NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambang Benturan

Napas Davika tercekat di tenggorokan. Lemak soto daging yang masih hangat di permukaan bibir ombrenya mendadak terasa hambar dan dingin. Dengan mata green-gray yang melebar sempurna, ia menatap foto digital beresolusi tinggi itu. Sudut pengambilan gambarnya begitu presisi, diambil dari celah ventilasi atau pintu yang terbuka sedikit di koridor beton tempat Mbak Nara berlindung.

"Ini... ini beneran bukan hoaks kan?" bisik Davika pada dirinya sendiri. Tangannya yang mungil mulai gemetar, membuat gantungan capybara di tas sekolahnya yang tergeletak di dekat meja makan ikut bergoyang pelan.

"Davik, kenapa melamun? Ayo makan duluan kalau kamu sudah lapar," suara Ibu Rahayu mengalun dari arah pintu belakang. Ibu baru saja selesai mencuci tangan setelah merapikan instalasi hidroponiknya. Wajahnya yang hangat tampak sedikit layu karena kelelahan emosional yang tertahan sejak subuh.

Davika dengan kecepatan kilat langsung membalikkan layar ponselnya ke bawah, menempelkannya ke meja kayu. Sifat komedinya yang random dipaksa bangkit demi menutupi kepanikan yang nyaris meledak di dadanya. "Eh, Ibu! Enggak apa-apa, kok. Ini... Davik lagi mikir, kok soto buatan Davik baunya terlalu enak ya? Takutnya nanti tetangga sebelah rumah pada antre bawa mangkuk ke sini."

Ibu Rahayu terkekeh pelan, duduk di salah satu kursi makan. "Kamu ini, ada-ada saja. Tapi... Bapak sama Mbak Nara belum kasih kabar juga?" Ibu melirik jam dinding bulat yang detaknya terasa makin nyaring dan lambat. Pukul delapan lewat dua puluh menit malam.

"Mungkin jalanan macet total, Bu. Biasalah ibu kota, kalau enggak macet berarti lagi kiamat," sahut Davika asal, mencoba menahan getaran suaranya. Di bawah meja, jemari kakinya meremas ubin lantai yang dingin. Pikirannya tidak lagi berada di dapur ini. Pesan misterius itu nyata. Seseorang sedang mengintai kakak dan bapaknya di dalam labirin beton hotel mewah itu, dan Davika dipaksa menonton dari kejauhan tanpa bisa berbuat apa-apa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di koridor bawah tanah hotel, atmosfer telah mencapai titik didih. Dua pria berjaket kulit hitam yang muncul dari balik tikungan langsung menghentikan langkah kaki mereka begitu melihat siluet tegap Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari yang berdiri menghalangi jalan.

"Gus Zayyad," pria yang memegang map kulit cokelat tua itu menyapa dengan nada yang tidak memiliki rasa hormat sedikit pun. Suaranya serak dan berat, bergema di antara pipa-pipa baja di langit-langit koridor. "Kami tidak punya urusan dengan Anda. Abah Kiai menanti Anda di pesantren, bukan di lorong tikus seperti ini bersama seorang sopir taksi."

Zayyad tidak bergeser satu inci pun. Tubuh kekarnya yang dibalut kemeja hitam memancarkan tekanan visual yang luar biasa. Rahang tegasnya mengeras, memperlihatkan gumpalan otot yang mengetat menahan amarah yang terukur. Wajah tampannya yang dingin tampak makin menyeramkan di bawah temaram lampu neon koridor staf.

"Kamil mengirim anjing yang salah untuk melakukan pekerjaan kotornya," sahut Zayyad, suara baritonnya begitu rendah dan dalam, membawa ancaman yang tidak main-main. "Kamu tahu persis siapa saya di dalam dan di luar pesantren, ke ke. Kembali ke mobilmu sebelum saya membuat reputasi kalian habis di tempat ini."

Pria berjaket kulit itu terkekeh sinis, lalu mengangkat map cokelat tua itu tinggi-tinggi. "Reputasi siapa yang akan habis, Gus? Di dalam sini ada dokumen penyerahan aset yayasan dua puluh tahun lalu yang ditandatangani oleh Handoko Widarto sebelum dia melarikan diri ke Jakarta dengan membawa uang sengketa tanah Al-Anwar. Jika media tahu bahwa calon mertua dari putra mahkota Al-Anwar adalah seorang pencuri ... "

"Mulutmu jaga!"

Bukan Zayyad yang berteriak, melainkan Mbak Nara. Langkah kakinya yang anggun mendadak maju, menggeser tubuh Zayyad meskipun Bapak Handoko mencoba menahannya. Di balik khimar abu-abu gelapnya, wajah sawo matang Nara tampak menyala oleh kemarahan yang membakar. Sebagai seorang dosen, ia terbiasa menghadapi argumen palsu, dan mendengar bapaknya dihina sebagai pencuri di depan matanya sendiri adalah batas suci yang tidak boleh dilewati siapa pun.

"Saya tidak tahu apa isi kertas kotor yang kalian bawa itu," ujar Nara, suaranya tegas, lantang, dan memotong keheningan koridor dengan tajam. "Tapi ayah saya adalah pria paling jujur yang saya kenal di dunia ini! Beliau membesarkan kami dengan uang halal dari keringat jalanan, bukan dari hasil memeras atau memata-matai keluarga orang lain seperti yang kalian lakukan!"

Pria berjaket kulit itu terkejut sesaat oleh keberanian Nara, namun ia segera memulihkan ekspresi sinisnya. Ia bersiap membuka map tersebut untuk memamerkan isinya, namun gerakan tangannya kalah cepat dengan insting taktis seorang Gus Zayyad.

Dalam satu gerakan yang sangat presisi dan cepat, Zayyad melangkah maju. Tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan kekuatan yang sanggup meretakkan tulang, membuat map kulit cokelat itu terlepas dan jatuh berdebam di atas lantai beton. Pria satunya lagi bersiap melayangkan hantaman, tetapi Zayyad menggunakan sikunya untuk mengunci pergerakan lawan dengan teknik bela diri praktis yang terlatih.

"Pak Handoko, bawa Nara ke lift barang di sebelah kanan! Sekarang!" perintah Zayyad setengah berteriak, napasnya memburu halus saat ia menahan kedua pria itu sendirian di koridor yang sempit.

Bapak Handoko tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga tua yang dipaksa maksimal, ia menarik lengan Nara menuju pintu lift barang yang terbuka lebar beberapa meter di samping mereka. Namun, tepat saat pintu besi lift barang mulai bergerak menutup secara otomatis, mata Nara menangkap kilatan lampu kamera ponsel dari ujung koridor yang lain.

Seseorang yang ketiga telah merekam seluruh benturan fisik itu dari kegelapan. Permainan jebakan ini jauh lebih rapi daripada yang diperkirakan oleh Gus Zayyad sekalipun. Dan di dalam lift yang bergerak turun menuju rubanah dua, Nara hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang membelah keheningan yang menegangkan.

...****************...

Pintu besi lift barang menutup dengan debuman kasar, mengunci Nara dan Bapak Handoko dalam kotak logam berukuran raksasa yang berbau oli dan besi berkarat. Suara hantaman fisik dan erangan dari koridor beton di luar sana seketika meredup, tergantikan oleh desing mesin lift yang bergerak turun dengan entakan-entakan kecil yang membuat lambung terasa anjlok.

Nara bersandar pada dinding lift yang dingin, napasnya memburu. Kerudung panjangnya sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya, ketegasan di wajah dosen mudanya runtuh, digantikan oleh ekspresi syok yang amat sangat. Ia menatap telapak tangannya yang masih bergetar hebat.

"Pak..." suara Nara tercekat di tenggorokan. Ia menoleh ke arah bapaknya. "Uang sengketa tanah? Aset yayasan? Apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi? Bapak tidak mungkin melakukan hal sekotor itu, kan?"

Bapak Handoko berdiri mematung di sudut lift, menatap lampu indikator lantai yang bergerak turun lambat dari lantai 20 menuju rubanah 2. Wajah lelajunya tampak seolah menua sepuluh tahun dalam hitungan menit. Garis-garis penuaan di sekitar matanya mengendur, memancarkan kepasrahan yang mendalam. Jaket taksi daring yang dikenakannya terasa terlalu berat malam ini.

