NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Euforia Semu

Senin pagi di Jakarta merekah dengan langit biru cerah yang jarang terlihat, seolah alam semesta turut menggelar karpet merah bagi "raja baru" yang akan turun ke jalanan ibu kota. Bagi Arga, pagi ini bukan sekadar awal minggu kerja biasa; ini adalah debut perdananya sebagai pria yang telah naik kasta secara visual.

Dua hari setelah makan malam di Senopati bersama Nadinta dan Maya—di mana rencana roadtrip bertiga ke Bandung disepakati—unit mobil impian Arga akhirnya tiba di rumah kosnya.

Arga mengemudikan Mitsubishi Pajero Sport Dakar Ultimate berwarna hitam jet black itu membelah kemacetan Jalan Sudirman dengan perasaan yang melambung tinggi.

Posisi duduk yang tinggi di balik kemudi SUV besar itu memberinya perspektif baru terhadap dunia. Dia bisa melihat atap mobil-mobil sedan dan city car di sekitarnya. Dia merasa dominan. Dia merasa besar.

Deru mesin diesel yang bertenaga namun halus menembus kabin yang kedap suara, berpadu dengan dinginnya AC dual zone yang menjaga suhu tetap beku di tengah panasnya Jakarta.

Arga melirik ke spion samping, melihat pengendara motor yang ragu-ragu menyalip karena terintimidasi oleh bodi mobilnya yang lebar. Sebuah senyum miring terukir di bibirnya.

Dia merasa orang-orang itu menyingkir bukan karena takut ditabrak, melainkan karena segan pada aura kesuksesan yang dipancarkan kendaraannya.

Di kursi penumpang, Nadinta duduk dengan tenang. Dia mengenakan blazer kerja berwarna cream yang rapi, tangannya memegang tumblr kopi yang hangat. Matanya menatap lurus ke depan, namun ekor matanya tidak lepas mengamati tingkah laku tunangannya yang sedang mabuk kepayang oleh benda mati.

"Enak banget ya, Mas, suspensinya," puji Nadinta, memulai sandiwaranya pagi ini dengan nada kagum yang terukur. "Empuk sekali. Beda jauh sama mobil lama yang bunyi gluduk-gluduk kalau lewat polisi tidur."

Arga tertawa renyah, tawa yang penuh percaya diri. Dia mengetuk-ngetuk setir berbalut kulit itu mengikuti irama lagu jazz ringan dari speaker premium.

"Jelas dong, Din. Ini kan tipe tertinggi. Dakar Ultimate. Harganya nggak bohong," sahut Arga bangga. "Fitur keselamatannya juga lengkap. Adaptive Cruise Control, Blind Spot Warning... canggih semua. Kamu nggak bakal ngerasain guncangan berarti di sini."

"Iya, Mas. Rasanya kayak naik pesawat kelas bisnis," tambah Nadinta, menyiramkan bensin lagi ke api ego Arga yang sudah berkobar.

"Mas Arga kelihatan pas banget bawa mobil ini. Gagah. Berwibawa. Kayak Direktur."

Pujian itu membuat dada Arga membusung. Dia merasa Nadinta akhirnya melihat potensi sejatinya.

Mobil berbelok memasuki gerbang utama Gedung Lumina Group. Biasanya, Arga akan langsung mengarahkan setir ke kiri, menuju jalur basement P3 yang pengap, sempit, dan gelap—tempat parkir karyawan biasa di mana mobil Honda City tuanya sering terselip di antara pilar beton berdebu.

Tapi hari ini, Arga tidak memutar setir ke kiri.

Dia mengarahkan moncong mobil besar itu lurus ke depan, menuju area drop-off lobi utama dan area parkir ground (lantai dasar).

Area parkir ini biasanya sakral. Hanya diisi oleh jajaran mobil Direksi, Manajer Senior, atau tamu-tamu VIP perusahaan. Slot parkirnya luas, terbuka, dan yang paling penting: terlihat jelas oleh semua orang yang keluar masuk gedung.

"Mas, ini kan area tamu? Nanti ditegur satpam lho," tanya Nadinta dengan nada pura-pura khawatir, memegang lengan Arga pelan.

"Kita kan belum punya stiker parkir khusus direksi."

Arga menepis kekhawatiran itu dengan kibasan tangan santai.

