Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simple Wedding Event
Mengingat adanya rahasia besar mengenai keberadaan Nael, putra Pablo yang selama ini disembunyikan dari publik, rencana pernikahan megah di Long Island akhirnya diubah menjadi sebuah upacara yang sangat privat dan intim. Kakek Alan setuju bahwa "keamanan dan privasi keluarga" adalah prioritas utama di atas pamer kemewahan.
Berikut adalah rencana pernikahan sederhana namun mendalam yang diadakan di kapel pribadi keluarga di New York:
Rencana Pernikahan Intim Rodriguez-Pablo
Lokasi: Kapel Kaca di Kediaman Kakek Alan
Bukan di gedung publik, melainkan di kapel kecil yang terletak di taman belakang mansion New York. Lokasi ini dipilih karena memiliki sistem keamanan yang paling ketat dan tidak terjangkau oleh lensa paparazzi.
* Atmosfer: Ruangan hanya dihiasi dengan bunga lili putih segar dan ratusan lilin aromaterapi yang memberikan kesan suci dan hangat.
* Waktu: Upacara fajar, saat kota New York masih tertidur, menciptakan ketenangan yang absolut.
Tamu Undangan (Hanya Keluarga Inti)
Daftar tamu dibatasi hanya 10 orang:
* Pihak Freya: Kakek Alan, Joice (Ayah), Anne(Ibu), dan dua saudara laki-laki Freya.
* Pihak Pablo: seorang asisten kepercayaan yang menjaga Nael.
Kehadiran Nael: "Tamu Rahasia"
Nael, putra Pablo, adalah bagian terpenting namun paling rahasia dalam hari ini.
* Penempatan: Nael tidak duduk di bangku depan. Ia berada di balkon lantai dua kapel yang tersembunyi oleh tirai tipis, ditemani oleh pengasuh kepercayaannya.
* Momen Khusus: Sebelum upacara dimulai, Pablo dan Freya mendatangi Nael secara pribadi di ruang tunggu untuk meminta "restu" kecil darinya, memastikan anak itu merasa menjadi bagian dari persatuan ini tanpa harus terekspos ke dunia luar.
...----------------...
Pablo membawa Nael ke Mansion Rodryguez yang diterima dengan baik oleh keluarga Rodryguez.
Kakek Alan menghampirinya "Hi jagoan senang bertemu denganmu. Kau sudah siap untuk menjadi anak dari Freya?" Kakek alan tersenyum lembut mengelus kepalanya.
Nael mengangguk "Of course aku menyukainya dan ayahku telah memilih wanita yang baik dan dewasa aku sangat menghargai keputusannya kakek."
Anne menyahut "Oh cucuku kemarilah little boy" Nael menghampiri Anne yang berada di samping Joice.
"Kau benar-benar sangat tampan Nael. Panggil aku Grandma!" Nael mengerjap polos dan menganggukkan kepalanya "Terimakasih sudah menerima keberadaanku Grandma" Joice menatapnya dengan dalam, dia menyamakan posisinya dengan tinggi Nael lalu meraih tubuhnya untuk menggendongnya.
"Hey Kita sekarang keluarga dan jangan sungkan untuk meminta atau mengatakan apapun kepada kami. Kamu cucuku sekarang little boy." Nael rasanya ingin menangis mendengar kalimat itu, tidak hanya ayahnya yang diterima di keluarga Rodryguez tetapi dirinya juga. Ternyata menyenangkan memiliki kekuarga yang lengkap penuh dengan kasih sayang.
Meskipun dunia mengharapkan sebuah pesta pora di Madison Avenue atau perayaan megah di Long Island, Pablo dan Freya mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang. Di balik pintu tertutup ruang kerja Kakek Alan, setelah ketegangan mereda, Pablo menggenggam tangan Freya dan mengutarakan keinginan yang berbeda.
"Aku tidak ingin sebuah tontonan bisnis," bisik Pablo. "Aku ingin sebuah janji suci. Hanya ada aku, kau, dan mereka yang benar-benar berarti bagi kita."
Maka, rencana itu disusun dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Sebuah pernikahan sederhana, intim, namun tetap elegan, yang akan dilangsungkan di kapel tua di bagian belakang mansion Kakek Alan yang jarang digunakan.
Udara pagi New York terasa sejuk saat Freya berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Tidak ada puluhan pengiring pengantin atau hiruk-pikuk penata rias terkenal. Hanya ada ibunya, Anne Rodryguez, yang dengan tangan gemetar membantu memasangkan kancing mutiara di punggung gaun satin putih polos milik Freya.
"Kau yakin dengan ini, Sayang?" tanya Anne lembut. "Dunia akan bertanya-tanya mengapa putri Rodryguez menikah tanpa sorot lampu."
Freya tersenyum, menatap bayangannya yang tampak anggun dalam kesederhanaan. "Biarkan mereka bertanya, Mommy. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak sedang melakukan transaksi. Aku sedang menikah. Aku ingin bisa melihat mata Pablo tanpa terganggu oleh lampu kamera."
Di sisi lain mansion, di sayap bangunan yang lebih terisolasi, Pablo sedang berlutut di depan seorang anak laki-laki berusia lima tahun bernama Nael. Nael adalah rahasia yang dijaga ketat—putra Pablo yang keberadaannya sengaja disembunyikan dari publik demi keselamatannya dan demi menjaga stabilitas posisi Pablo di masa lalu.
