Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Dibuang Seperti Anjing
Ketua Sekte berdiri dari kursinya.
Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, namun seluruh Aula Agung langsung terasa menegang. Para tetua ikut berdiri serempak, seakan tubuh mereka digerakkan oleh satu kehendak yang sama. Tidak ada yang berani tetap duduk.
Xu Tian berdiri di tengah aula.
Darah kering masih menempel di sudut bibirnya. Pakaian muridnya kusut, robek di beberapa bagian, warnanya kusam oleh debu dan bekas injakan. Ia menatap lurus ke depan, bukan ke arah para tetua, melainkan ke ruang kosong di antara mereka.
Ketua Sekte membuka mulut.
“Berdasarkan keputusan bersama Dewan Tetua Sekte Awan Giok,” ucapnya, suaranya datar dan jernih, “serta kewenanganku sebagai Ketua Sekte…”
Setiap kata jatuh seperti palu.
“…Xu Tian dinyatakan telah melanggar batas sebagai murid.”
Tidak ada gumaman keberatan. Tidak ada perubahan raut wajah di kursi-kursi tetua.
“Perilakunya telah mencederai kehormatan sekte,” lanjut Ketua Sekte, “mengganggu ketertiban internal, dan menunjukkan ketidakmampuan untuk memahami hierarki.”
Xu Tian tidak bergerak.
Ia sudah berhenti berharap sejak sidang dimulai.
“Oleh karena itu,” kata Ketua Sekte, “mulai saat ini, Xu Tian secara resmi diusir dari Sekte Awan Giok.”
Satu kalimat.
Itu saja.
Namun dampaknya menyapu seluruh aula.
Beberapa murid menarik napas pelan. Ada yang menunduk, ada yang menoleh ke arah Xu Tian dengan tatapan penuh minat dingin, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang langka dan menghibur.
“Seluruh haknya sebagai murid dicabut,” lanjut Ketua Sekte tanpa jeda. “Nama Xu Tian akan dihapus dari catatan sekte. Segala sumber daya, perlindungan, dan pengakuan yang pernah ia terima dinyatakan batal.”
Tidak ada masa tenggang.
Tidak ada syarat tambahan.
“Hukuman ini bersifat final.”
Xu Tian mendengar kata itu dengan jelas.
Final.
Seorang tetua melangkah maju, membawa sebuah baki batu giok. Di atasnya terletak token identitas murid—lempengan kecil dengan ukiran awan yang dulu ia terima dengan tangan gemetar dan mata penuh harap.
Token itu kini tampak asing.
Tetua itu berhenti di depan Xu Tian. Tatapannya singgah sebentar di wajah Xu Tian, lalu berpindah ke token itu, seolah pria di depannya tidak lebih penting dari benda mati.
“Serahkan,” katanya singkat.
Xu Tian mengeluarkan token dari balik pakaiannya.
Tangannya sedikit bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena tubuhnya sudah terlalu lelah. Ia meletakkan token itu di atas baki tanpa suara.
Tetua itu mengangguk kecil.
Seorang murid penjaga maju dan menarik jubah luar Xu Tian. Gerakannya kasar namun terkontrol, seperti sedang melepaskan pakaian kerja yang sudah tidak layak pakai. Kain itu terlepas dari bahu Xu Tian dan jatuh ke lantai batu.
Beberapa murid tertawa pelan.
Xu Tian berdiri hanya dengan pakaian dalamannya yang sederhana, tanpa lambang, tanpa warna sekte.
Telanjang secara simbolis.
Ketua Sekte kembali berbicara. “Mulai saat ini, Xu Tian tidak memiliki hubungan apa pun dengan Sekte Awan Giok.”
Setiap kata memutus satu ikatan.
“Segala tindakan yang ia lakukan di luar sekte tidak lagi berada di bawah tanggung jawab kami.”
Xu Tian merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
Bukan rasa sakit.
Melainkan kehampaan yang tiba-tiba membesar.
“Sidang selesai,” kata Ketua Sekte.
Para tetua membungkuk sedikit. Formal. Bersih. Sempurna.
Xu Tian tetap berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama, sampai seorang penjaga menyentuh lengannya dari samping.
