Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Tamu
Wanqing masih terus mengernyitkan matanya dan mencoba sesekali mengintip wanita tadi. Wanita cantik itu tersenyum santai sambil membayar dan berjalan pergi. Sambil berjalan, Wanqing bisa melihat dengan jelas beberapa ajudan yang sudah siap di samping mobil mewah yang dimasuki wanita itu.
"Bagaimana?"
Wanqing menoleh kaget ke Ibu Mei yang kini sudah menyodorkan kain satin berwarna biru langit dengan ornamen bunga putih kecil yang memenuhi namun tidak berlebihan di kain itu.
Wanqing menyentuh kain yang terasa sangat lembut dan indah itu. "Wow, Ibu, ini pilihan yang sangat bagus."
Ibu Mei berseri senang. "Nah bungkuskan kain ini satu setengah meter untuk menantuku ya." Ujarnya pada pelayan yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Satu setengah meter Bu? Gaun sebawah lutut untuk Nyonya Muda kelihatannya satu meter saja cukup." Koreksi pelayan itu.
Wanqing langsung menambahkan, "Tak apa, sisanya bisa Aku pakai untuk bahan tambahan kemeja suamiku nantinya agar ada pakaian couple." Ujarnya sembari tersenyum manis. Pelayan itu menatap Wanqing penuh takjub.
"Nyonya Mei memang berpikiran jauh dan sangat pintar." Ujarnya sembari pergi.
Ibu Mei menatapnya bangga. "Ayo kita lihat beberapa kain lagi.."
Wanqing dan Ibu Mei terus mengitari beberapa lantai gedung kain itu dan mencari kain-kain yang indah dan unik. 5 Kain indah berwarna merah tua, ungu muda, biru muda, kuning muda, dan hijau emerald berhasil mereka bungkus di depan kasir.
Wanqing mengingat sesuatu, "Tambahkan bahan kemeja berwarna hitam satu meter dan putih satu meter ya."
Ibu Mei menatapnya bingung, "Untuk apa Wanqing?"
"Kemeja suamiku Bu."
Ibu Mei mengangguk tanda mengerti, "Kau memang pintar."
Saat total disebutkan, Wanqing hanya bisa terkejut mendengar totalnya yang tidak masuk akal. "Semuanya jadi 4.000 Bianbi."
"400.000 maksudnya?" Tanya Wanqing lagi memastikan. Wanita di kasir itu tertawa geli, "Mana mungkin semahal itu Nyonya, harga di toko kami sudah tergolong sangat mahal dan berkelas, mana bisa dijual dengan harga semahal itu."
Ibu Mei menepuk bahu Wanqing. "Wan-Wan, 4.000 Bianbi itu mahal, tidak semua rakyat sekitar atau orang sembarangan bisa berbelanja kain semahal itu."
Wanqing mengedipkan matanya berkali-kali. "Ini.." Ujarnya menyerahkan buku rekeningnya. "Baik Nyonya, Kami proses sebentar."
Wanita itu pergi meninggalkan konter sebentar. Wanqing masih terus berpikir di dalam otaknya, "Apakah 10.000.000 Bianbi itu tidak berlebihan? Suamiku mau memberikan nafkah untuk satu tahun atau sepuluh tahun?" Gumamnya.
Wanqing menerima kembali buku rekeningnya, "Saldo tersisa ada 9.996.000 ya Nyonya Muda Lu. Terima kasih sudah bertransaksi pada toko kami."
Beberapa wanita yang sedang mengantri di toko itu menatap Wanqing dan belanjaannya yang berjalan pergi. Beberapa dari mereka tak luput berbisik-bisik. "Istri Jenderal secantik itu, wajar jika Jenderal menafkahinya sebanyak itu, atau bahkan memberikan dunia untuknya." Gumam beberapa ibu-ibu itu.
Wanqing dan Ibu Mei baru saja ingin berhenti di salah satu jasa penjahit ketika Wanqing berkata, "Ibu.. Boleh tidak jika Aku menjahit sendiri gaunku dan kemeja suamiku?"
Ibu Mei menatap Wanqing kaget, "Apa?! Kau bisa menjahit juga?!"
Wanqing mengangguk malu. "LUAR BIASA, HAHAHA! Baiklah ayo kita beli mesin jahit dan peralatan menjahit saja."
...****************...
Wanqing dan Ibu Mei akhirnya tiba di kediaman hampir menuju senja, langit sudah terlihat sendu dengan oranye terang dimana-mana. Wanqing baru saja turun dari mobil itu ketika sadar bahwa ada satu mobil yang tampaknya ia kenal sedang terparkir di halaman parkir rumah.
