NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9.Rahasia terbongkar.

Setelah membereskan barang-barangnya ke dalam lemari, Salsa merasa bosan hanya berdiam diri di dalam kamar. Rumah yang besar dan mewah ini terasa begitu sunyi, membuat telinganya sedikit perih karena keheningan yang mendalam.

"Ah, daripada bengong mending jalan-jalan dikit ah. Lihat-lihat rumahnya aja, siapa tahu ketemu calon suamiku yang misterius itu," gumam Salsa pelan.

Ia pun membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Lorong-lorong di lantai dasar sangat luas, lantainya mengkilap memantulkan bayangan lampu gantung yang indah. Salsa berjalan santai, tangannya sesekali menyentuh hiasan dinding atau vas bunga yang terlihat sangat mahal.

Beberapa kali ia berpapasan dengan para pelayan rumah tangga. Namun yang membuat Salsa heran, mereka semua terlihat sangat pendiam. Saat Salsa menyapa dengan senyum, mereka hanya menunduk hormat lalu berjalan cepat lewat tanpa menjawab sepatah kata pun. Wajah mereka datar, bahkan terlihat sedikit murung dan ketakutan.

"Eh? Kok pada diam semua sih? Apa emang orang kota emang gitu ya, sombong atau emang lagi banyak pikiran?" batin Salsa mengernyitkan dahi.

Tiba-tiba, dari arah tangga utama, terdengar suara langkah kaki yang berlarian panik. Salsa menoleh dan melihat salah satu pelayan wanita berlari turun dengan wajah pucat pasi, mulutnya tertutup rapat seolah menahan teriakan. Matanya terbelalak ketakutan.

Gadis itu berlari melewati Salsa tanpa menyadarinya, lalu langsung menghampiri dua rekan kerjanya yang sedang berdiri di dekat dapur. Karena Salsa memiliki pendengaran yang cukup tajam (dan juga karena para arwah sering berbisik), ia bisa mendengar percakapan mereka meski dibisikkan dengan sangat pelan.

"Lo kenapa sih?! Kok gemetar gitu?!" tanya salah satu pelayan.

"K-kamar... kamar Nona Rani di lantai atas!" jawab pelayan yang tadi berlari itu dengan suara terbata-bata. "Aku mau bersihin debu kok, eh pas buka gorden... aku lihat ada sosok tinggi besar berdiri di depan jendela! Wajahnya nggak kelihatan, tapi aku yakin itu bukan orang hidup! Aku langsung lari!"

Mendengar itu, kedua temannya justru tampak tidak terlalu kaget, malah terlihat cemas.

"Ya ampun... Lo beruntung cuma lihat bayangan doang. Gue pernah dengar suara langkah kaki di tengah malam padahal semua orang udah tidur," bisik yang satu lagi.

"Semua pelayan disini juga pernah kok ngerasain hal aneh di kamar itu atau di sekitar tangga utama," jelas pelayan yang lebih tua.

Salsa yang berdiri mematung di sudut lorong mendengar semua itu. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut, melainkan karena penasaran.

Perlahan, Salsa mengangkat pandangannya ke arah tangga utama yang gelap sedikit. Dan benar saja, tepat di pijakan tengah tangga, berdiri seorang pemuda tinggi besar memakai kaos oblong dan celana pendek. Punggungnya menghadap Salsa, kepalanya menunduk menatap sebuah bingkai foto besar keluarga Wijaya yang terpajang megah di dinding.

Aura di sekitar sosok itu tidak menyeramkan, justru terasa sedih dan kesepian.

Salsa menelan ludah. Ia ingat pesan Rian, 'Jangan keluyuran, jangan naik ke atas.' Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Lagipula, dia kan sudah biasa melihat yang begini.

Dengan langkah pelan, Salsa mendekat. Semakin dekat, sosok itu semakin jelas terlihat. Wajahnya tampan, mirip sekali dengan Rian tapi versi lebih muda dan lebih santai.

Salsa memberanikan diri bersuara.

"Permisi... Tuan?" panggilnya pelan.

Sosok itu menoleh. Matanya kosong tapi menatap Salsa dengan tenang.

