NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi

Zhao Fei terus memosisikan diri untuk menahan serangan demi serangan yang diluncurkan ke arahnya. Sebilah bumerang besar dengan mata pisau yang teramat tajam meluncur deras dari balik ketebalan kabut. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali senjata maut itu menyambar di udara, mengincar titik-titik vital tubuhnya.

Menjawab itu, Zhao Fei terus mengayunkan pedang Pemutus Awan dengan sekuat tenaga guna menangkis hantaman konstan yang terus datang. Logam beradu, bergaung hebat di dalam kawasan hutan yang gersang. Namun, di dalam lubuk hatinya, pemuda itu setidaknya telah menyadari sebuah fakta pahit bahwa seluruh koleksi artefak dewa miliknya telah lumpuh di dalam dimensi mimpi ini. Cincin kuno di jarinya mati total, tidak mampu memancarkan getaran energi spasial untuk membantunya keluar dari tekanan musuh.

Kendati demikian, rasa sakit yang menghajar fisik, rasa lelah yang luar biasa, serta terkurasnya energi qi di dalam tubuhnya terasa sangat nyata bagi sistem kesadarannya. Bilamana dirinya menderita kematian di tempat ini, sudah bisa dipastikan dirinya akan benar-benar tertidur selamanya untuk kedua kali.

“Aku tidak akan biarkan diriku mati di tempat terkutuk seperti ini,” batin Zhao Fei memantapkan tekad.

Pikiran pun mendadak melayang, mengingat kembali wajah orang-orang yang menaruh harapan besar pada dirinya. Dia teringat akan wajah wanita yang menjadi ibu dari tubuh barunya saat ini. Dia juga mengingat Xiaopang, sahabatnya yang selalu ceria, lalu Tabib Wen yang misterius, serta Liu Xue yang berkarakter dingin namun belakangan ini mulai melunak terhadapnya. Puncaknya, bayangan Ratu Lianhua, selir setianya yang terus mengorbankan jiwa di Alam Dewa demi menegakkan nama besarnya, melintas jelas di dalam benak. Barisan orang-orang itu menaruh kepercayaan penuh padanya, sehingga dia tidak boleh menyerah menghadapi takdir buruk ini.

Sampai hantaman bumerang berikutnya kembali melesat cepat menembus kabut pekat. Zhao Fei memfokuskan pandangan indranya, membaca arah lintasan senjata itu dengan jeli sebelum melompat ke samping guna menghindar.

Pohon kering yang berada tepat di belakang posisi berdirinya pun seketika hancur lebur dan roboh menghantam tanah. Serpihan ranting berhamburan ke segala arah akibat kedahsyatan benturan energi itu.

Zhao Fei segera berguling di atas tanah, lalu memacu langkah kaki berlari masuk ke area terdalam hutan gersang itu. Dia bergerak taktis, mencari sebuah cekungan, lubang tanah, atau objek apa saja yang memadai untuk menyembunyikan diri dari jangkauan pandangan musuh.

Langkah kakinya membawa dirinya menemukan sebuah lekukan mendalam di antara jalinan akar pohon raksasa. Tanpa membuang durasi waktu, dia segera memosisikan diri untuk tiarap, menyembunyikan seluruh bentuk tubuhnya di dalam celah tanah itu.

“Berpikir, gunakan akal sehatmu, cari celah pertahanan musuh,” perintahnya pada diri sendiri di dalam hati.

Sedangkan wanita misterius itu terdengar terus bergerak mencarinya. “Mau lari ke mana kau, bocah? Kau tidak akan bisa bersembunyi selamanya dari cengkeramanku!”

Zhao Fei mengedarkan pandangan mata ke sekeliling area persembunyiannya yang dipenuhi oleh kabut tebal, pepohonan kering, serta hamparan tanah gersang. Tidak banyak elemen alam yang memiliki kapasitas untuk dimanfaatkan sebagai senjata taktis di tempat ini. Meskipun demikian, dia mulai mencermati adanya sebuah pola konstan dari setiap arah serangan bumerang milik sang musuh. Senjata bermata pisau tajam itu selalu datang meluncur dari satu arah koordinat tertentu yang sama secara konsisten.

“Wanita itu sama sekali tidak menggeser posisi berdirinya,” organisasi Zhao Fei di dalam benak.

Lawannya hanya berdiri diam di satu titik aman, lalu melemparkan bumerang maut dari balik perlindungan kabut pekat. Mengapa wanita itu enggan melangkah mendekat? Apakah karena tidak mampu bergerak, ataukah karena merasa tindakan itu tidak diperlukan? Tidak, pasti ada sebuah alasan taktis lain yang melandasi keputusan itu. Wanita itu memiliki kemampuan penuh untuk melihat keberadaan dirinya selama dia berada di dalam kepungan kabut tebal. Namun, bilamana dirinya memutuskan untuk keluar dari area berkabut pekat ini, situasi dipastikan akan berubah.

Zhao Fei memalingkan wajah, menatap ke arah jajaran pepohonan yang terlihat lebih rapat di ujung kawasan hutan. Tingkat ketebalan kabut putih di area koordinat itu terdeteksi jauh lebih tipis dibandingkan tempatnya tiarap saat ini. Lokasi itu adalah tujuan utamanya.

Karena itu dia berdiri dari celah akar pohon dengan gerakan yang teramat pelan agar tidak memicu suara, sebelum mulai melangkah diam-diam ke arah pepohonan berkabut tipis di depan.

“Kukira kau punya nyali untuk bersembunyi di celah tanah itu lebih lama,” ucap wanita itu tepat di belakangnya.

Zhao Fei segera berbalik menghadap ke arah belakang. Wanita misterius itu telah berdiri angkuh tepat di hadapannya, menyisakan jarak beberapa langkah kaki saja dari posisinya. Wanita itu menyeringai lebar penuh kemenangan, sementara di tangan kanannya tergenggam bumerang besar dengan empat mata pisau tajam yang siap dilemparkan kapan saja.

“Tapi tindakan cerobohmu ini malah menghemat waktuku untuk menghabisimu,” tambah wanita itu.

Zhao Fei sama sekali tidak memperlihatkan bukti kepanikan di wajahnya karena dia telah memprediksi dengan sangat matang bahwa musuh dipastikan akan segera menyergapnya bilamana dia melakukan pergeseran.

Bumerang berkepala empat itu pun meluncur deras. Zhao Fei mengayunkan pedang Pemutus Awan dengan kecepatan tinggi, tindakan yang dia ambil tidaklah bertujuan untuk menangkis hantaman mata pisau, melainkan guna memotong sudut lintasan serangan senjata itu.

Mata pedangnya menghantam tepat pada bagian gagang tengah bumerang, membelokkan arah putaran senjata maut itu secara paksa. Bumerang besar itu melesat liar ke arah samping, menghantam sebatang pohon kering sebelum akhirnya jatuh terhempas di atas tanah gersang.

Zhao Fei mengambil kesempatan taktis itu untuk maju ke depan dengan agresif. Bilah pedang di tangannya menusuk cepat, mengarah lurus ke titik dada sang wanita misterius. Wanita itu terkejut melihat serangan balik instan, sehingga dia terpaksa melakukan gerakan melompat mundur dengan lincah guna mengamankan diri.

“Hebat juga,” puji wanita misterius itu dengan sepasang mata penuh gairah bertarung. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau murid baru di Divisi Khusus Garuda Putih punya keahlian bertarung setinggi ini.”

Zhao Fei tetap mempertahankan posisi siaga tanpa melayangkan untaian kata pujian balik. “Kau utusan rahasia yang dikirim Long Wei, kan?”

Wanita misterius itu menyunggingkan senyuman dingin di wajahnya. Lidahnya bergerak lambat menjilat permukaan bibirnya sendiri dengan gestur yang menantang.

“Aku rasa tidak masalah membocorkan identitas kami kepada pemuda yang sudah bau tanah sepertimu,” jawab wanita itu sembari meluruskan posisi punggungnya. “Aku bagian dari Selendang Ungu. Wanita bercadar itulah yang memberi perintah langsung padaku, dan aku sangat menghormati Nona Yue Rong.”

Zhao Fei memantapkan kembali posisi kuda-kuda kakinya di atas tanah, memposisikan pedang Pemutus Awan tepat di depan rongga dadanya. Namun, di dalam interior tubuhnya, kobaran api spiritual masih terus mengamuk hebat. Efek reaksi dari timbunan satu botol penuh pil peningkatan kultivasi dewa yang tertelan terasa semakin menjadi-jadi menghancurkan dinding meridiannya.

Hingga darah segar kembali mengalir keluar dari sudut bibirnya dalam jumlah yang jauh lebih deras dari sebelumnya, mengalir tanpa bisa dibendung oleh kekuatan fisiknya.

Wanita misterius itu mencermati perubahan fisik lawannya yang semakin melemah. “Lihatlah dirimu... sepertinya kau sudah di ambang kematian, ya?”

Zhao Fei hanya bisa tertawa pendek di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Sang Pencipta dan barisan para dewa langit tampaknya sedang memainkan sebuah lelucon gila terhadap garis takdirnya saat ini. Berdasarkan hukum ketentuan medis, raga barunya yang fana ini seharusnya telah hancur lebur berkeping-keping akibat memaksakan diri mengonsumsi timbunan obat dewa dalam skala yang terlampau besar.