Ibu Mei berjalan masuk lebih dulu. Wanqing yang masih memastikan barang-barang dibawa pelayan dan akan diletakkan dengan rapih di kamar jahitnya yang terletak di balkon lantai dua akhirnya tersenyum puas saat semuanya sudah terangkut. Wanqing baru saja memasuki rumah ketika melihat hal aneh.
Ibu Mei terlihat kurang nyaman dan tersenyum canggung dengan wanita yang duduk di sofa sebelahnya. Wanita itu, adalah wanita yang sama yang ia dan Ibu Mei temui di tempat kain tadi. Ibu Mei langsung memanggil Wanqing mendekat.
"Wan-Wan, kemarilah sayangku."
Wanqing berjalan mendekat. "Lu Wanqing, Nyonya Muda Lu, ini adalah Kapten Bai Yueran, salah satu partner dan kapten pasukan khusus revolusi yang semula sedang bertugas dengan misi rahasia di luar negeri, kini telah kembali." Ujar Ibu Mei tersenyum setengah hati.
Wanqing mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan hangat oleh tangan serta jari jemari lentik wanita itu. "Hai Nyonya Muda Lu." Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Entah kenapa Wanqing merasakan hawa aneh dari wanita itu, hawa yang terasa sangat kesal, marah? Atau apa? Entahlah.
Ibu Mei menggenggam tangan Wanqing, "Wanqing anakku, kalau Kau ingin mulai menjahit silahkan Nak, biar Ibu menjamu tamu kita."
Wanqing yang seolah mengerti maksud sang Ibu hanya mengangguk. Ia berjalan perlahan menuju balkon di lantai dua yang kini sudah dihias sedemikian rupa untuk seluruh peralatan menjahit, mensin menjahit, dan beberapa manekin jahit.
Wanqing yang berusaha melupakan tamu aneh itu hanya bisa mulai membuka beberapa kain dan membentangkannya di lantai beralaskan karpet baru. Dalam hatinya, Wanqing terus mengingat bagaimana dirinya berusaha bertahan hidup dengan menjahit seluruh bajunya sendirian, baju yang sudah usang, hancur, bolong, atau bahkan beberapa pakaian ayah dan para adik tirinya. Wanqing mengeluarkan lagi kopernya dan menarik satu kotak yang berukirkan nama Ibunya. Di dalamnya, Wanqing menemukan jarum-jarum yang sudah berkarat namun beberapa diantaranya masih bagus dan layak pakai.
"Ibu.." Gumamnya.
Wanqing yang hanya ingin menenggelamkan pikirannya pada bakatnya akhirnya mulai melakukan proyek menjahitnya. Malam itu ia bahkan tidur sangat larut.
Pagi-pagi buta Wanqing sudah bangun dan meneruskan kegiatan menjahitnya, sesekali Ibu Mei datang membawakan camilan dan makan siang lalu mengobrol santai sambil melihat pekerjaan Wanqing yang mulai berbentuk dan sangat indah.
"Kau bisa membuka butik eksklusif dengan bakatmu ini Wanqing." Ujar Ibu Mei sore itu.
Wanqing terkekeh geli. "Bagaimana mungkin Ibu, bakatku tidak sebagus itu."
Ibu Mei terkekeh, "Coba nanti Kau gunakan gaun dan setelan kemeja yang khusus Kau jahit ini ke penjamuan pertunangan salah seorang anak Komandan bawahan Jingyuan beberapa hari lagi."
Wanqing menatap Ibu Mei, "Baiklah." Ujarnya penuh optimis.
"Omong-omong Ibu, memangnya Jenderal akan kembali beberapa hari lagi?"
Ibu Mei mengangguk, "Ya, walau sehabis itu dia harus kembali lagi ke sana, tapi menurut Ibu, sebaiknya Kamu selesaikan beberapa gaun cantik dan bawa bersamanya nanti."
Wanqing mengangguk tanda mengerti.
"Bawa bersamanya? Apa maksud Ibu?"
Tanya Wanqing lagi tepat saat Ibu Mei berjalan pergi meninggalkan kamarnya, "Bagaimana Kau bisa membiarkan suamimu sendirian terlalu lama Wanqing.. Temanilah dia." Ujar Ibu Mei sambil menutup pintu kamar itu.
*BERSAMBUNG*
Jangan lupa like, komen, subscribe ya, votenya punnn sangat berarti. Terima kasih!!