NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Latihan Pertama

Pagi itu, udara di desa Han masih terasa lembut, dibalut kabut tipis yang perlahan terangkat dari sawah-sawah yang membentang luas. Embun menggantung di ujung dedaunan, memantulkan cahaya mentari yang baru saja muncul dari balik pegunungan timur. Suara ayam jantan bersahutan, diiringi ringkikan kuda pedati dan riuh rendah anak-anak yang sudah mulai berlarian di jalan tanah.

Namun di sudut desa, di halaman rumah bambu yang sederhana, sebuah babak baru tengah dimulai.

Tetua Qingyun berdiri tegak, wajah tuanya menatap penuh harap pada bocah kecil yang kini duduk bersila di depannya. Lin Feng, dengan tubuh mungil dan pakaian lusuh yang sedikit kebesaran, menatapnya balik dengan mata bulat yang berkilau.

Hari ini, untuk pertama kalinya, Lin Feng akan memulai langkah di jalan yang akan menuntun takdirnya.

“Lin Feng,” suara Tetua Qingyun tenang tapi mengandung wibawa, “jalan seorang kultivator bukanlah jalan yang indah. Ia dipenuhi darah, pengkhianatan, dan kesepian. Tapi jika kau ingin bertahan hidup, dan suatu hari menemukan siapa dirimu sebenarnya… maka jalan ini harus kau tapaki mulai sekarang.”

Anak itu menatap kosong sejenak, mencoba memahami kata-kata yang terasa terlalu berat untuk usianya. Namun, ia segera mengangguk, bibirnya menutup rapat seolah takut kata-kata yang salah keluar.

Qingyun sedikit terdiam, lalu melanjutkan, “Latihan pertamamu bukan tentang jurus pedang atau kekuatan otot. Latihan pertama adalah mengenali tubuhmu sendiri, mengatur napasmu, dan merasakan dunia di sekitarmu. Ingatlah, dunia ini penuh dengan energi. Orang biasa tidak mampu menyadarinya, tapi seorang kultivator hidup dari energi itu.”

Ia lalu menepuk dada Lin Feng perlahan.

“Di dalam tubuhmu ada inti kecil yang masih tidur. Energi dunia bisa masuk melalui napasmu, lalu mengalir di dalam dirimu. Itu adalah dasar dari semua kekuatan.”

Lin Feng hanya mengangguk lagi. Meski masih kecil, ia selalu mendengarkan Qingyun dengan sungguh-sungguh.

“Sekarang, duduklah dengan tenang. Tutup matamu. Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Bayangkan udara yang kau hirup adalah cahaya hangat. Dan saat kau menghembuskannya, bayangkan semua kelemahan dalam dirimu keluar bersamanya.”

Lin Feng menurut. Ia memejamkan mata, lalu mencoba menarik napas panjang. Tapi napasnya tersengal, dadanya bergerak terlalu cepat. Ia membuka mata lagi, memandang Qingyun dengan bingung.

Qingyun tersenyum samar. “Pelan… jangan terburu-buru. Dengarkan suara jantungmu. Rasakan aliran udara di sekitarmu. Biarkan tubuhmu menyatu dengan dunia, bukan melawannya.”

Anak kecil itu kembali mencoba. Nafasnya masih tidak beraturan, beberapa kali ia batuk kecil. Namun setiap kali gagal, ia kembali mencoba. Wajahnya memerah karena berusaha terlalu keras, tapi tatapannya tidak goyah.

Qingyun mengamati dengan seksama. Dalam hatinya, ia teringat pada murid terakhirnya dulu—ibu Lin Feng—yang memiliki tekad serupa ketika pertama kali belajar.

Waktu berjalan. Matahari perlahan naik semakin tinggi, kabut di sawah mulai menghilang. Anak-anak desa yang bermain tak jauh dari sana terkadang melongok ke arah halaman, bertanya-tanya mengapa Lin Feng duduk diam begitu lama.

“Dia sedang apa?” bisik salah satu anak.

“Mungkin dihukum Tetua,” jawab yang lain sambil tertawa kecil.

Namun tawa itu mereda ketika mereka melihat Lin Feng tetap bersila dengan tenang, seolah tidak mendengar ejekan mereka. Bahkan ada sesuatu yang aneh dari wajahnya—meski masih bocah, raut wajah itu tampak begitu serius.

Beberapa penduduk dewasa yang melintas juga memperhatikan, ada yang tersenyum, ada pula yang menggeleng. “Anak sekecil itu sudah diajarkan hal seperti ini? Kasihan…” begitu kata mereka. Tapi di mata Tetua Qingyun, semua itu hanyalah bisikan angin.

Yang penting adalah tekad bocah kecil di hadapannya.

Setelah hampir satu jam, napas Lin Feng mulai berubah. Awalnya tersengal, kini perlahan menjadi lebih teratur. Bahunya turun naik dengan ritme yang stabil, dan wajahnya tampak damai.

Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu. Seolah ada kehangatan halus yang masuk bersamaan dengan napasnya, menyebar ke dalam tubuh mungilnya. Sensasi itu lembut, membuat jari-jarinya sedikit bergetar. Ia tidak tahu itu apa, tapi perasaan itu menenangkan, seolah tubuhnya lebih ringan.

Ia membuka matanya perlahan. Di bola mata kecilnya, ada kilatan samar yang sulit dijelaskan.

Tetua Qingyun menghela napas panjang. Dalam hatinya ia berkata, Luar biasa… anak ini baru beberapa kali mencoba, tapi sudah bisa merasakan sedikit aliran energi. Itu bukti darahnya memang berbeda.

Hari-hari berikutnya, latihan itu menjadi rutinitas. Setiap pagi, Lin Feng duduk di halaman, menutup mata, mengatur napasnya. Kadang ia jatuh tertidur, kadang ia kehilangan konsentrasi, namun ia selalu kembali mencoba.

Selain meditasi, Qingyun juga mengajarkan dasar-dasar gerakan tubuh. Ia tidak langsung mengajarkan jurus, melainkan cara berdiri dengan benar, cara melangkah, cara menyeimbangkan tubuh, hingga cara mengepalkan tangan.

“Tubuhmu adalah pondasi,” ucapnya setiap kali Lin Feng jatuh. “Jika pondasi rapuh, maka semua yang kau bangun di atasnya akan runtuh.”

Lin Feng jatuh berkali-kali. Lututnya berdarah, tangannya lecet, pakaiannya kotor penuh debu. Anak-anak desa sering menertawainya.

“Mengapa kau terus berlatih? Bukankah sakit?” tanya salah satu dari mereka.

Lin Feng hanya tersenyum kecil, lalu menjawab lirih, “Aku ingin menjadi kuat.”

Jawaban itu membuat mereka terdiam, meski kemudian tetap berlarian lagi.

Tetua Qingyun, yang mendengarnya dari kejauhan, merasakan dadanya bergetar. Kata-kata itu sederhana, tapi mengandung tekad yang jarang dimiliki oleh bocah seumurannya.

Beberapa minggu kemudian, sebuah momen penting terjadi.

Hari itu, setelah selesai latihan, Qingyun menguji Lin Feng dengan dorongan ringan ke dadanya. Bocah itu terhuyung mundur, hampir jatuh, namun berhasil menahan tubuhnya dengan kaki kecil yang gemetar.

“Bagus,” kata Qingyun. “Meski tubuhmu lemah, hatimu kokoh. Itu lebih berharga daripada otot yang besar.”

Lin Feng menatapnya lekat-lekat, lalu tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat dunia seolah berhenti sejenak.

“Guru…” suaranya pelan, hampir berbisik.

Tetua Qingyun tertegun. Ia menatap murid kecil itu, wajah tuanya sedikit bergetar. Sudah lama sekali ia tidak mendengar kata itu terucap padanya. Terakhir kali adalah dari muridnya yang kini telah tiada—ibu Lin Feng.

“Guru…” Lin Feng mengulang, kali ini lebih jelas. Tatapannya penuh dengan ketulusan. Bagi anak sekecil itu, kata itu mungkin sederhana, tapi bagi Qingyun, itu adalah pengakuan, sebuah ikatan yang lebih dalam daripada darah.

Tubuh tua itu gemetar halus. Ia memalingkan wajahnya sejenak agar air matanya tidak terlihat, lalu berdehem pelan. “Mulai hari ini… kau adalah muridku. Dan aku… akan menjadi gurumu.”

Lin Feng tersenyum lebar, memperlihatkan gigi mungilnya yang belum lengkap. “Terima kasih, Guru!”

Saat itu, langit desa Han berwarna jingga keemasan, matahari sore memancar indah, seakan turut menjadi saksi lahirnya ikatan baru antara seorang tetua yang hampir dilupakan dunia, dan seorang bocah kecil yang kelak akan mengguncang langit dan bumi.

Malam harinya, Qingyun duduk di depan rumah, menatap murid kecilnya yang tertidur pulas. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Lin Feng… akhirnya aku mendengar kata itu lagi,” bisiknya pelan. “Semoga kali ini, aku bisa menebus semua yang telah hilang. Semoga tatapanmu, semangatmu, tidak padam sebelum kau mencapai puncak.”

Angin malam bertiup lembut, membawa suara jangkrik yang menemani sumpah diam-diam seorang guru kepada muridnya.

Dan sejak malam itu, latihan pertama bukan lagi sekadar mengatur napas atau berdiri dengan benar. Latihan pertama adalah awal dari sebuah ikatan, sebuah janji yang akan menuntun Lin Feng menuju jalan panjang penuh darah dan cahaya.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!