Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Astrid merasakan dadanya semakin sesak ketika mendengar penjelasan Julio. Sejak tadi ia berusaha tetap tenang, tetapi semakin banyak fakta yang terungkap, semakin sulit baginya untuk mengabaikan satu kemungkinan yang terus menghantuinya.
Julio meletakkan pulpennya di atas meja, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Tatapannya berpindah dari tumpukan dokumen ke wajah Astrid.
"Ada sumber uang Lucas yang belum kita ketahui."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya langsung membuat ruangan menjadi sunyi. Astrid menatap Julio tanpa berkedip.
Sementara itu, Mateo yang duduk di sampingnya langsung mengernyit. "Maksudmu uang ilegal?" tanyanya.
Julio menggeleng pelan. "Aku belum bisa memastikan."
"Lalu?" Mateo semakin penasaran.
Detektif itu membuka beberapa lembar dokumen yang sudah diberi tanda. "Tapi yang jelas, ada sesuatu yang tidak masuk akal."
Julio menunjuk salah satu proposal pembelian alat medis. Ia menggeser dokumen itu ke arah Astrid.
"Ini contohnya. Harga asli alat ini enam ratus juta."
Kemudian Julio mengangkat dokumen lain. "Sementara proposal yang diberikan Lucas kepadamu hampir dua miliar."
Astrid merasakan tenggorokannya mengering. Matanya kembali membaca angka-angka itu. Meski tadi sudah melihatnya sendiri, tetap saja sulit dipercaya. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah memeriksa ulang apa pun yang diberikan Lucas karena ia percaya. Dia menganggap suaminya tidak mungkin membohonginya. Namun sekarang, kepercayaan itu terasa seperti kebodohan yang terus menampar dirinya.
Julio kembali membuka dokumen lain. Ia menunjuk beberapa angka.
"Yang ini juga sama. Harga dinaikkan hampir tiga kali lipat." Kemudian dokumen berikutnya.
"Yang ini empat kali lipat. Yang ini Hampir lima kali lipat."
Mateo mengusap dagunya pelan. "Kalau semua dokumen ini dimanipulasi ...."
"Jumlah uang yang hilang bisa sangat besar," sambung Julio.
Ruangan kembali hening, hanya suara pendingin ruangan terdengar jelas di telinga mereka. Astrid menunduk menatap jemarinya sendiri. Perlahan kedua tangannya mengepal di atas pangkuan, semakin kuat dan erat. Dia menahan emosi karena sangat marah.
Bertahun-tahun Astrid percaya kepada Lucas. Dia menyerahkan hampir seluruh warisan orang tuanya untuk membantu membangun masa depan pria itu. Tanpa banyak bertanya dan tanpa rasa curiga. Bagaimana jika semua itu hanya kebohongan? Bagaimana jika selama ini Lucas sengaja menjadikannya sebagai sumber uang?
Julio memperhatikan perubahan ekspresi Astrid sebelum akhirnya berkata pelan, "Aku akan mencari semuanya."
Astrid mengangkat kepala. "Semuanya?"
Julio mengangguk mantap. Tatapan pria itu terlihat serius.
"Aliran uang. Rekening. Transaksi. Pembelian aset. Dan semua yang mungkin selama ini disembunyikan Lucas."
Sebagai mantan polisi, ia sudah melihat banyak kasus. Pola yang dilakukan Lucas mulai terlihat semakin mencurigakan. Jika dibiarkan, jumlah kerugiannya bisa jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Astrid mengembuskan napas panjang. Dia merasa sedikit lega. Setidaknya sekarang ia tidak berjalan sendirian.
Namun, Julio belum selesai. Ekspresinya berubah lebih serius. Bahkan jauh lebih serius daripada sebelumnya.
"Tapi mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati."
Astrid mengernyit. "Kenapa?"
Julio menatapnya lurus. "Karena Lucas sudah tahu kamu mulai mencari tahu apa yang selama ini dia sembunyikan."
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku. Astrid terdiam, begitu pula dengan Mateo.
Julio melanjutkan dengan suara tenang. "Orang yang menyimpan rahasia besar biasanya akan bertindak lebih agresif saat merasa terancam."
