NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Definisi "Biasa" dan Tamu dari Masa Lalu

Keesokan harinya, Arumi bangun dengan perasaan jauh lebih ringan. Begitu selesai bersiap dengan salah satu setelan blus kasual barunya, ia segera melangkah menuju area garasi belakang sesuai instruksi Renard semalam. Ia sudah mempersiapkan mental untuk melihat mobil apa yang dikategorikan sebagai mobil "paling biasa" oleh seorang pewaris tunggal Wijaya Group.

Namun, begitu sampai di pelataran garasi belakang, langkah kakinya mendadak terhenti. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa yang nyaris menyembur.

Di depan pintu garasi, Pak Tarjo sudah berdiri tegak di samping sebuah mobil SUV hitam berukuran besar yang tampak sangat mengilap, gagah, dan berstatus keluaran terbaru tahun ini. Bagi kalangan mahasiswa atau masyarakat umum, mobil itu simbol kemewahan kelas atas yang harganya mendekati angka satu miliar rupiah.

Arumi berjalan mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Pak Tarjo... ini yang dimaksud Tuan Renard dengan mobil 'paling biasa' di rumah ini?"

Pak Tarjo terkekeh pelan, mengusap bagian belakang lehernya dengan canggung. "Benar, Nyonya Arumi. Tuan Muda bilang, ini satu-satunya mobil di rumah ini yang harganya di bawah dua miliar. Biasanya mobil ini cuma saya pakai untuk mengantar Bi Sumi belanja bulanan ke pasar swalayan atau mengurus keperluan logistik mansion."

Arumi hanya bisa menghela napas panjang, mengagumi standar kekayaan suaminya yang sudah berada di luar nalar. "Baiklah kalau begitu, Pak. Setidaknya mobil ini tidak semencolok sedan Maybach kemarin."

Strategi Renard ternyata berhasil. Kedatangan Arumi di halte luar gerbang tidak lagi memicu kepanikan moral dari sahabatnya. Citra yang kebetulan sedang menunggu di koridor fakultas hanya mengangguk-angguk paham saat melihat Arumi turun.

"Nah, kalau mobil yang ini baru masuk akal buat ukuran om lo yang kaya," ujar Citra, merangkul lengan Arumi saat mereka berjalan bersama menuju ruang dekanat. "Kemarin itu lo beneran kayak keluar dari film-film konglomerat, Mi. Gue sempat mikir lo beneran dapat sugar daddy misterius."

Arumi hanya tertawa kecil, menyembunyikan rasa gugupnya di balik senyuman. "Kan sudah gue bilang, itu cuma fasilitas lungsuran."

Ketenangan di dalam mansion pualam itu ternyata tidak bertahan lama. Siang harinya, setelah kembali dari kampus, sebuah kejutan besar datang mengetuk pintu depan tanpa peringatan.

Renard masih berada di kantornya untuk mengurus audit eksternal. Arumi yang sedang bersantai di ruang tengah bersama si Oyen tiba-tiba dikejutkan oleh suara deru mesin mobil asing yang berhenti di pelataran depan. Bukan mobil Renard, bukan pula mobil operasional rumah.

Bi Sumi yang sedang menyetrika pakaian langsung berlari ke depan dengan wajah pucat pasi. "Astaga... jangan-jangan itu Beliau," bisik Bi Sumi ketakutan.

Penasaran, Arumi ikut berjalan di belakang Bi Sumi. Begitu pintu ganda jati itu terbuka, seorang wanita paruh baya dengan pakaian tenun elegan berwarna lavender melangkah masuk. Parasnya luar biasa cantik dan anggun, dengan garis wajah yang sangat mirip dengan Renard—terutama di bagian sepasang mata elangnya.

Namun, berbeda dengan Renard yang selalu memancarkan aura dingin, wanita ini memiliki sorot mata yang teduh dan hangat.

"Mama?!" Bi Sumi langsung membungkuk hormat dengan takzim.

Wanita itu—Mama Sofia, ibu kandung Renard—tersenyum manis. "Sumi, sudah kubilang berapa kali, kalau aku datang tidak perlu seformal itu." Pandangan Mama Sofia kemudian bergeser, mengunci langsung pada sosok Arumi yang berdiri kikuk di dekat pilar koridor.

Jantung Arumi berdegup kencang. Ia tahu dari draf kontrak bahwa Renard menyembunyikan pernikahan ini dari ibunya yang sedang melakukan pengobatan jangka panjang di luar negeri demi menghindari stres. Tapi entah bagaimana, wanita di hadapannya ini sekarang sudah berdiri di sini.

