NovelToon NovelToon
Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Agen Wanita / Time Travel
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Amber Mist

Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Kerajaan Bayangan dan Api Amarah

"Lin Meilin... kau benar-benar seekor rubah kecil yang penuh kejutan," bisik Long Feng dengan mata berkilat penuh gairah berburu yang semakin membara. "Kau merampok menteriku di luar istana, lalu kembali ke ranjang Istana Dingin seolah tidak terjadi apa-apa... Aku ingin tahu, kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku besok."

Kabar mengenai hancurnya karavan logistik Menteri Hua menyebar seperti api liar di kalangan petinggi ibukota. Di dalam Istana Kencana milik Selir Agung Hua, atmosfer terasa begitu mencekam hingga tidak ada satu pun pelayan yang berani mendongakkan kepala mereka.

Prang!

Sebuah cangkir keramik giok yang mahal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke pilar istana oleh Selir Hua. Wajah cantiknya yang biasa tampak anggun kini berkerut penuh amarah yang meluap-luap.

"Bagaimana bisa?! Sepuluh prajurit bayaran tingkat tinggi dilumpuhkan oleh satu orang saja?!" teriak Selir Hua, dadanya naik turun menahan murka. "Ayahku kehilangan tiga puluh ribu keping perak dalam semalam! Uang itu seharusnya digunakan untuk mengamankan posisi posisi kita di perbatasan!"

Cui Er, yang berlutut di sudut ruangan bersama para pelayan lainnya, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan senyuman tipis di wajahnya. Ia tahu persis siapa 'orang tunggal' yang telah memporak-porandakan keuangan Menteri Hua. Permaisuri Lin benar-benar iblis yang mengerikan, batin Cui Er dengan rasa takjub sekaligus ngeri.

Selir Hua tiba-tiba menghentikan langkahnya, matanya yang tajam dan penuh kecurigaan mengunci sosok Cui Er. "Cui Er, maju ke depan!"

Jantung Cui Er berdegup kencang, namun ia berhasil mempertahankan ekspresi wajahnya yang ketakutan. Ia merangkak maju beberapa langkah. "H-Hamba di sini, Selir Agung."

"Karavan itu bergerak secara rahasia. Bahkan di istanaku, hanya ada beberapa orang yang tahu jadwal keberangkatannya," Selir Hua menyipitkan mata, berjalan mendekati Cui Er dengan langkah kaki yang lambat dan mengancam. "Bagaimana menurutmu? Apakah ada tikus di dalam istanaku yang membocorkan informasi ini kepada musuh?"

Cui Er segera bersujud dengan khidmat, suaranya gemetar—sebagian kepura-puraan, sebagian lagi karena tekanan nyata dari Selir Hua. "Selir Agung, mohon periksa dengan teliti! Hamba bersumpah demi nyawa hamba, istana kita selalu setia! Bukankah ada kemungkinan mata-mata dari kediaman Pangeran Agung atau Jenderal Lin yang mengintai pergerakan Menteri Hua di luar?"

Mendengar nama Jenderal Lin—ayah dari Permaisuri yang diasingkan—kemarahan Selir Hua sedikit teralih. "Jenderal Lin tua itu sudah pensiun, tapi pengaruhnya di militer memang masih kuat. Apakah dia mencoba membalas dendam karena anaknya kubuang ke Istana Dingin?"

Selir Hua mendengus dingin. "Cui Er, bagaimana kondisi wanita jalang di Istana Dingin itu sekarang?"

"Melapor pada Selir Agung, hamba baru saja memeriksa mata-mata kita di sana pagi ini. Permaisuri Lin sudah sangat lemas, napasnya pendek, dan dia bahkan tidak bisa turun dari ranjang tanpa dibantu pelayannya. Racun Pengikis Jiwa telah merusak fondasi tubuhnya sepenuhnya. Dia tidak akan bisa bertahan melewati bulan ini," bohong Cui Er dengan sangat lancar, persis seperti skenario yang diajarkan oleh Meilin.

Mendengar hal itu, raut wajah Selir Hua akhirnya sedikit melunak. Kebanggaannya kembali pulih. "Bagus. Biarkan wanita jalang itu mati perlahan di tempat kotor itu. Mengenai perampokan perak, suruh ayahku untuk mengerahkan pasukan pemburu bayaran rahasia untuk melacak siapa pun yang menggunakan perak murni bermerek menteri di pasar gelap!"

"Baik, Selir Agung!" Cui Er menghela napas lega dalam hati. Ujian pertama sebagai mata-mata ganda berhasil ia lewati dengan selamat.

--

Sementara itu, di sebuah sudut sibuk di pinggiran ibukota, sebuah bangunan toko tua dua lantai yang baru saja dibeli secara rahasia sedang direnovasi. Menggunakan uang perak hasil rampokan dari karavan Menteri Hua, Lin Meilin tidak membuang waktu untuk mendirikan fondasi kekuasaannya sendiri di luar tembok istana.

Toko itu diberi nama sederhana: Toko Obat Seribu Penawar.