“Bergerak,” bisik penjaga itu tanpa emosi.
Xu Tian melangkah.
Langkah pertamanya terasa paling berat. Bukan karena luka di kakinya, melainkan karena ia menyadari bahwa ia sedang berjalan keluar dari satu-satunya dunia yang pernah ia kenal.
Barisan murid terbuka.
Mereka berdiri di kedua sisi, membentuk lorong panjang dari Aula Agung menuju halaman depan. Tatapan mereka mengikuti setiap langkah Xu Tian, dari wajah hingga kaki, menilai, mengukur, merendahkan.
“Akhirnya diusir juga,” terdengar bisikan.
“Harusnya dari awal tahu diri” bisik yang lain.
Xu Tian tidak menoleh.
Ia berjalan dengan kepala tegak, meski punggungnya terasa seperti sedang ditekan dari segala arah.
Di antara kerumunan, Zhao Heng berdiri dengan tenang. Pakaiannya rapi, wajahnya bersih tanpa luka sedikit pun. Ia tidak tersenyum lebar. Hanya lengkungan tipis di sudut bibirnya, cukup untuk menunjukkan bahwa segalanya berjalan sesuai harapan.
Tatapan mereka sempat bertemu.
Zhao Heng mengangguk kecil, seolah memberi salam sopan kepada orang asing.
Xu Tian melewatinya tanpa ekspresi.
Halaman sekte terbuka luas di depan. Cahaya matahari siang jatuh tanpa ampun, membuat luka-luka di tubuh Xu Tian terasa perih. Tidak ada bayangan untuk bersembunyi. Tidak ada sudut gelap untuk menghilang.
Gerbang besar Sekte Awan Giok berdiri megah di kejauhan.
Dua pilar batu menjulang, ukiran awan dan naga tampak hidup di bawah cahaya. Gerbang itu selalu ia lewati dengan rasa kagum. Dengan kebanggaan kecil yang dulu ia kira pantas.
Kini, gerbang itu tampak seperti batas dunia.
Xu Tian berhenti beberapa langkah sebelum mencapainya.
Untuk sesaat, ia menoleh ke belakang.
Aula Agung berdiri anggun, tak ternodai oleh apa pun yang baru saja terjadi. Para murid masih berkerumun. Para tetua telah kembali ke tempat mereka. Sistem terus berjalan, tanpa hambatan.
Di antara wajah-wajah itu, ia melihat Lin Ruo’er.
Ia berdiri sedikit terpisah dari yang lain.
Tatapan gadis itu jatuh padanya.
Tidak ada air mata.
Tidak ada keraguan.
Hanya dingin. Jijik. Jauh.
Tatapan itu menusuk lebih dalam daripada semua kata Ketua Sekte.
Xu Tian memalingkan wajahnya.
Ia melangkah maju.
Gerbang terbuka, lalu tertutup di belakangnya dengan suara berat.
Xu Tian berdiri sendirian di luar.
Tanpa jubah.
Tanpa nama.
Tanpa tempat.
Gerbang itu tertutup sepenuhnya.
Suara batu bertemu batu bergema singkat, lalu lenyap, seolah dunia di baliknya tidak pernah ada. Tidak ada celah. Tidak ada celah cahaya. Sekte Awan Giok berdiri utuh, bersih, dan tertutup bagi siapa pun yang berada di luar.
Xu Tian berdiri beberapa langkah dari gerbang.
Angin sore menyentuh wajahnya, membawa debu dan bau tanah. Tidak ada aura perlindungan. Tidak ada formasi hangat yang dulu melingkupi wilayah sekte. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di gunung ini bertahun lalu, dunia terasa dingin dan kasar tanpa perantara.
Seorang penjaga keluar dari sisi gerbang.
Ia melempar sesuatu ke tanah di depan Xu Tian.
Bungkusan kain kecil. Lusuh. Tipis.
“Pakaian lama,” katanya singkat. “Itu saja yang masih dianggap milikmu.”
Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya rutinitas.
Penjaga itu berbalik dan kembali masuk. Gerbang tidak dibuka lagi.
Xu Tian menatap bungkusan itu.
