NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar rumah sakit, seolah ikut merayakan kepulangan Rani.

Setelah pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya memberikan lampu hijau.

Wajah Rani yang tadinya pucat kini mulai merona, meskipun tubuhnya masih terasa sedikit ringkih.

Yudiz dengan sigap membantu istrinya masuk ke dalam mobil.

Ia tidak membawa Rani kembali ke pondok maupun ke rumah mereka; tujuannya hanya satu, yaitu Bandara Internasional Juanda.

Yudiz ingin menjauhkan Rani sejauh mungkin dari segala hiruk-pikuk dan tekanan yang hampir merenggut nyawa istrinya.

Di dalam mobil yang melaju tenang menuju bandara, Rani menatap ke luar jendela.

Ia melihat deretan pohon dan bangunan yang berlalu cepat, lalu beralih menatap suaminya yang fokus mengemudi dengan satu tangan tetap menggenggam jemarinya.

"Abi, ini seperti mimpi," ucap Rani lirih. Suaranya masih agak parau, tapi penuh dengan rasa syukur.

"Kemarin aku merasa napas aku sudah hampir habis, tapi sekarang kita mau ke Bali?"

Yudiz melirik istrinya sekilas, lalu mengecup punggung tangan Rani tanpa melepaskan genggamannya.

"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini nyata. Kita akan meninggalkan semua beban di sini. Di Bali nanti, cuma ada aku dan kamu. Nggak ada yang akan mengganggu kita."

Rani tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Yudiz.

"Terima kasih ya, Bi. Terima kasih sudah memilih aku, meskipun sulit buat Abi menghadapi Umi."

Yudiz hanya terdiam, namun hatinya sedikit bergetar.

Ia teringat pesan tentang hilangnya Laila yang ia baca semalam.

Ia sudah mengerahkan beberapa orang kepercayaannya untuk memantau pondok, namun ia tidak tahu bahwa ancaman sebenarnya justru datang dari restu palsu ibunya.

Sesampainya di bandara, Yudiz segera mengurus bagasi dan membawa Rani menuju ruang tunggu keberangkatan.

Tanpa mereka sadari, di sudut lain terminal keberangkatan, seseorang dengan topi lebar dan kacamata hitam sedang memperhatikan mereka dari balik pilar.

Orang itu menggenggam sebuah tiket pesawat dengan tujuan yang sama: Denpasar, Bali.

Seseorang itu menarik napas panjang, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.

"Selamat menikmati perjalananmu, Rani. Karena ini mungkin akan menjadi perjalanan terakhirmu bersama Yudiz."

Yudiz sangat protektif selama di dalam pesawat. Ia tahu kondisi fisik Rani belum pulih total, sehingga ia memesan kursi di kelas bisnis agar istrinya bisa merebahkan tubuh dengan nyaman selama penerbangan.

Setelah membantu Rani memasang sabuk pengaman dan menyelimuti tubuh istrinya dengan kain hangat, Yudiz menekan tombol panggil di atas tempat duduknya.

Tak lama kemudian, seorang pramugari datang dengan senyum ramah.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pramugari tersebut dengan suara rendah agar tidak mengganggu penumpang lain.

"Mbak, tolong bawakan air hangat dan satu bantal tambahan untuk istri saya," pinta Yudiz.

"Oh, dan tolong pastikan privasi kami terjaga. Jika ada siapa pun yang mengaku kerabat atau ingin menemui kami dari kelas ekonomi, mohon untuk tidak diizinkan tanpa persetujuan saya terlebih dahulu."

Yudiz merasa perlu melakukan ini. Firasatnya sejak masuk ke terminal tadi tidak enak.

Ia merasa ada sepasang mata yang terus mengintai, meski ia belum bisa memastikan siapa.

"Baik, Pak. Kami akan pastikan kenyamanan dan privasi Anda berdua tetap terjaga selama penerbangan," jawab pramugari itu dengan sopan sebelum berlalu.

Sementara itu, jauh di bagian belakang pesawat, tepatnya di kelas ekonomi, Laila duduk terhimpit di kursi tengah.

Ia menatap tirai pembatas yang memisahkan kelas ekonomi dan kelas bisnis dengan tatapan benci.

Tangannya meremas pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memutih.

"Nikmatilah kemewahan itu selagi bisa, Rani," bisik Laila sangat lirih, hampir tak terdengar di antara deru mesin pesawat yang mulai take off.

"Kamu pikir sejauh apa pun kamu pergi, kamu bisa lepas dari aku? Nyai Salmah ada di pihakku, dan itu adalah senjataku yang paling kuat."

Laila meraba tas kecilnya. Di sana terdapat sebuah amplop cokelat yang diberikan oleh Nyai Salmah sesaat sebelum ia berangkat ke bandara. Isinya adalah alamat villa tempat Yudiz dan Rani akan menginap selama di Bali.

Di kelas bisnis, Rani mulai memejamkan matanya, merasa aman karena ada Yudiz di sampingnya. Namun, ia tidak tahu bahwa "racun" yang sesungguhnya kini sedang terbang bersamanya di ketinggian 35.000 kaki.

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Ngurah Rai. Aroma khas laut dan dupa langsung menyambut mereka begitu keluar dari pintu kedatangan. Yudiz tidak membiarkan sedikit pun celah.

