NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Suntik Hormon.

Keputusan itu diambil malam itu juga.

Setelah percakapan di lantai 45, setelah Ben mengatakan “kita coba IVF” Junee hanya mengangguk pelan.

Tidak ada sorak. Tidak ada tangis.

Hanya ada rasa lelah yang akhirnya menemukan jalan keluar.

Satu minggu kemudian Ben dan Junee berada di klinik fertilitas yang sama.

Ruangan pemeriksaan. Bau antiseptik. Daftar pasien di tangan suster yang panjangnya setengah A4.

“Ini protokol stimulasi ovarium, Bu.” Jelas dokter Wina.

“Anda akan disuntik hormon setiap malam selama 10 sampai 12 hari. Tujuannya, agar sel telur matang lebih banyak. Nanti kita pantau lewat USG.” Imbuh dokter kandungan itu.

Junee menatap kotak obat itu cukup lama.

Di dalamnya ada jarum, alkohol swab, dan botol kecil berisi cairan bening.

Rasanya sangat aneh.

Dirinya, Junee Maharani, yang dulu tidak pernah takut jarum suntik, sekarang tangannya menjadi sangat gemetar hanya karena melihat saja.

“Aku harus suntik sendiri?” tanya Junee pelan.

“Tidak.” Jawab Ben. “Aku yang akan membantu kamu.”

Malam pertama itu rasanya sangat aneh.

Jam 9 malam.

Junee duduk di pinggir kasur, memakai kaos longgar, bagian perutnya terbuka sedikit.

Ben duduk di sebelah sang istri, tangannya juga gemetar saat memegang jarum suntik.

“Kamu yakin bisa?” tanya Junee pelan.

“Aku harus bisa.” Jawab Ben.

Ia menarik nafas dalam. Kemudian mengelap perut Junee dengan alkohol.

Terasa dingin di kulit.

“Siap ya?” Tanya Ben lagi.

Junee mengangguk pelan.

Jarum itu masuk ke dalam kulit perut Junee.

Hanya beberapa detik.

Tetapi, untuk Junee rasanya seperti lima menit.

Perih. Panas. Asin.

“Selesai.” Ucap Ben pelan. Namun suaranya tidak stabil.

Ben membuang jarum ke safety box, lalu langsung memeluk Junee dari samping.

“Maaf, ya.” Bisik pria itu.

“Untuk apa minta maaf?” Junee mengerutkan keningnya.

“Karena aku membuat kamu sakit.” Ucap Ben pelan.

Ia tau, Junee melakukan semua ini untuk dirinya. Karena ucapan Bu Ratna dan desakan para Direksi.

Junee terkekeh kecil.

“Kalau tidak sakit seperti ini, berarti kita tidak berusaha, Ben.” Tukas wanita itu.

Malam itu Ben dan Junee tidur dengan saling memeluk. Seolah takut kehilangan satu sama lain.

Tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka. Dan keduanya menyimpan harapan yang sama.

Semoga ada hasil terbaik untuk mereka.

- -

Hari ketiga, perut Junee mulai kembung.

Hari kelima, mood swing mulai datang.

Junee bisa menangis hanya karena iklan susu di TV.

Dan kembali ceria setelah mendengar suara anak - anak panti.

Hari ketujuh, Junee mengatakan sesuatu pada Ben.

“Aku merasa seperti kelinci percobaan, Ben.”

Ben hanya menanggapi dengan mengangguk pelan.

Ia tidak bisa membantah.

Karena Junee tidak mungkin mendengarnya.

Namun Ben tidak berhenti.

Setiap jam sembilan malam, pria itu menyiapkan jarum.

Setiap malam Ben berbisik. “Sakit sebentar ya, Junee. Untuk kita.”

Junee tidak pernah menolak.

Karena di balik rasa sakit itu, ada harapan kecil yang mulai tumbuh.

Hari kesepuluh, mereka kembali melakukan USG.

“Sel telurnya bagus, Bu. Dua belas folikel matang. Kita ambil dua hari lagi.” Ucap dokter Wina.

Junee keluar dari ruangan dengan kaki lemas.

Bukan karena lelah fisik.

Tetapi karena merasa takut.

Takut kalau setelah semua ini, hasilnya tetap nol.

Di mobil, Ben mengenggam tangan sang istri.

“Kalau gagal, kita coba lagi. Jangan memikirkan uang. Karena kita masih bisa menghasilkan nya. Tetapi, kalau badan kamu tidak kuat, kita berhenti sama - sama. Jangan memaksakan diri.”

Junee menatap Ben cukup lama.

“Kenapa kamu tidak menyerah dari sekarang, Ben? Aku sudah membuat hidup kamu berantakan.”

