Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 31
Sementara itu, di sisi lain kota, pegunungan kota S, atmosfer yang membentang terasa sangat kontras. Sebuah mansion megah berdiri angkuh di atas puncak perbukitan, lebih menyerupai istana bangsawan Eropa klasik ketimbang sebuah rumah tinggal pribadi.
Pilar-pilar marmer putih menjulang kokoh, menopang langit-langit berukir rumit tempat lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan. Di sepanjang dinding, deretan lukisan klasik bernilai fantastis seolah sengaja memamerkan kekuasaan pemiliknya.
Di dalam ruang keluarga utama yang luas, Alexander Ridge duduk santai di atas sofa kulit berwarna gelap. Dengan postur tubuh proporsional setinggi 184cm dan garis rahang tegas yang tampak seperti dipahat sempurna, pria itu memancarkan aura karismatik yang dominan.
Namun saat ini, kemewahan di sekelilingnya sama sekali tak mampu mengalihkan perhatian Alexander.
Tatapan matanya terus-menerus jatuh pada layar ponsel di genggamannya, menatap deretan nomor telepon yang sengaja tak di simpan, karena sebenarnya ia sudah hafal di luar kepala.
Nomor milik Aragon.
Alexander menyandarkan kepala ke sandaran sofa sambil menghela napas panjang. “Apa yang membuatnya sampai menghubungiku lebih dulu?” gumamnya, membiarkan sudut bibirnya terangkat tipis. “Aragon? Pria yang lebih memilih menghancurkan sebuah gedungnya sendiri daripada harus berurusan denganku? Dia bahkan tidak akan menelepon siapa pun meskipun dunia sedang kiamat.”
“Tuan Alexander…”
Hening. Tak ada jawaban.
“Tuan Alexander Ridge.”
Pria itu masih bergeming. Wanita yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya memutar bola mata kesal. “Kalau saya harus memanggil Anda sekali lagi, mungkin seluruh rambut saya sudah berubah beruban.”
Alexander tersentak, langsung tersadar dari lamunannya. “Ah, Yufei.”
Di hadapannya, berdiri seorang wanita cantik keturunan Tiongkok dengan setelan blazer hitam yang rapi tanpa cela.
Rambut panjangnya diikat ponytail dengan sempurna, memancarkan kesan profesional dan dingin. Sebagai tangan kanan Alexander, Yufei adalah satu dari segelintir orang yang bisa berbicara santai, bahkan sarkastis, kepada pria itu tanpa perlu takut kehilangan kepalanya.
“Tuan Ridge, saya rasa saya sudah memanggil Anda sejak seratus tahun yang lalu,” sindir Yufei.
Alexander tertawa lepas. “Hahaha… maafkan aku.” Ia mengangkat ponselnya sekilas. “Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak pagi.”
“Tentang panti asuhan itu?” tebak Yufei tepat sasaran.
Alexander mengangguk, ekspresinya kembali serius. “Aragon tidak pernah menghubungi orang lebih dulu, bahkan dalam situasi paling sekarat sekalipun. Tapi kali ini, dia mencariku hanya karena sebuah panti asuhan urban. Menurutmu itu masuk akal?”
Yufei menggeleng tegas. “Melihat sifatnya yang sama seperti bayi?Sama sekali tidak.”
“Nah, itu dia masalahnya.” Alexander berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke panorama pegunungan taman belakang. “Lalu, bagaimana dengan tikus bernama Bulldog itu?”
Yufei segera menyalakan layar tablet di tangannya. “Sesuai laporan intelijen yang saya terima dari pihak Aragon, Bulldog berusaha mengambil keuntungan pribadi. Dia ingin memaksa salah satu gadis dari panti asuhan itu untuk menjadi istrinya. Karena itulah dia mengancam akan meratakan panti dan mengusir seluruh anak-anak serta para suster.”
“Hmm.” Alexander mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir. “Kalau begitu, apakah bajingan itu sudah mati?”
Yufei terdiam sesaat, sedikit terkejut dengan pertanyaan frontal itu. “Maaf?”
“Yang dia hadapi adalah Aragon,” Alexander menyeringai tipis, kilat berbahaya melintas di matanya. “Pria itu tidak suka membuang waktu untuk sampah. Jika seseorang mengganggunya, biasanya orang itu langsung berakhir di dalam peti mati, mungkin itu terlalu terhormat, sayangnya, Aragon lebih suka memperlakukan mayatnya dengan membuangnya ke laut.”
Yufei berdeham pelan untuk menetralkan suasana. “Sepertinya kali ini sedikit berbeda. Dia masih hidup.”
“Oh?” Alexander mengangkat sebelah alisnya, tertarik.
“Menurut informasi, Bulldog saat ini masih ditahan secara privat oleh Hank.”
Mendengar nama itu, Alexander langsung tertawa terbahak-bahak. “Hank? Hahaha!”
Tawa renyah Alexander justru membuat bulu kuduk Yufei meremang.
Pria itu melanjutkan, “Kalau begitu, si Bulldog mungkin sedang berdoa agar dia didepak ke neraka secepatnya.”
