Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dadakan
Pernahkah kalian terbayang-bayang akan sesuatu dan sama sekali tak bisa melupakannya? Jika pernah, itulah yang kini sedang Dirga rasakan.
Rasa makanan Hita seakan terbayang-bayang di lidahnya, seakan menempel dan tak mau menghilang. Dirga tak mengerti apa yang terjadi padanya, begitu sulit ia merasa mengenali dirinya sendiri.
Masakan Hita itu seakan-akan tak memberinya ruang untuk mengingat rasa lain yang pernah menyentuh lidahnya, bahkan makanan-makanan mewah yang konon kaya rasa.
Bahkan karena terlalu banyak berpikir, tangan Dirga sedikit tak beraturan saat memasang dasi di kerah kemejanya.
"Kak Dirga kenapa?"
Pertanyaan tiba-tiba Hita membuat Dirga mengerjap. Ditolehkan kepala itu ke samping, langsung pada istrinya yang memandanginya dengan heran.
Mata bulat indah itu mengerjap, begitupun dengan bagaimana menggemaskannya kepala Hita sedikit teleng ke samping saat mengamati dasinya yang berbelit-belit.
"Apa?"
Dirga mengikuti arah pandang Hita pada dasinya. laki-laki itu menghela napas samar, memejamkan mata sejenak dan mengutuk diri karena terlihat begitu bodoh sekarang.
"Aku baik-baik saja," katanya ketus. "Hanya sedikit tidak fokus."
"Tidak fokus?" Hita bergumam, sedikit heran terlihat karena bisanya Dirga selalu fokus dengan apapun yang laki-laki itu lakukan.
Tapi karena tak ingin banyak bicara dan membuat Dirga menyemburnya dengan kata-kata pedas, Hita hanya manggut-manggut saja.
Dirga mencoba kembali fokus, memasang ulang dasinya walaupun ia merasa debaran aneh di dadanya saat Hita memperhatikan. Dirga menganggap bahwa itu mungkin hanya rasa jengkel saja, biasanya memang begitu dia setiap di dekat Hita, kan?
Tanpa menoleh Dirga mengambil jas yang tersampir di lengan Hita, mempertahankan kedok dinginnya yang biasa. Hita yang melihat itu hanya bisa menghela napas tentunya.
"Kakak kemarin belum makan, ya?" tanya perempuan itu tiba-tiba. "Aku baru saja membawa nampan makanan kembali ke dapur, dan makananya tidak disentuh sedikitpun. Apa kakak ingin aku bawakan makanan lagi?" tawar Hita, langsung pula dijawab oleh gelengan kepala Dirga.
"Tidak perlu, aku akan bergabung di meja makan pagi ini."
Untuk itu Hita mengangguk lagi.
Sepertinya Dirga yang dingin itu telah kembali. Sudah Hita duga bahwa kata-katanya kemarin hanya mempengaruhi Dirga hanya beberapa detik. Mungkin saja suaminya itu melunak karena iba dengan kata-kata Hita yang pasrah akan nasib, tapi sepertinya itu tak akan selamanya membuat Dirga mengerti kondisinya.
Di saat pikiran itu memenuhi, tiba-tiba ketukan pintu terdengar yang serempak membuat Hita dan Dirga menoleh. Keduanya bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya Hita melangkah mendekat ke arah pintu.
"Kak Bram?" Hita tersenyum begitu melihat wajah menawan Bram di balik pintu.
"Selamat pagi," sapa putra sulung Martadinata itu. "Aku harap tidak menganggu pagi-pagi seperti ini."
Dirga yang masih berada di dalam kamar dan merapikan jas hitamnya itu seketika menajamkan telinga, ujung mata laki-laki itu berkilat saat menoleh ke arah istri dan kakaknya yang tengah berinteraksi.
Kalo bisa mengakuinya, Dirga merasa bahwa Bram akhir-akhir ini sedikit... menyebalkan?
"Tentu saja tidak—"
"Datang ke kamar orang lain pagi-pagi seperti ini memang biasanya akan menganggu, Bram."
Ucapan Hita terpotong oleh ucapan Dirga yang dingin, datar, tanpa nada. Terdengar netral, tapi entah mengapa juga tajam sekali.
Tak butuh waktu lama untuk Dirga berhenti di sisi Hita, menjulang di belakang istrinya yang tampak lebih pendek.
"Hal apa yang membuatmu kemari pagi-pagi begini?" tanya Dirga, dagunya terangkat begitu bicara. Percaya diri—benar-benar Dirga Re Martadinata.
"Hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting."
Bram tak kalah mempesona dengan senyum lembut itu saat menjawab pertanyaan Dirga. Matanya tak lepas dari adiknya itu.