"Nggak apa-apa, Din. Sekali-sekali. Lagipula mobil ini pantas kok parkir di sini," jawab Arga enteng, matanya memindai deretan mobil di sana—ada Camry, Fortuner, dan beberapa sedan Eropa. Mobilnya tidak kalah saing.

"Biar klien lihat kalau staf Lumina itu makmur. Ini branding perusahaan juga."

Arga melihat sebuah slot kosong yang sangat strategis, tepat di depan pintu kaca lobi. Dia memundurkan mobilnya dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan.

Dia sengaja tidak menggunakan fitur parkir otomatis; dia ingin memarkirnya manual agar durasi manuvernya lebih lama, memberikan waktu bagi orang-orang di sekitar untuk menoleh dan memperhatikan.

Sensor parkir berbunyi bip-bip-bip, namun Arga menikmatinya seperti musik.

Begitu mobil terparkir sempurna, Arga tidak langsung mematikan mesin. Dia membiarkannya menyala sebentar, membiarkan lampu Daytime Running Light (DRL) LED-nya yang tajam menyala menantang.

Dia melihat ke arah lobi. Tepat seperti harapannya, rombongan staf divisi pemasaran baru saja tiba dari halte busway. Ada Sinta si resepsionis yang mulutnya terkenal sebagai corong berita kantor, Bambang staf sales yang hobi otomotif, dan beberapa anak magang yang bergerombol.

"Waktunya showtime," batin Arga.

Dia mematikan mesin. Dia merapikan rambutnya di kaca spion, memastikan jambulnya sempurna, lalu mengenakan kacamata hitam—meski matahari pagi belum terlalu menyilaukan.

"Yuk, turun," ajak Arga pada Nadinta.

Mereka membuka pintu bersamaan. Kaki Arga yang berbalut sepatu pantofel mengkilap menapak aspal dengan mantap. Dia keluar dari mobil, berdiri tegak di samping pintu pengemudi, lalu menekan tombol kunci di remote dengan gerakan slow motion yang dramatis.

Bip-bip.

Spion mobil melipat otomatis dengan suara motorik halus yang terdengar mahal di telinga semua orang yang berada dalam radius sepuluh meter.

Mata Sinta dan rombongannya langsung tertuju pada SUV hitam mengkilap itu. Awalnya mereka mengira itu tamu direksi, namun saat melihat siapa yang berdiri di sampingnya, rahang mereka jatuh.

"Wih! Mas Arga?!" teriak Sinta, langkahnya terhenti seketika. Matanya membelalak lebar, memindai mobil itu dari ban alloy 18 inci sampai ke roof rail. "Gila, mobil baru, Mas? Pajero?"

Arga tersenyum lebar, senyum 'orang sukses' yang sudah dia latih di depan cermin. Dia melepas kacamata hitamnya, Menyisipkannya di saku kemeja.

"Iya nih, Sin. Baru landing di rumah kemarin sore," jawab Arga dengan nada yang dibuat merendah, tapi dagunya terangkat tinggi. "Yang lama sudah capek, kasihan Nadin kalau diajak jalan suka mogok AC-nya. Jadi ya... upgrade sedikit lah buat kenyamanan masa depan."

"Sedikit apanya, Mas? Ini mah upgrade ugal-ugalan!" timpal Bambang, yang langsung mendekat dan menyentuh bodi mobil itu dengan hati-hati seolah menyentuh artefak suci.

"Dakar Ultimate kan? Wah, gila sih. Harganya setengah miliar lebih ini, Mas. Sukses berat nih Mas Arga. Ada proyekan apa nih? Bagi-bagi dong infonya."

Arga tertawa renyah, menepuk bahu Bambang dengan gaya patron yang melindungi.

"Ah, biasa saja, Bro. Rezeki anak soleh dan pintar-pintar atur aset. Namanya juga orang ekonomi, harus tahu kapan waktunya investasi," bual Arga.

Kebohongan itu meluncur mulus dari lidahnya seperti oli mesin. Arga menikmati tatapan kagum, kaget, dan sedikit iri dari rekan-rekannya. Dia merasa divalidasi. Dia bukan lagi Arga si Supervisor biasa yang sering pinjam korek api. Dia adalah Arga si pemilik Pajero. Arga sang eksekutif muda.

"Mas Arga keren banget deh," puji salah satu anak magang wanita dengan mata berbinar. "Warnanya hitam gitu sangar banget. Cocok sama Mas Arga."