Di lantai dua bangunan tersebut, Meilin duduk di balik meja kayu hitam sambil memeriksa laporan akuntansi yang dibawa oleh seorang pria paruh baya bernama Paman Chen. Paman Chen adalah mantan bawahan setia Jenderal Lin yang dipecat secara tidak adil oleh menteri korup, dan kini direkrut oleh Meilin untuk menjadi tangan kanannya di luar istana.

"Permaisuri—maksud hamba, Bos," Paman Chen membetulkan panggilannya sesuai instruksi Meilin demi menjaga kerahasiaan. "Pembelian bahan herbal langka dari wilayah selatan sudah selesai. Kami juga telah merekrut sepuluh pemuda yatim piatu yang memiliki fisik kuat sesuai kriteria yang Anda minta. Mereka saat ini sedang menunggu instruksi latihan di halaman belakang."

Meilin mengangguk puas. Pakaian pria berwarna abu-abu yang ia kenakan membuat penampilannya tampak seperti seorang sarjana muda yang tampan, elegan, namun misterius.

"Paman Chen, mulailah menjual obat penawar racun dasar dan obat luka luar dengan harga murah kepada rakyat jelata, tetapi jual ramuan kecantikan dan detoksifikasi dengan harga setinggi langit kepada para nyonya bangsawan," perintah Meilin, matanya berkilat penuh strategi bisnis modern. "Gunakan keuntungan itu untuk mendanai pelatihan sepuluh pemuda itu. Aku sendiri yang akan menyusun modul latihan mereka."

Modul yang dimaksud Meilin adalah teknik dasar tactical scouting (pengintaian taktis) dan spionase ala agensi intelijen modern. Mereka akan menjadi mata-mata pertamanya yang tersebar di seluruh kedai teh dan rumah bordil ibukota untuk mengumpulkan informasi.

"Baik, Bos. Hamba akan segera mengaturnya," Paman Chen membungkuk hormat, merasa sangat kagum pada visi jangka panjang yang dimiliki oleh wanita muda di depannya ini.

Setelah Paman Chen keluar, Meilin berdiri dan berjalan menuju balkon lantai dua yang menghadap ke arah jalanan kota yang ramai. Angin musim dingin meniup ujung rambut hitamnya yang diikat tinggi.

Dengan ini, jaring laba-labaku di luar istana sudah terpasang, batin Meilin. Langkah selanjutnya adalah mempererat jebakan romantis untuk Kaisar Long Feng di dalam istana.

Tiba-tiba, Meilin merasakan kehadiran sesosok orang di belakangnya. Aroma tipis cendana yang sangat maskulin merasuk ke indra penciumannya. Insting bertarungnya langsung bangkit, tangan kanannya refleks meraba belati di balik lengan bajunya.

Namun, sebelum ia sempat berbalik atau menyerang, sebuah lengan yang kokoh dan kuat telah melingkar erat di pinggang rampingnya dari belakang, mengunci gerakannya sepenuhnya. Punggung Meilin ditarik rapat hingga menempel pada dada bidang yang keras milik seorang pria.

"Kau berpakaian seperti seorang sarjana tampan, tetapi aromamu tetap manis seperti biasanya, Rubah Kecil," sebuah suara bariton yang berat dan penuh nada menggoda berbisik tepat di samping telinganya.

Mata Meilin menyipit tajam saat menyadari siapa pemilik suara ini. Tamu misterius malam itu... sang Kaisar sendiri, Long Feng.

1
sasa adzka
cerita makin keren ey 😍😍
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
Amber Mist: 😍 baik lah terima kasih
total 1 replies
Lina Hibanika
jangan kasih ampun pelayan calutak seperti itu mah
Amber Mist: uda baca ampe bab brp kakak?
total 1 replies
sasa adzka
wahhh sebentar lagi bucin neh si kaisar long sama meilin🤭🤭🤭
Amber Mist: Siap2, ya Yang Mulia. Lebih suka upload jam brp kak?
total 1 replies
Lina Hibanika
hadiah perkenalan,, segelas kopi buat author ☕
Amber Mist: 😍 terima kasih Yang Mulia
total 1 replies
sasa adzka
I like it permaisuri meilin😍😍😍 aku suka karakter nya... pertahan kan kak.. pokok nya harus kuat mah MC cewek nya😍😍😍😍
semangat ya
Amber Mist: wahhh, makasi Yang Mulia, dukung aku terusnya "follow" dan jangan lupa "bintang5nya"
total 1 replies
sasa adzka
hallo baru mampir kak othor...
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Amber Mist
Yang Mulia Datu Zahra, bagian mana ya yg fisiknya brubah? coba dibaca ulang, karena Meilin ahli racun kak, itu bukan fisik yg brubah tapi jiwanya uda ganti kak
Datu Zahra
Dibab sebelumnya disebutin udah lewat seminggu, tambah dua hari seudha kaisar pergi sampe fisik berubah, ya kali nyebut racun semalam. ngaco
Amber Mist: Yang Mulia, sepertinya harus baca ulang ya
total 1 replies
Amber Mist
Halo Yang Mulia Ratu pembaca setia Permaisuri Lin, Salam Kenal.

Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?

Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.

Hamba butuh dukungan kalian
Alia Chans
suka.... like + bunga😉
semangat thor nulisnya nya🤭




kalo berkenan mampir thor😉
Amber Mist: 😍👍 siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!