"Kau bisa melihatku?" tanya arwah itu, suaranya terdengar seperti datang dari jauh.

"Bisa kok," jawab Salsa tersenyum simpatetik. "Siapa tuan?"

"Aku Reno, anggota keluarga Wijaya yang lama meninggal. "

"Jadi tuan ini cucu keluarga Wijaya?. "

Reno mengangguk pelan, lalu kembali menatap foto keluarga itu. Di foto itu terlihat lima orang: Ayah, Ibu, dan tiga anak. Reno yang paling tinggi berdiri di belakang, di sebelahnya ada Rian yang masih remaja dengan wajah garang, dan di depan ada Rani yang masih kecil.

"Iya. Aku Reno. Aku meninggal saat menyelamatkan Rani adikku dari ombak besar saat liburan di pantai." cerita Reno dengan datar.

Salsa ikut menatap foto itu. "Kasihan sekali Mas... pasti berat ya ninggalin keluarga."

"Bukan itu, tapi ada rahasia yang aku sembunyikan dari keluargaku di kamar Rani yang dulu menjadi kamar ku. "

"Jadi kamu tidak bisa pergi karena tidak bisa mengambilnya? "

"Benar."

Hening.

Lalu Salsa melihat foto keluarga Wijaya dan berpikir sambil menatap keluarga mereka.

"Tapi... kalau Mas Reno sudah meninggal..." Salsa tiba-tiba menoleh, matanya mulai berputar mencari koneksi. "Kalau cucu keluarga Wijaya yang dimaksud Kakek itu harusnya yang masih hidup kan? Terus siapa yang jadi calon suamiku?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Mata Salsa meneliti wajah Reno, lalu kembali menatap wajah Rian di dalam foto.

Wajahnya kok mirip banget sama Paman Rian?

Tunggu... Paman Rian?

Salsa tertegun. Otaknya mulai menyusun potongan-potongan puzzle yang selama ini terlihat aneh baginya.

Wasiat Kakek: Menikah dengan cucu Wijaya.

Paman Rian: bagian dari keluarga Wijaya, dia bukan anak Wijaya tapi cucu keluarga Wijaya.

Perilaku Rian yang aneh: Selalu menghindar saat ditanya soal calon suami, menyembunyikan foto keluarga, mengaku sebagai 'paman',terlihat gugup dan panik sendiri.

Dan satu hal lagi... Reno bilang dia kakak dari Rian. Berarti Rian itu adiknya, bukan keponakannya!

"BRAAAA!!"

Salsa memegang kepalanya sendiri, matanya membelalak lebar seolah tersengat listrik.

"Ya ampun!!! Gila!!! Jadi selama ini???" Salsa hampir berteriak tapi ditahannya. "Jadi calon suamiku itu bukan keponakan Paman Rian... TAPI RIAN SENDIRI???"

Salsa mundur selangkah menempel ke dinding. Wajahnya memanas merah padam.

Gila! Jadi selama di desa, selama di perjalanan, aku manggil dia Paman terus?! Padahal dia calon suamiku sendiri?! Dia sengaja bohongin aku?! Dia sengaja nutupin identitasnya?!

Bayangan kejadian kemarin malam muncul kembali. Rian yang marah, Rian yang takut hal mistis, Rian yang mengajaknya jalan tapi bersikap kaku. Semuanya masuk akal sekarang!

"Dasar pembohong! Dasar serius banget sih! Kenapa nggak ngomong terus terang aja sih?!" gerutu Salsa kesal campur malu. "Malu banget aku! Manggil paman terus padahal calon suami!"

Reno hanya tersenyum tipis melihat reaksi Salsa, lalu perlahan sosoknya menghilang ditelan bayangan dinding, meninggalkan Salsa yang masih syok setengah mati dengan kenyataan pahit sekaligus lucu ini.

Di tempat lain...

BRAKK!!

Sebuah mobil sport hitam melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Asap mengepul dari ban mobil yang berhenti mendadak di sebuah gang sempit di kawasan kumuh.

