Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
POV: Nara
Wajah itu kembali terpampang jelas di cermin kamar mandi. Rambutku masih setengah basah, helaian-helaian lembapnya menempel di pipi dan leher. Pantulan itu menatapku tanpa ampun—terlalu jelas, terlalu nyata.
“Lo pikir wajah lo itu bisa menggantikan Viona?”
“Kalian seperti saudara kembar.”
“Jangan berharap terlalu banyak. Dia cuma cinta Viona. Dia nggak akan bisa cinta orang lain.”
Suara-suara itu seperti hidup kembali. Menggema, berulang, menelusup ke celah pikiranku tanpa izin. Tanganku perlahan menyentuh dada yang masih terbalut handuk. Napasku terasa berat. Aku membenci wajah ini. Aku tidak pernah meminta wajah ini.
Kalau memang wajah ini hanya bayangan seseorang yang sudah tiada, kenapa harus aku yang memakainya?
“Kembalikan wajahku…” gumamku lirih pada pantulan sendiri.
Prang!
Tanpa sadar tanganku meraih vas bunga di dekat wastafel dan melemparkannya ke arah cermin. Kaca itu retak, garis-garis pecahnya menyebar seperti urat di permukaan air yang beku. Wajahku terbelah menjadi serpihan-serpihan kecil.
Aku terisak, lututku lemas, tubuhku merosot ke lantai yang dingin. Serpihan kaca berceceran di sekelilingku. Aku meringkuk, memeluk lutut sendiri, membiarkan tangisku pecah tanpa suara. Aku muak, lelah—Lelah dengan bayangan orang lain yang terus melekat pada diriku. Tanpa kusadari, malam telah larut. Udara dingin merayap masuk dari jendela kamar yang tirainya tersibak. Entah berapa lama aku tertidur di lantai kamar mandi dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku keluar kamar. Rumah terasa sunyi. Mungkin Dev ada di kamarnya. Aku mengetuk pintu kamar Dev.
“Dev?”Tidak ada jawaban.
Kuketuk lagi. Hening.
Kugenggam gagang pintu, dan ternyata tidak terkunci. Pintu itu terbuka perlahan tapi kamarnya kosong. Aku mengecek kamar mandi di dalamnya. Tidak ada siapa pun.
Mungkin ia keluar. Aku mengambil satu buku dari raknya dan duduk di tepi ranjang, berniat menunggunya sambil membaca. Huruf-huruf di halaman bergerak tanpa benar-benar kupahami. Kepalaku masih penuh oleh suara-suara tadi. Tanpa sadar, aku tertidur.
Samar-samar aku merasakan sentuhan di pipiku. Hangat dan pelan.
“Dev…” suaraku serak ketika membuka mata.
Ia sudah duduk di tepi ranjang. Hanya handuk yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh di bahunya.
“Kamu dari mana?” tanyaku pelan.
“Ada urusan. Mendadak.” Tangannya masih mengelus pipiku. “Aku tidak sempat pamit.”
“Maaf aku ketiduran di sini. Aku mau nunggu sambil baca… tapi malah tidur.”
Dev tersenyum tipis. “Kamu memang payah kalau soal membaca.”
Aku ikut tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. Aku bangkit duduk, jarak kami kini sangat dekat, terlalu dekat.
Ia menatapku lama. Tatapan yang mulai kukenal—tatapan yang selalu berujung pada satu hal. Ia mendekat.
“Dev… jangan dulu. Aku sedang tidak mood.” Tanganku mendorong dadanya pelan.
“Kenapa?” suaranya tetap lembut, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku waspada.
“Tidak apa-apa. Hanya sedang tidak ingin.”
Aku hendak turun dari ranjang, tetapi tangannya lebih cepat menahan pundakku.
“Tapi aku ingin.”
Kalimat itu membuat perutku mengeras. Ada nada tegas yang berbeda dari biasanya. Aku menepis tangannya, mencoba berdiri. Ia menarikku kembali, kali ini lebih kuat. Tubuhku terduduk lagi di ranjang. Tangannya mencengkeram leherku—tidak sampai menyakitkan, tapi cukup untuk membuatku terpaku. Wajahnya mendekat, bibirnya menuntut, mengabaikan penolakanku.
“Dev… jangan lagi,” pintaku lirih.
“Sejak kapan Nara membantah?” bisiknya. Tangannya menyentuh rambutku, menariknya sedikit. Tidak keras, tapi cukup membuatku terkejut.
Aku terdiam. Jantungku berdetak cepat, aku tahu semakin aku melawan, semakin ia kehilangan kendali.
“Kita lakukan cepat. Setelah itu kamu boleh pergi,” ucapnya.
Tubuhku terdorong ke ranjang. Ia berdiri sebentar, melepaskan handuk yang sedari tadi melingkar di pinggangnya. Aku menutup mata sejenak, berusaha menenangkan diri.
“Lihat aku.” Nada itu bukan lagi permintaan.
Aku membuka mata, meski pandanganku masih menyamping.Ia menarikku hingga duduk kembali, lalu membalikkan posisi kami. Sekarang aku berada di atasnya. Tangannya menahan pinggangku.
“Buka.”
Aku menatapnya bingung.
Ia menunjuk pada dress yang kukenakan. Napas panjangku tertahan. Aku tahu penolakan hanya akan membuat malam ini lebih buruk. Dengan tangan gemetar, aku membuka dress itu perlahan. Tatapannya berubah menjadi puas.
Ia menyentuhku tanpa kelembutan yang biasa ia perlihatkan di depan orang lain. Tidak ada lagi kehati-hatian. Hanya keinginan yang mendesak, seolah aku bukan seseorang—hanya sesuatu yang harus ia miliki. Aku tidak melihat Dev yang dulu. Aku melihat seseorang yang asing.
“Nara.”
Aku menoleh.
“Kali ini aku tidak akan melakukan apa pun. Kamu yang pegang kendali.”
Awalnya aku tidak mengerti. Lalu maksudnya menjadi jelas.
Rasa canggung menjalari tubuhku. Ini bukan tentang kedekatan. Ini tentang kuasa. Aku hanya ingin semua ini selesai. Aku bergerak sesuai yang ia inginkan. Ia mengarahkan, mengoreksi, bahkan membentak ketika menurutnya aku salah.
“Konsisten, Nara.”
Aku lelah. Tapi aku tetap melanjutkan.
“Fokus.” Nada suaranya mulai meninggi.
Aku menggigit bibir, menahan kesal. Ingin berteriak, ingin mendorongnya menjauh. Tapi ketakutan menahanku.
“Iya… bagus,” katanya kemudian, puas.
Tangannya memegang pinggangku, mengatur irama sesuai kehendaknya. Seolah aku bukan pasangan, melainkan sesuatu yang harus bekerja dengan benar.
“Kamu mulai pintar.” Tawa kecilnya terasa asing di telingaku.
Dia mengerang sakit namun menikmatinya. Tangannya kini mencengkram seprai, badannya menegang. Nafasnya tersengal-sengal.
"Kita hampir selesai." Suaranya berat.
Beberapa menit kemudian, semuanya selesai. Tubuhku gemetar, bukan karena bahagia, tapi karena lelah—fisik dan batin. Aku terjatuh lemas di atasnya. Ia mencengkeram rambutku pelan, mengecup keningku.
“Thank you, Nara.”
...***...
Pov: Devandra
Pintu kamar kubuka pelan setelah sampai di rumah. Tubuhku masih terasa lengket oleh keringat dan debu jalanan. Lampu kamar menyala redup.
Dan di sana—Nara tertidur di ranjangku.
Buku terbuka di sampingnya, satu tangannya masih menggenggam ujung halaman. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal. Ia bahkan tidak sadar pintu terbuka.
Aku berhenti sejenak. Dia menungguku dan bukan di kamarnya—Di kamarku. Ada rasa aneh yang muncul di dadaku—bukan lembut, bukan juga marah. Lebih seperti kepemilikan yang menghangat.
