Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Hari Pertandingan Tekanan dan Keteguhan Hati
Pagi hari perlombaan tiba, langit bersih tanpa awan tebal, cahaya matahari terbit lembut menyinari seluruh area sirkuit sepanjang 500 meter lintasan utama. Suasana sudah ramai sejak jam enam pagi, bercampur suara orang berbicara, derap langkah, dan dengungan mesin yang dipanaskan satu per satu brumm… greng… dang‑dang… dari kejauhan. Faris Hidayat, Guntur dan Ali tiba lebih awal tiga puluh menit, gerakan mereka tenang dan teratur tak terburu‑buru seperti peserta lain yang terlihat sibuk berlarian ke sana kemari. Motor GL Herk warna merah muda berdiri tegak di tempatnya, sudah dipanaskan sebentar: dang… dang… gor‑gor…, suaranya keluar perlahan namun mantap, sampai terdengar jelas sampai jarak 500 meter tanpa pecah nadanya.
Sebelum masuk ke garis start, Faris Hidayat memanggil kedua adiknya berdiri di hadapannya. Ia melepas sedikit helmnya agar suara lebih jelas, matanya menatap lurus ke depan, suaranya lambat dan berirama khasnya.
Dengar baik‑baik pesan ini… Nanti lampu mati, lintasan sepanjang 500 meter penuh suara bising dang‑brumm‑greng‑dang… ke kiri dan kanan, sampai ke ujung terjauh sekalipun. Hati bisa tergoda ikut cepat. Jangan ikut emosi dulu. Jangan langsung gas habis sampai mesin teriak‑teriak greng‑kret… yang suaranya cuma keras di dekat saja tapi lemah sampai 500 meter ke depan. Jalur kita sudah disusun: awal tenang jaga posisi, tengah mulai rapatkan irama, akhir tarik tenaga penuh kalau sudah yakin. Ingat terus: dang‑dang itu tahanan yang kuat sampai ujung lintasan, gor‑gor itu tenaga yang terkumpul merata supaya suaranya terdengar bulat sampai jarak 500 meter, jangan habis di putaran pertama saja.
Siap Bang! Kami berdiri di pinggir lintasan, beri tanda tangan kalau perlu mengatur kecepatan jawab Guntur dan Ali serentak mantap.
Satu per satu nama peserta dibacakan lewat pengeras suara. Akhirnya terdengar jelas: Faris Hidayat – Tim Hidayat Bersaudara. Di sampingnya berbaris Bima dengan motor besar yang suaranya diputar keras sekali: greng‑greng‑brumm…, tapi suaranya hanya meledak di dekat saja, mulai melemah dan pecah saat menjangkau jarak 500 meter. Faris Hidayat tak menoleh, ia hanya mengatur napas, memegang setang dengan kedua tangan kokoh, memutar gas sedikit untuk mengecek irama: dang… dang… gor… gor…, tetap bulat dan teratur, suaranya sampai terdengar jelas dan merata ke ujung lintasan 500 meter.
Lampu indikator menyala satu… dua… tiga… lalu padam serentak tanda mulai!
DANG‑DANG‑GOR‑GOR‑BRUMM!!! Semua kendaraan melesat bersamaan meninggalkan garis start. Bima langsung melaju ke posisi terdepan, suaranya terdengar keras dan memecah udara greng‑brumm‑kret…, tapi baru di jarak 150 meter suaranya sudah berubah tidak rata. Sementara GL Herk merah muda meluncur lebih tenang: dang… dang… gor… gor…, menjaga putaran mesin agar tidak terbebani berlebihan, suaranya tetap sama merata sampai jarak 300 meter bahkan terus ke 500 meter. Di awal putaran lintasan lurus lebar banyak peserta saling mendesak, jalur sempit, suara mesin berantakan krek‑kret‑greng‑dang…, ada yang hampir bersentuhan dan terpaksa melambat mendadak. Faris Hidayat tetap di jalur aman paling kanan, pandangan lurus ke depan menuju tikungan pertama di titik 200 meter.
Masuk tikungan lebar pertama di jarak 200 meter, Faris Hidayat kurangi gas perlahan: dang… dang…, rem disentuh halus tak sampai mengunci roda, lalu miringkan bodi dengan sudut yang pas terukur. Begitu keluar tikungan di titik 250 meter, ia tarik gas kembali merata: gor‑gor‑gor‑dang‑dang…, meluncur rapi tanpa kehilangan tenaga sedikit pun, suaranya masih terdengar jelas sampai ujung lintasan 500 meter. Beberapa peserta yang masuk tikungan terlalu cepat terpaksa mengerem keras, suara berdecit cit‑cit…, posisi mereka terlempar ke luar jalur. Faris Hidayat lewat begitu saja dengan tenang, perlahan mendekati posisi mereka satu per satu.