"Aku butuh seseorang untuk menemaniku ke rumah nenek hari ini, Lian dan Raha tidak bisa menemaniku," jelas Bram, beralih pada Hita. "Jadi aku rasa sepertinya mengajak Hita ke sana kedengarannya bagus? Setidaknya nenek bisa mengenal... menantunya lebih baik?"
"Dan istriku akan pergi berdua saja denganmu, begitu?"
Hita sedikit terkejut begitu mendengar nada Dirga yang sedikit meninggi entah laki-laki itu menyadarinya atau tidak.
"Kau memang selalu ditugaskan untuk menemui nenek, dan alangkah lebih baik jika kau mengajak seseorang yang memang sudah nenek kenal dengan baik, seperti Lian dan Raha. Tapi jika memang mereka tidak bisa menemani hari ini, aku sarankan ajak temanmu yang lain saja. Sekretarismu juga bisa, aku rasa?"
Itu adalah penolakan secara tak langsung.
"Lagipula akan terlihat aneh jika kau mengajak Hita ke sana tanpa aku." Tangan Dirga bergerak melingkari pinggang Hita, peringatan posesif untuk kakaknya. "Dia istriku, kan?"
Entah mengapa Hita bisa merasakan udara menegang diantara kedua kakak beradik itu. Rasanya tidak nyaman sekali, dan Hita tak bisa berkutik sekarang.
Sentuhan Dirga juga tak biasa, Hita tau itu.
Bram di sisi lain masih mempertahankan senyumnya, meskipun dahinya yang berkerut tak bisa berbohong. Dia merasa bahwa sikap adiknya itu aneh sekali.
"Aku adalah kakak iparnya, meskipun sementara." Tampak sengaja Bram menekankan kata 'sementara' agar Dirga juga mengingat bahwa Hita hanya istri sementaranya juga. "Jadi kenapa kau tampak tidak nyaman seperti itu?"
Agaknya ucapan Bram itu sedikit menyadarkan Dirga sekarang. Perlahan-lahan tangannya terjatuh dari pinggang Hita, namun sepenuhnya ia berusaha mengendalikan diri.
"Siapa yang mengatakan bahwa aku tidak nyaman?" Dirga menatap kakak ya itu cukup tajam. "Aku hanya memberikan saranku. Akan terlihat tidak pantas jika kau ke sana hanya berdua dengan Hita. Lagipula aku sudah lebih dulu akan mengajaknya ke kantor."
Hita mengerjap di tempat, otaknya seakan-akan berputar dan mengingat-ingat pada detik berapa Dirga mengajaknya ikut ke kantor. Apa-apaan juga ini?
"Benarkah?" Bram menatap Hita, seakan meminta konfirmasi diam-diam.
Hita yang tidak tau apa-apa itu lantas harus apa? Dia sama sekali tak diberitahu oleh Dirga akan diajak ke kantor. Apakah laki-laki itu berbohong?
Hita juga ingat peringatan Dirga saat itu, saat Dirga menyuruhnya menjaga jarak dengan Bram. Apakah alasannya itu?
Remasan di punggung bawah Hita langsung menyadarkan perempuan itu. Itu adalah peringatan diam-diam Dirga, menyuruhnya untuk menurut kali ini.
Hita langsung mengangguk ke arah Bram. "Ya, aku memang... akan menemani kak Dirga ke kantor hari ini," jawabnya, memasang tampang tak enak hati. "Maaf ya kak."
Puas sekali Dirga saat mendengarkan.
"Tidak apa-apa." Bram tersenyum, begitu tulus terlihat. "Mungkin lain kali kita bisa kesana bersama-sama," ujarnya. "Bertiga, tentu saja."
Bram sempat menoleh ke arah Dirga kala menekankan katanya. Penuh isyarat yang hanya mereka berdua yang agaknya mengerti. Hita bahkan menatap keduanya bergantian dengan tampang bodoh.
"Kalau begitu lanjutkan kegiatan kalian, maaf karena menganggu."
Dengan itu Bram melenggang pergi, meninggalkan Hita dan Dirga yang masih berdiri di ambang pintu.
Hita menatap kepergian Bram, dan hal yang pertama ingin ia tanyakan pada Dirga sekarang adalah soal janji ke kantor itu. Itulah mengapa ia berbalik dan...
Pukh...
Begitu terkejut Hita saat ia menabrak Dirga yang sejak tadi ternyata berdiri sangat dekat di belakangnya, membuat dahinya menabrak dada keras di balik setelan mewah laki-laki itu.
"Ceroboh."
Satu sudut bibir laki-laki itu melengkung, menampakkan seringai geli akan kekonyolan istrinya itu. Hal yang tak bisa ia tahan.
"Tidak usah bertanya apakah aku benar-benar akan mengajakmu ke kantor atau tidak hari ini." Tangan Dirga bergerak ke ke kening Hita, perlahan-lahan memundurkan wajah perempuan itu dari dadanya.
"Kau memang akan menemaniku hari ini."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga