"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang menghamili mu?
"Kamu berani ngancem aku?" Ujar Yandra menatap tajam.
"Tentu saja! Karena aku berhak agar anakku memiliki keluarga yang utuh!" Jawab Runi tegas.
"Coba saja jika kamu berani. Aku akan membuatmu menyesal!"
Runi tersenyum sinis. "Apakah Mas kira aku takut? Silahkan lakukan apapun!" Tantang Runi.
"Aarrrghhh!"
BUGH! BUGH!
Yandra melampiaskan amarahnya terhadap setir mobilnya. Sementara itu Runi hanya berwajah datar dan acuh. Ia tak peduli apapun yang akan di lakukan oleh Yandra. Ia lebih baik mati daripada harus membuat kedua orangtuanya malu.
"Nggak, aku nggak boleh menangis. Aku tidak boleh cengeng. Ya, aku harus kuat demi kesehatan janin yang ada di rahimku," batin Runi menguatkan dirinya.
Yandra terpaksa memutar arah mobilnya untuk kembali pulang. Saat ini ia tidak ingin keluarganya tahu tentang hubungannya dan Runi. Apalagi sampai mereka tahu bahwa Runi sedang hamil. Sedangkan dirinya masih meragukan anak itu.
Tak ada lagi percakapan diantara pasangan itu. Yandra hanya fokus mengemudi. Suara dering ponselnya di abaikan.
"Aku harus menerima telepon dari Gracia. Biar dia naik taksi saja," ujar Yandra seperti meminta izin pada gadis yang ada di sampingnya.
"Nggak, Mas. Biarkan saja dia datang sendiri tanpa harus kamu memberitahu," ujar Runi membuat Yandra menatap kesal.
"Belum menikah saja kamu sudah berani mengatur hidupku, apalagi nanti sudah menikah. Wanita macam apa kamu ini?" Omel lelaki itu.
"Aku akan lebih baik dan sopan bila suamiku memperlakukan aku dengan baik. Karena sikap dan perilaku istri tergantung bagaimana suaminya," jawab wanita itu santai.
Yandra menggeram kesal. Ia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah.
Sementara itu di bandara. Garcia sangat kesal karena Yandra tidak mengangkat teleponnya. Padahal kata Tante Emeli, Yandra sudah pergi sedari tadi ke bandara.
"Mas Yandra dimana sih? Kenapa dia belum sampai juga? Ih nyebelin banget!"decak wanita itu.
Sementara itu Kiram masih termangu memikirkan ucapan Runi. Sebenarnya ada apa dengan Runi? Apa yang membuatnya memutuskan hubungan dengan dirinya?
"Kamu kenapa sih, run. Kenapa sikapmu berubah secara tiba-tiba. Apa salahku? Padahal aku sudah effort banget untuk mengungkapkan perasaanku padamu," gumam lelaki itu dalam keseorangan.
Yandra dan Runi baru saja sampai di rumah. Kepulangan mereka di sambut oleh Nyonya Emeli.
"Loh, kamu kok balik lagi, Yan? Itu Cia sedari tadi nanyain kamu sama Mama? Kamu kenapa tidak terima telpon dari cia?" Tanya Mama menatap heran.
Runi berjalan untuk menuju kamarnya. Kepalanya masih terasa pusing. Sepertinya ia harus mengisi perut lagi, karena tadi ia muntah cukup banyak.
"Dan kamu kenapa sudah pulang, Run?" Tanya nyonya Emeli membuat langkah Runi terhenti.
"I-iya Bu, karena saya sedang tidak enak badan. Mendadak meriang," jawab Runi beralasan.
Nyonya Emeli hanya mengangguk paham. Ia membiarkan Runi untuk istirahat. Kembali fokus pada sang putra.
Suara ponsel Yandra kembali berdering. Masih orang yang sama. Gracia masih menghubungi Yandra. Sepertinya wanita itu berharap sekali Yandra akan menjemputnya.
Yandra menatap ke arah kamar Runi. Sepertinya cukup aman bila ia menerima panggilan dari Gracia. Cuma ingin menyuruh wanita itu menggunakan taksi saja.
"Maaf ya, Cia. Aku tiba-tiba ada urusan mendadak. Kamu naik taksi saja ya."
"Kok gitu sih, Mas? Emang nggak bisa jemput aku sebentar saja? Padahal aku berharap banget Mas Yandra bisa jemput aku," ujar Gracia memberengut.