Putaran kedua dan ketiga mulai terlihat bedanya. Bima terus memaksakan kecepatan maksimal, suaranya makin lama makin tidak rata greng‑brumm‑kret‑kret…, di jarak 400 meter suaranya sudah terdengar berat dan tersendat. Sementara itu GL Herk merah muda terus berirama stabil: dang‑dang‑gor‑gor‑dang‑dang…, tak berubah nada, makin lama makin terasa ringan melaju, suaranya tetap bulat sampai jarak 500 meter. Di tikungan sempit panjang yang menjadi ujian utama lintasan di titik 350 meter, Faris Hidayat memilih jalur bagian dalam paling efisien. Saat masuk: dang… dang…, pelan dan teratur, saat keluar langsung dorong tenaga: gor‑gor‑gor‑gor…, melesat melewati dua peserta sekaligus dalam satu gerakan halus.
Di pinggir lintasan Guntur dan Ali terus memberi tanda tangan sesuai kesepakatan, Bapak Wijaya dan Ibu Arum Sari berdiri tegak sambil berdoa dalam hati, Maya dan Miya melambaikan tangan semangat setiap kali Faris Hidayat lewat di depan posisi mereka. Semua mata terpaku melihat motor warna merah muda yang tak disangka‑sangka itu makin naik posisinya perlahan tapi pasti.
Masuk pertengahan lomba di jarak 400 meter, jarak ke kelompok depan makin menyempit, bahkan kini Faris Hidayat berjalan berdampingan dengan Bima. Suara dua mesin bersahutan jelas sampai ke ujung lintasan: satu terdengar tertekan dan tersendat greng‑kret‑brumm… yang suaranya makin lemah di jarak jauh, satu terdengar mengalir dan kuat dang‑dang‑gor‑gor‑dang… yang suaranya tetap terang sampai 500 meter. Mereka berdua berdesak secara halal sesuai aturan, saling menguji keahlian mengatur kecepatan dan posisi. Faris Hidayat tak terburu mendahului, ia hanya menjaga iramanya sendiri dan menunggu celah yang aman dan alami.
Di tikungan paling tajam sebelum jalan lurus terakhir menuju garis finis di titik 450 meter, Bima sedikit terlambat mengerem, posisinya bergeser ke luar jalur. Faris Hidayat melihat celah itu, masuk dengan tenang: dang… dang…, lalu keluar tikungan langsung buka tenaga penuh yang sudah disimpan sejak awal: GOR‑GOR‑DANG‑DANG‑BRUMM!, melesat mendahului dengan gerakan mantap dan tak tergoyahkan sedikit pun, suaranya menggema kuat sampai ke ujung lintasan 500 meter.
Sisa jarak terakhir 50 meter menuju garis finis, Faris Hidayat mempertahankan kecepatan terbaiknya, suara mesin tetap bernyanyi merata sampai melewati garis finis dengan suara tegas: DANG‑GOR‑DANG!, Jelas dan kuat terdengar sampai ke ujung lintasan 500 meter. Posisi yang dicapai adalah kedua di kelasnya, hanya terpaut waktu sangat kecil dari juara pertama yang sudah berpengalaman bertahun‑tahun, namun jauh di depan Bima yang finis terlambat dengan suara mesin sudah tersendat dan terasa berat berputar kret‑kret‑dang…, suaranya bahkan hampir hilang sebelum sampai ke ujung lintasan.
Begitu berhenti di area istirahat, Faris Hidayat lepas helm, keringat membasahi dahi dan lehernya namun wajahnya tetap tenang dan puas. Ia menyulut rokok Gajah Baru Kertek pelan‑pelan, menghisapnya perlahan lalu mengembuskan asapnya naik ke udara.
Dengar baik‑baik… ucapnya sambil menepuk tangki bensin motor itu, suaranya tetap dang‑dang‑gor‑gor… sampai jarak 500 meter, tidak pecah, tidak serak. Itu tanda kita berlomba dengan benar, sesuai kemampuan, tidak memaksakan melampaui batas yang wajar. Posisi kedua ini bukan kalah, tapi kemenangan yang didapat dengan cara terhormat, mesin tetap sehat, hati tetap tenang dan bersih.
Guntur mencatat hasilnya sambil tersenyum lebar, Ali segera memeriksa bagian mesin satu per satu memastikan tidak ada baut yang kendur atau bagian yang terasa panas berlebih. Di kejauhan petugas lomba mulai mengumumkan hasil resmi dan memanggil peserta untuk menuju podium penghargaan. Faris Hidayat mengangguk pelan memberi isyarat pada kedua adiknya bahwa ini baru permulaan bukan akhir dari perjuangan mereka.