Nadinta berdiri di sisi lain mobil, memegang tas kerjanya dengan tenang. Dia tersenyum manis melihat Arga dikerumuni.

Namun di dalam hatinya, dia mencatat betapa butanya Arga pada realita keuangannya sendiri. Pria ini menikmati pujian yang dibeli dengan hutang, memamerkan aset yang surat-suratnya masih ditahan leasing.

Arga selalu dibutakan oleh gaya hidupnya sendiri.

"Mas, ayo masuk. Nanti telat absen lho," ajak Nadinta lembut, memecah kerumunan itu sebelum Arga semakin lupa daratan.

"Oh iya. Ayo, ayo bareng," kata Arga, masih dengan senyum lebar.

"Kalian duluan saja, saya mau kunci ganda dulu."

Arga membiarkan mereka jalan duluan, hanya agar dia bisa berjalan di belakang dan melihat bagaimana orang-orang itu masih menoleh ke arah mobilnya sambil berbisik-bisik.

Sesampainya di Lantai 15, euforia itu belum surut. Justru semakin menjadi-jadi.

Arga duduk di kubikelnya dengan perasaan superior. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengeluarkan kunci mobil Pajero-nya dari saku. Dia tidak memasukkannya ke dalam laci atau tas.

Dia meletakkan kunci itu di atas meja, tepat di sebelah mouse pad. Dia memutar posisi kuncinya sedemikian rupa agar logo tiga berlian Mitsubishi menghadap ke atas, memastikan siapa pun yang lewat lorong itu akan melihatnya.

"Kopi, Mas?" tawar Office Boy yang lewat membawa nampan, Pak Maman.

"Boleh, Pak Maman. Kopi hitam ya, jangan pakai gula," jawab Arga. Lalu, didorong oleh perasaan 'orang kaya' yang meluap-luap, Arga mengeluarkan dompetnya. Dia menarik lembaran uang lima puluh ribu.

"Eh, sekalian belikan gorengan buat anak-anak di pantry ya, Pak. Biar semangat kerjanya. Kembaliannya buat Bapak saja," kata Arga royal.

"Wuih, alhamdulillah! Makasih Mas Arga! Mobil baru, rezeki baru ya Mas? Semoga berkah," doa Pak Maman tulus sambil menerima uang itu.

"Amin, Pak. Bisa saja Bapak," Arga tertawa.

Lima puluh ribu rupiah melayang hanya untuk pamer. Padahal sisa saldo di rekeningnya pasca membayar DP kemarin sudah menipis drastis. Tapi Arga tidak peduli. Sensasi menjadi "bos" yang mentraktir bawahan terlalu nikmat untuk dilewatkan.

Sepanjang pagi, Arga bekerja dengan semangat yang tidak wajar. Dia menyapa semua orang dengan ramah, tertawa lebih keras dari biasanya, dan sesekali memutar-mutar kunci mobil di jarinya saat berjalan ke pantry untuk mengambil air, memastikan bunyi gemerincing kunci itu menarik perhatian.

Saat jam istirahat makan siang tiba, Nadinta menghampiri meja Arga.

"Mas, makan yuk?" ajak Nadinta sambil membawa dompetnya.

Arga sedang memandangi kunci mobilnya sambil tersenyum-senyum sendiri, membayangkan betapa kerennya dia nanti saat menjemput Maya untuk perjalanan ke Bandung besok Sabtu.

"Eh, Din. Yuk. Ke kantin?" Arga berdiri, memasukkan kunci ke saku dengan gaya.

"Iya. Mas kelihatan happy banget hari ini," pancing Nadinta saat mereka berjalan berdampingan menuju lift. "Senyum terus dari tadi."

"Jelas dong. Puas banget rasanya, Din. Kamu lihat nggak muka Bambang tadi pagi? Dia kaget banget," cerita Arga bangga.

"Selama ini orang-orang kan suka meremehkan kita, sekarang mereka tahu level aku di mana. Tadi Pak Rudi saja sampai nanya pas papasan di lobi, 'Mobil siapa tuh di bawah?'. Pas aku bilang punya aku, dia langsung diam."

Nadinta merapikan kerah kemeja Arga yang sedikit miring. "Mas emang pantas dapat itu. Aku bangga banget punya calon suami kayak Mas. Kelihatan mapan."