Tapi tubuhku lengket dan kepalaku penat. Aku tidak ingin membangunkannya dalam keadaan seperti ini. Aku mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi tanpa bersuara. Air dingin menghantam bahuku. Aku memejamkan mata, membiarkan pikiranku kosong beberapa menit. Hari ini melelahkan. Terlalu banyak yang harus kupikirkan.
Tentang Nara yang beberapa hari ini terasa berbeda. Tentang tatapannya yang sering menghindar. Tentang jarak yang mulai kurasakan meski ia masih berada di sampingku.
Air mengalir turun melewati wajahku. Aku tidak suka perasaan kehilangan kendali. Dan akhir-akhir ini, aku merasa kendali itu perlahan lepas. Setelah selesai mandi, aku melilitkan handuk di pinggang dan keluar.
Ia masih tertidur. Lebih damai sekarang.
Aku berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang. Buku itu sudah tergeser sedikit. Nafasnya teratur. Pipi kirinya sedikit tertekan oleh bantal. Tanganku tanpa sadar menyentuh pipinya.
Ia bergerak kecil, lalu perlahan membuka mata. “Dev…” suaranya serak, masih setengah sadar.
“Aku pulang,” kataku pelan.
“Kamu dari mana?”
“Ada urusan. Mendadak.” Aku mengusap pipinya lagi. “Aku tidak sempat pamit.”
Ia meminta maaf karena tertidur.
Aku tersenyum tipis. “Kamu nunggu sampai tidur?”
Ia mengangguk kecil.
Ada sesuatu dalam dadaku yang menegang sekaligus puas. Ia menunggu. Ia tetap di sini.
Aku memperhatikannya lebih dekat. Matanya terlihat sedikit sembab. Seperti habis menangis.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat.
Jawaban itu membuatku semakin curiga. Tapi aku tidak ingin langsung menekannya. Tidak malam ini.
Aku mendekat, berniat menciumnya. Ia menahan dadaku pelan.
“Dev… jangan dulu. Aku sedang tidak mood.”
Kata-kata itu membuat tanganku berhenti.
Tidak mood? Sejak kapan ia menolak?
“Kenapa?” tanyaku, tetap tenang.
“Hanya sedang tidak ingin.”
Ia mencoba turun dari ranjang. Refleksku lebih cepat. Tanganku menahan pundaknya. “Tapi aku ingin.”
Kalimat itu keluar sebelum sempat kupikirkan. Ia menepis tanganku. Dadaku terasa sesak, bukan karena hasrat—Karena penolakan. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Aku menariknya kembali. Tidak keras, tapi cukup membuatnya duduk lagi. Tanganku menyentuh lehernya, hanya untuk menahannya agar tidak menjauh. “Sejak kapan kamu membantah?” tanyaku pelan, nyaris berbisik.
Ada ketegangan di udara. Aku bisa merasakannya. Ia memohon pelan agar berhenti. Tapi pikiranku sudah dipenuhi satu hal: aku harus memastikan ia masih di sini.. masih bersamaku.. masih milikku.
“Kita lakukan cepat. Setelah itu kamu boleh pergi.”
Aku tahu itu terdengar seperti transaksi. Tapi yang kupikirkan hanya menyelesaikan jarak ini. Menghapus dingin di antara kami.
Saat ia menurut dengan ragu, aku melihat kecanggungan dalam gerakannya. Dan itu membuatku semakin sulit menahan diri. Aku mengarahkannya.. mengoreksi. Nada suaraku meninggi tanpa kusadari.
“Konsisten, Nara.”
Ia terlihat lelah. Aku melihatnya, dan ada dua suara dalam kepalaku. Satu berkata berhenti.
Satu lagi berkata pastikan dia tetap di sini—Aku memilih yang kedua.
Ketika semuanya selesai, tubuhnya jatuh lemas di atasku. Nafasnya berat. Aku mencengkeram rambutnya pelan, mengecup keningnya. “Thank you, Nara.”
Aku menatap langit-langit kamar. Seharusnya aku merasa puas. Tapi yang kurasakan justru aneh. Ia berada di sini, di atas tubuhku. Namun kenapa rasanya seperti aku baru saja menggenggam sesuatu yang sedang mencoba lepas?