Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pamor yang Runtuh & Gengsi Seorang Tuan
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menjatuhkan seberkas cahaya tepat di atas ranjang king-size kamar utama. Calix terbangun lebih dulu. Saat kesadarannya perlahan terkumpul, ia merasakan kehangatan yang asing melingkupi tubuhnya. Ketika ia menunduk, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Mireya tertidur lelap di sampingnya, dengan satu lengan mungil gadis itu memeluk dada bidang Calix seolah takut pria itu pergi. Kepala Calix sendiri masih bersandar nyaman di dekat pundak Mireya.
Seketika itu juga, memori semalam berputar serentak di kepala Calix bagai proyektor rusak. Bayangan dirinya yang meracau mabuk, merengek minta dipangku, memohon-mohon manja minta kepalanya diusap dan di-puk-puk seperti anak kecil, hingga ingatan memalukan saat ia menolak membersihkan diri kecuali Mireya yang melepaskan kemejanya dan menggantikannya dengan piyama tidur... semuanya terekam jelas.
Sial, batin Calix bersungut-sungut, wajahnya mendadak memanas hingga ke telinga. Pamor sebagai pria gagah, dingin, dan ditakuti di dunia bisnis seketika runtuh tak bersisa hanya dalam satu malam akibat alkohol.
Namun, saat Calix hendak menggeser tubuhnya menjauh, pandangannya terkunci pada wajah Mireya. Dalam posisi tidur sedekat ini, gurat kedamaian terpancar jelas di wajah pucat istrinya. Bibir merah muda Mireya sedikit terbuka, napasnya teratur dan halus mengenai dada Calix. Hati Calix berdesir aneh. Rasa gemas dan debaran yang tak terbendung mendadak menguasai akal sehatnya. Ia menatap bibir ranum itu dengan gugup, menelan ludah, dan perlahan menundukkan kepalanya, tidak tahan untuk mencuri satu kecupan di sana.
Cup.
Bibir mereka bertautan dalam keheningan pagi. Namun, sentuhan lembut itu rupanya mengusik tidur lelap Mireya. Kelopak mata gadis itu mengerjap pelan, lalu perlahan terbuka, langsung mempertemukan iris mata bulatnya dengan netra elang Calix yang sedang berada tepat di atas wajahnya.
Calix tersentak panik. Jiwa tsundere-nya langsung mengambil alih kendali tubuhnya. Dengan gerakan kikuk, ia langsung menjauhkan wajahnya dan melompat bangun dari ranjang, merapikan piyamanya yang sedikit berantakan dengan ketus.
"Kamu sudah bangun?" ketus Calix, suaranya sengaja dibuat dingin dan berwibawa, meski matanya enggan menatap Mireya langsung. "Gara-gara kamu memelukku terlalu erat semalam dan tidak mau lepas, aku jadi bangun kesiangan! Badan pengawalmu ini sampai pegal semua karena tertahan olehmu."
Mireya mengerutkan keningnya dalam-dalam, mengucek matanya yang masih mengantuk sembari berusaha duduk di atas ranjang. Ia menatap Calix dengan pandangan tidak percaya sekaligus kesal.
"Aku yang tidak mau lepas?" beo Mireya, suaranya serak khas bangun tidur. "Tuan Calix yang terhormat, apa ingatanmu hilang bersama alkohol semalam? Semalam Anda sendiri yang merangkul pinggangku seperti memeluk guling, merengek minta diusap kepalanya, bahkan memaksaku mengganti baju piyama Anda karena Anda menolak disentuh Doni! Kenapa sekarang malah menuduhku?"
Wajah Calix memerah padam menahan malu, namun ia tetap menegakkan punggungnya angkuh. "Aku tidak ingat. Orang mabuk bisa melakukan apa saja, dan kamu sebagai istri kontrak harusnya tahu cara mengkondisikan situasi, bukan malah mengambil kesempatan untuk memelukku sampai pagi. Sudahlah, aku mau mandi. Bersiaplah untuk sarapan di bawah."