Ia menggandeng erat tangan Rani, sementara tangan satunya sigap menjaga tas mereka.

Di area penjemputan, seorang pria dengan pakaian adat madya—kain kamen dan udeng di kepala—tersenyum lebar sambil mengangkat papan nama bertuliskan "Keluarga Yudiz".

"Selamat datang di Bali, Pak Yudiz, Ibu Rani. Perkenalkan, nama saya Made. Saya yang akan mengantar Bapak dan Ibu selama berlibur di sini," sapa pria itu dengan logat Bali yang kental dan ramah.

"Terima kasih, Bli Made. Mohon bantuannya ya," jawab Yudiz sambil membalas senyuman itu.

Made segera mengambil alih koper mereka dan menuntun menuju sebuah mobil MPV mewah yang sudah terparkir di lobi.

"Silakan masuk, Ibu. Mobilnya sudah saya dinginkan biar nyaman setelah perjalanan jauh."

Rani masuk ke dalam mobil dengan perasaan takjub.

"Bi, udaranya beda ya. Rasanya lebih tenang," bisik Rani sambil menatap patung-patung besar di sepanjang jalan keluar bandara.

"Iya, Sayang. Semoga semua penatmu hilang di sini," sahut Yudiz.

Namun, saat mobil mulai melaju keluar dari area bandara, sebuah taksi bandara mengikuti mereka dari jarak yang cukup aman.

Di dalam taksi itu, Laila menatap tajam ke arah mobil yang dikendarai Made.

"Bli, tolong ikuti mobil hitam di depan itu ya. Jangan sampai kehilangan jejak," ucap Laila kepada sopir taksinya sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

Mobil berhenti di depan sebuah villa mewah dengan konsep infinity pool yang menghadap langsung ke arah tebing Uluwatu.

Suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara deburan ombak dari kejauhan.

"Sayang, kamu masuk duluan saja ya. Bli Made sudah bawakan koper ke kamar. Aku mau ke resepsionis sebentar untuk urusan administrasi dan titip deposit," ujar Yudiz sambil mengusap lembut kepala Rani.

"Jangan lama-lama ya, Bi. Aku takut kalau sendirian di kamar sebesar itu."

Yudiz tersenyum meyakinkan, lalu melangkah menuju area lobi terbuka yang dikelilingi kolam teratai.

Di meja resepsionis, seorang staf wanita muda dengan pakaian adat Bali yang ketat dan riasan wajah yang cukup tebal menyambutnya dengan senyum yang sangat lebar.

"Selamat siang, Pak Yudiz. Selamat datang di surga kami," sapa staf itu dengan nada manja yang dibuat-buat.

Saat Yudiz sedang menandatangani berkas, staf tersebut terus memberikan perhatian lebih, bahkan sesekali jemarinya sengaja menyentuh tangan Yudiz saat memberikan pulpen.

Puncaknya, saat Yudiz hendak berbalik arah setelah menerima kunci, staf itu berpura-pura tersandung kaki meja tepat di depan Yudiz.

"Aduh!" pekik staf itu.

Secara refleks, Yudiz menangkap bahu wanita itu agar tidak jatuh. Namun, wanita itu justru memanfaatkan keadaan dengan memeluk dada Yudiz cukup erat untuk menjaga keseimbangan.

Tanpa sengaja, wajahnya yang penuh riasan menempel di kerah kemeja putih Yudiz.

"Eh, maaf Pak! Maaf sekali, saya kurang hati-hati," ucap staf itu sambil melepaskan pelukannya dengan wajah merona, namun matanya tetap menggoda.

Yudiz hanya berdeham dingin, merasa risih.

"Tidak apa-apa. Saya permisi."

Yudiz berjalan cepat menuju kamar tanpa menyadari bahwa di kerah kemeja putihnya kini membekas noda lipstik merah muda yang sangat jelas.

Sialnya, di balik tanaman hias besar di area lobi, Laila yang baru saja sampai dan bersembunyi di sana, menyaksikan kejadian itu.

Sebuah ide licik muncul di kepalanya. Ia segera merogoh ponselnya dan memotret punggung Yudiz yang sedang berjalan menuju kamar dengan noda lipstik di bajunya.

"Ini baru permulaan, Rani. Mari kita lihat, apakah 'kepercayaan' yang kamu banggakan itu akan bertahan lama setelah kamu melihat ini," bisik Laila dengan tawa tertahan.

1
kalea rizuky
lampir g taubat jg
my name is pho: sabar kak🤭🥰🙏
total 1 replies
kalea rizuky
MC nya tolol males deh Thor
kalea rizuky
klo q jd ortu nya Rani uda q masukin. penjara si. layla ini kriminal.
kalea rizuky
males deh
kalea rizuky
kapok salah sendiri g tegas sama pelakor sama emak mu jg yudis
lin sya
gpp thor klo nyai salmah dan laila bikin badai buat rmh tangga yudiz dan rani biar rani jd istri tangguh, klo suatu saat kbngkar, berharap sih kyai Abdullah dan yudiz, jg laila ksih pelajaran yg woww gtu biar diinget seumur hdup🤭, org tua rani jg gk akan tinggal diem💪
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!