Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
...~ Lamaran ~...
Arka baru saja melangkah memasuki pekarangan rumah Naira bersama rombongannya. Pria itu berjalan beriringan dengan keluarganya—Juru bicara, Seno, kakak perempuan beserta iparnya, serta keponakannya yang masih kecil-kecil.
Langkah kakinya mendadak berjalan lebih lambat untuk sesaat. Ada debaran halus yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Rasa dingin di dadanya kian merayap, ditambah rasa mual yang mulai membuncah akibat rasa grogi yang luar biasa.
Demi Tuhan, Arka jauh lebih senang jika disuruh berurusan dengan taktis dan strategi lapangan militer, daripada harus menghadapi sesuatu yang terus-menerus membuat perutnya mulas tak nyaman semenjak tadi. Rasa mulas yang melilit di perutnya bahkan kian terasa semenjak sore tadi.
Kotak beludru berisi cincin masih berada di kantong celananya beberapa saat lalu, sebelum akhirnya diambil alih oleh kakak perempuannya secara paksa.
"Biar Kakak yang bawa. Kamu minum dulu sana," ucap kakaknya sesaat sebelum mereka turun dari mobil tadi.
Namun tetap saja, sampai detik ini tangan Arka masih terasa sedingin es. Tangannya terkepal kaku di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Sebagai seorang perwira, bahu tegapnya secara otomatis tetap berada di posisi tegap terbaik, menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia mengulum bibirnya sesaat, merasakan permukaannya yang mendadak terasa sangat kering.
Malam ini, rumah Naira terlihat jauh lebih terang daripada biasanya. Pintu utama kediaman gadis itu telah terbuka lebar. Dari jarak beberapa meter, samar-samar Arka sudah bisa menangkap suara celetukan khas Ayah Naira yang sedang mengobrol dengan beberapa saudara di teras rumah. Cahaya lampu teras yang menyala kekuningan tampak kontras dengan pantulan lampu putih dari ruang tengah.
"Calon mantuku sudah datang!"
Samar-samar Arka menangkap celetukan riang dari Ayah Naira yang buru-buru berdiri dari kursinya begitu menyadari kehadiran rombongan Arka di halaman.
Rombongan Arka berjalan mendekat, disambut oleh Pak Doyok—ayah Naira—yang melebarkan senyum hangatnya. Pria paruh baya itu menyambut uluran tangan sanak keluarga Arka satu per satu, dan terakhir, uluran tangan pria itu sendiri.
Tangan Pak Doyok menepuk pelan jabat tangan mereka yang bertautan. Senyumnya melebar diikuti tawa ringan sembari melirik ke arah rombongan Arka.
"Tenang, Ka. Jangan grogi. Kayak mau kusuruh maju perang saja," celetuk Pak Doyok pelan, sukses mencairkan suasana beku di antara mereka.
Rombongan pun dipersilakan masuk ke dalam rumah. Mereka duduk bersila di atas tikar anyaman yang telah digelar rapi. Seluruh tamu yang berasal dari sanak keluarga terdekat kedua belah pihak mulai berkumpul memenuhi ruangan.
Juru bicara yang dibawa oleh keluarga Arka adalah ketua RT dari kampung ini, sedangkan dari pihak Naira diwakili oleh pamannya sendiri. Obrolan formal saling bersahutan. Kalimat pembuka dan penerimaan lamaran saling disampaikan dengan khidmat, sampai akhirnya tiba pada momen yang paling dinanti. Momen di mana Arka harus menunggu calon istrinya keluar dari balik tirai pembatas kamar.
Ketika tirai tersibak dan Naira melangkah keluar dengan kepala yang menunduk dalam, Arka hampir merasa jantungnya ingin lepas dari rongga dada.
Gadis itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Riasan wajah malam ini mempertegas seluruh kecantikan alami yang dimiliki Naira selama ini. Bedak terbalut tipis serta polesan gincu merah yang tak pernah Arka lihat di bibir Naira kini terpampang nyata di depan matanya. Belum lagi kebaya merah maroon yang melingkupi tubuh rampingnya dengan pas, mempertontonkan dengan jelas betapa ranumnya gadis itu malam ini.
Untuk sesaat, jakun Arka bergerak naik-turn perlahan. Napasnya tertahan sekian detik. Matanya terkunci terlalu lama pada sosok Naira yang menjelma begitu mempesona.
"Ehem..."
Dehaman pelan dari paman Naira—selaku juru bicara—seketika mengalihkan pandangan Arka. Ia menundukkan wajahnya pelan, berusaha menguasai diri sebelum akhirnya kembali melihat ke depan. Suara gemeresak kain terdengar pelan di sampingnya; Ibu Naira menuntun sang putri untuk duduk menengahi posisi mereka berdua.
Pria itu melirik sekilas ke arah Naira yang duduk menunduk dengan rona merah yang sangat kentara di pipinya. Seolah menyadari beberapa orang di ruangan itu mulai terkekeh geli melihat tingkahnya, Arka buru-buru melemparkan pandangannya lurus ke depan kembali.