"Nael, dengarkan Daddy," kata Pablo sambil merapikan dasi kupu-kupu kecil di leher anaknya. "Hari ini Daddy akan berjanji pada Freya. Kau akan bersama Daddy disana dan membawa cincin pernikahan kami mengerti? ."
Nael mengangguk dengan mata bulatnya yang cerdas. "Apakah Freya akan menjadi ibuku sekarang, Daddy?"
Pablo terdiam sejenak, tenggorokannya terasa sesak oleh emosi. "Ya, Nael. Dia akan menjadi bagian dari kita. Selamanya."
Tepat pukul empat sore, kapel tua itu hanya diisi oleh sepuluh orang. Kakek Alan duduk di baris depan dengan tongkat peraknya, wajahnya yang biasanya keras kini tampak melunak. Joic berrdiri tegak, siap mengantarkan putrinya.
Sedangkan Nael bersama dengan pengasuh dan asisten pribadi Pablo disana.
Musik organ yang lembut mulai mengalun. Pintu kapel terbuka, dan Freya berjalan masuk. Tidak ada dekorasi bunga yang berlebihan, hanya lilin-lilin putih yang berjajar di sepanjang jalan setapak, menciptakan suasana sakral yang tak tertandingi oleh kemewahan apa pun.
Saat mata Pablo dan Freya bertemu di depan altar, seolah-olah waktu berhenti. Semua beban sebagai pewaris dinasti runtuh, menyisakan dua manusia yang saling memuja.
"Pablo," bisik Freya saat mereka berdiri berhadapan. "Aku menyerahkan masa depanku padamu."
Pablo membalas genggaman tangannya. "Dan aku mempertaruhkan segalanya untuk menjagamu."
Pendeta memulai upacara dengan khidmat. Di atas, di balkon yang tertutup tirai tipis, Nael mengintip dengan rasa ingin tahu. Ia melihat ayahnya—pria yang selalu tampak dingin dan tak tersentuh—kini menitikkan air mata saat mengucapkan janji suci.
"Saya, Pablo, menerima engkau, Freya Rodriguez, sebagai istri saya. Dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, sampai maut memisahkan kita."
Suara Pablo bergema di dinding-dinding batu kapel. Saat giliran Freya mengucapkan janjinya, suaranya terdengar stabil namun penuh perasaan. Bagi keluarga inti yang hadir, momen ini terasa lebih kuat daripada pesta mana pun yang pernah mereka hadiri. Mereka melihat sebuah kebenaran yang jarang ada di lingkaran mereka: cinta yang tulus.
...----------------...
Nael yang berada disana melirik ayahnya, seyelah ayahnya melihat dirinya dan mengangguk dia berjalan menuju mereka berdua sendirian dengan membawa sebuah kotak cincin, tanpa di sadari semua orang disana melihatnya dengan senyuman tipis.
Setelah upacara selesai, mereka tidak berpindah ke aula besar. Mereka kembali ke meja makan keluarga yang lebih kecil. Hanya ada satu meja panjang yang dihiasi bunga-bunga liar dan hidangan rumahan kelas atas.
Kakek Alan berdiri, mengangkat gelas kristalnya. "Selama puluhan tahun, aku percaya bahwa pernikahan adalah tentang memperluas wilayah. Tapi melihat kalian hari ini... aku diingatkan bahwa sebuah kerajaan tidak ada artinya jika pondasinya tidak dibangun dengan kepercayaan. Untuk Pablo dan Freya."
"Untuk Pablo dan Freya!" seru yang lain.
Nael juga berada disana. Dia duduk di tengah ayah dan ibunya untuk menikmati kebahagian yang telah lama dinantikan.
Freya melirik ke arahnya "Terimakasih sudah menerimaku menjadi ibumu sayang" Tangan kecil Nael menyentuhnya tangan miliknya dan menciumnya. Semua orang terharu melihat hal itu, hati mereka tersentuh dengan kebahagiaan yang diterima Freya.
"Aku menyayangimu Freya" Freya menatap berkaca-kaca seorang anak kecil didepannya. Tak ada kata yang bisa membuatnya terharu melebihi kata sayang yang di ucapkan anak sambungnya itu.
Pablo menatap keduanya dan meraih tangan Freya dan juga Nael "Kita akan saling menjaga dan menjadi keluarga yang penuh dengan kebahagiaan. I promise."
...----------------...
Rencana sederhana ini terbukti menjadi keputusan terbaik yang pernah mereka buat. Tanpa hiruk-piruk wartawan, tanpa protokol yang kaku, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri. Malam itu diakhiri dengan Pablo dan Freya berdansa pelan di balkon kamar mereka, ditemani suara sirine kota New York di kejauhan yang terdengar seperti musik latar bagi kehidupan baru mereka.
"Ini jauh lebih indah dari rencana awal yang megah itu," gumam Freya di pelukan Pablo.
"Karena di sini, hanya ada kejujuran," jawab Pablo. Ia mencium kening istrinya, tahu bahwa meskipun dunia luar mungkin tetap penuh dengan badai dan rahasia yang harus dijaga, di dalam lingkaran kecil ini, mereka telah aman.
Pernikahan sederhana keluarga Rodriguez malam itu bukan hanya tentang penyatuan dua nama besar, melainkan tentang keberanian untuk mencintai dengan jujur di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan.