mulutnya manyun kesal tapi tak ada lagi tenaga untuk melawan. Dan baru saat dia diam dan memperhatikan baik-baik, dia sadar sesuatu.

Kelopak mata Darren makin berat, matanya sering terpejam sebentar lalu dipaksa dibuka lagi, suaranya tadi makin lama makin parau dan lemah, bahkan usapan tangannya di tubuhnya pun makin lambat dan kurang tenaga. Ternyata semua tingkah usil, godaan dan ancamannya tadi hanyalah topeng semata. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk habis-habisan, rasa sakit yang dia derita tadi menghabiskan banyak sekali tenaga dan energi tubuhnya, sampai sekarang dia sudah tak mampu bertahan lagi.

Darren menghela napas panjang, lalu dengan gerakan lambat tapi pasti dia memiringkan tubuhnya, lalu Bruk! mereka berdua terhempas jatuh ke atas kasur empuk. Posisi mereka masih sama, Zinnia berada di atas tubuh Darren, dan tangan lelaki itu masih melingkar erat di pinggang dan punggungnya, tak pernah melepaskan sedikitpun.

" Tetap disini Zinnia... " gumam Darren dengan suara setengah sadar setengah tidur, hidungnya terus mengusap-usap leher dan pipi Zinnia, mencari aroma yang membuatnya tenang itu.

Dan tak sampai semenit kemudian, napasnya mulai teratur, tubuhnya rileks sepenuhnya, otot-ototnya yang tadinya tegang kini melunak semua. Dia benar-benar tidur pulas, tapi bahkan saat sudah tidur pun pelukannya masih erat, seolah kalau dia lepas sedikit saja gadis di dekapannya itu akan hilang lenyap begitu saja.

Zinnia menahan napas, bergerak sangat pelan dan hati-hati, mencoba melepaskan diri satu per satu. Perlahan dia mengangkat tangan Darren dari pinggangnya, menggeser kakinya keluar dari jepitan kaki lelaki itu, sampai akhirnya dia berhasil bangkit berdiri tanpa membangunkan tidurnya.

Dia berdiri di samping kasur, menatap wajah Darren yang sedang tidur nyenyak. Wajahnya tenang, damai, tak ada lagi ekspresi kesakitan, tak ada lagi tatapan usil atau tajam yang biasa dia tunjukkan. Dan kalau diperhatikan lebih teliti... ternyata lelaki ini memang tampan luar biasa. Garis rahangnya tegas, alisnya rapi, hidungnya mancung, bibirnya berbentuk indah, kulitnya bersih, ditambah rambutnya yang sedikit berantakan malah menambah kesan maskulin dan menawan. Kalau dia diam dan bersikap sopan dari awal pertemuan mereka, mungkin saja Zinnia akan luluh padanya.

Sayangnya... begitu dia buka mulut atau mulai bertingkah, semua kesan tampan itu langsung hilang seketika, diganti sifat usil, keras kepala dan suka bikin orang jengkel.

Zinnia tersenyum kecil melihatnya, lalu dia mengambil selimut yang terlipat di ujung kasur, membentangkannya dan menyelimuti tubuh Darren sampai ke dada, memastikan dia tak kedinginan. Setelah itu tangannya terangkat perlahan, ujung jarinya menyentuh dahi lelaki itu, mengusap-usapnya dengan gerakan lembut tanpa sadar.

" Tidurlah... semoga kamu gak sakit lagi besok... " batinnya dalam hati.

Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Zinnia memutar badan, lalu melangkah keluar dari kabin itu, menutup pintunya perlahan sampai tak ada suara sedikitpun.

Udara malam makin dingin menusuk kulit, membuat Zinnia memeluk tubuhnya sendiri erat-erat sambil berjalan pelan menyusuri jalanan kayu yang remang-remang cuma diterangi lampu taman. Rasanya badannya juga mulai lelah, matanya makin berat, rasa kantuk yang tadi sempat hilang kini datang menyerang kembali habis-habisan.

Dia melangkah terus sampai sampai di depan kabinnya sendiri, mendorong pintu dan masuk ke dalam, berharap malam ini dia bisa tidur nyenyak tanpa ada lagi pikiran-pikiran yang bikin bingung dan pusing.

Tapi dia tak sadar... bahwa di balik semua tindakan dan perhatiannya malam ini, dia sudah makin masuk dalam perangkap yang perlahan tapi pasti menjerat hatinya, dan makin lama makin sulit untuk keluar.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!