Ben menghela nafas panjang.

“Karena aku tidak akan pernah menyerah untuk mengurus orang yang aku sayang, Junee.”

Wanita itu pun terharu mendengar ucapan sang suami.

Ben kemudian membawa Junee pulang ke panti asuhan. Bertemu dengan anak - anak, mungkin bisa mengalihkan pikiran wanita itu.

- -

2 hari kemudian.

Hari pengambilan sel telur pun tiba.

Junee dibius total.

Sementara Ben menunggu di luar, berjalan mondar - mandir seperti orang yang tidak waras.

Dua jam kemudian dokter Wina keluar.

“Berhasil memdapatkan sembilan sel telur, pak. Tujuh matang. Sekarang kita fertilisasi dengan sper-ma Pak Pratama. Kita harus menunggu lima hari untuk lmeihat mana yang akan menjadi embrio bagus.” Ucapnya pada Ben.

Ben menganggukkan kepalanya. Ia hanya bisa mengikuti semua prosedur pemeriksaan.

Lima hari itu siksaan lain.

Junee tidak boleh stres.

Ben tidak boleh jauh.

Mereka tetap bekerja. Namun tidak sekeras sebelumnya.

Ben dan Junee seakan hidup dari satu pembaharuan hasil lab ke pembaharuan lab berikutnya.

Hari ketiga, lima embrio berhasil fertilisasi.

Hari kelima, tiga embrio grade A.

“Transfer dijadwalkan lusa.” Ucap dokter Wina.

“Pilih satu embrio dulu. Kalau gagal, masih ada dua cadangan.” Imbuhnya.

Junee keluar ruangan dan langsung memeluk sang suami.

Untuk pertama kali sejak tiga minggu ini, Junee memeluk Ben tanpa ragu.

“Tiga. Ben.” bisik Junee pelan.

“Tiga kesempatan.” Imbuhnya dengan suara serak.

Ben membalas pelukan itu. Lebih erat dari sebelumnya.

“Semoga ada yang berhasil, Junee.”

Hari itu mereka pulang dengan membawa harapan baru. 3 kali kesempatan menunggu di depan.

Junee menjalani harinya dengan penuh rasa gugup. Ada rasa takut, namun juga tidak sabar menunggu waktu itu tiba.

Dua hari berlalu seakan begitu lama.

Hingga, hari transfer embrio yang begitu di nantikan pun tiba.

Junee berbaring di ranjang operasi kecil.

Perutnya diolesi gel dingin.

Dokter memasukkan kateter kecil lewat inti tubuhnya, memindahkan embrio grade A ke rahim wanita itu.

“Tidak sakit ‘kan, Bu?” Tanya dokter Wina.

“Tidak, Dok.” Junee menelan ludahnya kasar.

Rasanya tidak bisa ia lukiskan dengan kata - kata.

Hanya sekitar lima menit.

Tapi lima menit itu rasanya seperti penentuan hidup mati.

“Selesai.” Ucap dokter Wina.

“Sekarang istirahat tiga puluh menit ya, bu. Dan jangan banyak bergerak dua hari ke depan.”

Junee keluar ruangan dengan perut yang masih rata.

Tapi di dalam sana, ada sesuatu kecil yang mungkin sudah mulai bertarung.

Ben mengajak Junee pulang ke penthouse.

Hening terjadi beberapa saat. Hingga Ben berkata sesuatu.

“Apa pun hasilnya, Jun… aku tetap bangga sama kamu.”

Junee menoleh ke arah sang suami.

“Untuk apa?” Tanyanya.

“Untuk kamu yang berani memcoba hal baru, padahal sudah enam bulan disakiti harapan.” Ucap Ben.

Junee tidak menjawab. Ia pun meraih tangan sang suami yang terbabas. Kemudian menggenggamnya erat.

---

1
Oma Gavin
semoga berhasil junee dan ben buah perjuangan cinta kalian jadi bayi premium
ardiana dili: up lagi kak
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semangat jun,semua pasti ada hasil nya kalau sudah di coba,semoga hasil nya lebih baik yang di harapkan
Naufal Affiq
jangan bertengkar lagi jun,pasti ada jalan keluarnya,bukan perpisahan,kalian saling menguatkan sesama pasangan jangan langsung bertengkar,untuk masalah anak itu hanya titipan,jadi banyak-banyak berdoa,semoga kamu diberi keturunan
ardiana dili
up. lagi kak
ardiana dili
up lagi kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
up lg kak
merry yuliana
senangnya kamu dicintai sebegitunya sama ben.. junee
pesan 1 kak
ardiana dili
semoga junne bisa hamil
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!