“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panjang Urusannya...
Malam akhirnya tiba dengan langit kota yang sudah dipenuhi cahaya gedung dan jalanan yang tidak pernah benar-benar tidur. Dari balik jendela besar apartemen, lampu-lampu kendaraan terlihat bergerak seperti aliran cahaya panjang di tengah gelap malam yang tenang.
Di dalam apartemen itu sendiri, suasananya jauh lebih sunyi.
Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali denting kecil gelas berisi es yang mulai mencair di atas meja ruang tengah.
Arga duduk sendirian di sofa apartemennya dengan tubuh bersandar santai di sana. Kemeja kerjanya sudah sedikit terbuka di bagian leher, sementara satu tangannya memegang ponsel milik Rhea yang sejak tadi menyala di genggamannya.
Cahaya layar ponsel itu memantul samar di wajahnya.
Tatapannya turun pelan ke layar.
“Kenapa dia selalu ceroboh dalam setiap hal…” gumamnya lirih sambil mengembuskan napas pendek.
Ibu jarinya mulai bergerak membuka ponsel itu dengan tenang. Tidak ada rasa ragu di wajahnya, lebih seperti rasa penasaran yang sejak tadi mengganggu pikirannya sendiri.
Satu per satu aplikasi seperlunya mulai ia buka.
Sesekali alisnya bergerak kecil melihat isi ponsel gadis itu yang penuh hal-hal acak dan tidak penting. Folder tugas bercampur screenshot meme. Catatan kuliah bercampur foto makanan. Bahkan wallpaper ponselnya saja masih berupa foto langit dengan tulisan motivasi yang menurut Arga terlalu berisik untuk dilihat.
“Berantakan…” komentarnya pelan.
Tak lama kemudian, tangannya berhenti di aplikasi chat berwarna hijau. Sekali sentuh, aplikasi itu langsung terbuka dan menampilkan deretan chat milik Rhea.
Arga menggulir layar itu perlahan. Nama teman-teman kampus, grup kelas, grup angkatan, sampai beberapa dosen lain terlihat memenuhi layar. Tidak ada yang aneh sebenarnya.
Sampai gerakan jarinya mendadak berhenti di satu nama, 'Dosen Nyebelin' .
Ruangan mendadak terasa lebih hening.
Alis Arga perlahan terangkat tipis.
Beberapa detik pria itu hanya menatap nama kontak tersebut tanpa bergerak sedikit pun, seolah memastikan dirinya tidak salah baca.
Lalu rahangnya bergerak kecil.
“Dia… memberi nama nomorku dengan nama ini?” gumamnya pelan.
Arga mendecih pelan sambil menggeleng tipis.
“Ck. Menyebalkan sekali.”
Namun entah kenapa, ekspresinya tidak benar-benar terlihat kesal. Ia akhirnya menutup aplikasi chat itu lalu berpindah membuka galeri ponsel Rhea.
Dan begitu galeri terbuka...sudut bibir Arga langsung bergerak samar. Hampir seluruh isi galeri itu dipenuhi wajah Rhea sendiri.
Selfie di kampus. Foto blur bersama teman-temannya. Foto minuman. Foto langit. Bahkan ada beberapa foto absurd dengan ekspresi aneh yang jelas diambil secara random.
Arga menggulir layar itu perlahan sambil sesekali mengembuskan napas kecil seperti tidak habis pikir.
“Apa dia memang selucu ini…” ucapnya lirih tanpa sadar.
Namun beberapa detik kemudian, gerakan ibu jarinya tiba-tiba terhenti di satu foto. Tatapannya langsung diam di sana. Untuk sepersekian detik, Arga tidak bergerak sama sekali.
Lalu perlahan ia menyentuh layar itu dan memperbesar fotonya.
Foto mirror selfie.
Rhea berdiri di depan cermin dengan mini dress berwarna nude yang membungkus tubuhnya dengan pas. Warna lembut gaun itu justru membuat kulit Rhea terlihat semakin cerah, sementara potongan dress yang mengikuti lekuk tubuhnya membuat siluet tubuh gadis itu terlihat jelas di pantulan cermin.
Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat napas seseorang tertahan sesaat. Tatapan Arga terpaku lebih lama dari yang seharusnya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya benar-benar berubah.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Kecil. Tapi terasa.
Arga langsung mengerjap beberapa kali sambil mengalihkan pandangannya dari layar, seolah baru tersadar dirinya terlalu lama memperhatikan foto itu.
Rahangnya menegang samar.
Lalu tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menutup foto tersebut dan keluar dari galeri dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dibanding sebelumnya.
Ponsel milik Rhea langsung ia letakkan di atas meja ruang tengah. Cukup keras sampai menimbulkan bunyi kecil.
Arga mengusap wajahnya pelan sebelum menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa.
“Ck… sial…” gumamnya rendah.
Tatapannya beralih ke langit malam di balik jendela apartemen.
“Apa yang kupikirkan…”
...****************...
Pagi hari di kampus terasa sama seperti biasanya. Lorong fakultas mulai ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang membawa laptop, map tugas, dan gelas kopi di tangan mereka.
Suara obrolan bercampur langkah kaki memenuhi gedung yang perlahan hidup sejak jam pertama dimulai. Cahaya matahari pagi masuk dari jendela-jendela besar di sepanjang koridor, membuat suasana kampus terlihat hangat dan sibuk seperti hari-hari biasa.
