Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Ruang kesadaran
Setelah makan, Han Chuan memutuskan untuk pergi ke ruang latihannya sendiri, tempat di mana ia selalu mencari ketenangan mulai dari melukis hingga membaca buku-buku kuno.
“Ayah, aku akan pergi berlatih. Mungkin juga mempelajari buku yang Ayah berikan ini,” ucapnya sambil membawa buku pemberian ayahnya.
Ayahnya hanya mengangguk pelan, begitu juga dengan Xue Lin yang tersenyum lembut melihat kepergian Han Chuan.
Setelah beberapa saat berjalan di dalam kediaman keluarga Han, akhirnya Han Chuan sampai di tempat yang biasa ia gunakan untuk menyendiri dan berlatih. Ia menatap sebentar buku yang diberikan oleh ayahnya, lalu meletakkannya di rak buku dengan hati-hati.
Han Chuan duduk di mejanya, mengambil selembar kertas dan kuas untuk melukis. Ia termenung, memikirkan bagaimana cara membangkitkan teknik rahasianya.
“Bagaimana, ya? Sama siapa aku bisa berlatih untuk membangkitkan teknik rahasia ini? Atau mungkin... ada yang bisa memberi saran juga?” gumamnya sambil memutar otak, mencoba mengingat siapa yang cukup kuat untuk membantunya.
Sementara itu, di Istana Pedang Matahari, seseorang tengah duduk bersandar santai sambil meneguk araknya. Di hadapannya berdiri seorang anak muda bersama seekor rubah berwarna merah berapi-api.
“Ling Shura, apakah kau akan ikut dalam Konferensi Pemburu Iblis?” tanya pria yang sedang menikmati araknya, suaranya tenang namun berwibawa.
“Tentu saja, Guru. Saya akan ikut dalam konferensi itu. Saya ingin membanggakan Guru dan menjadi yang terbaik di antara semua peserta,” jawab Ling Shura dengan nada penuh keyakinan.
Pria yang memegang botol arak itu hanya mengangguk pelan, lalu kembali meneguk araknya dengan ekspresi datar, seolah sudah tahu muridnya akan mengatakan hal itu.
Sementara itu, Han Chuan masih duduk tenang sambil melukis. Namun pikirannya terus berputar, mencari cara untuk membangkitkan teknik rahasianya. Hingga tiba-tiba seseorang terlintas dalam benaknya.
“Sekarang aku tahu siapa orangnya! Orang ini pasti bisa membantu membangkitkan teknik rahasiaku. Aku yakin dia punya caranya!” seru Han Chuan bersemangat.
Selesai melukis, ia menempelkan hasil lukisannya di dinding, lalu menempelkan dua jari kanannya di dahi. Seketika tubuhnya jatuh tertidur di atas meja, sementara jiwanya memasuki ruang kesadaran.
Di sana, Han Chuan membuka matanya perlahan dan melihat sekeliling. Pemandangan yang ia lihat selalu sama—kumpulan energi spiritual berwarna biru berputar cepat membentuk pusaran seperti bola besar, memancarkan cahaya lembut yang berkilau di seluruh ruang kesadaran.
“Hah... apa sebenarnya ini? Aku sudah lama berada di sini, sejak pertama kali memasuki ruang kesadaran. Tapi sudah berkali-kali aku periksa, tetap saja tidak ada tanda-tanda kehidupan,” ucap Han Chuan sambil memperhatikan pusaran energi itu dengan dahi berkerut.
“Ah, sudahlah. Suatu saat aku pasti tahu juga. Lebih baik aku berlatih dulu,” gumamnya.
Dalam sekejap, sebuah pedang muncul di tangannya, memancarkan kilatan cahaya tajam berwarna perak kebiruan. Ia lalu menciptakan bayangan-bayangan monster iblis—wujud ilusi dari makhluk yang dulu menyerang desanya. Tubuh-tubuh besar dengan taring panjang dan mata menyala merah darah muncul di hadapannya, mengeluarkan raungan yang mengguncang seluruh ruang kesadaran.
“Kalian semua... maju bersamaan!” teriak Han Chuan dengan nada tegas.
Beberapa detik kemudian, para monster melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Suara hentakan kaki mereka bergemuruh seperti badai. Han Chuan menarik napas, lalu menghunus pedangnya.
Tubuhnya menghilang dalam sekejap dan muncul di antara para monster. Tebasan pertama menghantam daging terdengar keras saat pedangnya menebas leher seekor monster, memercikkan cahaya biru bercampur darah hitam yang beruap.
Han Chuan terus bergerak cepat, tubuhnya berputar ringan seperti angin. Pedangnya menari, menciptakan kilatan cahaya beruntun.
Di setiap tebasan menimbulkan semburan energi yang membelah udara. Monster demi monster terpotong menjadi dua bagian sebelum sempat menyerang balik.
Satu serangan terakhir, Han Chuan melompat tinggi, memutar pedangnya di atas kepala, lalu menghantam tanah dengan keras.
Ledakan energi memancar dari pedangnya, menghantam puluhan monster sekaligus dan membuat mereka hancur berkeping-keping sebelum menghilang menjadi partikel cahaya.