Namun, mengapa fenomena yang bertolak belakang justru sedang bergulir di dalam sistem tubuhnya saat ini? Pemuda itu mendadak merasakan sebuah perubahan murni yang luar biasa di dalam tubuhnya.

Seluruh jaringan meridian fisiknya yang semula sempit dan tersumbat, kini mendadak berubah menjadi sangat lapang. Aliran energi qi yang bersumber dari pil dewa, yang tadinya mengalir liar laksana luapan air bah yang merusak pembuluh darah, kini bertransformasi menjadi aliran energi murni selembut samudra luas yang telah berhasil menemukan jalur sirkulasi yang tepat. Dalam kondisi kritis yang berada di ambang kematian nyata ini, kesadaran jiwanya justru berhasil memicu sebuah lompatan besar, mengalami sebuah terobosan ranah kultivasi ke tingkatan yang jauh lebih tinggi.

Wanita misterius itu mengamati Zhao Fei yang mendadak bengong di tempat dengan sepasang mata yang tampak kosong mirip orang yang sedang melamun.

“Hei, bocah ingusan!” bentak wanita itu. “Jangan berani-berani melamun di hadapanku!”

Melihat tidak adanya respons yang diberikan oleh sang junior, wanita itu menggelengkan kepalanya dengan meremehkan. “Kasihan sekali. Kau sepertinya sudah menyerah menghadapi kematianmu, ya?” wanita itu mengangkat kembali bumerangnya tinggi-tinggi ke udara. “Tapi jangan khawatir. Begitu kau mati, aku bakal menghabisi kedua rekanmu, lalu melenyapkan seluruh warga desa perbatasan ini tanpa sisa. Atau mungkin... kalian bertiga saja sudah cukup untuk membuat Sekte Garuda Putih menangis darah di sana.”

Bumerang besar berkepala empat itu telah terangkat tinggi, bersiap untuk diluncurkan guna memutus urat leher Zhao Fei. Tepat sebelum senjata maut itu sempat dilepaskan dari genggaman tangan musuh, Zhao Fei mendadak membuka sepasang kelopak matanya secara penuh.

Untaian kilatan petir berwarna emas murni menyala dengan sangat terang, berkobar memenuhi kedua belah pupil matanya. Aura kekuatan dewa yang besar seketika meledak, menekan seluruh dimensi mimpi itu hingga bergetar hebat.

Wanita misterius itu seketika membeku di posisinya, dengan seluruh otot yang mendadak terkunci oleh rasa cemas yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. “Hah? Energi spiritual ini... benar-benar tidak mungkin dimiliki manusia fana.”

Namun Zhao Fei sudah tidak lagi berada di posisi koordinat awal tempatnya berdiri sejak tadi. Sebuah pergerakan kilat yang instan telah memindahkan eksistensinya melewati ruang udara dalam sekejap mata, melompati dimensi tanpa suara.

Bilah tajam pedang Pemutus Awan tanpa permisi sudah menembus masuk dari arah belakang punggung wanita misterius itu, menembus dinding rongga dadanya hingga ujung logam kebiruan itu mencuat keluar di bagian depan tubuhnya. Wanita itu condong ke depan dengan langkah yang limbung, sementara darah segar mulai mengalir deras keluar membanjiri rongga mulutnya yang terbuka kaku.

Wanita malang itu memaksakan sisa kekuatan indranya untuk menoleh ke arah belakang dengan wajah yang dipenuhi oleh keterkejutan yang luar biasa besar. “Si-siapa... siapa sebenarnya kau ini?”

Zhao Fei lantas memposisikan bibirnya tepat di dekat lubang telinga sang wanita misterius yang sedang berada di ambang kematian nyata.

“Panggil aku... Yang Mulia Petir Abadi,” bisiknya tenang namun memancarkan wibawa agung seorang penguasa langit tertinggi.

Kemudian menyunggingkan senyuman tipis. “Aku rasa tidak masalah membocorkan identitas asliku kepada wanita yang sudah bau tanah sepertimu," tambah pemuda itu, mengembalikan kalimat ejekan musuh sebelum membiarkan wanita itu ambruk hancur berkeping-keping menjadi ketiadaan bersama dengan runtuhnya seluruh dimensi mimpi itu.

Akan tetapi saat realita menyambutnya, dia terbangun di dalam kamar, di mana wanita misterius itu ambruk di lantai tepat di sebelah ranjangnya. Dan kebetulan sekali, Li Xun masuk demi mengecek kondisi juniornya, bukan untuk melihat seorang wanita yang terus menempel padanya itu terkapar biru di lantai ruangan.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!