Namun berbeda dengan biasanya, hari itu Rhea datang dengan perasaan yang benar-benar tidak tenang.
Semalaman ia bahkan sulit tidur hanya karena terus mengingat kejadian memalukan di ruangan Arga kemarin. Setiap kali mencoba memejamkan mata, yang terlintas justru suara video itu, ekspresi Arga saat menatapnya, dan fakta paling mengerikan dari semuanya... ponselnya masih ada di tangan dosennya sendiri.
“Ya Tuhan…” gumam Rhea pelan sambil menutup wajahnya sebentar begitu turun dari mobil di area parkiran kampus. “Malu banget sumpah…”
Ia berjalan cepat menuju gedung fakultas sambil terus menggigit bibir bawahnya sendiri gelisah. Langkahnya sedikit terburu-buru, membuat tas di pundaknya beberapa kali bergeser turun. Namun pikirannya sedang terlalu kacau untuk memedulikan hal sekecil itu.
Semakin dekat ke gedung kelas, semakin tidak nyaman perasaannya sendiri. Wajahnya langsung berubah frustrasi.
Lalu, Rhea baru saja hendak berbelok ke arah tangga ketika langkahnya kembali terhenti. Sosok tinggi yang sangat familiar terlihat berdiri beberapa meter di depannya.
Arga.
Pria itu baru saja datang dengan kemeja hitam dan tas kerja di tangan kirinya. Rambutnya masih sedikit berantakan seperti baru selesai mengeringkan diri setelah mandi pagi, sementara wajahnya tetap terlihat setenang biasanya, tanpa ekspresi berlebihan sedikit pun.
Dan justru itu yang membuat Rhea makin salah tingkah sendiri.
Arga hanya melirik sekilas ke arahnya sebelum mulai menaiki tangga tanpa mengatakan apa-apa.
Sementara Rhea berdiri terpaku sepersekian detik sebelum akhirnya refleks ikut berjalan di belakangnya.
“Pak Arga…”
“Hmm…”
“Ponsel saya, Pak…”
“Nanti.”
Jawabannya singkat. Datar. Bahkan Arga tidak menoleh sedikit pun.
Rhea langsung mengerut kesal sambil tetap mengikutinya menaiki tangga.
“Kenapa nanti, Pak? Sekarang saja.”
“Nanti, Rhea.”
Nada suaranya tenang sekali, seolah pembicaraan itu tidak penting. Padahal bagi Rhea, itu sudah seperti ancaman hidup dan mati pagi ini.
Tangga fakultas pagi itu cukup ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang menuju kelas masing-masing. Beberapa orang bahkan sempat melirik ke arah mereka saat melihat Rhea berjalan terus di belakang Arga sambil memasang wajah kesal sendiri.
Namun Arga tetap terlihat santai. Sementara Rhea sendiri terlihat makin tidak sabar.
“Pak…”
“Apa lagi?”
“Ponsel saya…”
“Nanti.”
Rhea langsung mendecih pelan sambil memutar bola matanya malas.
“Nyebelin banget sih…”
“Saya dengar, Rhea.”
Langkah Rhea langsung tersendat kecil. Wajahnya spontan berubah panik.
Sial.
Arga tetap berjalan naik tanpa menoleh, tetapi sudut bibirnya sempat bergerak tipis samar seperti sedang menahan sesuatu.
Beberapa detik kemudian mereka akhirnya sampai di depan kelas.
Arga membuka pintu terlebih dahulu lalu masuk ke dalam dengan langkah tenang. Suasana kelas yang tadinya cukup ramai langsung perlahan mereda begitu melihat dosen mereka datang.
Sementara Rhea masuk beberapa langkah di belakangnya sambil masih membawa wajah tidak tenang sejak tadi.
“Selamat pagi semuanya.”
“Pagi, Pak…”
Jawaban para mahasiswa terdengar kompak, meski beberapa masih setengah mengantuk.
Arga meletakkan laptop dan buku-buku di atas meja dosen sebelum perlahan mengangkat pandangan, mengamati seluruh isi kelas dengan tatapan tenang yang entah kenapa selalu berhasil membuat suasana mendadak lebih tertib.
Beberapa mahasiswa yang tadinya masih mengobrol langsung duduk rapi sendiri.
“Ada yang absen?”
“Tidak ada, Pak.”
“Bagus.” Arga mengangguk kecil sambil membuka laptopnya. “Kita kuis.”
“Hah?!”
Seketika satu kelas langsung ramai.
“Pak, masih pagi…”
“Belum ngopi saya, Pak…”
“Pak Arga emang hobinya nyusahin mahasiswa kayaknya…”
Keluhan terdengar dari berbagai arah, membuat beberapa mahasiswa lain tertawa pasrah sendiri.
Namun di bangku depan dekat jendela, Rhea justru hanya duduk diam sambil memijat pelipisnya perlahan.
Pikirannya sama sekali tidak masuk ke kelas.
Tatapannya kosong menatap meja, sementara kepalanya sibuk memikirkan satu hal yang sama sejak tadi pagi.
"Apa Pak Arga lihat semua isi ponselku ya…" batin Rhea semakin gelisah.
Perutnya kembali terasa melilit gelisah.
Dan saat mengingat nama kontak Arga di ponselnya sendiri, Rhea langsung memejamkan mata frustrasi.
“Hah…” desahnya lirih dalam hati. “Sial… pasti panjang urusannya habis ini…”