Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PERTANYAAN TENTANG MASA DEPAN
Waktu seolah berlari lebih kencang di lingkungan markas. Alisa sudah berada di penghujung masa SMP-nya. Ujian akhir sudah terlewati, dan kini ia dihadapkan pada satu lembar kertas yang menurutnya jauh lebih menakutkan daripada soal matematika mana pun: formulir penjurusan untuk masuk SMA. Di sekolahnya, siswa diminta memilih minat sejak awal pendaftaran untuk menentukan kelas mereka nantinya.
Alisa duduk di meja belajarnya, menatap pilihan yang tersedia. IPA, IPS, atau Bahasa. Baginya, pilihan itu sudah sangat jelas. Hatinya sudah tertambat pada dunia kata-kata sejak ia menemukan buku harian merah marun milik Ibunya dan mengisi buku birunya sendiri. Ia ingin masuk jurusan Bahasa, mendalami sastra, dan kelak menjadi penulis profesional yang bukunya terpajang di toko buku besar yang mereka kunjungi tempo hari.
Namun, ia tahu bahwa di rumah ini, setiap keputusan besar harus melewati satu "gerbang utama", yaitu persetujuan Mayor Cakra. Bagi Ayahnya, hidup adalah tentang strategi dan kepastian. Dunia sastra dan menulis mungkin dianggap Cakra sebagai hobi yang manis, tapi bukan rencana masa depan yang kokoh bagi seorang anak prajurit yang harus siap menghadapi segala kemungkinan.
Malam itu, saat Cakra sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa beberapa berkas laporan, Alisa mendekat dengan langkah ragu. Ia membawa formulir itu di tangannya, yang terasa sedikit lembap karena keringat dingin. Ia meletakkan kertas itu di atas meja, tepat di samping cangkir kopi Ayahnya yang sudah setengah dingin.
"Yah, ini ada formulir pilihan jurusan buat SMA nanti. Harus ditandatangani orang tua," kata Alisa pelan.
Cakra meletakkan pulpennya, lalu mengambil kertas itu. Ia membacanya dengan teliti, seperti sedang memeriksa peta navigasi. Dahinya berkerut saat melihat tanda centang yang sudah dibubuhkan Alisa pada kolom Bahasa dan Sastra. Ia terdiam cukup lama, sebuah keheningan yang membuat jantung Alisa berdebar tidak keruan.
"Bahasa?" tanya Cakra akhirnya, suaranya datar. "Kenapa bukan IPA? Nilai matematikamu dan biologimu bagus, Lis. Kalau kamu masuk IPA, pilihan kuliahmu nanti jauh lebih banyak. Kamu bisa masuk Kedokteran, atau kalau mau mengikuti jejak Ayah, kamu bisa masuk Akmil lewat jalur sarjana atau Psikologi Militer."
Alisa sudah menduga jawaban itu akan keluar. "Aku tidak mau jadi dokter, Yah. Apalagi jadi tentara. Aku mau belajar menulis lebih dalam. Aku merasa... ini adalah tempatku."
Cakra menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya dan menatap Alisa dengan tatapan serius. "Lis, dengar Ayah. Ayah tahu kamu suka baca dan menulis. Ayah dukung itu sebagai hobi. Tapi hidup ini tidak selalu indah seperti di novel-novelmu. Dunia di luar sana sangat kompetitif. Kalau kamu punya keahlian yang lebih teknis, kamu akan punya jaring pengaman. Ayah hanya ingin kamu punya masa depan yang stabil. Psikologi, misalnya. Itu bagus. Kamu tetap bisa belajar tentang manusia dan perasaan, tapi gelarmu diakui secara profesional di banyak bidang."
"Menulis juga profesional, Yah," bantah Alisa, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Banyak orang sukses dari menulis. Ibu juga dulu suka menulis, kan?"
Mendengar nama Shifa disebut, sorot mata Cakra sedikit berubah. Ada kilasan kenangan yang melintas, tapi ia segera menepisnya. "Ibumu memang suka menulis, tapi dia juga punya dasar pendidikan yang kuat. Dia mendampingi Ayah dengan segala kemampuannya. Ayah tidak mau kamu hanya bermimpi di atas awan tanpa pijakan yang kuat di tanah."
