NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tania kini berada di luar negeri. Malam itu saat ia kepergok oleh Satria menjadi awal pelariannya. Menjelang dini hari, ia memilih terbang ke Paris untuk bersembunyi entah sampai kapan. Ketakutan terus menghantuinya; ia khawatir Romeo akan menemukan jejaknya dan menuntut balas atas semua yang telah ia lakukan.

         “Kamu mau menetap lama di sini, hm?” ucap pria itu pelan,

         Tania bukan tipe perempuan yang setia pada satu hati. Ke mana pun langkahnya pergi, selalu ada kekasih baru yang menyambut, seolah dunia adalah panggung kecil baginya.

          “Aku belum tahu harus sampai kapan,jangan bilang kau mulai jenuh denganku?” lirih Tania sambil menatap Akram. 

        “Aku tidak bosan,aku hanya ingin kamu berhenti berlari.Tinggalkan modeling itu, dan jadilah istriku. Semua yang kau butuhkan akan kuurus.” Kedekatannya membuat Tania merasakan getar yang sulit disembunyikan.

         Pria bernama Akram itu lahir dari garis darah bangsawan Inggris. Di usia tiga puluh lima tahun, ia memilih tinggal seorang diri di Paris, menekuni bisnis yang telah lama mengikat hidupnya di kota tersebut.

          “Aku belum bisa memberi jawaban,modeling adalah hidup yang kuimpikan sejak lama. Aku baru enam tahun menapaki dunia itu terlalu dini untuk melepaskannya. Aku masih ingin melangkah lebih jauh.”  ujar Tania pelan.

         “Aku tidak suka menunggu,pernikahan kita harus segera terjadi. Dua hari lagi kita ke Inggris, ayahku ingin mengenal calon menantunya.” ucapnya rendah. 

          “Kalau begitu, terserah kau,untuk saat ini, lupakan semuanya.” Tatapan matanya membuat Akram kehilangan kendali, lengannya pun segera melingkar, menahannya erat.

*********

         Pagi hari dipenuhi riuh kecil si kembar yang terus menempel pada Alya, meminta ini dan itu. Kebahagiaan jelas terpancar, sebab kini mereka merasa memiliki ibu yang mereka inginkan.

        “Ibu nggak pergi ke mana-mana hari ini, kan? Antar kami ke sekolah, ya.” pinta Selina penuh harap.

         Sambil merapikan rambut Serena, pikiran Alya berkecamuk. Keinginan untuk menemani si kembar beradu dengan ketakutan akan reaksi Romeo, yang mungkin menilai sikapnya terlalu lancang.

         “Coba tanyakan pada Papa dulu, ya. Siapa tahu Papa yang akan mengantar kalian.” ucap Alya hati-hati.

          “Biar aku yang ngomong sama Papa.” kata Serena penuh percaya diri, langsung beranjak pergi.

          “Papa Serena masuk, ya.” ucapnya ragu. 

         “Masuk saja, sayang.” ucapnya dengan suara tenang.

         Begitu melihat Romeo, Serena berlari dan memeluknya erat. Romeo tersenyum tipis, menyadari ada perubahan di pagi itu kebahagiaan yang lebih jujur di wajah anaknya.

         “Papa hari ini ibu ikut antar kami, boleh?” ucapnya penuh harap.

         “Bukankah biasanya Papa yang mengantar?” katanya datar, seolah memberi alasan tanpa benar-benar menolak.

         “Pah, kami capek diejek,kami ingin bilang ke mereka kalau kami juga punya ibu.” ujar Serena jujur.

          “Ini keinginan kalian sendiri?Atau ibu yang menyuruh?” ucapnya pelan.

         “Ini kemauan kami Pah,Bahkan ibu tadi bilang, kami harus minta izin Papa dulu.” jawabnya jujur.

         “Baik,ibu ikut mengantar kalian hari ini. Bilang padanya supaya siap, ya. Kita tak lama lagi berangkat.” ucap Romeo akhirnya.

         “Siap.” ucap Serena ceria, kemudian langsung meninggalkan Romeo menuju kamarnya.

         “Papa bilang apa?” tanyanya pelan, mencoba menahan degup di dadanya.