Yufei mengangguk pelan, wajahnya mendadak berubah sedikit pucat saat ingatan masa lalu melintas di benaknya. “Saya mendengar kabar terbaru kalau keluarga Belluci juga berakhir di tangan brutal Hank. Kondisi mereka saat ditemukan… sangat mengerikan.”
Alexander melirik ke belakang lewat bahunya. “Mengerikan bagaimana?”
Yufei menelan ludah, menahan rasa mual yang tiba-tiba mendera. “Tubuh seluruh anggota keluarga ditemukan dalam keadaan terpotong-potong. Dan… potongan tubuh mereka dicampur menjadi satu di dalam satu ruangan mansion, lalu di bakar.”
Keheningan mencekam mendadak merayap di dalam ruangan. Namun, bukannya bergidik ngeri, Alexander justru mendengus bosan. “Hank memang selalu terlalu kreatif jika menyangkut seni menyiksa orang.”
Pria itu membalikkan tubuhnya, kembali pada teka-teki utama. “Tapi tetap saja… kenapa panti asuhan? Aragon bahkan membenciku setengah mati. Jadi, kenapa dia rela menurunkan harga dirinya untuk menghubungiku demi urusan sekecil itu?”
Yufei berpikir sejenak, sebelum sebuah senyum jahil yang jarang terlihat muncul di wajah dinginnya. “Bagaimana jika ini urusan asmara? Mungkin saja… ada cinta segitiga?”
Alexander hampir saja tersedak air liurnya sendiri. “Apa?”
“Tuan Aragon jatuh cinta,” goda Yufei dengan wajah lempeng.
Detik berikutnya, Alexander tertawa begitu keras hingga harus memegangi perutnya. “Aragon? Si balok es itu? Jatuh cinta?!”
Yufei mengangkat bahu, menikmati reaksi bosnya.
Alexander menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa. “Jika itu benar-benar terjadi, maka kutub utara dan kutub selatan mungkin sudah bertabrakan lebih dulu, Yufei.”
“Tapi faktanya, dia memindahkan seluruh penghuni panti ke hotel mewah miliknya,” potong Yufei, membawa kembali data objektif. “Dan Hank baru saja mengirimkan dokumen kepada saya, tentang permintaan perjanjian kepemilikan panti asuhan untuk dialihkan kepada Aragon, bahkan mau membayar 10 kali lipat dari harga pasar.”
Tawa Alexander langsung lenyap seketika. Perhatiannya kini tersedot sepenuhnya. “Sudah kau selidiki semua penghuni di sana?”
“Tentu saja.” Yufei melangkah maju, menyerahkan sebuah map tebal yang sejak tadi dipeluknya.
“Lengkap dengan latar belakang, foto, dan identitas asli mereka.”
Alexander kembali duduk di sofanya. Dengan gerakan santai, ia membuka halaman pertama map tersebut. Satu halaman, dua halaman, tiga halaman… ia membacanya dengan ekspresi bosan yang biasa.
Namun, ketika jarinya membalik lembar berikutnya, gerakan tangan Alexander mendadak membeku.
Suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi sedingin es. Yufei yang telah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun langsung menyadari perubahan drastis pada gestur tubuh atasannya. Atmosfer di sekitar Alexander mendadak berubah pekat dan berbahaya.
“Tuan?” panggil Yufei waspada.
Alexander tidak menyahut. Tatapan matanya terkunci rapat pada selembar foto seorang gadis yang tersemat di sana. Perlahan, ia membaca deretan huruf yang menyusun nama di bawah foto tersebut.
“Aurora Eleanor Lynn…” desis Alexander, suaranya mendalam dan sarat akan penekanan.
“Dia gadis yang diincar oleh Bulldog,” Yufei buru-buru menjelaskan. “Bulldog ingin menjadikannya alat pemuas, namun setelah Aragon turun tangan, situasi langsung berbalik. Aragon berniat membeli panti itu dan berniat membangunnya kembali.”
Namun, suara Yufei hanya lewat begitu saja di telinga Alexander. Fokusnya telah terisolasi sepenuhnya pada paras gadis di dalam foto.
Lama sekali ia menatapnya, hingga akhirnya, sebuah senyum tipis yang sarat akan arti perlahan terukir di wajah tampannya.
Senyum yang seketika membuat firasat Yufei memburuk. Sebab, setiap kali Alexander Ridge tersenyum dengan cara seperti itu, artinya pria ini baru saja menemukan sebuah target baru yang sangat berharga.
“Sekarang aku mengerti…” gumam Alexander lirih, kilat di kedua matanya berpendar penuh antisipasi dan rasa ingin tahu yang berbahaya. “Jadi, ini alasanmu yang sebenarnya, Aragon.”
“Tuan?” tanya Yufei bingung, tidak menangkap maksud terselubung itu.
Alexander menutup map tebal itu dengan ketukan pelan yang tegas. Senyum di wajahnya semakin dalam, memancarkan aura kepuasan yang absolut.
“Hmm… ini akan menjadi sangat menarik.”
“Tolak permintaan Aragon untuk membeli panti asuhan itu.” Perintah Alexander tegas.
Bersambung