Mama Sofia melangkah mendekati Arumi. Alih-alih melontarkan tatapan mengintimidasi seperti Tante Amara, beliau justru meraih kedua tangan Arumi, menggenggamnya dengan sangat lembut.

"Jadi... kamu yang namanya Arumi?" tanya Mama Sofia, matanya berkaca-kaca menatap Arumi dengan tatapan penuh rasa syukur. "Anak nakal itu... Renard benar-benar menyembunyikan pernikahan kalian dari Mama karena takut Mama kelelahan. Tapi pas Amara cerita di telepon soal menantuku yang cantik ini, Mama langsung minta jadwal penerbangan tercepat ke Jakarta."

Arumi tertegun. Genggaman tangan yang begitu tulus itu seketika meruntuhkan seluruh dinding pertahanan emosional yang Arumi bangun selama beberapa hari terakhir.

"I-iya, Mama. Saya Arumi," jawab Arumi dengan senyuman tulus, matanya ikut berkaca-kaca.

Hanya dalam waktu beberapa jam, atmosfer mansion yang biasanya kaku berubah total. Mama Sofia adalah sosok yang sangat menyenangkan. Beliau tidak peduli dengan status sosial atau runtuhnya bisnis ayah Arumi. Bagi beliau, fakta bahwa Renard—putranya yang kaku seperti robot—akhirnya mau membuka hati dan menikah, adalah sebuah mukjizat.

Bahkan, suasana semakin meriah saat si Oyen tiba-tiba melenggang dan berjalan mendekati Mama Sofia.

"Astaga! Renard memelihara kucing?!" Mama Sofia memekik gemas, langsung mengangkat si Oyen ke dalam pangkuannya. "Sumi, ini benar-benar keajaiban. Arumi, kamu benar-benar hebat bisa mengubah anak es itu."

Pukul empat sore, pintu depan kembali terbuka dengan kasar. Renard melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Kemejanya sedikit berantakan, menandakan ia baru saja berkendara dengan kecepatan tinggi setelah mendapat laporan dari penjaga rumah bahwa ibunya telah tiba.

"Mama? Kenapa Mama tidak bilang kalau mau pulang?" tanya Renard panik, matanya langsung memindai ruangan, mencari keberadaan Arumi seolah takut istrinya telah diintimidasi.

Namun, pemandangan yang tersaji di depan matanya justru membuat Renard membeku di tempat. Di atas sofa, ibunya sedang duduk berdampingan dengan Arumi, tertawa lepas sambil menyuapi si Oyen. Arumi tampak begitu membaur, seolah ia memang sudah menjadi bagian dari keluarga itu sejak lama.

Mama Sofia mendongak, menatap putranya dengan pandangan jenaka. "Kenapa? Kamu takut Mama memarahi istrimu? Tenang saja, Renard. Arumi ini jauh lebih menggemaskan daripada kamu yang kerjanya cuma cemberut setiap hari."

Renard berdeham keras, wajahnya seketika merona merah sempurna karena malu. Ia melirik Arumi tajam, seolah meminta penjelasan lewat tatapan matanya.

Arumi yang menyadari kepanikan suaminya hanya memberikan senyuman menenangkan, lalu berdiri dari sofa. "Tuan Muda sudah pulang? Mau saya siapkan teh hangat?" tanyanya dengan nada manis yang sengaja dibuat-buat untuk berakting di depan sang ibu mertua.

Renard mengepalkan tangannya di dalam saku celana, berusaha keras menahan debaran aneh di dadanya melihat bagaimana Arumi memperlakukan ibunya dengan begitu tulus.

"Tidak usah repot-repot, Arumi," jawab Renard kaku, kedua daun telinganya sudah merah padam. "Mama... ikut aku ke ruang kerja sekarang. Ada beberapa hal... yang perlu kita bicarakan secara pribadi."

Mama Sofia mengedipkan sebelah matanya pada Arumi sebelum berdiri. "Lihat kan, Arumi? Anak itu selalu saja sok sibuk. Jaga dia baik-baik ya, Sayang."

Arumi mengangguk pelan, menatap punggung tegap Renard yang berjalan mendahului ibunya naik ke lantai dua. Sandiwara ini perlahan-lahan mulai melibatkan perasaan orang-orang yang tulus, dan untuk pertama kalinya, Arumi merasa takut jika suatu saat nanti, ketika kontrak satu tahun ini berakhir, ia harus menghancurkan hati wanita baik yang baru saja memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!