         “Papa bilang ibu ikut,Suruh ibu bersiap, sebentar lagi kita berangkat!” katanya antusias.

          Alya menelan kekecewaannya sendiri. Hasilnya jelas bukan yang ia inginkan, sebab berdekatan dengan Romeo selalu membuatnya tidak nyaman. Tapi demi si kembar, ia memilih mengalah.

         Saat mereka bersiap pergi, Romeo sempat menahan langkahnya. Tatapannya jatuh pada Alya, dan rasa kesal segera merambat. Ia tak habis pikir penampilan seperti itu bisa menjadi bumerang bagi nama baiknya sebagai seorang pengusaha ternama.

        “Kenapa?Ada yang salah denganku?” tanyanya, gelisah di bawah tatapan Romeo yang tajam.

         “Seharusnya kau tahu cara berpenampilan,tak ada satu pun yang terlihat layak.” ucap Romeo dingin.

         Alya memperhatikan penampilannya dengan saksama. Busana yang ia kenakan sederhana, rapi, dan tetap menjaga kesopanan.

         “Menurutku ini sudah pantas dan sopan,di bagian mana kau melihatnya tidak bagus?” kata Alya menahan emosi.

         “Cara berpakaianmu menyentuh harga diriku,kau akan bertemu guru dan para wali murid anakku. Dan dengan penampilan seperti itu kau memalukan.” kata Romeo dingin.

         “Lalu aku harus tampil seperti apa?Seperti kekasihmu itu?” tanya Alya datar.

         “Jaga ucapanmu,semakin hari, kau semakin lancang.” bentak Romeo dingin. 

         “Ini maksudmu?” ucapnya datar sambil melirik kartu tersebut.

         “Tak perlu pura-pura bodoh,pakai kartu itu. Perbaiki caramu berpakaian.Aku tidak ingin anakku jadi bahan ejekan hanya karena penampilanmu yang tak pantas.” Ia melangkah pergi, meninggalkan Alya yang terpaku.

          Tatapan Alya tertuju pada sosok Romeo yang menjauh. Ada perih yang mengendap di dadanya. Apa benar bajunya memalukan? Bukankah ia membeli pakaian itu dengan jerih payahnya sendiri. 

         “Aku bisa mengurus diriku sendiri,cukup sudah rasa berutang yang terus menekan.” gumam Alya dalam hati. 

         “Ayo, Bu.” pinta keduanya lembut, menggandeng Alya dari kiri dan kanan.

         “Ayo, kita berangkat.” ujar Alya lembut, menyembunyikan perasaannya di balik senyum tipis.

         Di sepanjang perjalanan, Alya berusaha menjaga suasana tetap ringan bersama si kembar. Canda sederhana membuat mereka tertawa bersama. Sementara itu, Romeo tenggelam dalam diamnya sendiri, matanya lebih sering menatap jalan dan ponsel.

         Begitu mobil melaju ke area sekolah internasional itu, Alya refleks menahan napas. Pandangannya tertuju pada jajaran mobil mewah di sekeliling mereka, masing-masing tampak mahal dan tak terjangkau oleh kebanyakan orang.

         “Hari ini Papa tidak sempat menjemput,pulanglah bersama Pak Bima saja, ya.” ujar Romeo singkat.

         “Kami pulang sama ibu, kan?” tanya Selina sambil menoleh pada Alya, matanya berbinar.

         “Ibu sebenarnya ada keperluan lain,maaf ya, sayang.” katanya lembut namun ragu.

         Keceriaan si kembar sirna seketika, digantikan raut kecewa yang jelas terlihat. Romeo mengernyit tak suka. Ia menikahi Alya agar anak-anaknya merasa utuh dan bahagia bukan untuk melihat mereka kembali terluka.

         “Pastikan kau menjemput mereka,aku tak mau alasan.” Genggamannya menguat, membuat Alya terdiam.

         Rasa perih menjalar dari genggaman Romeo, membuat Alya nyaris tersentak. Ia menggigit bibir, menahan suara agar tak keluar.

        “Ibu janji akan datang menjemput,jangan murung. Senyum dulu, lalu masuk, ya.” katanya menenangkan.