Ia berlutut perlahan, lututnya menyentuh tanah keras. Tangannya membuka kain itu. Di dalamnya hanya ada pakaian kasar berwarna abu-abu, jenis yang biasa dipakai para pekerja luar. Tidak ada lambang. Tidak ada tanda kepemilikan.
Ia mengenakannya dengan gerakan lambat.
Setiap sentuhan kain pada kulitnya terasa asing. Dulu, bahkan pakaian murid terendah pun masih membawa simbol sekte. Kini, ia hanyalah seorang pria dengan tubuh penuh luka dan pakaian seadanya.
Xu Tian berdiri.
Ia melangkah menjauh dari gerbang.
Langkah pertama terasa ringan. Bukan karena kekuatan kembali, melainkan karena tidak ada lagi yang menahannya. Langkah kedua lebih berat, karena ia menyadari ke mana pun ia pergi, tidak ada tujuan yang menunggunya.
Jalan setapak menurun dari gunung, memanjang ke hutan dan lembah di bawah. Jalur yang sama pernah ia lewati bersama rombongan murid baru, dengan mata penuh mimpi dan dada penuh harap.
Kini, jalur itu sunyi.
Xu Tian berjalan.
Setiap beberapa langkah, ingatan muncul tanpa diminta.
Suara lonceng pagi yang membangunkan murid. Bau bubur sederhana di dapur luar. Latihan dasar di halaman dengan tangan gemetar. Tatapan para senior yang selalu mengukur, selalu meremehkan.
Ia ingat pertama kali dipanggil “murid Sekte Awan Giok”.
Kata itu dulu terasa berat dan sakral.
Kini, kata itu tidak lagi memiliki tempat untuknya.
Langkahnya melambat.
Di tikungan jalan, ia berhenti dan menoleh ke atas gunung untuk terakhir kalinya. Puncak sekte masih terlihat, menjulang di antara awan, seolah tidak tersentuh oleh nasib siapa pun yang ditelannya.
Xu Tian menatap lama.
Tidak ada kebencian yang meledak.
Tidak ada sumpah yang diucapkan.
Hanya satu kesadaran dingin yang perlahan mengendap.
Sekte itu tidak pernah menjadi rumah.
Ia hanya tempat singgah yang sejak awal menyiapkan pintu keluar.
Xu Tian berbalik.
Ia melanjutkan perjalanan tanpa menoleh lagi.
Di dalam dirinya, sesuatu terputus sepenuhnya.
Nama “murid” menghilang. Ikatan runtuh. Harapan lama mati tanpa suara.
Yang tersisa hanyalah tubuh yang berjalan dan kehendak tipis untuk tetap bernapas.
Saat matahari mulai condong ke barat, Xu Tian mencapai kaki gunung. Bayangan pepohonan memanjang, menyentuh tanah seperti jari-jari gelap yang dingin.
Ia duduk di atas batu besar.
Luka-lukanya mulai terasa nyeri dengan cara yang lebih jujur, tanpa adrenalin, tanpa tekanan aula. Darah kembali merembes dari perban kasar yang dibuat asal-asalan.
Xu Tian memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak sidang, ia membiarkan dirinya berhenti.
Di dalam gelap, wajah-wajah muncul lalu menghilang.
Para tetua dengan mata tenang.
Zhao Heng dengan senyum tipisnya.
Dan Lin Ruo’er.
Tatapan terakhir gadis itu kembali terpatri jelas. Bukan marah. Bukan sedih. Hanya jarak yang tak bisa diseberangi lagi.
Xu Tian membuka mata.
Langit di atasnya luas dan asing. Tidak ada formasi pelindung. Tidak ada batas wilayah sekte.
Hanya dunia yang sebenarnya.
Ia menarik napas dalam.
Udara terasa kasar di paru-parunya, namun nyata.
Xu Tian berdiri sekali lagi.
Ia melangkah ke depan, meninggalkan batu itu, meninggalkan gunung, meninggalkan nama yang pernah ia sandang.
Di belakangnya, Sekte Awan Giok tetap berdiri megah.
Di depannya, jalan tidak menjanjikan apa pun.
Xu Tian berjalan ke arahnya tanpa menoleh, sebagai seseorang yang telah dibuang, dan kini tidak lagi memiliki apa pun untuk dilindungi.