"Nara..." Bapak mengembuskan napas berat, matanya berkaca-kaca di bawah temaram lampu lift. "Dua puluh tahun lalu, Jombang adalah medan perang bagi keluarga kami. Uang yang mereka sebutkan itu... adalah uang hak ibumu yang dipotong oleh sistem pesantren karena pernikahan kami tidak direstui. Bapak mengambil apa yang menjadi hak ibumu, bukan mencuri. Tapi di mata hukum yayasan yang mereka buat sendiri, Bapak dianggap melarikan aset."

Nara menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kenyataan bahwa bapaknya memiliki masa lalu yang begitu rumit dengan keluarga besar Gus Zayyad terasa seperti hantaman gada yang meretakkan seluruh fondasi hidupnya yang tenang.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai rubanah 2. Udara di sini jauh lebih pengap, dingin, dan dipenuhi aroma pekat dari gas buang knalpot serta kelembapan dinding bawah tanah yang tidak tersentuh sinar matahari. Pencahayaan di rubanah ini sangat minim—hanya beberapa lampu neon tabung yang berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang berdistorsi di antara pilar-pilar beton raksasa.

Sesuai instruksi Zayyad, beberapa meter dari pintu lift, sebuah mobil SUV hitam besar dengan kaca film yang sangat gelap tampak menyalakan lampu senja kecilnya dua kali. Itu adalah mobil operasional rahasia milik perusahaan logistik Zayyad. Seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian safari hitam keluar dari kursi kemudi, membukakan pintu belakang dengan cekatan.

"Pak Handoko, Mbak Nara, silakan masuk. Gus Zayyad sudah memerintahkan saya untuk mengamankan kalian terlebih dahulu," ucap pria itu dengan nada suara yang cepat dan tegang.

"Gus Zayyad bagaimana?" tanya Nara, langkah kakinya tertahan di ambang pintu mobil. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa meninggalkan pria yang berstatus sebagai calon suaminya itu dalam situasi perkelahian di atas sana.

"Gus Zayyad bisa mengatasi mereka, Mbak. Yang terpenting sekarang adalah mengamankan dokumen lama itu agar tidak sampai ke tangan media malam ini. Silakan masuk, waktu kita tidak banyak," desak sang ayah sembari melirik ke arah pintu tangga darurat yang terletak tidak jauh dari mereka.

Sementara itu, di rumah keluarga Mwohan, Davika tidak bisa lagi berpura-pura tenang di depan ibunya. Ponsel pintar di tangannya kembali bergetar. Sebuah pesan teks baru muncul, kali ini menggunakan nomor yang berbeda, namun polanya sama. Karakter aksara Korea kembali tertulis di bagian atas, disusul kalimat bahasa Indonesia yang dingin.

“과거 (Masa lalu) tidak bisa dikubur. Ikan cupang di teras tidak akan bisa berenang di air yang keruh.”

Davika berdiri dari kursi makan dengan sentakan kasar, membuat mangkuk soto daging di depannya sedikit bergeser. Mata green-gray miliknya menajam, memancarkan kemarahan seorang remaja yang privasi keluarganya diobok-obok oleh orang asing. Sifat komedinya menguap habis, menyisakan insting pelindung yang pekat. "Ibu," panggil Davika, suaranya dingin dan datar, membuat Ibu Rahayu yang sedang merapikan kain meja menatapnya heran. "Davik harus keluar sebentar."

"Keluar ke mana, Vik? Ini sudah hampir setengah sembilan malam. Soto kamu belum dimakan," tegur Ibu Rahayu dengan nada cemas.

"Ada urusan sekolah yang darurat, Bu. Cici butuh bantuan Davik," bohong Davika. Tanpa menunggu jawaban ibunya, gadis bertubuh mungil namun semok itu langsung menyambar jaket oversized hitamnya, membungkus seragam sekolahnya, lalu melesat keluar menembus pintu depan.

Davika berlari ke ujung gang dengan jantung yang berdegup kencang, tangannya dengan cepat menekan tombol panggilan ke nomor Mas Gara. Ia tahu, di saat - saat genting seperti ini, hanya Mas Gara sang pilot berwajah dingin yang berfungsi sebagai ATM berjalan sekaligus pelindung utama mereka yang memiliki otoritas dan kekuatan untuk memecah kebuntuan ini, jika saja burung besi yang dikemudikannya sudah mendarat dengan selamat di Shanghai.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!