NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muncul Rahasia

Venue gala dinner itu bukan gedung biasa. Ballroom lantai tiga puluh dua, pemandangan Jakarta malam dari balik dinding kaca penuh, lampu-lampu kota yang berpendar seperti bintang yang jatuh ke bawah. Zahra turun dari mobil dan untuk tiga detik pertama lupa sedang tidak baik-baik saja karena tempatnya terlalu indah untuk tidak mengagumi.

Lalu seorang pria paruh baya menyambut mereka di pintu masuk dan menyebut nama Rafandra dengan nada yang terlalu akrab, dan Zahra kembali ke realita.

"Gue di sini sebagai istri CEO. Fokus." batinnya memaksan fokus.

Rafandra berjalan masuk dengan langkah yang sama tenangnya seperti biasa tapi ada sesuatu yang berbeda. Di sini, di antara orang-orang berbaju mahal dan senyum yang dilatih, Rafandra bukan sekadar pria dingin yang tinggal serumah dengan Zahra.

Dia pusat perhatian.

Bukan karena dia yang paling berisik justru sebaliknya. Tapi mata orang-orang bergerak ke arahnya waktu dia masuk. Percakapan yang sedang berlangsung sedikit terjeda. Beberapa orang mengangguk hormat dari jauh.

Zahra berjalan di sebelahnya dan mencoba tidak kelihatan seperti orang yang baru pertama kali masuk ke dunia ini.

"Rileks," kata Rafandra pelan hanya cukup keras untuk Zahra dengar.

"Gue santai kok," bisik Zahra balik.

"Bahumu tegang."

Zahra dengan sadar menurunkan bahunya.

Sudut bibir Rafandra sangat tipis, sangat singkat bergerak ke atas.

"Dia senyum?." Hampir.

.

.

.

Satu jam pertama berlangsung seperti yang Zahra bayangkan dan lebih melelahkan dari yang dia pikirkan.

Rafandra memperkenalkan Zahra ke beberapa orang. Singkat, formal.

"Istri saya, Zahra." Tidak ada tambahan informasi, tidak ada konteks. Hanya itu tapi diucapkan dengan nada yang tidak memberi ruang untuk dipertanyakan.

Zahra tersenyum. Berjabat tangan. Menjawab pertanyaan basa-basi dengan jawaban yang cukup ramah tapi tidak membuka terlalu banyak.

"Kuliah di mana? Sudah lama menikah? Berapa umurnya?"

Zahra tersenyum lebih lebar.

"Iya, gue tau. Beda usianya jauh. Kalian nggak perlu repot-repot subtle." muak dengan pertanyaan membosankan.

Di satu titik, Rafandra pergi sebentar untuk berbicara dengan seseorang di sudut ruangan dan Zahra ditinggal sendiri dengan dua istri rekan bisnisnya yang ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang dia kira.

Mereka bicara soal restoran baru di Kemang dan drama terbaru di kalangan sosialita Jakarta dengan antusias yang membuat Zahra genuine tertawa dua kali.

Waktu Rafandra kembali, dia berdiri sebentar di pinggir lingkaran percakapan itu menatap Zahra yang sedang tertawa sebelum masuk dan dengan halus mengakhiri percakapan.

"Maaf menyela," katanya ke dua wanita itu. "Ada beberapa orang yang ingin bertemu Zahra."

Zahra melirik ke arahnya.

"Ada?" Matanya bertanya.

Rafandra tidak merespons hanya berjalan dan Zahra mengikuti karena tidak ada pilihan lain.

"Siapa yang mau ketemu gue?" bisik Zahra waktu mereka berjalan.

"Tidak ada," jawab Rafandra sama pelannya.

Zahra menoleh. "Terus?"

"Kamu tertawa terlalu keras."

Zahra hampir tersedak. "Hanya itu?!"

"Di acara seperti ini, setiap hal yang kamu lakukan diamati." Rafandra menatap ke depan. Suaranya bukan marah lebih ke menjelaskan. Tapi tetap saja.

"Termasuk dengan siapa kamu berbicara dan bagaimana caranya."

"Gue cuma ngobrol sama mereka, Om."

"Aku tahu." Dia berhenti di dekat jendela yang menghadap kota. Menoleh ke Zahra.

"Tapi ada beberapa orang di sini malam ini yang akan menggunakan apapun yang mereka bisa untuk mencari celah. Dan istri yang terlihat terlalu santai dengan orang yang baru dikenal bisa dibaca bermacam-macam."

"Jadi gue harus kelihatan kaku dan nggak punya kepribadian?"

"Tidak." Untuk pertama kali malam itu, Rafandra menatap Zahra langsung bukan sekilas, bukan memindai. Benar-benar menatap.

"Tapi kamu perlu tahu permainan yang sedang berlangsung di ruangan ini. Supaya kamu tidak jadi bidaknya tanpa sadar."

Zahra diam. Kalimat itu bukan instruksi. Bukan kritik. Itu peringatan. Dan nadanya meski tetap datar terasa seperti sesuatu yang janggal.

"Dia lagi melindungi gue?."

.

.

.

Tengah malam, acara hampir selesai dan tamu-tamu berpencar ke berbagai arah, seorang pria mendekati mereka.

