Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aisya melangkah masuk ke rumah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia bersyukur telah berhasil mengobati Kaisar, tetapi di sisi lain, ia cemas memikirkan amukan Ibu Marni karena ia pulang terlambat tanpa membawa lauk yang layak.
Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, Aisya langsung disambut oleh aura dingin yang mencekam. Ibu Marni sudah berdiri di ruang tengah, bersedekap dengan wajah yang merah padam, sorot matanya lebih tajam dari pisau.
“Dari mana saja kamu?!” Suara Ibu Marni melengking, penuh amarah.
Aisya menunduk, tubuhnya gemetar. Ia mencoba menjelaskan.
“Maaf, Bu. Tadi di pasar ada kejadian, aku—”
PLAK!
Bukan kata-kata yang Aisya terima, melainkan tamparan keras yang mendarat di pipi kirinya. Kepala Aisya tertoleh ke samping, rasa panas menjalar.
“Berani bohong, ya?! Aku tahu semuanya! Jangan kira aku buta dan tuli!” teriak Ibu Marni, napasnya memburu.
memegang pipinya yang nyeri, tidak mengerti. “Bohong apa, Bu? Aku tidak bohong.”
“Tidak bohong katamu?! Tadi ada tetangga lihat kamu! Kamu ke pasar bukan untuk beli sayur, tapi untuk berduaan di mushola sama preman!” Tuduhan itu dilontarkan Marni dengan nada mencemooh yang menjijikkan.
Jantung Aisya serasa berhenti berdetak. Ia panik. Ia tahu penolongnya memang berpenampilan seperti preman, tetapi ia hanya mengobatinya.
“Astagfirullah, Bu! Itu tidak benar! Aku tidak berduaan. Aku cuma nolongin dia. Dia kena tusuk saat membantuku dari penodong!” jelas Aisya, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar.
Ibu Marni tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat jahat.
“Nolongin? Alasan basi! Kenapa harus berdua di musala?! Kenapa tidak panggil orang lain?! Cari kesempatan, hah?! Sudah mandul, nggak bisa kasih keturunan, sekarang malah tikang selingkuh! Sudah jatuh tertimpa tangga, dasar perempuan sial!”
Kata-kata kasar itu menghujam Aisya tanpa ampun. Ia merasa dituduh dengan keji, semua kebaikannya dianggap sebagai noda. Air matanya kembali tumpah.
“Bu, demi Allah, aku tidak selingkuh! Aku cuma mengobati lukanya. Itu uang belanja aku habis semua buat beli obat!” Aisya menunjukkan tas belanjanya yang kosong.
Alih-alih mereda, amarah Ibu Marni justru semakin membuncah. Ibu itu melangkah maju, tangannya dengan kasar meraih kerudung Aisya.
SRRRT!
Ibu Marni menjambak hijab Aisya dengan kekuatan penuh. Cengkeramannya kuat dan menyakitkan. Kerudung Aisya terlepas, rambutnya yang tertutup terpaksa terbuka, tertarik hingga kulit kepalanya terasa perih luar biasa.
“Berani-beraninya kamu menyebut nama Allah di hadapanku, dasar ja-lang!” Marni mengguncang kepala Aisya dengan kasar. “Kamu pikir aku bodoh?! Kamu ke pasar itu pasti sudah janjian! Mencari laki-laki lain karena suamimu nggak bisa ngasih kamu uang lebih kan?!”
Aisya memejamkan mata, isaknya tertahan di tenggorokan. Jambakan itu menyakitkan, tetapi tuduhan Marni jauh lebih menyakitkan dari rasa fisik apa pun. Ia merasa seluruh kehormatannya diinjak-injak.
“Lepaskan, Bu! Sakit!” rintih Aisya.
“Lepaskan?! Enak saja! Rasakan! Rasakan kalau kamu itu istri nggak tahu diri! Sudah tidak punya malu! Hendra capek-capek kerja, kamu malah kelayapan sama preman! Anak mana? Cucu mana?! Hanya dosa yang kamu bawa ke rumah ini!”
Marni terus menjambak dan mengguncang Aisya, melampiaskan semua kekesalan dan frustrasinya.
Tepat saat Marni sedang kalap, Hendra muncul dari kamar, terkejut melihat ibunya menjambak Aisya sekuat tenaga.
“Ibu! Astaga! Lepaskan Aisya, Bu!” Hendra bergegas mendekat, berusaha melerai.
“Jangan sentuh ibu, Hendra! Perempuan ini harus diberi pelajaran! Dia sudah menodai rumah ini!” Marni menolak melepaskan.
Hendra dengan paksa melepaskan tangan ibunya dari rambut Aisya. Aisya langsung merosot ke lantai, memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Air mata dan isakannya tak terkontrol.
“Ada apa ini, Bu?! Kenapa Ibu menjambak istriku begini?!” Hendra menatap ibunya dengan marah, lalu menoleh ke Aisya yang menangis tersedu-sedu.
Marni menunjuk Aisya dengan jari gemetar. “Tanya istrimu! Dia berduaan di musala sama preman pasar! Dia selingkuh karena sudah dua tahun tidak bisa kasih kamu keturunan! Sebaiknya kamu ceraikan saja dia, Hendra! Ceraikan perempuan pembawa sial ini!”
Hendra terdiam. Matanya menatap Aisya, lalu menatap ibunya. Ia tahu ibunya keterlaluan, tetapi tuduhan selingkuh membuat keraguan menyelimuti benaknya.
Aisya menatap suaminya dengan tatapan memohon.
“Mas… Mas harus percaya sama aku. Aku nggak selingkuh. Mas Kaisar itu nolongin aku. Aku cuma obatin lukanya…”
Mendengar nama Kaisar disebut, Marni semakin histeris.
“Mas?! Panggil Mas?! Nah, kan! Jelas dia selingkuh! Ceraikan dia, Hendra! Sekarang juga!”
Aisya merasakan dunia runtuh di sekelilingnya. Ia memeluk lututnya, kepalanya terasa sakit, hatinya terasa hancur. Bukan lagi tamparan atau jambakan yang ia rasakan, tetapi pengkhianatan dari tatapan Hendra yang kini diselimuti keraguan.
Aisya tahu, saat itu juga, pernikahannya berada di ambang kehancuran.
“Ibu bisa tinggalkan aku berdua dengan istriku?” ucap Hendra.
“Ibu nggak mau kamu ngasih dia kesempatan ya, Ndra! Awas kamu!” Marni berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat