Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Bapak VS Pak Wiryo
Balai desa sore itu penuh sesak. Kursi-kursi kayu ditarik mendekat, sebagian warga berdiri di belakang karena tak kebagian tempat. Suara-suara kecil berbisik memenuhi ruangan, sehingga seperti lebah yang sedang gelisah.
Bapak duduk di depan bersama beberapa perangkat desa. Wajahnya tegang, tapi matanya mantap. Ia tahu apa yang akan ia sampaikan tidak akan mudah diterima.
Pak Lurah membuka rapat dengan suara berat. "Warga sekalian… kita semua tahu panen tahun ini bermasalah. Banyak ladang yang gagal. Kita kumpul untuk cari jalan keluar."
Bisik-bisik langsung pecah. Ada yang mengeluh, ada yang menggerutu, ada yang hanya menunduk pasrah.
Bapak mengangkat tangan, meminta bicara. "Boleh saya duluan, Pak Lurah?"
Pak Lurah mengangguk. "Silakan, Pak Seno."
Bapak berdiri. Suasana langsung mereda. Semua tahu bapak bukan tipe orang yang bicara sembarangan.
"Saya sudah ke bukit pagi tadi," katanya, suaranya tegas tapi terdengar berat. "Saya lihat sendiri buah-buah yang kosong. Tanah yang retak. Akar-akar yang menghitam."
Beberapa warga langsung saling pandang. Ada yang mengangguk, ada yang tampak tidak percaya.
"Dari yang saya lihat," lanjut bapak, "Rerindang… sudah terlalu tua."
Ruangan langsung riuh.
"Apa maksudnya, Pak Seno?!"
"Rerindang itu keramat!"
"Jangan asal ngomong begitu!"
"Wong panen gagal, kok pohon yang disalahi!"
Pak Lurah mengetuk meja. "Tenang dulu! Tenang!"
Bapak tetap berdiri, tidak mundur. "Saya tahu ini berat. Tapi akar Rerindang sudah merusak tanah di sekitarnya. Dia menyerap terlalu banyak. Ladang-ladang kita jadi korban."
Seorang sesepuh, Pak Wiryo, berdiri dengan wajah merah. "Rerindang itu penjaga desa! Dari dulu dia yang melindungi kita. Kamu mau bilang penjaga itu sekarang jadi perusak?"
Bapak menatapnya dengan hormat. "Saya tidak bilang dia jahat, Pak Wiryo. Saya bilang… dia sudah tua. Pohon sebesar itu, kalau melemah, dia akan mengambil lebih banyak dari yang seharusnya."
"Omong kosong!" seru seorang warga muda. "Kalau ditebang, desa ini bisa kena bala!"
"Kalau tidak ditebang," balas bapak cepat, "desa ini bisa mati pelan-pelan!"
Suasana langsung membara.
Beberapa warga mulai berdiri, saling berteriak.
"Jangan sentuh Rerindang!"
"Kalau panen gagal terus, kita makan apa?!"
"Tradisi itu penting!"
"Keselamatan lebih penting!"
Aku melihat dari belakang ruangan, jantungku berdegup kencang. Raka berdiri di sampingku, wajahnya tegang.
Pak Lurah akhirnya berdiri, suaranya meninggi.
"Cukup! Semua duduk!" Perlahan, suara mereda.
Pak Lurah menatap bapak lama. "Jadi… usulanmu apa, Seno?"
Bapak menarik napas panjang. "Kita harus pertimbangkan menebang Rerindang."
Ruangan langsung membeku. Tidak ada yang bicara. Bahkan angin pun seolah berhenti.
Pak Wiryo menatap bapak dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sadar apa yang kamu katakan? Pohon itu… saksi hidup desa ini."
Bapak mengangguk pelan. "Saya sadar. Tapi kalau saksi itu mulai menyakiti yang dijaganya… apa kita harus diam?"
Keheningan panjang menyelimuti ruangan.
Akhirnya, Pak Lurah berkata lirih, "Kita tidak bisa putuskan hari ini. Ini menyangkut tradisi, kepercayaan, dan masa depan desa. Kita butuh waktu. Kita butuh bukti lebih." Bapak duduk kembali, wajahnya letih.
Aku tahu ia benar. Rapat itu tidak menghasilkan keputusan, hanya membuka luka yang selama ini tidak ingin dilihat.
Di luar balai desa, matahari mulai tenggelam di balik bukit Rerindang. Cahayanya merah, seperti pertanda bahwa sesuatu yang besar sedang menunggu untuk terjadi.
Senja baru saja turun ketika suara langkah berat terdengar dari arah jalan. Aku yang duduk di teras sebab pulang meninggalkan bapak lebih dulu, langsung menoleh. Cahaya jingga memanjang di tanah, dan di ujungnya… bapak muncul.
Ia berjalan pelan, jauh lebih pelan dari biasanya. Bahunya merosot, wajahnya gelap bukan karena bayangan sore, tapi karena sesuatu yang ia bawa pulang dari rapat desa.
Ibu yang sedang menjemur tampah berisi daun pisang langsung berhenti. "Pak… gimana rapatnya?"
Bapak tidak menjawab. Ia melepas sandal, masuk ke teras, dan duduk di kursi kayu yang sudah mulai aus. Tangannya menutupi wajah sebentar, lalu turun perlahan.
Aku belum pernah melihat bapak setua itu. Raka yang masih bersamaku ikut berdiri, ragu apakah harus mendekat atau tidak.
Ibu duduk di samping bapak. "Pak… ada apa?"
Bapak menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti beban seharian penuh. "Rapatnya… panas. Banyak yang nggak terima kalau Rerindang disalahkan."
Ibu menelan ludah. "Terus… bapak bilang apa?"
Bapak menatapku, matanya merah. "Bapak bilang apa adanya. Kalau Rerindang terus begini, tanah kita habis. Panen habis. Desa habis."
Ia tertawa kecil, tapi tawa yang pahit. "Tapi mereka lebih takut kehilangan pohon daripada kehilangan masa depan."
Ibu menunduk, memegang tangan bapak. "Pak… mereka cuma kaget."
"Kaget?" Bapak menggeleng pelan. "Mereka marah. Ada yang bilang bapak kurang ajar. Ada yang bilang bapak nggak hormat sama leluhur. Ada yang bilang… kalau Rerindang ditebang, desa bakal kena kutuk."
Raka maju selangkah. "Pak… tapi bapak benar. Kita lihat sendiri tadi pagi."
Bapak menatap Raka, lalu aku. Ada sedikit lega di matanya, karena setidaknya ada yang percaya padanya.
"Tapi kebenaran kadang selalu kalah sama ketakutan, nak Raka." gumam bapak.
Angin malam mulai turun, membawa hawa dingin dari bukit. Suara serangga mulai terdengar, mengisi keheningan yang menggantung.
Aku duduk di samping bapak. "Terus… sekarang gimana, Pak?"
Bapak menatap bukit yang mulai gelap. Siluet Rerindang tampak seperti bayangan raksasa yang mengawasi desa.
"Lurah bilang… kita harus cari bukti lebih kuat. Kalau tidak… usulan penebangan nggak akan pernah disetujui."
Ia menunduk, suaranya melemah. "Dan kalau kita nggak cepat… panen tahun depan bisa lebih parah."
Ibu menggenggam tangan bapak lebih erat. "Pak… jangan dipikir sendiri." Bapak mengangguk, tapi aku tahu ia tetap memikirkan semuanya sendiri.
Ia berdiri perlahan, tubuhnya tampak lebih berat dari biasanya. "Kalau benar… kalau semua ladang kena… kita nggak punya pilihan."
Aku menatapnya, jantungku berdegup kencang. "Pak… maksudnya… Rerindang pasti harus ditebang?"
Bapak tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap bukit yang gelap, lalu berkata pelan hampir seperti bisikan.
"Kalau ingin desa ini tetap hidup… mungkin iya."
Angin malam berhembus, membuat daun-daun bambu bergesekan seperti bisikan yang tidak ingin kami dengar.
Dan untuk pertama kalinya… aku merasa desa kami sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa dihindari.