Alisa merasa dadanya sesak. Baginya, menulis bukan sekadar mimpi di atas awan. Menulis adalah cara dia bertahan hidup selama Ayahnya pergi bertugas. Menulis adalah caranya memproses kesedihan dan ketakutan yang tidak pernah bisa ia bicarakan dengan siapa pun. Jika Ayahnya merampas itu darinya, Alisa merasa akan kehilangan identitasnya.
"Aku tidak merasa di atas awan, Yah. Justru saat menulis, aku merasa paling jujur. Aku tidak pandai bicara seperti Ayah, aku tidak kuat secara fisik seperti para prajurit di lapangan. Satu-satunya kekuatanku ada di sini," Alisa menunjuk tumpukan buku di raknya. "Tolong, Yah. Izinkan aku memilih jalan ini sekali saja."
Suasana di ruang tamu itu menjadi sangat tegang. Cakra melihat keteguhan di mata putrinya, sesuatu yang sangat mirip dengan keras kepalanya sendiri. Ia menyadari bahwa Alisa bukan lagi anak kecil yang bisa ia perintahkan begitu saja. Alisa sudah membentuk dunianya sendiri di dalam rumah yang senyap ini, sebuah dunia yang tidak bisa ia masuki sepenuhnya.
Cakra kembali menatap formulir itu. Ia teringat bagaimana Alisa menjaga rumah ini dengan sangat mandiri. Ia teringat bagaimana Alisa tidak pernah mengeluh saat ia tinggal berminggu-minggu. Mungkin, pikir Cakra, ia sudah terlalu keras menuntut Alisa untuk menjadi kuat, sampai ia lupa memberikan ruang bagi Alisa untuk menjadi apa yang ia inginkan.
"Kamu benar-benar yakin dengan ini? Kamu tidak akan menyesal kalau nanti teman-temanmu yang di IPA punya karir yang terlihat lebih jelas?" tanya Cakra sekali lagi.
"Aku yakin, Yah. Aku akan buktikan kalau aku bisa sukses dengan cara ini," jawab Alisa mantap.
Cakra mengambil pulpennya. Dengan gerakan yang lambat dan berat, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kolom orang tua. Suara gesekan pulpen di atas kertas itu terasa seperti kemenangan besar bagi Alisa. Cakra mengembalikan kertas itu, lalu kembali memakai kacamatanya.
"Baiklah. Ayah izinkan. Tapi ada syaratnya," kata Cakra tanpa menoleh lagi. "Kamu harus jadi yang terbaik di bidangmu. Jangan cuma setengah-setengah. Dan kamu tetap harus belajar tentang kepemimpinan dan disiplin. Menulis boleh, tapi mentalmu tetap harus mental ksatria. Jangan jadi penulis yang lembek."
Alisa tersenyum lebar, rasa lega yang luar biasa membanjiri dirinya. "Terima kasih, Yah! Aku janji!"
Ia segera mengambil formulir itu dan memeluknya. Sebelum kembali ke kamar, ia berhenti sejenak dan menatap punggung Ayahnya yang kembali sibuk dengan dokumen-dokumen militer. Alisa menyadari satu hal: meskipun mereka sering berbeda pendapat, meskipun cara Cakra menyayanginya terkadang terasa kaku dan menuntut, Ayahnya adalah orang pertama yang memberikan tantangan agar ia menjadi lebih baik.
Malam itu, di dalam buku harian birunya, Alisa menulis satu catatan singkat namun bermakna.
Ayah sudah menandatangani tiket masa depanku. Dia mungkin belum mengerti sepenuhnya mengapa kata-kata begitu penting bagiku, tapi dia memberiku kepercayaan. Sekarang, bebanku bertambah satu: aku tidak boleh gagal. Aku akan menjadi ksatria, bukan dengan senjata, tapi dengan pena yang dia izinkan untuk kugenggam.
Pilihan jurusan itu bukan sekadar pindah kelas, bagi Alisa itu adalah pernyataan kemerdekaan pertamanya. Ia mulai membayangkan masa SMA-nya, sebuah awal yang baru di mana ia bisa fokus pada apa yang ia cintai. Meskipun bayang-bayang kesepian dan tugas-tugas Ayahnya masih akan menghantui, setidaknya ia punya satu tujuan yang jelas untuk dikejar. Dan di dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini, memiliki tujuan adalah sebuah kemewahan yang sangat ia syukuri.