        Senyum lebar segera menghiasi wajah si kembar. Mereka menggenggam tangan Alya, meminta diantar sampai lobi sekolah. Dalam hati, mereka hanya ingin satu hal sederhana, memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ibu mereka cantik dan nyata.

        Alya dan Romeo menjadi pusat perhatian begitu melangkah berdampingan. Tatapan penasaran, kagum, hingga menilai datang dari segala arah wali murid, beberapa guru, dan tentu saja teman-teman si kembar.

        “Sekarang kau puas?Kau membuatku malu dengan sikap dan penam.”

       Tak ada sanggahan keluar dari bibirnya. Ia terlalu sibuk menahan rasa tak nyaman saat menyadari dirinya menjadi pusat perhatian yang tak diinginkan.

       Tanpa ragu, si kembar menghampiri salah satu teman yang selama ini kerap mengejek mereka karena tak memiliki ibu. Dengan wajah penuh kebanggaan, keduanya menarik tangan Alya dan meminta teman itu beserta ibunya untuk berkenalan dengannya.

       “Sekarang lihat,kami punya ibu. Namanya Alya.” kata Selina santai namun menusuk.

        Tatapan Gibran dan sang ibu langsung tertuju pada Alya. Sesaat, ekspresi mereka membeku, tak menyangka kecantikan Alya begitu mencolok.

       “Perempuan itu ibu kalian?” tanya Calista, nada suaranya jelas menyimpan keterkejutan.

       “Benar, itu ibu kami. Kami sudah lengkap sekarang.Kamu masih belum punya papa, ya?” Pandangannya beralih ke Gibran.

       Calista terdiam, rahangnya mengeras menahan rasa kesal. Kata-kata si kembar menusuk tepat di hatinya. Ia pernah membayangkan tempat di sisi Romeo, pria duda yang selama ini ia kagumi. Namun bayangan itu sirna saat kenyataan menamparnya,pria itu kini telah memiliki wanita lain.

         "Sayang, kata-katamu barusan kurang baik. Kita harus tetap sopan pada siapa pun, ya.” Alya mengelus bahu Serena lembut. “

        “Dia dulu sering mengejek kami, Bu. Aku hanya mengulang pertanyaannya saja.” Serena mengerucutkan bibir.

       “Walaupun mereka pernah berbuat begitu, kita tetap harus menjaga sikap. Janji sama ibu, ya.” katanya sembari membelai pipi keduanya.

       “Serena minta maaf, ibu. Tadi Serena salah.” Serena menggigit bibirnya sebentar, lalu melirik Alya.

       Kekesalan Calista kian mengendap usai mendengar ucapan Alya. Secara tak langsung, perempuan itu seolah menuding Gibran sebagai sumber perilaku buruk si kembar sesuatu yang membuat dadanya panas.

        “Begitu rupanya cara seorang ibu sambung mendidik.” ujar Calista pelan, namun cukup jelas sampai ke telinga Alya.

       Rahang Romeo menegang, tanda emosinya tertahan. Ia tahu betul Alya tak berkata sembarangan. Putri-putrinya sendiri sering mengeluh soal ejekan di sekolah, dan nama Gibran kerap terlintas di benaknya.

       “Istriku hanya mengajarkan hal baik,Tak ada yang salah kan.” Romeo melangkah setengah maju. 

        Hati Alya bergetar kecil. Pembelaan Romeo barusan begitu di luar dugaannya, terlebih saat pria itu terang-terangan mengakui dirinya sebagai istri.

        “Ayo, sayang. Kita pergi.” ujar Romeo pelan sambil merangkul pinggang Alya erat. 

        “Sekarang masuk kelas, ya. Ibu pasti datang menjemput kalian nanti.” Romeo merendahkan tubuhnya sedikit.

        “Dadah, ibu… dadah, papa!” seru si kembar riang sebelum berlari masuk ke dalam gedung sekolah.

       “Bolehkah Anda melepaskannya sekarang?” ucap Alya lembut namun canggung.

       “Berhenti bicara,aku melakukan ini sekadar untuk peran, tidak lebih.” katanya tajam.

       Tanpa saling menatap, mereka duduk di dalam mobil. Suasana yang tadi sempat hangat seketika berubah kaku.