Tanpa menunggu jawaban Mireya, Calix berbalik cepat dan melangkah lebar menuju kamar mandi, membanting pintunya sedikit keras.
Mireya melemparkan bantal di pelukannya ke arah pintu kamar mandi dengan wajah cemberut. "Dasar pria aneh. Habis merengek manja semalam, paginya malah mengomel tidak jelas. Benar-benar bikin naik darah!" sungut Mireya kesal, meski dalam hatinya ada rasa geli yang samar mengingat betapa lucunya Calix saat mabuk.
Kecanggungan yang nyata berlanjut hingga ke meja makan panjang di lantai bawah. Suasana sarapan pagi itu terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh denting sendok yang beradu halus dengan piring porselen.
Mireya duduk dengan tenang, menyuap potongan buah dan roti gandumnya dengan anggun. Sementara itu, Calix yang duduk di ujung meja tampak tidak fokus dengan koran bisnis di tangannya. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah Mireya melalui sudut matanya. Setiap kali Mireya mendongak, Calix akan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah cangkir kopi hitamnya, berpura-pura sibuk menyesapnya.
Bi Ani yang berdiri di dekat dapur hanya bisa tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah aneh sang majikan yang mendadak salah tingkah sejak turun dari kamar tadi pagi.
Calix berdehem berat, mencoba memecah keheningan yang menyiksa egonya. "Ehem. Mireya."
Mireya meletakkan garpunya, menatap Calix datar. "Ya, Tuan Calix? Ada draf bisnis atau instruksi baru untuk rahimku hari ini?"
Pertanyaan Mireya yang kembali formal dan dingin membuat dada Calix kembali mencubit nyeri. Lidahnya mendadak kelu. Sebenarnya, mulutnya sangat ingin bertanya dengan lembut, 'Apa yang akan kamu lakukan hari ini di paviliun belakang? Apa kamu butuh bantuan untuk menyiapkan kanvas lukismu?' Namun, yang keluar dari bibir tsundere-nya justru kalimat yang terdengar kaku dan memerintah.
"Tidak ada instruksi khusus," jawab Calix ketus, memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Aku hanya ingin menegaskan... jangan berkeliaran di luar mansion hari ini. Dokter Januar bilang fisikmu masih sangat lemah dan tensimu rendah. Jadi, kamu harus banyak istirahat di dalam rumah. Jangan membuat suplemen mahal yang kamu minum setiap pagi jadi sia-sia karena kamu kelelahan bertingkah sok sibuk."
Mireya menatap Calix lekat-lekat, menyadari ada nada protektif yang tersembunyi di balik kalimat ketus suaminya itu. "Aku tahu. Hari ini aku hanya akan berada di paviliun belakang untuk belajar menyulam bersama Bi Ani, seperti yang Anda izinkan kemarin. Jadi Anda tidak perlu cemas aset Anda ini akan jatuh sakit lagi."
Calix mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan gejolak rasa gemas sekaligus kesal karena Mireya selalu mengaitkan perhatiannya dengan urusan kontrak rahim. Pria itu bangkit berdiri dari kursinya, merapikan jas kerjanya yang elegan.
"Bagus kalau kamu paham," ucap Calix dingin sembari melangkah meninggalkan meja makan. "Doni, siapkan mobil. Kita ke kantor sekarang."
Begitu punggung tegap Calix menghilang di balik pintu utama, Mireya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengembuskan napas panjang. "Bi Ani... apa semua pria kaya di kota ini memiliki kepribadian ganda seperti Tuanmu itu?" tanya Mireya heran.
Bi Ani tertawa kecil, melangkah mendekat untuk merapikan piring. "Nyonya Muda... Tuan Besar itu sebenarnya sangat mengkhawatirkan Anda. Hanya saja, beliau terlalu gengsi untuk mengatakannya dengan cara yang manis. Percayalah pada saya, hati Tuan sudah mulai mencair karena Anda."
Mireya hanya terdiam mendengarnya, menatap benang sulam di dekat kursinya, bertanya-tanya dalam hati ke mana arah takdir pernikahan kontrak ini akan membawanya pergi.
semangat terus ya Thor...