" Gue suka sama lo...lo harus jadi pacar gue!!" Suara berat seorang pria membuatnya cukup gugup.
"Maaf, tapi gue suka nya sama orang lain." Mirra dengan penuh keberanian menolak pria tinggi tegap yang berada di hadapannya.
"Nggak bisa, lo harus jadi pacar gue, titik!!!" Tegas pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mirra.
Mirra Afessya, gadis belia yang baru saja duduk di bangku kelas satu SMA itu harus dihadapkan dengan pria yang ternyata diam-diam dan pura-pura mengagguminya.
Akankah Mirra menerima pengakuan paksa itu? Ataukah Mirra akan menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Kylla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Sehat
Setibanya di sekolah, Satria langsung memarkirkan mobilnya, dan setelah itu Satria dan Mirra keluar secara bersamaan dari dalam mobil.
Dan dari kejauhan, ternyata Ajun dan Zian yang memang sedang berada di lapangan basket bisa melihat keduanya, bahkan Raya, Angkasa dan Jeje yang berada di dalam kelas bisa melihat Mirra dan juga Satria dari balik jendela kelasnya.
"Je...itu kakak kelas kan yang bareng sama Mirra? " Tanya Raya dengan kedua bola mata yang sudah terbelalak dengan begitu lebarnya.
"Iya, kok Mirra bisa bareng dia ya? Padahal gue udah sering banget nawarin dia berangkat atau pulang bareng, tapi Mirra nggak pernah mau." Jawab Jeje yang juga tampak terheran-heran.
Angkasa sedikit tersenyum menyeringai lalu kemudian mulai menyahuti apa yang baru saja Raya dan juga Jeje bahas. " Mungkin Mirra ada hubungan sama kakak kelas itu." Sahutnya.
"Emang iya?" Tanya Raya dengan semakin terkejut.
"Gue bilang mungkin...udah ah, biarin aja mau si Mirra berangkat sama siapa, nggak ada hak juga kalian buat kepoin dia." Tegur Angkasa.
Raya dan Jeje hanya saling bertukar pandangan setelah mendengar apa yang baru saja Angkasa katakan, lalu kemudian mereka berdua juga kembali melihat ke arah buku tugas mereka masing-masing.
Sementara di lapangan basket, Ajun yang melihat bagaimana Satria bisa berangkat bersama Mirra itu pun menjadi cukup cemburu, dia mengepalkan kedua tangannya dan Zian yang melihatnya pun langsung menepuk-nepuk pundak Ajun.
"Sabar Jun, lo kalah start sama Satria, udah cari cewek lain aja, emang cewek di sekolah ini cuma Mirra doang? Masih banyak cewek yang lain, yang lebih cantik."
"Diem ya lo Zian, lo tuh nggak tau apa-apa, Mirra tuh beda, dia walaupun cantik tapi nggak bisa langsung kemakan sama omongan cowok-cowok ganteng kayak gue ini, dan gue yakin, Satria pasti yang maksa Mirra buat bareng sama dia." Tuturnya dengan nada bicara sedikit sewot.
"Terserah dah, capek ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta mah."
"Udah diem lo, gue mau samperin si Satria." Ajun pun langsung berjalan menuju ke arah Satria begitu Satria dan Mirra mulai berpisah saat Mirra sudah mulai masuk ke dalam kelasnya.
"Sat!!!" Panggil Ajun sambil berlari ke arah Satria, dan Satria yang melihat bagaimana raut wajah kesal Ajun pun bisa menebak apa yang akan Ajun katakan kepadanya.
"Kenapa? Lo pasti mau tanya kenapa gue bisa berangkat bareng sama Mirra kan? "
"Kalo lo tau, langsung aja lo kasih penjelasan."
"Buat apa?"
"Ya biar nggak bikin gue salah paham."
"Dih, siapa lo? Males banget gue ngejelasin, emang Mirra siapa lo?"
"Sat, lo jangan ambil start ya, lo bilang kalo lo nggak kenal Mirra, sekarang lo malah ngeduluin gue, padahal jelas-jelas lo tau gue suka sama Mirra."
"Jun, denger ya...Mirra belum tentu suka sama lo, kenal sama lo aja nggak, palingan cuma sebatas tau kalo lo itu idup, dan kita bersaing sehat aja."
"Oke..." Walau Ajun tampak sangat kesal setelah mendengar apa yang baru saja Satria katakan, dia mencoba untuk tetap mengontrol emosinya." Kalau gitu, mulai hari ini kita bersaing sehat, nggak ada yang boleh curang."
"Elah...ngapain pake curang, kalo gue mah udah jelas bakalan gampang deket sama Mirra, kita saling kenal dan emang udah deket, nah kalo lo...usaha dulu aja sana buat bisa setidaknya ngobrol sama Mirra."