Pujian itu membuat Arga merasa aman. Dia lupa bahwa rekeningnya mulai kritis.

Pintu lift terbuka, mereka masuk bersama beberapa staf lain. Nadinta bergeser mendekat ke Arga, lalu berbisik pelan agar tidak didengar orang lain, namun cukup jelas bagi Arga.

"Oh ya, Mas," bisik Nadinta.

"Soal rencana kita ke Bandung sama Maya Sabtu besok... jadi kan? Tadi Maya sempat chat aku lagi, nanyain jam berapa kita jemput dia."

Arga menoleh, matanya berbinar antusias. "Jadi dong! Maya juga tadi pagi sudah chat aku. Dia ngingetin jangan lupa jemput jam 7 pagi. Dia semangat banget, katanya udah nyiapin outfit khusus buat foto di mobil."

"Baguslah kalau gitu. Aku juga udah nggak sabar, pengen lihat reaksi Maya pas naik mobil ini." Nadinta tersenyum, lalu memasang wajah serius layaknya seorang manajer keuangan pribadi yang bijak.

"Tapi Mas, ada satu hal penting. Jangan lupa isi bensin full tank ya sebelum jemput Maya. Dan ingat, mobil baru itu mesinnya sensitif."

Nadinta menatap mata Arga, memberikan instruksi yang akan menjadi bom waktu finansial pertama bagi dompet Arga.

"Pakai yang non-subsidi ya, Mas. Pertamina Dex atau yang setara. Sayang banget mesinnya kalau dikasih solar subsidi biasa, nanti injector-nya kena, garansinya bisa hangus. Biaya servisnya mahal lho kalau rusak. Lagipula malu sama Maya kalau kita antre di jalur subsidi."

Arga terdiam sejenak. Dia tahu solar non-subsidi harganya jauh lebih mahal, hampir dua kali lipat. Tapi gengsinya menolak untuk terlihat perhitungan soal bensin di depan Nadinta, apalagi demi kenyamanan perjalanan bersama Maya.

"Beres, Din. Tenang saja," Arga menepuk saku celananya dengan percaya diri. "Masa mobil setengah miliar dikasih minum solar murah? Pasti aku isi yang paling bagus."

"Sip. Mas emang paling ngerti perawatan," puji Nadinta.

Lift berdenting, pintu terbuka di lantai kantin. Arga melangkah keluar dengan perasaan sebagai pemenang, siap mentraktir dirinya makan siang enak.

Sementara Nadinta berjalan di sampingnya dengan senyum misterius.

Dia tahu bahwa besok Sabtu, tangki bensin mobil itu—yang kapasitasnya mencapai 68 liter—akan menjadi lubang hitam pertama yang menyedot keuangan Arga hingga kering.

Perjalanan ke Bandung bertiga, dengan Maya yang menuntut kemewahan dan Arga yang gengsi menolak, akan menjadi pelajaran matematika paling menyakitkan bagi tunangannya.

1
izinnn
nah pinter nadin hahahaa, menjebak diaa
izinnn
alasan mulu kau mokondo🥲
izinnn
sip nadintaa keren🤪
izinnn
yg ceroboh tu situ wey🤪
izinnn
iya tuh, wkwwk ga sadar diri banget ya si argoy argoy ini
CACASTAR
aku sudah menduganya...bosnya inilah yang bakal menyelamatkannya dalam masalah hidupnya bukan😄.. Mahendra
izinnn
badazzz banget iniii
izinnn
iewhhhhh
izinnn
wkwkwkwkwk dikira Nadinta masih naif? Lawan bozzz
izinnn
Jadi sdh selengki sejak lama🤪
izinnn
wangi parfum yang pasti punya seseorang ini...
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
prioritas, jika kamu butuh uang kan?
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
yakin? atau malah nadin, yang menduduki posisi itu?
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
ready bgt nad buat depak si rudrud itu /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
pecat aja sih atasan modelan gini mah bisanya manfaatin bawhaannya doangg
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
kebayang bau apek kepalanya 🗿🗿
DANA SUPRIYA
mereka kan tidak tahu di mana belinya, tenang saja🤭
Chimpanzini Banananini
ohh rupanya authornya cwe gaes ehe
Xlyzy
hahahah baru di gitukan si Mamas langsung turun emosi nya ya
Xlyzy
Beh nin mantep 👍🏻 semanis madu nin perkataan mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!