"Aku tidak bisa. Ada tugas penting yang harus aku selesaikan hari ini juga," jawab lelaki itu jelas berbohong.
"Yaudah deh, aku naik taksi saja." Garcia mengakhiri sambungan teleponnya.
Setelah bicara dengan Gracia, Yandra gegas pergi untuk menepi agar tak ketahuan berbohong. Bisa-bisa nanti banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Gracia dan Mama.
Malam ini Runi masih betah di kamar menikmati rasa mual yang belum juga mereda. Sungguh rasanya sangat menyiksa.
"Aku harus bagaimana? Jika kondisiku terus seperti ini, maka aku tidak akan bisa beraktivitas seperti sediakala. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisa-bisa Bu Emeli dan Pak Saga curiga," ujar Runi kebingungan sendiri.
"Runi mana, Ma? Kok dari tadi Papa nggak lihat?" Tanya Tuan Saga saat tak menemui gadis itu.
"Runi sedang tidak enak badan, Pa. Mama suruh istirahat di kamarnya. Ini saja makan malam pesan di luar," sahut Mama.
"Udah panggil dokter? Apakah sudah di periksa?" Tanya Tuan Saga tampak khawatir.
"Tadi Mama tawarkan untuk panggil Dokter, tetapi Runi menolak. Katanya cuma butuh istirahat saja."
"Ayo ambil makannya, sayang," imbuh Mama pada Gracia.
"Ya, terimakasih Tante. Mas Yandra kok belum pulang ya, Tan?" Tanya Gracia tak sabar menunggu lelaki itu.
"Mungkin sebentar lagi. Yandra sedang ada tugas penting di RS. Katanya ada ujian praktek yang belum selesai. Ayo kita makan duluan saja." Nyonya Emeli berusaha menenangkan gadis itu.
Sedangkan di kamar. Runi benar-benar tidak mampu lagi menahan rasa mabuknya. Perutnya selalu mual, apapun yang ia makan kembali keluar dari muntah. Ia berusaha menghubungi Yandra untuk meminta bantuannya. Namun, lelaki itu selalu merijek panggilan darinya.
[Mas, tolong aku. Rasanya sudah tidak tahan, kepala aku pusing dan mual] pesan Runi di ponsel Yandra.
[Nggak usah manja, tadi kan sudah di kasih obat mual. Makanya bawa makan, jangan di bawa tidur Mulu] balas Yandra ketus.
Runi hanya membaca pesan lelaki itu. Rasanya tak sanggup lagi untuk berdebat dengannya. Runi berusaha berdiri dari duduknya. Ia harus meminta bantuan pada Nyonya Emeli.
"Pak...."
BUGH!
"Runi!" Seru tuan Saga seraya berdiri dan menghampiri Runi. Nyonya Emeli juga ikut menghampiri, tentunya Gracia tak mau ketinggalan.
"Runi kenapa, Pa?" Tanya nyonya Emeli pada sang suami.
"Nggak tahu, Ma." Tuan Saga seketika membopong tubuh Runi untuk membawanya ke kamar.
"Ma, telpon Dokter keluarga!" Titah lelaki paruh baya itu.
"Baik, Pa." Nyonya Emeli segera menghubungi dokter keluarga.
Tak berselang lama Dokter sudah datang, dan segera memeriksa keadaan Runi. Tuan Saga dan nyonya Emeli masih menunggu hasil pemeriksaan sang dokter.
"Runi kenapa, Dok?" Tanya Tuan Saga ingin tahu.
Sejenak Dokter itu terdiam. Ia sedikit ragu untuk mengatakan keadaan Runi sekarang. Karena mereka mengatakan Runi masih gadis belum pernah bersuami.
"Kenapa diam saja, Dok?" Desak tuan Saga.
"Tuan Saga, saya terpaksa mengatakan bahwa Runi sedang hamil tiga bulan."
"Apa! Hamil?" Ulang tuan Saga terkejut.
"Dok, jangan bercanda. Runi ini masih gadis. Dia belum menikah!" Ujar nyonya Emeli menjelaskan sekali lagi status Runi.
"Tapi memang begitu kenyataannya, Nyonya. Runi sedang hamil, saya tidak mungkin salah. Jika nyonya dan tuan masih meragukan hasil pemeriksaan saya, silahkan bawa ke RS," urai sang dokter.