Astrid menelan ludah. Ia teringat ekspresi Lucas semalam. Wajah pria itu saat memergokinya berada di ruang kerja. Nada bicara, tatapan mata, dan kemarahannya. Semua itu tidak terlihat seperti seseorang yang sekadar kesal karena privasinya dilanggar. Lucas terlihat takut. Dan orang yang takut sering kali menjadi berbahaya.
Mateo menghela napas pelan sebelum akhirnya bersandar ke kursinya. "Astrid. Kamu sebenarnya sudah punya cukup bukti untuk menggugat cerai."
Wanita itu menoleh. Ruangan kembali sunyi. Astrid menatap meja di depannya cukup lama.
Perlahan Astrid menggeleng. "Belum waktunya."
Mateo mengusap wajahnya. "Astrid—"
"Urusanku dengan Lucas belum selesai." Suara Astrid tenang, tidak keras, tidak juga emosional.
Ketenangan itu membuat Mateo dan Julio langsung terdiam.
Astrid perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya terlihat berbeda, ada luka dan kesedihan di sana. Karena pengkhianatan itu meninggalkan bekas mendalam.
Astrid mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Suaranya mulai bergetar.
"Aku tidak hanya ingin berpisah darinya. Aku ingin tahu ke mana semua uangku pergi. Aku ingin tahu berapa banyak yang dia ambil dariku."
Julio dan Mateo saling berpandangan.
Mata Astrid mulai berkaca-kaca. Bayangan kedua orang tuanya tiba-tiba muncul di kepalanya. Ayahnya yang bekerja keras seumur hidup. Ibunya yang selalu percaya bahwa putrinya akan menjadi orang sukses dan hidup bahagia. Warisan yang mereka tinggalkan bukan sekadar uang. Itu adalah hasil kerja keras, hasil pengorbanan orang tuanya. Namun, semuanya telah dimanfaatkan oleh orang yang salah.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Astrid. Namun, kali ini tidak jatuh. Ia menahannya karena sekarang dirinya tidak lagi ingin menangis. Ia ingin mengetahui seluruh kebenaran.
Astrid menarik napas panjang. Dadanya naik turun menahan emosi yang bergejolak. Lalu perlahan ia mengangkat dagunya.
"Dan kalau benar dia menipu serta menyalahgunakan uang yang kupercayakan kepadanya, Aku ingin dia mempertanggungjawabkan semuanya."
Tatapan Astrid kini jauh berbeda dibanding perempuan yang dahulu selalu diam setiap kali dihina Marta. Sekarang bukan lagi Astrid yang rela mengorbankan dirinya demi mempertahankan rumah tangga seorang diri.
Julio menatapnya beberapa saat. Lalu mengangguk pelan. "Aku akan membantu mencari semua bukti."
Astrid membalas anggukan itu dengan mantap. Dia tidak lagi memikirkan bagaimana menyelamatkan pernikahannya.
"Hotel prodeo adalah tempat yang cocok dengannya," kata Astrid.
Wanita itu mulai memahami sesuatu.
'Orang yang benar-benar mencintai tidak akan menghancurkanmu sedikit demi sedikit. Orang yang benar-benar mencintai tidak akan menjadikanmu sumber keuntungan. Dan orang yang benar-benar mencintai tidak akan mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.'
Kini Astrid hanya memiliki satu tujuan. Membongkar seluruh kebohongan Lucas. Membuka semua rahasia yang selama ini disembunyikan pria itu. Dan memastikan Lucas kehilangan segala sesuatu yang dibangunnya di atas kebohongan, keserakahan, dan pengkhianatan.
Sementara di tempat lain, Lucas sama sekali belum menyadari satu hal. Astrid yang selama ini ia anggap lemah. Istri yang selama ini selalu diam. Wanita yang selama ini selalu memaafkan. Kini sedang bangkit dan saat kebenaran akhirnya terungkap nanti, bukan hanya rumah tangganya yang akan runtuh. Melainkan seluruh kehidupan yang selama ini ia bangun dengan kebohongan.