"Oke..." Jawab Ajun singkat lalu kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan Satria dengan raut wajah yang masih kesal.
Satria pun kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya, sedangkan di kelas Mirra, di kelas 10 IPA 1, saat Mirra baru saja masuk kelas, Raya yang sudah sangat penasaran pun langsung mencecar Mirra dengan beberapa pertanyaan.
" Mirr? Lo berangkat sama siapa? Dia kakak kelas kan? Kok lo bisa bareng dia? Rumah lo deketan?" Tanyanya beruntun.
"Sabar, satu-satu kalo nanya, gue duduk dulu."
"Ya udah, cepetan lo duduk terus langsung jawab pertanyaan gue tadi."
"Gue juga pengen dengar jawaban lo Mirr." Sahut Jeje yang juga sama penasarannya dengan Raya.
Sementara Angkasa, dia hanya diam sambil mencoba fokus pada buku tugasnya, namun secara diam-diam dia juga ingin mendengar jawaban dari Mirra.
"Dasar kalian berdua, kepo banget sih...dia kakak kelas, anak 11 IPA 2, dan gue berangkat bareng dia ya karena gue nggak enakan aja, dia baik banget, jadi nggak ada salahnya gue iyain pas dia nawarin gue tebengan. Sebelum-sebelumnya emang kita sering ngobrol di bus karena sering satu bus di rute yang sama, tapi ya gue nggak tau rumah dia dimana, soalnya yang biasa turun dari bus duluan gue." Jelas Mirra.
"Anak 11 IPA 2? Sepupu gue juga di kelas itu, tapi gue nggak deket sama dia, anaknya belagu, jadi males gue deket-deket sama dia." Ucap Jeje sambil memasang wajah nya yang tampak lega, dan ternyata bukan hanya Jeje saja yang merasa lega karena Mirra tidak ada hubungan khusus dengan Satria, Angkasa yang diam-diam mendengar penjelasan dari Mirra pun juga ikut merasa cukup lega.
"Emang siapa nama sepupu lo yang belagu itu? " Tanya Mirra kemudian.
"Fazian...gue nggak akur, jadi ya kalo ketemu atau papasan gue bakalan pura-pura nggak ngenalin dia."
"Fazian??? Kakak kelas rese itu??" Mirra langsung membelalakkan kedua matanya, bahkan Angkasa juga ikut terkejut karena dia juga tidak tau jika Jeje adalah sepupu Fazian.
"Iya, kenapa? Lo kenal?"
"Iya jelas gue tau dia, kalo kenal mah nggak ya, males banget, dia yang udah dua kali gue tabrak, dan dia juga yang sempet bikin mood gue ancur kemarin pas jam istirahat."
"Jadi yang lo ceritain kemarin bang Zian??? Wah, pantes aja lo sampe bete gitu...gue paham sekarang, emang anaknya nyebelin banget sih, jadi wajar kalo lo sampe sekesel itu." Jeje yang memang tidak akur dengan Fazian pun bisa mengerti mengapa Mirra bisa sangat kesal kepada Zian.
"Je, sepupu lo itu ganteng nggak? Kalo ganteng, bolehlah lo kenalin ke gue." Celetuk Raya yang membuat Jeje dan Mirra memelototinya secara bersamaan.
"Mending lo nggak usah kenal dia Ray, dari pada makan ati lo ntar...kalo masalah ganteng ya masih gantengan gue, jauh banget...dia mah bukan ganteng, tapi sok ganteng...jadi mending lo nggak usah cari penyakit dengan cara minta di kenalin, gue aja yang sepupunya males nyapa dia, apa lagi orang lain."
"Setuju, bener kata Jeje Ray, lo tau kan cowok yang lo bilang serem waktu kita di depan kelas 11 IPA 2, waktu itu lo ngejar gue pas pulang sekolah, dan gue nggak sengaja nabrak dia, nah...itu tuh orang nya."
"Oh jadi kakak kelas yang waktu itu...dia ganteng sih, tapi jutek nya itu lho...cuma mungkin karena itu dia keliatan berkharisma di mata gue kali ya..." Ucap Raya sambil sedikit tersenyum karena ia kini mulai membayangkan wajah Zian yang jutek pada saat itu.
Mirra dan Jeje hanya bisa menggelengkan kepala mereka." Je...bentar lagi bel masuk, lo ke bangku lo sana." Usir Mirra sehingga Jeje pun mulai mengangguk dan kemudian dia berjalan menuju bangkunya." Lo juga Ray, sana ke bangku lo, jangan ngehayal di depan gue." Lanjut Mirra sehingga Raya juga langsung berjalan menuju bangkunya.