"Jangan diliatin melulu, Ka. Kamu kayak orang mau makan Nairamu saja," bisik sang ayah dengan suara rendah yang sarat akan nada menggoda.
Arka merasakan dadanya mendadak membuncah malu. Namun, ia tetap mempertahankan posisi bahu tegapnya yang sempat membeku sesaat.
Suara dari paman Naira kembali mengisi keheningan ruang tengah, "Karena yang ditunggu sudah hadir di tengah-tengah kita, mari kita mulai acara tanda kasih berupa penyematan cincin."
Arka menarik napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Cincin yang semenjak tadi dibawa oleh kakak perempuannya kini telah berpindah tangan ke ibu Naira.
Wanita paruh baya itu membantu memasangkan cincin ke jari mereka secara bergantian. Seolah menyadari sesuatu saat kulit kedua anak muda itu bersentuhan, Ibu Naira terkekeh pelan.
"Tangan kalian sama dinginnya," bisik sang ibu, teramat pelan hingga hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.
Arka hanya bisa tersenyum kikuk, sementara matanya mencuri pandang ke arah Naira yang tampak semakin menunduk malu akibat ucapan ibunya sendiri.
Acara formal pun berganti menjadi ramah tamah. Kini Ibu Naira telah bergeser ke posisi lain, meninggalkan dua orang itu duduk dalam posisi berdampingan tanpa sekat. Sesekali, bahu Naira bergesekan pelan dengan lengan kekar Arka setiap kali mereka bergerak.
Beberapa piring berisi jajanan pasar, makanan ringan, hingga hidangan utama berupa nasi dan lauk-pauk mulai dikeluarkan ke tengah ruangan. Suara dentingan piring terdengar samar berbaur dengan obrolan riuh para tamu yang mulai menikmati jamuan makan malam.
Dua cangkir teh manis hangat dengan kepulan asap tipis kini telah disuguhkan tepat di hadapan Arka dan Naira. Dari sudut matanya, Arka dapat melihat bagaimana tangan ramping Naira bergetar halus ketika meraih cangkir miliknya. Tampaknya gadis itu juga didera rasa grogi yang tidak jauh berbeda dengannya.
Hingga sebuah insiden kecil terjadi. Karena mungkin terlalu gugup, Naira terburu-buru meneguk tehnya yang ternyata masih sangat panas. Gadis itu seketika tersedak, wajahnya memerah menahan sensasi menyengat di lidah.
Arka dengan sigap bergerak cepat. Ia langsung mengambil alih gelas dari tangan Naira agar tidak tumpah, sembari memperhatikan ekspresi sang calon istri yang kini memejamkan mata rapat-rapat dengan bibir mengerucut lucu menahan perih.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arka cemas, suaranya terdengar sangat lembut di antara keriuhan ruang tengah.
"Gak apa-apa," jawab Naira singkat, suaranya agak serak.
Gadis itu melirik sekeliling dengan salah tingkah sebelum mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Arka. "Mas, kita diliatin..." cicitnya teramat pelan.
Arka tersentak kecil, lalu buru-buru melemparkan kembali pandangannya lurus ke depan. Di depannya, suasana riuh kembali mencair. Sesekali terdengar celetukan menggoda dari arah keluarga besar mereka.
"Mereka berdua cocok banget, ya." Kalimat itu langsung ditimpali tawa renyah dari kedua orang tua mereka yang tampak sangat puas.
Acara terus berlanjut dalam keriuhan yang hangat. Jamuan makan malam itu perlahan usai hingga akhirnya tiba saatnya rombongan Arka untuk berpamitan pulang. Arka sengaja memperlambat gerakannya, menjadikannya orang terakhir yang berpamitan di ambang teras.
Pria itu berdiri tegap, menatap lekat ke arah Naira yang kini berdiri di hadapannya.
"Makasih, ya," ucap Arka tiba-tiba.
Naira mendongak sedikit, dahinya berkerut halus. "Buat?"
"Buat tidak nyungsep ke selokan tadi pagi," kekeh Arka pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sengaja ia simpan sejak tadi.
Gadis di depannya seketika langsung mencebikkan bibirnya kesal. "Apaan sih, Mas!" gerutunya tertahan.
Melihat ekspresi itu, binar di mata Arka melunak. "Kamu malam ini... kelihatan beda. Cantik."
Naira meliriknya sekilas. Namun bukannya tersipu seperti bayangan Arka, sorot mata gadis itu mendadak meredup kaku.
"Mas Arka... dulu pas pacaran sering memuji begini juga ke mantannya?" tanya Naira pelan, nadanya berubah datar dan dingin.
Seketika itu juga, jantung Arka seolah kehilangan daya pompanya. Rongga dadanya mendadak terasa hampa dan membeku. Pertanyaan tajam dari gadis di hadapannya itu langsung menarik kembali ingatan Arka pada ketegangan sore kemarin—sebuah tanda telak bahwa Naira sebenarnya belum benar-benar memberikan maaf atas masa lalunya.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.