Pintu mobil terbuka lebar, dan keluarlah Rian dengan seragam lengkapnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah total. Mata tajamnya memancarkan aura mematikan. Napasnya teratur namun penuh dengan kekuatan yang siap meledak kapan saja.

"Serigala Gila sudah turun..." bisik salah satu anggotanya.

Di depannya, seorang pria bertato yang merupakan buronan pembunuhan berantai sedang berlari kencang, sesekali menembakkan senjata api ke arah polisi.

"JANGAN BIARKAN KABUR!!!" teriak Rian.

Tanpa rasa takut sedikitpun, Rian mulai berlari mengejar. Langkahnya panjang dan sangat cepat. Ia tidak peduli rintangan apa pun di depannya. Melompati tumpukan kardus, menabrak pagar bekas, hingga memanjat tembok bata dengan lincah.

"BERHENTI!!!" teriak Rian, suaranya menggelegar seperti raungan binatang buas.

Penjahat itu menoleh dan menembak tiga kali ke arah Rian. DOR! DOR! DOR!

Rian dengan sigap menghindar, memiringkan badannya secepat kilat hingga peluru hanya menyisir udara di samping pipinya. Ia tidak berhenti, justru kecepatannya semakin meningkat.

Julukan 'Serigala Gila' memang bukan tanpa alasan. Saat sedang bertugas, Rian berubah menjadi sosok yang kejam, tak kenal ampun, dan sangat menakutkan. Ia tidak akan berhenti sampai mangsanya tertangkap atau tumbang.

"Kau pikir kau bisa lari dariku?!" seru Rian.

Jarak di antara mereka semakin menyempit. Saat penjahat itu hendak menaiki tangga darurat sebuah bangunan tua, tiba-tiba Rian melompat tinggi.

BYURR!!

Dengan sebuah tendangan kapak yang sangat keras dan akurat, Rian menghantam punggung penjahat itu hingga tubuhnya terpelanting jatuh ke tanah keras.

GEDUBRAKK!!

Penjahat itu meringis kesakitan, senjatanya terlempar jauh. Ia belum menyerah, mencoba meraih pisau di saku celananya. Tapi Rian lebih cepat.

Dalam sekejap, Rian sudah menindih tubuh penjahat itu. Tangan kekarnya mencengkeram kedua tangan pelaku dengan sangat kuat hingga tulang-tulangnya seakan mau remuk. Wajah Rian menunduk sangat dekat, menatap mata penjahat itu tanpa kedip.

Aura mengerikan, dingin, dan mematikan terpancar dari mata Rian.

"Berani-beraninya kau membuatku repot..." desis Rian pelan, tapi nadanya sangat menakutkan. "Sekarang rasakan akibatnya."

Rian langsung memborgol tangan penjahat itu dengan kasar namun presisi. Ia menarik kerah baju pelaku dan menyeretnya berdiri. Wajah Rian datar, dingin, tanpa belas kasih sama sekali.

"Bawa!" perintah Rian singkat kepada rekan-rekannya yang baru datang terengah-engah.

Semua polisi di sana menunduk hormat dan takut. Mereka tahu, kalau Inspektur Wijaya sudah memakai wajah 'serigala' seperti itu, berarti dia sedang sangat serius dan tidak boleh diganggu.

Rian mengibaskan bajunya yang sedikit kotor, lalu mengambil radio komunikasi.

"Tim Bravo, target sudah diamankan. Kembali ke markas," lapornya datar.

Setelah itu, ia menghela napas panjang. Perlahan tapi pasti, aura mengerikan itu mulai memudar. Wajahnya kembali menjadi wajah Rian yang biasa, meski masih terlihat lelah dan tegang.

Ia mengeluarkan ponselnya, matanya melirik layar sejenak. Terbayang wajah Salsa yang polos dan ceria.

"Sial... harus cepat pulang. Gadis itu jangan sampai cari masalah atau ketahuan hal-hal aneh di rumah," gumam Rian sambil berjalan kembali ke mobilnya.

Ia sama sekali tidak tahu, bahwa saat ini di rumah, rahasia terbesarnya sudah terbongkar. Dan Salsa sedang menunggunya dengan perasaan campur aduk antara malu, kesal, dan heran.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!