       “Setelah ini, kau akan ke mana?” tanya Romeo tanpa menoleh.

       “Aku harus ke kampus,cukup turunkan aku di halte, selebihnya aku bisa sendiri.” ucap Alya singkat.

       “Aku tidak mau jadi bahan omongan. Aku antar kau ke kampus, lalu Bima akan menjemputmu sore nanti.” Romeo melirik sekilas. 

      “Bima, antar dia ke kampus dulu.” titah Romeo tanpa menoleh.

       “Siap, Tuan.” Bima mengangguk.

       Begitu tiba di kampus, Alya kembali menjadi pusat perhatian. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan fakultasnya sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, mengingat selama ini ia dikenal datang dengan sepeda motornya.

       Desas-desus cepat menyebar. Nama Alya disebut-sebut sebagai simpanan lelaki berduit, dengan tuduhan-tuduhan keji yang membuat dadanya sesak.

       “Pantas saja datang naik mobil mahal. Simpanan, ya?” Perempuan itu menyeringai.

      “Paling juga laki-laki tua,perut besar, dompet tebal.” katanya nyinyir.

      “Bajunya makin berkelas, ya. Jelas bukan dari hasil jerih payah sendiri.” Temannya tertawa kecil.

       Alya mengepalkan jemari, dadanya sesak menahan panas di telinga akibat bisik-bisik kejam itu. Di sisi lain, Romeo masih berada di dalam mobil, matanya memperhatikan setiap gerak Alya.

      Berusaha bersikap acuh, Alya melangkah pergi dengan tenang. Namun baru dua langkah ia berjalan, salah satu perempuan itu sengaja menjulurkan kaki, membuat Alya hampir terjatuh jika saja ia tidak tertangkap oleh lengan seorang pria tampan.

      “Eh… lo baik-baik aja?” katanya gugup sambil menahan bahu Alya.

      “Aku baik-baik saja. Terima kasih.” ucapnya singkat, jelas ingin menjaga jarak.

       "Bro. Idola lo itu sekarang milik pria tua berduit.” ejek perempuan itu nyaring.

       “Kalau nggak punya bukti, mending diem. Jangan asal nuduh orang!” Zaki menatap tajam.

       “Kalau lo nggak percaya, tanya aja langsung ke dia,itu mobil yang nganterin dia masih parkir di sana.” katanya nyinyir sambil menunjuk. 

       Pandangan Zaki tertuju pada mobil putih yang tak beranjak dari tempatnya. Di balik kaca gelap mobil itu, seorang pria mengumpat pelan, emosinya nyaris meledak.

       “Perempuan itu benar-benar membuatku naik darah.” ucap Romeo dingin, sorot matanya tajam.

       “Ck, kelihatannya dia sangat nyaman dipeluk lelaki lain. Benar-benar rendahan,” ucapnya meremehkan.

       Mendengar ucapan itu, Bima hanya bisa menggeleng pelan. Terlalu kasar tuan besarnya memperlakukan istri sendiri, batinnya getir.

       Pintu mobil terbuka, Romeo melangkah turun dengan ekspresi dingin yang mengintimidasi. Sorot matanya menusuk lurus ke arah wanita penyebab kekacauan tadi. Di sisi lain, Alya menelan ludah, ketakutan membanjiri dirinya. Ia takut, setelah ini, dirinya lagi-lagi akan menjadi sasaran pelampiasan Romeo.

       Semua pandangan langsung tertuju pada Romeo. Zaki dan para wanita itu tak mampu menyembunyikan keterkejutan mereka melihat ketampanannya. Rahang kokoh, jambang tipis yang rapi, hidung mancung, alis tebal, serta tatapan mata dingin yang menusuk siapa pun yang berani menatap balik.

      "Ya Tuhan… tolong aku. Jangan biarkan semuanya menjadi lebih buruk."

       “Sayang… kau baik-baik saja?” Suara Romeo terdengar begitu lembut, terlalu lembut untuk hati Alya yang rapuh. Pandangannya mengabur, lalu gelap.

        “Sayang, jangan begini. Lihat aku sebentar saja, Alya.”

      

         

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!