Seketika pasangan itu membeku. Tentu saja mereka larut dalam pikiran masing-masing. Siapa lelaki yang telah menghamili Runi?
"Ternyata Runi wanita nakal ya, Tante?" Ucap Gracia menatap sinis pada wanita yang masih belum sadarkan diri.
"Baik Dok, terimakasih atas penjelasannya. Sepertinya Runi juga demam, tolong berikan resep untuk saya tebus," ujar tuan Saga.
"Baik, Tuan. Akan saya tuliskan resep dan vitamin."
Dokter keluarga itu segera pulang setelah menyelesaikan tugasnya. Sementara Tuan Saga dan nyonya Emeli masih berada di kamar menunggu Runi sadar.
"Ternyata selama ini Runi sudah melakukan hal tercela. Pantas saja beberapa kali dia pernah izin untuk pergi keluar. Ternyata dia menemui lelaki itu," ujar nyonya Emeli menatap penuh amarah.
"Siapa lelaki itu, Ma? Apakah Mama tahu siapa orangnya?" Tanya Tuan Saga penasaran dengan ucapan sang istri.
"Mama tidak tahu siapa lelaki itu, Pa. Tentu saja dia menemui lelaki yang menghamilinya. Dasar gadis b0doh!"
"Jangan bicara seperti itu, Ma. Kita harus mendengarkan penjelasan Runi dulu." Tuan saga masih bersikap bijak. Tak ingin menyimpulkan sebelum mendengar pernyataan dari empunya badan.
Sudah hampir satu jam Runi pingsan, akhirnya terbangun juga. Perlahan ia membuka mata. Runi di suguhkan dengan wajah nyonya Emeli dan tuan Saga. Tentunya di samping Nyonya Emeli juga ada Gracia. Wanita itu tak ingin ketinggalan momen yang menegangkan ini. Ia juga penasaran siapa orang yang telah menghamili pembantu keluarga saga itu.
"Apakah kamu masih pusing?" Tanya Tuan Saga sembari memperbaiki selimut yang menutupi setengah tubuh Runi. Sebenarnya ia sangat kecewa dengan kabar kehamilan Runi. Karena kedua orangtua Runi sudah menitipkan padanya agar menjaga Runi dengan baik. Apa yang harus ia katakan setelah mereka tahu Runi h4mil di luar nik4h.
"Sudah tidak terlalu pusing, Pak," jawab Runi berusaha untuk tetap tenang. Tetapi ia melihat Nyonya Emeli menatap tajam padanya. Apa mereka sudah tahu yang sebenarnya?
"Nanti saya minta supir untuk menebus obat yang di resepkan oleh dokter. Sekarang kamu makan dulu."
Seketika Runi membatu saat mendengar Dokter memberikan resep obat. Itu artinya dokter sudah memeriksa dirinya?
"Jangan terlalu baik, Pa. Sekarang suruh dia mengatakan yang sebenarnya!" Seru nyonya Emeli sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Ia ingin tahu siapa lelaki yang menghamili Runi.
Runi tersentak dengan tubuh gemetaran. Ternyata mereka sudah tahu. Sekarang apa yang harus ia katakan?
Tuan Saga menghela nafas dalam. "Runi, ayo katakan siapa yang telah menghamili kamu?" Tanya lelaki itu dengan nada lembut.
Runi masih membeku. Lidahnya mendadak kelu untuk menjawab pertanyaan tuan Saga. Kembali ia mengingat sikap Yandra yang menjengkelkan. Seandainya tadi Yandra cepat pulang dan membantu dirinya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.
"Ayo katakan, Runi!" Bentak nyonya Emeli kesal sekali melihat Runi masih membisu.
"Tahan emosi kamu, Ma. Biarkan Runi mengatakannya dengan tenang!" Sanggah tuan Saga ikutan kesal pada sang istri.
"Nak, ayo katakan pada saya. Kamu jangan takut ya. Saya akan melindungimu," ujar lelaki itu menatap teduh seakan Runi mendapatkan perlindungan dari majikan orangtuanya itu.
Runi mengangguk pelan dengan bibir bergetar. "Ayah dari anak ini... Dia, dia adalah mas Yandra," ucap Runi lirih.
"Apa! Kamu jangan memfitnah anak saya, Runi!" bentak nyonya Emeli tak terima.
Bersambung....
Syukurlah mommy orangnya baik pada Yandra 🥰🥰