Han Chuan berdiri di tengah kepulan debu biru, napasnya teratur, matanya tajam. Ia menatap pedang di tangannya yang bergetar pelan, lalu tersenyum tipis.
“Masih belum cukup. Aku harus jadi lebih cepat... lebih kuat,” bisiknya pelan, sebelum kembali mengambil posisi bertarung.
Setelah beberapa lama bertarung, akhirnya Han Chuan berhenti dan menatap ke arah cahaya biru yang berputar di depannya.
“Sebenarnya... kau ini apa? Aku tidak bisa merasakan aura kehidupan apa pun dari cahaya biru ini,” ucapnya sambil memperhatikan dengan seksama.
“Hah... suatu hari nanti aku pasti tahu ini apa,” lanjutnya pelan sebelum keluar dari ruang kesadarannya.
Tubuh Han Chuan kembali bangun di atas meja tempat ia duduk sebelumnya. Ia menguap kecil sambil menatap keluar jendela.
“Ternyata sudah malam, ya? Lebih baik aku keluar sebentar, jalan-jalan sambil menenangkan pikiran,” katanya, bangkit dari kursinya. Ia mengambil pedang kesayangannya, lalu keluar dari ruangan pribadinya.
Begitu keluar, matanya langsung menangkap sosok gurunya, Huang Ji, yang sedang duduk santai di atas atap sambil meminum arak. Han Chuan menghela napas dan tersenyum kecil, lalu memutuskan untuk menghampirinya sambil membawa beberapa botol arak untuk dirinya dan sang guru.
Dalam hati, ia sudah menyiapkan rencana sendiri membujuk gurunya agar mau melatihnya membangkitkan teknik rahasia miliknya.
“Guru, bagaimana cara membangkitkan teknik rahasia?” tanya Han Chuan dengan nada penuh harap.
“Tidak ada. Cari tahu sendiri,” jawab Huang Ji dengan tenang tanpa menoleh sedikit pun.
Han Chuan sedikit cemberut, tapi tetap mencoba lagi.
“Guru, tolonglah... aku benar-benar perlu membangkitkan teknik rahasiaku,” pintanya memohon.
“Tidak. Kau cari tahu saja sendiri,” jawab Huang Ji dengan nada datar, masih menatap ke arah langit yang sudah malam.
Han Chuan mendengus pelan. “Sepertinya aku rugi membawa arak-arak ini,” ucapnya sambil mengambil satu botol arak dan mulai menumpahkannya ke tanah.
Seketika Huang Ji menoleh cepat, matanya menatap tajam. “Hei! Jangan membuang arak itu!” serunya dengan nada marah.
“Tetap akan kubuang kalau Guru tak mau melatihku!” balas Han Chuan sambil mengangkat botol arak berikutnya dan menjatuhkannya.
Namun sebelum botol itu sempat menyentuh tanah, Huang Ji bergerak secepat kilat. Wuusss! Tubuhnya melesat dari atap, dan dalam sekejap ia sudah berada di depan Han Chuan, tangan kirinya menangkap botol arak yang hampir jatuh dengan gerakan ringan namun tepat.
Han Chuan tersenyum tipis melihatnya, sementara Huang Ji menatapnya tajam dengan ekspresi tidak senang.
“Kalau begitu, akan aku ajari kau, bocah. Sekalian saja kubuat pelajaran ini menjadi pelatihan yang berat,” ucap Huang Ji dengan nada rendah dan tegas.
Begitu kata itu keluar, udara di sekitar mereka berubah tegang. Han Chuan refleks menghunus pedangnya, sementara Huang Ji memutar tongkatnya dengan satu tangan.
Pertarungan pun tak terelakkan.
Han Chuan menyerang lebih dulu pedangnya berkilat biru saat menebas ke arah gurunya. Dan Suara logam menghantam tongkat menggema keras. Serangan Han Chuan cepat dan beruntun.Dan tebasannya menghujani udara, membelah angin dengan tekanan yang cukup kuat untuk menggeser debu di tanah.
Namun Huang Ji menghadapinya tanpa banyak bergerak. Tongkat di tangannya berputar cepat, menangkis setiap serangan dengan presisi tinggi. Setiap benturan menghasilkan percikan cahaya kecil di udara.
“Cepat, tapi masih terlalu mudah ditebak,” ujar Huang Ji santai sambil memukul pedang Han Chuan ke samping dan memutar tubuhnya.
Serangan balik datang secepat kilat. Tongkat Huang Ji menghantam dari bawah. Bam! Han Chuan terpaksa melompat mundur beberapa langkah, hampir kehilangan keseimbangan.
“Terimalah pelatihan yang berat ini! Karena kau sudah berani memprovokasiku, bocah!” teriak Huang Ji sambil maju cepat, ayunan tongkatnya semakin keras dan cepat.
Serangan demi serangan menghujani Han Chuan tanpa henti. Ia menangkis dengan susah payah, setiap benturan membuat tangannya bergetar.
Tubuh Han Chuan semakin terpojok, langkahnya mundur sedikit demi sedikit. Namun matanya tetap tajam, penuh tekad. Ia tahu ini bukan sekadar pertarungan, ini adalah ujian untuk membangkitkan kekuatan rahasianya.