Enam puluhan. Rambut putih. Setelan abu-abu yang mahal. Wajahnya familiar dengan cara yang Zahra tidak langsung bisa identifikasi seperti pernah melihatnya tapi tidak ingat di mana.

Yang langsung Zahra tangkap adalah reaksi Rafandra. Bahu yang selalu lurus itu sedikit berubah bukan tegang, lebih ke siap siaga. Seperti seseorang yang melihat sesuatu dari jauh dan sudah menghitung langkah sebelum hal itu datang.

"Rafandra." Pria itu mengulurkan tangan, senyumnya lebar tapi tidak sampai matanya.

"Pak Irwan." Rafandra menjabat. Singkat.

Pria bernama Pak Irwan itu mengalihkan matanya ke Zahra dan tersenyum dengan cara yang membuat Zahra tiba-tiba ingin mundur satu langkah.

"Ini istrimu yang baru?" Nada suaranya ramah di permukaan. "Anak Hendra ya? Saya kenal ayahmu, Nak."

"Oh." Zahra tersenyum sopan. "Iya, Pak."

"Cantik." Pak Irwan mengangguk ke Rafandra. "Pilihan yang menarik."

'Pilihan yang menarik.' Bukan "selamat" atau "senang berkenalan." Tapi pilihan yang menarik seperti Rafandra baru beli aset baru yang cukup mengagumkan.

Zahra menjaga senyumnya tetap di hangat.

"Saya dengar Hendra sudah tidak ikut proyek Selatan lagi," kata Pak Irwan, kasual tapi matanya ke Rafandra, mengamati.

"Restrukturisasi portofolio." Rafandra singkat.

"Tentu, tentu." Pak Irwan mengangguk pelan.

"Dan pernikahan ini bagian dari... restrukturisasi itu juga?"

Udara di sekitar Zahra rasanya turun beberapa derajat. Rafandra tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi ada di sisi tubuhnya bergerak, dan tiba-tiba ada di punggung bawah Zahra. Ringan. Hampir tidak terasa.

"Pernikahan ini urusan pribadi," kata Rafandra. Nada yang sama. Tapi ada sesuatu di baliknya yang final seperti pintu yang dikunci.

Pak Irwan tersenyum, senyum yang tidak berubah. "Tentu saja."

Percakapan berlanjut beberapa menit lagi soal hal-hal yang Zahra tidak sepenuhnya ikuti nama-nama proyek, angka-angka yang lewat terlalu cepat.

Waktu Pak Irwan akhirnya pergi, tangan itu perlahan turun dan kembali ke sisi Rafandra.

Zahra menghela napas yang tidak sadar dia tahan.

"Siapa dia?" tanya Zahra pelan.

"Orang yang perlu kamu ingat wajahnya." Rafandra menatap punggung Pak Irwan yang menjauh. "Dan hindari kalau dia mendekatimu kalau aku tidak ada."

Zahra menoleh tajam. "Kenapa?"

Rahang Rafandra mengencang tipis.

"Om." Zahra menurunkan suaranya. "Gue mau tau, penasaran banget."

Hening beberapa detik.

"Dia salah satu alasan pernikahan ini terjadi lebih cepat dari yang direncanakan," kata Rafandra akhirnya. Pelan. Hati-hati. Seperti menimbang setiap kata sebelum dilepas.

Zahra menatapnya.

'Lebih cepat dari yang direncanakan.' Berarti pernikahan ini sudah direncanakan sebelumnya. Dan ada sesuatu yang mempercepat jadwalnya. Sesuatu yang berkaitan dengan pria bernama Pak Irwan itu.

"Om tadi bilang—" Zahra berhenti, memastikan tidak ada yang bisa mendengar. "Pernikahan ini sudah direncanakan?"

Rafandra menatapnya. Lama.

"Bukan disini tempatnya," jawabnya.

"Lalu?"

"Waktu yang tepat."

Zahra menarik napas panjang.

"Waktu yang tepat. Lagi." menghebuskan nafas frustasi.

Lebih seperti seseorang yang menyimpan sesuatu bukan karena pelit tapi karena takut. Takut apa?

.

.

.

Di dalam mobil perjalanan pulang, Zahra menatap lampu-lampu Jakarta yang bergerak di luar jendela. Rafandra duduk di sebelahnya, diam seperti biasa.

Tapi malam ini diamnya berbeda.

"Om Rafa," kata Zahra pelan.

"Hm."

"Sejak kapan pernikahan ini direncanakan?"

Hening panjang. Cukup lama sampai Zahra hampir berpikir dia tidak akan menjawab.

"Sudah sangat Lama," kata Rafandra akhirnya.

Zahra menoleh. Rafandra menatap ke depan ke punggung kursi supir, ke jalanan yang bergerak di balik kaca depan. Profil wajahnya di bawah lampu jalan yang lewat bergantian, tegas, tenang, tapi di sudut matanya ada sesuatu yang Zahra baru pertama kali lihat di sana.

Terlihat seperti orang yang bersalah. Zahra memalingkan muka ke jendelanya lagi. Hatinya berdegup tidak karuan. Dan Zahra punya firasat kuat, kebenaran yang akan mengubah cara dia melihat semua yang sudah terjadi.

Semua yang sudah terjadi sejak jauh sebelum hari akad itu. Bahkan sejak sebelum Zahra cukup dewasa untuk mengerti.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!